
"Yakin dengan keputusan kamu, sayang?"
"Pa, Papa mau kan lihat aku fokus belajar?"
"Terus gimana caranya kamu mengejar ketertinggalan kamu?"
"Aku punya teman yang bersedia membantu aku belajar selama ini, Pa,"
Bintang sudah menyiapkan segala keperluannya untuk pindah ke apartemen. Papanya sudah mencarikan apartemen yang sangat mewah. Walaupun sebenarnya dia ingin yang sederhana saja, dia ingi menjauh dari mama tirinya. Dan juga tidak mau mendapatkan perlakuan yang kasar lagi, apalagi Rey, selaku temannya itu mendukungnya untuk pindah. Selama Bintang masih bisa jaga diri, maka papanya pun mengizinkan.
Tapi bukan hanya itu, Ulfa juga dipindahkan ke apartemen yang sama, akan tetapi jarak kamar mereka cukup jauh. Bintang menyetujui itu karena dia bisa leluasa untuk melawan jika nantinya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan lagi, tidak seperti di rumahnya. Kini Bintang akan lebih berani untuk melawan, bukan Bintang yang lemah lagi.
"Ulfa, jaga adik kamu ya!" titip papanya.
Bintang tersenyum, "Yang harus jaga diri itu dia, Pa. Aku bisa jaga diri dengan baik kok, tapi kalau dia sih, aku enggak yakin," sindirnya dan membuat mama tirinya melotot. "Ya sudah, Pa. Aku pamit ya. Papa jaga kesehatan!"
Bintang bersalaman kepada mama tirinya, saat mencium pipi Bintang mama tirinya berbisik, "Jangan pernah usik kehidupan kakak kamu!"
"Tenanglah, paling juga nanti pulang dia bawa cucu," jawab Bintang dengan nada dingin.
Bintang sendiri tahu bahwa kakaknya pacaran sudah melewati batas, bahkan seringkali mendapati lelaki masuk ke dalam kamar jika mama tirinya sedang berbelanja untuk barang-barang mahal yang dia dapatkan dari papa Bintang. Akan tetapi Bintang tidak mengadukan itu, dia tahu bahwa dia akan mendapatkan kekerasan jika berkata demikian. Bahkan sudah sering menangkap basah saudara tirinya sedang melakukan hubungan yang seharusnya tidak dilakukan oleh sepasang kekasih yang masih dalam ikatan pacaran.
Bintang sudah memasukkan barang-barang ke dalam mobil, mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama dan di antar oleh sopir. Keluar dari area rumahnya, Bintang menatap saudara tirinya dengan tatapan yang kasihan karena selama ini perempuan itu selalu saja gonta ganti pasangan dan mendapatkan jatah untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dari Ulfa.
Ulfa menjawab telepon dari seseorang, dan perempuan itu justru dengan entengnya menyuruh seorang laki-laki yang diseberang telepon untuk datang ke apartemennya.
"Enggak takut hamil, lo?"
"Bodo amat, awas aja lo ngadu ke mama atau Papa,"
"Kayak enggak ada kerjaan aja gue ngadu ke mereka, udah nikmati aja hidup lo,"
"Lo bakalan tahu gimana enaknya kalau lo nyoba, sekalian aja lo ajak Rey, kalau lo hamil, lo bisa minta tanggung jawab, lagian dia itu anak orang kaya,"
"Gue enggak semurah itu, Ulfa. Lo aja sana yang rela jadi pemuas nafsu orang-orang yang gila sama tubuh lo itu," Bintang akui bahwa tubuh Ulfa sangat indah bahkan bisa menggaet pria mana pun yang menggilai tubuh indah. Wajah cantik dan juga bagian dada yang menonjol, jika mengenakan pakaian seksi, tentu saja orang akan langsung tertarik, jika itu adalah pria yang butuh kepuasan.
Keduanya pun tiba di salah satu apartemen dan beberapa orang suruhan papanya mulai menurunkan barang keduanya, Bintang yang lebih dahulu pergi ke kamarnya dan meninggalkan Ulfa di sana.
Malam itu hujan turun tiba-tiba, Bintang yang membiarkan jendela apartemennya terbuka segera menutupnya karena hawa dingin yang terasa hingga ke dalam kamarnya. Dengan pencahayaan seadanya, Bintang langsung menuju ke ranjang dan berusaha memejamkan matanya.
Keesokan harinya.
Sepulang sekolah, Bintang mengajak teman-temannya ke apartemen untuk mengerjakan tugas kelompok bersama. Bintang, Rey, Fendi, Rista dan juga Jenny, mereka berlima membentuk kelompok untuk mengerjakan tugas mereka. Beruntunglah sebelum dia mengajak teman-temannya kemari, papanya telah memerintahkan salah satu asisten di rumahnya untuk mengisi penuh kulkas Bintang denga berbagai macam minuman dan juga makanan.
"Tinggal sendiri lo sekarang?" Ucap Jenny dengan khasnya yang terbilang blak-blakan.
Bintang mengangguk, "Iya sendiri. Aku di sini lebih leluasa aja gitu,"
"Emang rumah kemarin ada apa?"
"Enggak ada sih, cuman aku lebih nyaman tinggal sendirian,"
"Rey jangan sering-sering jalan sama Bintang, apalagi sekarang cewek lo tinggal sendirian, setan itu ada di mana-mana, takutnya lo nanti berduaan mulu, terus kebablasan," ucap Fendi sambil tertawa, Bintang yang melihat Rey melempar Fendi dengan bantalan sofa hanya menggeleng dan tersenyum. Percaya bahwa lelaki itu tak akan melakukan hal sejauh itu. Apalagi Rey berusaha untuk mengingatkannya dan juga Rey sendiri yang mengatakan bahwa mereka akan jarang pergi berdua lagi.
