
Pukul sembilan pagi,
ponsel Azka terus berbunyi. Nagita di sana mulai kebingungan antara
menjawab telepon itu atau membiarkannya, tak berapa lama kemudian, Azka
keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.
"Hp kamu bunyi dari tadi, Mas." Nagita menyerahkan ponsel itu kepada Azka.
Ia pun tak menghindar justru merangkul Nagita ketika menjawab telepon.
"Kamu ditelepon dari
tadi nggak pernah jawab, Azka. Kamu udah nggak sayang lagi sama mama?
Mau dipecat jadi anak mama? Sudah berapa lama kamu nggak ngabarin dan
nggak pulang ke rumah?" suara ocehan dari seberang telepon.
"Hari ini aku pulang, Ma. Sebentar lagi akan ke sana,"
"Mama tunggu!"
"Iya, Ma. Aku ganti baju dulu, terus ke sana,"
Telepon pun ditutup, ia menghela napas panjang dan menatap Nagita intens. "Mau ikut?"
"Nggak, kamu aja,"
"Tapi kamu sendirian di rumah,"
"Nggak apa-apa. Pergi aja, aku nggak apa-apa,"
"Ya sudah, saya siap-siap dulu," ia mengecup ujung kepala Nagita sekilas.
Azka mengenakan pakaian
santai untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Ia juga lupa, selama
tinggal di rumah Nagita, ia tak lagi pulang ke rumahnya walau sekadar
mampir. Waktunya lebih ia luangkan menemani keseharian istrinya, entah
itu mencuci pakaiannya, atau membaca. Atau pun menemani Nagita ke dokter
untuk memeriksakan kandungannya. Semua itu ia lakukan dengan senang
hati.
"Saya pulangnya siang,
kamu nggak mau dibelikan makanan?" Azka selalu mengingatkan Nagita
perihal makanan, selain senang melihat pipi istrinya yang sekarang lebih
berisi, ia juga senang melihat istrinya makan banyak. Itu berarti
istrinya tak ada beban pikiran hingga nafsu makannya meningkat.
"Puding susu,"
"Itu aja?" Azka menaikkan alisnya sebelah.
"Iya, Mas."
"Ya sudah, saya berangkat. Kamu baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa telepon saya!"
"Hati-hati, Mas!"
Azka melambaikan
tangannya tanda berpamitan kepada sang istri untuk pergi ke rumah sang
mama. Setelah keluar dari halaman rumah Nagita, ia merasa sedikit
khawatir jika meninggalkan Nagita sendirian di rumah. Tetapi karena
istrinya memang tidak mau, ia tidak ingin memaksakan diri untuk memaksa
Nagita ikut.
Beberapa saat setelah
mengemudi, ia pun membelokkan mobilnya ke perumahan elite Jakarta. Ia
keluar dari mobilnya dan langsung di sambut sang mama yang tengah
berdiri di teras depan. Azka mempercepat langkahnya dan memeluk mamanya
penuh kerinduan.
"Kamu sedikit berisi, Azka."
"Ya dong, kan anak mama selalu bahagia, adek ke mana, Ma? Rumah kok sepi banget?"
"Adik kamu liburan ke
luar negeri sama suaminya. Papa kamu pergi reunian sama teman-temannya,
kamu sih nggak pernah pulang jadi nggak tahu keadaan rumah sendiri,"
Azka menggaruk kepalanya, "Maaf ma,"
Mereka berjalan menuju
ruang tamu. Ia duduk di samping mamanya dan ingin sekali berkata jujur
perihal dirinya yang sudah menikah. Tetapi baru saja ingin bercerita,
mama lebih dulu membuka suara, "Kemarin Deana ke rumah, ketemu mama dan
papa, sama adik kamu juga,"
"Ngapain?"
"Dia bilang kamu sama
dia akan segera menikah? Itu benar? Kalau itu benar, mama sama papa
bahagia banget dengarnya, karena selama ini papa sama mama selalu
berusaha untuk nyari perempuan yang siap menikah sama kamu, tapi justru
Deana datang. Mama maunya segera, Azka. Pengin gendong cucu dari kamu.
