
Di mall mereka jalan-jalan bertiga, Audri dibiarkan jalan kaki sedangkan Abi digendong oleh Rey. Audri berjalan dengan Marwa di depan. Ia cukup bertanggung jawab sekarang selaku suami dan akan menjadi orang tua dengan 3 anak nantinya. “Kamu jangan capek-capek ya!” kata Rey menghampiri istrinya di depan toko busana muslimah ketika melihat ada pakaian yang sangat cocok untuk Audri.
Marwa menoleh sejenak. “Nggak apa-apa, Mas,”
“Kita jalan-jalan bentar doang. Nggak mau lihat kamu capek,” kata Rey yang kemudian mengikuti istrinya yang memilih baju untuk anak-anaknya.
“Mas nggak mau beli baju?”
Rey yang menggendong Abi menggeleng, dia juga memegang tangan Audri agar tidak keliling sendirian. “Nggak deh, kamu aja yang beli apa yang kamu butuhkan!” sedangkan Marwa memilihkan baju untuk Audri kemudian mencocokkannya. “Ody baju barunya banyak, biar nanti sama kayak Mama nggak boleh pakai baju pendek,” kata Rey yang di mana anaknya tidak mau menggunakan baju pendek. Bahkan di rumah anaknya memakai baju panjang.
Tak berselang lama kemudian mereka sudah selesai berbelanja kebutuhan yang diinginkan oleh Marwa. Tidak lepas juga dari mainan untuk kedua anaknya yang selalu dituruti. Rey juga membelikan mobil-mobilan untuk Abi yang bisa ditunggangi berdua dengan Ody nantinya.
Usai belanja mereka memilih untuk pulang. Sedangkan Abi sudah tidur terlebih dahulu tadi ketika Rey membelikan makanan untuk istrinya yang katanya ngotot ingin dibelikan bakso, dia jadi ingat cerita papanya ketika mamanya hamil dulu ngidam bakso tengah malam sampai mereka pergi tengah malam menuruti keinginan mamanya. Dia juga demikian, Marwa hamil anak kedua justru sering bersikap manja. Entah yang ketiga nanti dia tidak tahu bagaimana nasibnya selaku suami yang mungkin akan ditempeli terus oleh Marwa.
Ia sudah menidurkan anaknya, Audri juga memilih untuk tidur sendirian tanpa ditemani sampai Rey dan Marwa juga bangga terhadap anak pertamanya.
Rey yang mengambilkan mangkuk untuk istrinya, dia temani istrinya makan dimeja makan. Ia juga membukakan bungkus bakso itu. “Makan sayang!”
Marwa mengaduknya sampai semua tercampur. “Mas nggak makan?” tawar Marwa ketika Rey duduk disebelah istrinya sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.
Rey tersenyum. “Kamu makan aja! Makan yang banyak, biar tetap sehat. Semoga dedek nggak manja di sana, ya! Kasihan Abi sama Ody kalau dedek manja,” ujar Rey yang dibalas dengan senyuman oleh istrinya.
Semenjak pertengkaran hebat dulu, Rey tidak pernah mengulangi kesalahannya lagi. Bahkan dia juga sangat bertanggung jawab. “Mas makan yuk!” Marwa menyodorkan bakso itu ke arah Rey.
Dia menerima suapan istrinya. Ia yang baru saja menelan makanannya berdiri untuk mengambilkan air untuk istrinya yang lupa dia ambilkan tadi.
“Ohya, kamu mulai minum susu besok ya. Aku belikan besok,” kata Rey menyodorkan air putih untuk istrinya.
“Popoknya masih?”
“Masih banyak, mungkin cuman susu aja, Mas. Terus vitamin Mas juga tinggal tiga aja,” kata Marwa yang di mana Rey minum vitamin setiap hari sebelum berangkat bekerja.
“Iya besok aku beli sekalian kalau pulang kerja. Kamu juga jangan capek-capek deh!”
Rey memperhatikan istrinya yang makan sedari tadi. “Apa sih, Mas? Malu tahu,” kata Marwa yang merasa dirinya diperhatikan sedari tadi oleh suaminya.
Rey tersenyum ketika istrinya sudah menghabiskan makannya dan sekarang malah makan permen mint. “Aku punya catatan kamu lho,”
“Catatan apa?” tanya Marwa penasaran.
“Catatan waktu kamu bilang cinta sama aku waktu kita masih SMA. Lucu ya, awalnya saling cuekin, sekarang jodoh. Mau punya tiga anak, jodoh itu nggak bisa ditebak,”
“Percaya nggak aku nggak pernah pacaran?” tanya Marwa pada Rey.
Pria itu menyangga pipinya dengan tangan kirinya lalu membersihkan mulut istrinya dengan tisu. “Percaya sih, karena aku juga nggak pernah. Selingkuh sih iya, tapi itu dulu,”
Marwa cemberut. “Nggak usah bahas itu, Mas!”
Rey terkekeh. “Aku sayang kamu, nggak mungkin aku ulangi kebodohan itu lagi yang bisa buat aku berantakan. Istri dan anak-anak aku nggak bisa bahagia nanti karena aku kalau aku seperti itu lagi.”