
Selamat malam. Maaf ya authornya sedang update crazy up WITH YOU, ada di mangatoon juga kok. Klik profil author dan baca juga yang WITH YOU ya, author beberapa hari ini sibuk update yang itu, jadi ini di tunda. Selamat membaca. Hehehe,
Setelah menjalani proses persalinan dengan operasi Caesar, Rey masih setia menunggu istrinya pulih karena bius tadi. Ia kemudian menggendong bayinya untuk pertama kali dan melihat betapa lucunya anak perempuannya buah cinta bersama dengan Marwa.
Mereka menunggu beberapa saat hingga akhirnya marwa pulih dan bidan menyarankan agar Marwa memberi asi pertama kepada bayinya. Setelah di tuntun dengan baik, Rey juga belajar untuk menggendong anaknya agar ia terbiasa menemani istrinya nanti.
“Anak kamu mirip kamu banget ya, matanya, bibirnya, wajahnya bahkan dari kamu banget Rey, kecuali hidung mancungnya dari Mamanya,”
Mama mertuanya begitu antusias menyambut cucu pertama mereka. Begitupun dengan kedua orang tua Rey yang masih ada di sana menemaninya dengan setia. “Ya udah Mama sama Papa keluar ya, karena Marwa sepertinya butuh waktu sama kamu,” ucap Mamanya dan mengajak orang tua Marwa juga keluar karena Marwa sedang memberi asi kepada bayi mungil mereka.
“Terima kasih ya,” Rey mencium pucuk kepala istrinya dan menatapi bayinya yang masih belajar menyentuh asi Marwa. “Cantik banget kayak mamanya,” ucap Rey hingga membuat istrinya tersenyum.
*****
Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit. Marwa sudah diperbolehkan untuk pulang karena keadaannya memang cukup membaik. Rey pun dengan senang hati menemani istrinya selama itu juga di rumah sakit tanpa pernah pergi ke mana-mana. Ia hanya pergi untuk membeli kebutuhan apa pun yang diperlukan oleh Marwa dan juga bayinya.
Sebenarnya, Marwa ingin pisah pasca melahirkan dan meninggalkan Rey. Tapi melihat anaknya, membuatnya mengurungkan niat itu. Tidak mengapa ia merasakan sakit yang luar biasa. Tetapi jika itu mengorbankan kebahagiaan anaknya, sepertinya Marwa memang tidak bisa melakukannya hanya untuk memenuhi egonya saja.
Marwa pulang ke rumah mertuanya dan tetap berbaikan dengan Reynand—suaminya. Meskipun ia sering merasakan sakit saat bersama lelaki itu. Tapi dia tidak mau mengorbankan kebahagiaan anaknya, bagaimanapun juga dia pernah merasakan bagaimana rasanya orang tuanya pernah berpisah dan itu sangat menyakitkan. Seberapa banyaknya harta kekayaan untuk membahagiakan, tetap saja kasih sayang orang tua tetap yang paling utama. Satu-satunya yang membuat Marwa hingga saat ini tetap berjuang adalah bayinya yang harus tetap berada di sisi seorang ayah.
“Aku cariin pengasuh buat anak kita mau?”
“Aku bisa sendiri, Mas,”
“Tapi kamu juga butuh istirahat,”
“Nggak apa-apa,”
“Nanti kalau kamu capek, kamu bisa bilang sama aku. Biar aku carikan,”
Marwa mengangguk sambil menemani bayinya yang terbaring di atas ranjang mereka. Begitupun juga dengan Rey yang waktu itu seolah tidak ingin jauh dari anaknya yang setiap hari terus menggantikan Marwa menggendong bayinya. Kadang pria itu juga mengajak anaknya berjemur.
“Kata Mama ini belum seberapa, Mas. Nanti bakalan sering begadang,”
“Aku temani. Janji nggak bakalan pergi ke luar kota ataupun lembur lagi. Kalau lembur aku bakalan di rumah, sekalian nemenin kamu,”
Mika Audri Quinsha—nama yang diberikan oleh Marwa sendiri yang disetujui oleh Rey waktu itu.
“Cepat besar ya, Nak! Biar bisa main sama Papa,” Rey yang tidak bisa berhenti mencium bayi mungilnya yang khas aroma bayi setiap pagi dan setiap sore dia begitu setia menggendong anaknya ketika istrinya sedang mandi atau ada kegiatan lain. Bahkan dia juga dengan begitu setia membawakan istrinya makanan ke kamarnya. Sesekali mamanya juga menengok ke kamar untuk mengajak Audri bermain bersama si kembar.