Deana itu cantik, pintar. Mama yakin dia akan menjadi istri yang baik
buat kamu,"
Azka tersenyum kecut, "Azka nggak bakal nikah sama dia, Ma."
"Kenapa bisa? Kalian saling mencintai bukan?"
"Aku nggak bisa, Ma."
"Alasannya apa? Kurang
apa Deana sama kamu, jangan kasih harapan ke orang, Azka! Kalau kamu
memang nggak bisa nikah sama dia, seenggaknya jangan buat dia berharap
sama kamu,"
"Sebentar lagi, Azka akan jadi ayah, Ma. Itu alasannya,"
"Ayah? Maksud kamu apa?"
"Azka sudah menikah, Ma. Alasan aku nggak pulang selama ini karena rawat dia, Ma."
"Kenapa bisa seperti itu Azka, jelasin ke Mama!"
"Azka perkosa salah satu perempuan, dan dari perbuatan itu, dia hamil,"
Mama menggeleng tak percaya. "Kamu yakin itu anak kamu? Bisa jadi itu bukan punya kamu Azka."
"Anak itu milik, Azka.
Bukan milik siapa pun selain aku, istri Azka itu baik, Ma. Azka menikahi
dia untuk menggugurkan kandungan itu, tapi Azka bermimpi buruk dan
ingat kejadian yang menimpa adik soal keguguran. Aku putuskan untuk
membiarkannya, Ma. Sudah cukup Azka buat dia sedih, buat dia tersiksa
dari segala kelakuan aku selama ini, Mama ingat waktu aku larang mama ke
apartemen aku? Mama ingat waktu aku pulang tengah malam? Itu semua
karena dia Ma. Aku larang Mama ke apartemen, karena dia ada di sana.
Tapi bodohnya selama dia ada di sana, Azka selalu bawa perempuan lain
dan tidur di sana sama perempuan itu, dia cuman diam tanpa berkata
apa-apa. Azka brengsek banget, Ma. Kedua, waktu Azka pulang tengah malam
dan banting pintu, Azka ribut sama dia. Mental dia terganggu karena
Azka, Ma."
Air mata mamanya sudah tak bisa dibendung lagi. Kedua tangan Azka diusap lembut oleh mamanya, "Kamu buat dia gila?"
"Nggak, Ma. Dia hanya
takut bersentuhan sampai saat ini. Waktu bertengkar, Azka hampir perkosa
dia lagi karena emosi, Ma. Tapi di situ aku tersadar, dia ketakutan.
Sekarang Azka sedang rawat dia untuk segera pulih, Azka nggak mau anak
dan istri aku tersiksa karena perbuatan itu,"
"Azka, kamu keterlaluan,"
"Aku tahu itu, Ma."
"Sekarang apa yang mau kamu lakukan?"
"Azka akan belajar buat
cintai dia, Ma. Nggak akan ada perempuan lain lagi, dia harus sembuh
dari trauma yang diakibatkan oleh aku sendiri, dia harus tetap di
sisiku. Dia jadi istri pertama dan satu-satunya, Azka akan bahagiain
dia. Bangun rumah tangga, walaupun berawal dari keterpaksaan. Tapi
lama-lama perasaan itu tumbuh, Ma."
"Bagaimana kamu menjelaskan kepada orang tuanya saat bertanggung jawab?"
"Mereka sudah nggak ada.
Dia tinggal bersama dengan kakaknya, Azka minta baik-baik meski niat
jelek waktu itu, Ma. Tapi seiring berjalannya waktu, Azka sayang sama
dia, Ma."
"Sekarang kamu tinggal di mana sama dia?"
"Di rumahnya, Azka tinggal bertiga sama kakaknya. Kalau dia kumat, kakaknya selalu nenangin,"
"Umur dia berapa?"
"Sembilan belas, Ma. Azka yang ngerusak dia, Azka yang hancurin masa depannya. Nggak ada alasan buat aku ninggalin kan?"
