
Mereka telah tinggal bersama sekarang, setelah pindah dan juga mengadakan syukuran untuk rumah baru mereka. Rey yang sempat di protes oleh papanya karena rumah yang dibelinya tidak seperti dulu. Akan tetapi Rey beralasan bahwa itu hanyalah sementara dan hanya sampai Marwa melahirkan. Tidak ingin istrinya terlalu sering turun naik tangga jika membeli rumah yang lumayan besar. Bahkan mertuanya tidak berkomentar apa-apa. Justru papa dan juga Om Reno yang lebih banyak mengomelinya. Tetapi, dia tidak menghiraukan itu. Apa pun yang sudah menjadi keputusannya maka akan tetap menjadi keputusannya tidak akan berubah menjadi apa pun lagi.
Kini, usia kandungan Marwa sudah beberapa bulan dan perutnya sudah mulai membuncit dan Rey selaku suami yang sekarang lebih sering perhatian dengan istrinya dan sering mengajak istrinya ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Rasa penasaran karena pertumbuhan si kecil. Kadang sesibuk apa pun, jika dia rindu terhadap anaknya, Rey akan langsung pulang tanpa peduli terhadap pekerjaannya yang telah selesai atau tidak.
Sedangkan Marwa yang selalu peduli terhadap kandungannya, karena Rey tidak memperbolehkannya melakukan pekerjaan rumah. Ia pun hanya menurut apa yang diperintahkan oleh sang suami. Bukan tidak ingin mengerjakan beberapa pekerjaan yang mampu dia kerjakan, tetapi Rey membatasi kegiatannya dan menyuruhnya lebih fokus untuk mengurus kandungannya dan tidak boleh kecapean. Rey memang suami yang sedikit crewet semenjak Marwa hamil. Banyak hal yang tidak boleh dilakukan oleh istrinya, apalagi masak. Rey paling tidak suka jika istrinya mulai bandel dan memilih untuk masak.
Terdengar suara mobil Rey yang pulang lebih awal. Marwa memasang jilbabnya dan keluar untuk menyambut sang suami. Ketika membuka pintu, seperti biasanya Rey selalu membawa makanan yang begitu banyak. Tidak lupa dengan jus buah yang rutin dibelikan oleh Rey. Jus buah adalah yang tidak pernah ketinggalan jika Rey pulang bekerja.
“Mas, kok kamu pulangnya cepat?”
“Kangen sama anak kita,” kekeh Rey kemudian memberikan kantong plastik yang berisikan jus buah yang dibelikan untuk Marwa.
“Terus kalau kangen?”
“Pengin peluk aja,” jawab Rey kemudian mengelus perut sang istri tidak sabar anaknya segera keluar dari perut istrinya. Menjadi seorang ayah barangkali menyenangkan seperti yang dikatakan oleh Leo beberapa waktu lalu.
Bagaimana rasa penasaran itu belum juga terjawab hingga sekarang ini. Rey tetap berdoa agar istri dan calon buah hatinya baik-baik saja. Beberapa waktu lalu mereka berdua pergi ke dokter untuk melihat jenis kelamin anaknya karena usia kandungan yang sudah cukup untuk melihat jenis kelamin anaknya.
Dokter mengatakan bahwa calon buah hatinya adalah perempua. Rey selaku kepala keluarga akan menerima apa pun jenis kelamin anaknya nanti selagi istri dan anaknya baik-baik saja. Tidak mungkin dia menentang kuasa ilahi dan menceraikan istrinya hanya karena jenis kelamin anaknya berbeda dari yang diharapakannya. Beberapa orang bahkan menceraikan istri hanya karena anak yang diinginkan tidak sesuai seperti harapannya. Itu adalah suatu pemikiran yang sangat bodoh bagi Rey. Andai saja manusia berkehendak untuk mengubah itu semua, tentu saja semua manusia akan lebih egois dalam putusan Tuhan.
“Nanti kalau udah lahir, panggilannya apa ya?” tanya Rey sambil mengelus pelan perut istrinya. Entah semenjak istrinya hamil, ia menjadi jauh lebih mencintai istrinya dibandingkan sebelum-sebelumnya. Aura kecantikan Marwa juga seperti bertambah ketika hamil.