Bintang berdiri dan hendak mengambil minuman dari dapur. Namun Rey mengikutinya karena ingin ke kamar kecil, Bintang mengantarkan dan kembali lagi untuk menyiapkan minuman untuk teman-teman yang lain.
Terlebih dahulu dia mengganti pakaiannya sebelum mulai untuk belajar, di ruang. tamu yang cukup lusa, Bintang melirik sejenak dan melihat Rista sedang berbaring di lantai karena kelelahan.
"Aku bantuin?"
"Gimana rasanya tinggal sendirian? Enggak ada penyiksaan lagi, kan?"
"Aku bahagia, Rey,"
Bintang menuangkan sirup dan Rey menaruh es batu di gelas masing-masing. Sambil menceritakan keadaannya yang cukup membaik setelah tinggal sendirian, Rey mengajaknya bercanda sesekali, dan Bintang menanggapi candaan Rey.
"Aku peluk baru tahu rasa loh,"
"Emang berani? Yang aku tahu kamu tuh anti banget sama cewek, Rey,"
"Ngeremehin aku?"
"Enggak,"
"Tapi aku merasa kamu tuh lagi remehin aku,"
"Kamu memangnya ngerasa di remehin?"
"Iya,"
"Baguslah,"
Bintang berbalik dan hendak mengambil buah di lemari pendingin, namun justru jatuh bersama dengan beberapa barang yang dibawanya, Rey membantunya untuk memungut beberapa makanan ringan yang Bintang bawa tadi karena hendak ditukar dengan buah dan makanan yang mengenyangkan, tetapi baru saja dia hendak berdiri dan Rey berjongkok di depannya sambil memunguti yang jatuh, Bintang terpeleset karena air es yang mencair membuat lantai licin dan seketika menarik Rey hingga posisi keduanya Rey di atas dan Bintang tidur di lantai.
Keduanya sama-sama diam saling menatap, Rey menyangga dengan kedua tangannya, sedangkan Bintang terbawa suasana karena tatapan Rey. Bintang melihat tangan kanan Rey bergerak menuju bagian perutnya, "Ups," mereka berdua melihat Jenny yang datang tiba-tiba dan gadis itu menarik napas panjang kemudian berteriak. "Rey! Bintang!" Mereka berdua spontan berdiri dan Bintang menurunkan kaosnya yang terangkat, Rey berusaha mengejar Jenny karena tidak ingin salah paham. Sedangkan dirinya keluar membawa minuman yang sudah disiapkan, di sana dia melihat Rey menjelaskan tetapi Jenny menutup telinganya.
"Sayang, sebenarnya ada apa?" ucap Fendi terus berusaha mencari tahu.
"Tadi lo di ingetin Rey. Dan dengan cerobohnya lo mau ngelakuin hal itu sama Bintang di dapur,"
"Ngelakuin apa?" tanya Fendi dan Rista serentak.
"Please, oke ini salah paham. Lo datang terlambat, lo datang waktu Bintang jatuh dan secara enggak langsung gue ikut jatuh karena dia narik gue, gue berada di atas dia dan Bintang di bawah gue,"
Fendi dan Rista melongo, sedangkan raut wajah Bintang sudah memerah karena penjelasan Rey.
"Ta-tapi lo buka baju Bintang, apalagi yang salah paham?"
"Gue mau narik bajunya dia karena perutnya kelihatan, gue enggak ada maksud mau lakuin seperti yang lo pikirkan,"
"Lo mesum, Rey. Sumpah ya gue enggak nyangka," celetuk Fendi.
Rey menatap ke arah Bintang. "Please, ini cuman salah paham. Gue enggak ada maksud, sumpah. Gue juga masih punya otak, Fen. Gue tadi beneran jatuh berdua sama Bintang di dapur, dia terpeleset dan narik gue, gue bantuin dia mungutin beberapa makanan yang jatuh, dia jatuh duluan, terus ketika mau bangun, dia terpeleset sama es batu yang mencair dan lantainya itu licin, lihat deh sekarang tuh bajunya Bintang kotor, celana gue juga,"
Bintang melihat Rey yang tak menyalahkannya sama sekali karena kejadian itu, justru temannya mencoba menjelaskan. Bintang pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Rey.
"Awas aja lo kalau sampai kebablasan, gue gebukin lo, Rey!"
"Sumpah, lo boleh deh jauhi gue, kalian semua boleh jauhi gue kalau gue berani nodai Bintang. Kita enggak ngapa-ngapain kan, Bintang?"
Gadis itu mengangguk, "Gue sama Rey enggak macam-macam, kalian cuman salah paham."
Bintang juga berusaha untuk menjelaskan. Hingga akhirnya Jenny percaya dan juga dua lainnya ikut paham dengan penjelasan Rey dan Bintang.
Noted : Beberapa hari ini banyak yang DM minta crazy up. Hehehe karena author punya kesibukan juga. Jadi maaf, dan lagi jika menganggap bahwa ceritanya bakalan ada adegan dewasa 🤔 maaf ya. Ini hanya sekadar untuk anak SMA. Jika season 1 banyak sedih, season 2 bakalan dibuat seru dan romance ringan. Dan tokoh season 1 enggak bakalan hilang kok. Jangan lupa like-nya ya! Hehe 😊