
Dia tidak dihubungi oleh Zibran sama sekali selama beberapa minggu. Ketika pintu apartemen terbuka. Wajah Hana menjadi sedikit lebih ceria dibandingkan dia yang tidak pernah mendapatkan respons dari pria itu. Seperti yang dikatakan oleh Marwa bahwa apa pun yang terjadi bahwa dia harus tetap jujur kepada pria itu. Apalagi sekarang ini kandungannya juga sedikit lebih parah dibandingkan yang dulu.
Siapa yang menyangka bahwa sikap manis ini akan dilakukan oleh pria yang sudah punya istri. Sabtu dan minggu dia akan pulang ke apartemen yang mereka tempati berdua. Sungguh, ini adalah perselingkuhan yang salah. Rasanya dia benar-benar berada di posisi yang salah.
“Aku hamil,”
Singkat, hanya itu yang mampu diucapkan oleh Hana ketika Zibran tiba diapartemen pukul sepuluh malam karena setiap jumat dia memang lembur yang kadang pria itu menjemputnya ketika pulang kerja. Tapi, Hana kali ini masuk pagi dan dia sudah berada di apartemen sejak sore tadi. Ucapan singkat itu mampu membuat Zibran berhenti sejenak dari aktivitasnya membuka kancing kemejanya.
“Kamu mau kabur?”
Pria itu terdiam. Membeku tak berucap sepatah kata pun. Benar saja apa yang dijelaskan oleh Marwa lagi ketika dia menanyakan bagaimana pria yang berselingkuh itu punya gerak-gerik yang sangat aneh.
“Berapa bulan?”
“Sepuluh minggu,”
Zibran memejamkan matanya dan kemudian berbalik. Apa yang dirasakannya kali ini adalah perasaan sakit. Satu sisi dia mencintai istrinya. Satu sisi lagi, dia mencintai perempuan yang sedang duduk di pinggiran ranjang. Tapi, untuk menikah? Sama sekali Zibran tidak pernah berpikiran ke sana. Bagaimanapun juga istrinya adalah segalanya. Anaknya juga adalah harta yang paling berharga baginya. Sekalipun dia kehilangan semua hartanya. Lebih baik dia kehilangan hartanya dibandingkan dia kehilangan istri dan juga anaknya yang begitu dia sayangi. Tapi, Hana? Dia juga termasuk dalam kategori itu.
“Sekarang bagaimana?”
Bukannya memberi solusi, tapi pria itu justru bertanya pada perempuan itu. Sama sekali itu adalah hal yang sangat dibenci oleh Hana ketika ditanya seperti itu. Hana sakit hati, dia adalah pilihan kedua seperti yang dikatakan oleh Rey. Tapi, inilah kenyataan hidup bahwa dia memang sangat bodoh.
“Zibran, apa yang akan kamu lakukan?”
Pria itu duduk dipinggiran ranjang dan memijit kepalanya. “Aku? aku nggak tahu juga, Hana. Aku kemari ingin mengakhiri hubungan kita agar kita berhenti bertemu dan justru sekarang kamu hamil,”
Semudah itu bagi seorang pria untuk mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungan itu. Sama sekali adalah hal bodoh yang dipikirkan oleh Hana. Seperti yang dibilang oleh suami Marwa bahwa pria yang berselingkuh akan tetap mempertahankan istri dan juga anaknya dibandingkan dengan mempertahankan selingkuhannya.
Benar-benar bodoh. Dia merutuki dirinya sendiri. Semua yang dikatakan oleh Marwa itu memang benar bahwa kelak, bisa saja Zibran tidak ingin menikahinya. Seperti sekarang ini justru pria itu datang hanya untuk mengakhiri hubungan mereka.
“Aku nggak tahu mau gimana lagi. Kamu harus tanggung jawab!”
“Han, kasih aku waktu untuk berpikir,”
“Sekarang kamu mau pergi?”
Pria itu justru duduk dan mengahmpiri Hana. “Aku tahu ini adalah hal yang salah. Kita berdua yang salah. Aku nggak bisa tinggalin istri aku. begitupun kamu, aku nggak bisa kan ninggalin kamu dan ngasih kamu beban seperti ini,”
Hana menahan tangisnya agar tidak keluar. Bagaimana dia bisa menahan semua ini dengan baik? Sedangkan pria itu ingin mengakhiri hubungannya. Rey pernah bilang bahwa dia akan mendapatkan pria yang bisa menerima dirinya apa adanya. Itu yang dikatakan oleh suami temannya melalui perwakilan Marwa. Tapi, semuanya terlambat. Semua sudah terjadi. Semua itu tidak bisa dibantah oleh dirinya. Dia memang bodoh. Dia memang tidak seharusnya melakukan kebodohan itu dan sekarang justru hamil.