Tok tok tok
Rey bangun dari tempat ternyamannya ketika sedang bersama si kecil. Ia melangkah menuju pintu untuk membukakan entah siapa yang mendatanginya tanpa ada suara sama sekali. Begitu Rey membuka pintu, ia melihat kedua adiknya menyeringai sambil tersenyum membawa sesuatu.
“Kak, Audri mana?”
“Baru aja tidur,”
“Boleh masuk?”
Rey menganggukkan kepala dan membukakan pintu dengan lebih lebar membiarkan adiknya masuk dan kedua anak itu mendekati Audri yang sedang tertidur. Sedangkan Marwa sedang duduk bersandar di sandaran ranjangnya.
“Kak, buat Audri,” ucap keduanya sambil memberikan kado yang dibungkus dengan bungkusan kado yang kembar pula. “Kok mirip Kak Rey?”
“Kalian ini ya, padahal keponakan kalian udah dua hari di rumah,”
“Tapi Mama bilang nggak boleh temui dulu kalau Audri tidur,”
“Yak arena dia juga kan butuh tidur,”
“Tapi dia tidur terus kak,”
“Coba tanya Mama, kalian berdua juga dulu tidur terus deh. Sampai nggak ada waktu main sama kakak,”
Rey dengan tingkah lucu adiknya itu langsung tersenyum. “Iya, tanya aja sana. ngomong-ngomong kalian pasti minta ya buat beliin keponakan hadiah?”
“Ih enggak, kita kan nabung buat si cantik, biar nanti bisa main,”
Rey mengangguk pelan. Marwa pun meletakkan kado itu disebelahnya. “Kakak boleh buka nggak?”
“Boleh kak, tapi bangunin Audri dulu,”
“Jangan!” pinta Rey kepada adiknya. Karena dia tahu anaknya sulit tidur jika dibangunkan nantinya. Tapi apa yang dia bisa lakukan, karena kedua adiknya terus ribut hingga anaknya nangis begitu keras. “Di dengar Mama nanti kalian berdua yang kakak salahin,”
“Hehehe, nggak apa-apa, Nabila gendong ya?”
“Nggak boleh, nanti kalau udah besar, oke!”
“Ih, pelit,”
“Kak Rey nggak pelit sayang. Tapi takut kalau nanti keponakan kalian kenapa-kenapa, kan masih terlalu kecil,”
Nabila dan Salsabila berada di sisi adiknya dan menciumi keponakannya terus menerus. “Jangan dicium terus dong, nanti pipinya merah loh,”
“Kak, sebelum kita ke sini. Kita itu udah bersih, udah sikat gigi dan sebagainya. Kita juga sudah cuci tangan, pakai hand sanitizer. Kurang higienis apalagi kakak?”
“Lebay banget sampai segitunya,”
“Mama yang nyuruh,”
“Ya udah kalian pindah bentar ya, kakak mau kasih asi dulu buat Audri, nanti kalau udah tenang baru kita buka kadonya ya sayang,” kedua adik iparnya menyingkir, Marwa segera menggendong Audri dan memberinya asi.
Anaknya pun tenang beberapa saat kemudian. Rey meminta agar adiknya menyingkir dari sana. “Kakak ih,”
“Penasaran, mau lihat apa yang dikasih sama tantenya si kecil,”
Nabila dan Salsabila menyeringai. “Maaf ya kalau jelek, kak. Uang kita cuman segitu,”
Marwa tersenyum dan belum berani terlalu banyak tertawa karena bekas operasinya. Ia membiarkan suaminya membuka kado disebelahnya dan melihat ada boneka berwarna pink yang diberikan oleh keduanya dengan warna yang berbeda. Satunya berwarna cream dan satunya berwarna pink dan juga ada baju hangat untuk Audri.
“Bilang makacih tante kembar sayang,” ucap Marwa mewakili ucapan anaknya yang waktu itu membuka matanya dan belum tertidur. Matanya melirik sekeliling hingga terlihat begitu gemas.
“Kak Marwa suka?”
“Suka dong, apalagi usaha tantenya kan nabung. Belum lagi harus beliin keponakannya,”
“Iya kak. Sepulang sekolah kita ngajakin Papa beli hadiahnya,”
“Tuh kan bener, dibeliin Papa pasti,”
“Nggak kak. Kita pecahin celengan buat Audri,”
“Ya udah sayang boleh main sepuasnya, tapi nanti kalau Audri nangis lagi terus bobok, mainnya nanti ya,”
“Iya Kak,”
Marwa memberikan Audri kepada Rey agar dia menidurkan bayinya di atas ranjang dan bermain bersama di kembar di sana. bersyukur karena kedua adik iparnya yang menggemaskan bisa menjadi teman main Audri nantinya.