Marwa membalas elusan tangan Rey dengan cara menyatukan jari-jarinya dengan jari suaminya hingga pria itu menggenggamnya. “Umi sama Abi gimana?”
Rey terkekeh ketika mendengar istrinya berkata demikian. “Terserah kamu saja, yang penting kamu senang dan nggak ngamuk-ngamuk nanti,”
“Kamu ada-ada saja, Mas,”
Rey mencium pucuk kepala istrinya sambil mengelusnya perlahan. “Sayang, barangkali jika kelak aku melakukan kesalahan sama kamu. Tolong kesalahan itu hanya kita berdua yang tahu. Jangan sampai orang lain tahu masalah kita dan akhirnya berembus kepada orang tua kita masing-masing. Aku ngajak kamu tinggal berdua adalah agar kita belajar saling mengisi kekurangan satu sama lain. Aku tahu kekurangan kamu, dan kamu tahu kekurangan aku. Bahkan kita saling mengisi satu sama lain,”
“Aku ngerti maksud kamu, Mas,” perempuan itu berbalik dan menatap suaminya dengan intens tanpa berkedip. Tatapan mata keduanya teduh dan penuh kasih sayang dan terlalu rumit untuk dijelaskan cara menggambarkan keduanya bagaimana mereka dengan hebatnya saling mencintai seperti sekarang ini.
Mata Marwa berkilau saat menatap jauh ke dalam mata Reynand. Dia kemudian berkata, “Aku mencintaimu, mencintai apa pun yang ada pada dirimu,” ucap Rey dengan lembut kemudian mengecup kening istrinya.
Marwa yang mendengar itu seperti benar-benar ingin melayang setiap perlakuan lembut Rey yang memanjakan dirinya dengan sangat baik. Perempuan mana yang tidak senang mendapatkan suami seperti Reynand yang begitu pengertian, perhatian dan juga selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Selama ini dia tidak pernah merasa kesepian sama sekali karena Rey tidak pernah pergi ke luar kota seperti dulu lagi.
“AKu tidak pernah bercanda mencintaimu,”
“Eh, memangnya kapan aku bilang gitu?”
“Hati kamu yang bilang gitu. Aku tahu kalau hati kamu masih ragu sama aku, kan? Sayang aku selalu sayang sama kamu. Sampai kapan pun itu,”
Perempuan itu tersenyum kemudian menatap Rey dengan tatapan teduhnya. “Sama aku juga sayang sama kamu. Cinta juga,”
“Cinta itu apa?”
Marwa terdiam dan sedikit ingin berpikir, “Cinta itu…”
“Cinta itu nggak bisa dijelasin dengan kata-kata. Buktinya aku nikahin kamu dulu tanpa cinta, terus tumbuh cinta. Dan aku juga nggak bisa jabarin sih gimana bentuk cinta itu,”
“Cinta adalah sebuah tindakan yang di mana ketika ingin membuktikan suatu perasaan sama orang yang kita sayang haruslah dengan pengorbanan yang luar biasa. Berusaha meyakinkan bahwa cinta itu adalah suatu tindakan menjaga hati dan kesetiaan,” jelas Marwa tanpa menatap mata Rey dan justru menatap ke arah jauh hingga Rey tertegun mendengar ucapan istrinya.
“Dari matamu, aku mengerti kalau selama ini cinta itu memang benar-benar ada,”
“Heh?”
“Iya. Aku belajar mengerti bahwa mencintaimu cukup menatap matamu seperti ini sudah membuatku jatuh cinta sama kamu, dan hingga pada akhirnya aku nggak bisa lakuin apa-apa. Sayang, aku mencintaimu,”
Perempuan itu menutup telinganya karena malu dengan apa yang dikatakan oleh Rey. Setiap kali ada momen romantis seperti sekarang ini Rey selalu saja berkata demikian dan membuat Marwa tersipu malu hingga tidak bisa lagi mendengar kata lain selain ungkapan cinta dari Reynand.