Air matanya lolos begitu saja ketika Zibran memeluknya. “Han, kasih aku waktu, please!”
“Aku harus bagaimana?”
Hana bingung. Tidak tahu lagi bagaimana dia harus mengatakannya. Semenjak bertemu dengan Marwa. Hanya perempuan itu menjadi tempat curhatnya selama beberapa bulan. Bahkan perempuan itu juga sering memberinya uang dan juga makanan ketika dia kesepian. Maka dari itu dia percaya untuk menjaga rahasianya. Dia juga sudah mengingatkan sebelum dia hamil anaknya Zibran. Marwa sudah mengingatkan beberapa bulan yang lalu.
Ia menunduk dan air matanya jatuh begitu saja. “Maafin aku, Hana!”
“Kamu nggak bakalan tanggung jawab, kan?”
Pria itu menggeleng dan memeluk Hana dalam keadaan yang benar-benar rapuh. Marwa benar, jika dengan suami orang lain. Maka jarang sekali ada yang berakhir dengan bahagia. Justru dia berakhir menyedihkan seperti ini. Rasanya benar-benar sakit.
“Sekarang kamu mau ninggalin aku?”
“Nggak,”
Zibran terpaku ketika dia memang tidak ingin meninggalkan Hana. Tapi dia juga baru mendaptkan proyek besar dari perusahaan temannya. Rey adalah orang terbaik yang kali ini memberikannya kepercayaan untuk mengerjakan proyek yang sedang digarapnya. Menikah? Menduakan istrinya. Sepertinya itu adalah perbuatan yang salah. Tapi, meninggalkan Hana yang sekarang ini sedang rapuh mungkin saja akan berakhir menyedihkan dia jika dia meninggalkannya.
Pria itu terpaku, “Aku bakalan pikirkan ini, Hana,”
“Aku takut,”
“Aku tahu, tapi aku bakalan pikirkan lagi, Hana. Aku nggak bakalan pergi, kamu bisa cari aku ke rumah kalau memang aku kabur dalam jangka waktu satu bulan. Kamu tahu sendiri tempat tinggal aku. mulai sekarang, kamu berhenti kerja. Apa yang kamu butuhkan aku bakalan turutin, aku punya proyek dengan teman aku, jadi setelah itu aku bakalan omongin ini sama kamu,”
“Bran, kamu nggak lagi bercanda untuk hubungan ini, kan?”
“Kamu mau ke mana?”
“Aku bakalan balik lagi, Han. Aku bakalan balik lagi nanti,”
Pria itu keluar dari apartemen Hana dan menuju proyek yang sedang dia kerjakan bersama dengan Rey. Sampai selarut ini, pria itu masih berada di sana. Karena proyeknya yang memang mengerjakan semuanya tidak kenal waktu. Tapi tetap dengan prosedur dan keselematan yang memadai.
“Rey?” panggil Zibran dan menolehkan kepalanya perlahan.
Kali ini terlihat sangat kacau, Rey memang mempercayakan proyek ini untuk Zibran karena dia tahu jika pria itu akan menikahi Hana. Teman istirnya. Tapi entah bagaimana hati istri sah Zibran. “Ada apa?”
“Kenapa belum pulang?”
“Aku kebetulan lewat, istri lagi di rumah orang tuanya. Jadi aku lihat proyek sebelum pulang ke rumah,” ucap Rey perlahan. “Bagiamana, Hana?”
Pria itu terkejut begitu Rey menanyakan tentang Hana. Darimana pria itu tahu kalau dia sedang berselingkuh dengan Hana. Apakaah Hana merupakan selingkuhan Rey juga. “Kamu kenal dia dari mana?”
“Dia teman istriku,”
Rey tak berbohong, dia jujur jika memang Hana merupakan teman istrinya. Dan Zibran adalah kontraktor yang dia percayai. “Aku nggak tahu hubungan kalian yang begitu rumit. Kita pernah bertemu di hotel bukan? Hana menyambut kamu dengan begitu hangat, aku pikir dia adalah istrimu,”
“Rey, apa setelah aku jujur. Proyek ini akan dipindahkan kepada yang lain?”