"Lalu tentang pernikahan kamu sama Deana?"
"Sebelum mencintai
Nagita, aku memang punya perjanjian sama Deana. Setelah anak itu lahir,
kami akan menikah dan merawat anak Azka bersama. Tetapi Azka tarik
dalam kandungannya,"
"Azka kamu sudah sejauh itu berpikiran licik. Nama istri kamu, Nagita?"
"Iya, Ma. Perempuan yang
sangat Azka sayang, entah itu berawal dari mana perasaan itu membuncah,
Ma. Azka bohong sama Deana mau ke Jerman. Tapi aku rawat istri aku dan
nggak pernah lagi datang ke kantor. Pekerjaan aku selesaikan di rumah.
Nemenin dia sepanjang hari, dia mulai nerima kehadiran aku di sisinya,"
"Bawa dia pulang, sayang. Biar dia sama Mama!"
Azka menggeleng, "Biar
itu jadi tugas Azka, Ma. Itu kesalahan Azka, jadi harus tanggung jawab
aku. Terima kasih atas tawannya, dia juga nggak mau ketemu sama siapa
pun, Ma. Aku sudah ajak, tapi dia nggak mau katanya malu sama perutnya,"
"Kenapa harus malu?"
"Dia malu sama Mama karena keadaan perutnya,"
"Walaupun sulit Mama terima. Tapi karena itu perbuatan kamu, Mama akan terima dia, kapan Mama bisa ketemu sama dia?"
"Nanti setelah
melahirkan, Azka bawa dia pulang. Mungkin nanti sore kami akan
mengajaknya pulang. Hidup bersama lagi, Azka nggak mau buat dia
ketakutan. Mulai semuanya dari nol, aku akan tetap sayang sama dia.
Mungkin aku belum bisa bawa dia kemari, dan lagi jangan cerita ke adik
atau pun Papa. Azka percayakan ini sama Mama,"
"Az. Mama bersyukur, kamu bertanggung jawab atas perbuatan kamu,"
Azka memegang kedua
tangan mamanya dan langsung memeluknya, "Azka tetap sayang dia, sampai
kapan pun juga. Azka akan bahagiain istri Azka, Ma. Bahagiain anak
Azka,"
"Iya sayang, itu harus.
Jangan pernah tinggalin dia, kalau bisa segera tinggalin Deana! Mama
akan rahasiakan ini dari Papa dan adik kamu."
Azka memeluk mamanya
penuh terima kasih, meski tak terucap. Perasaannya begitu lega saat
mengatakan kenyataan itu kepada mamanya.
"Ma antarin Azka cari puding, yuk. Istri aku pengin makan itu."
"Puding apa?"
"Katanya puding susu, Ma."
"Puding susu banyak di kulkas sayang, mama baru aja buat tadi pagi. Kalau mau kamu bawa pulang semuanya untuk dia,"
"Azka nggak bisa lama-lama di sini, Ma. Harus segera pulang, dia sendirian di rumah, aku nggak mau dia kenapa-kenapa,"
"Tunggu di sini. Mama
siapin makan siang untuk kalian berdua. Jangan buru-buru, banyak makanan
juga di kulkas. Semuanya mama yang masak, kamu jangan sungkan bawain
istri kamu,"
Azka terenyuh mendengar ucapan mamanya dan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum melihat mamanya yang menerima kehadiran istrinya.
Beberapa saat kemudian, mama selesai mengemasi makanan untuk Azka dan istrinya.
"Ma, sebanyak ini?" Azka terkejut melihat kantong plastik yang begitu banyak disediakan di atas meja oleh mamanya.
"Buat mantu mama, jaga
dia baik-baik. Meskipun mama belum lihat dia, mama percaya dia berhasil
buat kamu menjadi orang yang bertanggung jawab,"
"Terima kasih, Ma."
"Ayo mama bantu masukin ke mobil kamu,"
Azka membawa semua
makanan tersebut ke mobilnya dan bersiap untuk pulang. Meski hanya
sebentar, setidaknya ia berhasil mengungkapkan rahasia yang selama ini
disembunyikannya.