“Aku nggak suka bahas hal pribadi sama pekerjaan,” ucap pria itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Hati Zibran kali ini memang sangat sakit ketika dia tahu bahwa Hana hamil. Kedua kalinya bahkan. Tapi, bagaimana dia bisa jujur kepada istrinya nanti ketika istrinya tahu bahwa Hana hamil? Ini sungguh neraka baginya.
“Hana, hamil,”
Rey mendongakan kepalanya seolah fokus pada bangunan yang sedang dikerjakan itu. Tapi, ini adalah kebodohan keduanya. Marwa memang mengatakan itu kepadanya bahwa dari gerak-geriknya. Hana hamil.
“Lalu bagaimana?”
“Apa aku harus gugurin?”
Rey tertawa sinis. “Semudah itu, Bran? Kamu buatnya pasti dengan suka sama suka. Tapi sekarang kamu ingin membunuh nyawa darah daging kamu sendiri?”
“Aku nggak bisa bayangin bagaimana perasaan istri aku,”
“Aku menyiramkan minyak ke dalam api yang kemudian apinya menjadi semakin besar,” Rey menundukkan kepalanya. “Tentang perasaan istri kamu. Mungkin itu adalah urusan kamu sama dia, tapi bagaimana sekarang Hana yang statusnya adalah selingkuhan kamu. Ditambah lagi dia sedang hamil,”
Pikiran Zibran benar-benar kacau. “Aku nggak bisa berbuat banyak Rey. Aku nggak tahu mau bilang apa sama istri aku mengenai semua ini,”
“Ini bukan masalah kecil yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang sebentar, Ran. Ini mengenai kehamilan Hana. Yang di mana itu adalah anak kandung kamu sendiri. Darah daging kamu, Ran. Bagaimana nanti dia hadapi semua ini?”
Zibran mengerti dengan semua ini. Tapi, bagaimana dia bisa menghadapi Hana, apalagi istri dan juga kedua anaknya. Salahnya memang yang sudah membuat semuanya menjadi berantakan. “Aku ngasih proyek ini juga biar kamu nggak lupa jalur hidup kayak gimana. Sebanyak apa pun uang yang kamu punya. Pasti beban pikiran akan menghantuimu, Ran. Aku tahu kalau kamu punya hubungan dengan Hana semenjak kita bertemu di hotel. Tapi aku nggak berani bilang sama istri aku karena aku nggak mau justru kamu tertangkap basah. Ran, omongin dan jujur juga sama keluarga kamu. Aku nggak mau ikut campur, istri aku bantu Hana itu tulus. Tapi dia diseret juga ke masalah kamu. Aku juga nggak mau ikut campur. Tapi kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Aku nggak ngerti lagi, Ran. Aku nggak mau Marwa terlibat lebih jauh,”
“Aku bakalan bilang sama Hana kalau dia nggak usah libatin istri kamu lagi,”
“Aku bukannya keberatan untuk hal ini, Ran. Tapi, aku nggak mau kalau nanti Marwa ikut dilabrak sama istri kamu. Mengenai kehamilan Hana, maaf aku angkat tangan untuk urusan itu, Bran. Demi apa pun aku nggak bakalan pernah ikut campur untuk urusan kamu,”
“Aku ngerti, terima kasih sebelumnya karena kamu begitu baik bantuin aku sama Hana,”
“Apa pun keputusan kalian, itu pasti yang terbaik. Cuman, jangan sampai gugurin. Itu aja pesan aku! karena nanti kamu bakalan paham apa yang aku maksud begitu semuanya terjawab, dan aku nggak mau buat kamu seperti orang kebingungan. Selesaikan sama istri kamu. Selesaikan sama Hana! Salah satu dari mereka memang terluka. Atau bahkan keduanya terluka oleh perbuatan kamu. Namun, ini adalah pilihan terbaik. Aku nggak gurui kamu yang pasti, ini adalah bentuk peduli aku sama istri aku yang setiap malam selalu curhat tentang Hana sama aku. dan aku nggak tahu mau jawab apalagi.”
Rey menutup pembicaraan karena kenyataannya seperti itu bahwa Marwa selalu saja curhat mengenai Hana. Tapi tidak pernah mengurus rumah tangganya justru sibuk dengan curhatan Hana setiap hari. Kadang perempuan itu menangis. Rey tidak suka jika istrinya terlibat tentang hubungan orang lain dan nanti dia ikut terlihat dalam masalah besar itu. Bagaimanapun juga cara dia ingin agar istrinya keluar dari masalah orang lain dan lebih fokus mengurus rumah tangganya dibandingkan dengan mengurus rumah tangga orang lain.