"Aku pulang dulu, Ma."
"Azka hati-hati, salam untuk dia!"
Azka mengangguk dan langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Jarak rumah mamanya dan
Nagita memang terbilang jauh, tetapi ia tak pernah mengeluhkan itu. Dan
hari ini ia berencana membawa Nagita pulang ke rumahnya, bukan ke
apartemen itu lagi. Rumah yang ia beli khusus untuk istrinya, ia tidak
ingin mengingat banyak kenangan buruk di apartemen itu, ia meminta
bantuan Dimas dengan diam-diam untuk menyiapkan semua itu. Dimas bahkan
dengan senang hati membantunya dan menemukan rumah untuk mereka berdua.
Azka hanya mengikuti, bahkan ia menyuruh orang-orangnya untuk mendekor
rumah itu semenarik mungkin. Sebagai hadiah pernikahannya dengan Nagita.
Selama ini ia tidak pernah memberikan hadiah untuk Nagita, namun kali
ini ia harus memberikan semua itu untuk istrinya.
Tiba di rumah, ia
langsung keluar dan membawa semua makanan itu dan ditaruhnya di atas
meja. Beberapa kali memanggil Nagita akhirnya perempuan itu keluar dari
kamarnya dengan keadaan baru bangun.
"Mas, kamu borong makanan banyak banget?"
"Ini dari mama sayang. Bahkan mama yang ngasih puding keinginan kamu,"
"Mana?"
Azka mencari plastik
yang berisikan puding tersebut dan langsung menyerahkannya pada Nagita.
perlahan perempuan itu memasukan potongan puding itu ke mulutnya.
"Enak?"
"Enak, Mas. Tante suka masak?"
"Kok tante sih? Mama juga dong, dia kan mama kamu juga, mertua kamu, lho,"
"Iya, masakan mama maksudnya. Aku suka, Mas."
"Makan gih! Hati-hati makannya nanti tersedak,"
"Iya, Mas."
"Sayang, nanti sore kita pulang ya!"
Nagita berhenti menyantap pudingnya, "Nggak mau,"
"Sayang, bagaimanapun
juga kamu itu istri aku. Kita harus menjalani rumah tangga kita seperti
yang orang lain lakukan, jangan terus di sini. Dimas punya banyak
pekerjaan, nggak mungkin kita akan terus tinggal bareng,"
"Kamu ajak yang pulang, aku tetap di sini."
"Kamu istri saya, nggak
mungkin saya tinggalin di sini. Walaupun kita pulang, saya akan tetap
nemenin kamu di rumah. Kamu nggak akan kesepian,"
"Tapi—"
"Nggak ada tapi sayang, kita harus beres-beres dan pulang nanti sore,"
"Tapi mendadak,"
"Nggak apa-apa. Saya juga pengin makan masakan kamu di rumah, kangen di masakin,"
"Kamu nggak pernah izinin saya masak di sini,"
"Karena saya nggak mau
kamu capek. Cukup saya lihat kamu istirahat, di samping saya. Nonton TV,
itu sudah buat saya senang. Tanpa harus beraktivitas banyak,"
"Katanya kangen dimasakin?"
"Karena bahannya sudah siap. Kalau di sini kamu belum lagi belanja, belum lagi menyediakan semuanya, kamu pasti capek sayang,"
"Mas bisa kan nggak usah panggil sayang, aku malu,"
"Kenapa malu?"
"Malu aja,"
"Mau dicium lagi?"
"Ayo kalau berani? Mas tidur di luar!"
"Hahaha, nanti kamu kecanduan sama ciuman saya,"
Nagita meletakkan pudingnya dan menutup telinganya, "Nggak, nggak aku nggak dengar,"
"Yakin nggak mau nyoba lagi?"
"Nggak, Mas. Nggak mau."
"Saya bercanda." Ia
mengusap kepala istrinya lembut, saat itu juga Nagita yang tengah
menutup mata dan menutup telinganya langsung mengangkat wajahnya.
"Aku kesal sama kamu, Mas."