
Dibawah pencahayaan kamar yang remang-remang, sinar bulan masuk melalui celah-celah yang memungkinkan untuk bisa masuk ke dalam kamar yang sengaja dibiarkan gelap karena barangkali pemiliknya memang ingin sendiri terlebih dahulu dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.
Bintang, dia mulai untuk memainkan ponselnya. Berharap ada pesan masuk dari Reynand yang mengabarinya walaupun hanya sekadar mengucapkan selamat malam seperti dahulu. Suatu kebiasaan di mana dua anak remaja yang sedang kasmaran pada umumnya. terkadang orang yang sudah terbiasa merasakan begitu kenyamanan dari menunggu kabar, kemudian menjadi sesuatu yang begitu asing ketika tidak diberi kabar. Menyakitkan adalah ketika kita menunggu kabar yang tak kunjung jua datang.
Penantian terasa panjang dan melelahkan adalah ketika ingin mengetahui kabarnya yang baik-baik saja atau tidak. Ingin sekali menyapa tetapi tidak ada keberanian untuk memulai itu semua. Bukan karena tidak ingin, tetapi hati melarang untuk melakukan hal itu. Bukan ingin egois, tetapi menjaga hati seseorang agar tak terluka bukankah suatu hal yang baik?
Ia ingat waktu itu, lelaki yang selalu bersikap baik pada siapa pun selama di sekolahnya, siapa pun yang meminta tolong, maka dengan senang hati lelaki yang didambakan oleh Bintang itu membantu dengan senang hati.
Kekaguman itu berawal dari dia melihat sikap lelaki itu yang selalu baik kepadanya. Tetapi ketika suatu kebaikan yang sudah terbiasa kita dapatkan menjadi suatu kebiasaan yang tidak menyenangkan yaitu ketika kebaikan yang ada padanya tidak seperti dulu. Itu adalah hal yang paling sulit.
Seorang gadis yang tengah berbaring di kamarnya dengan menatap langit-langit kamar sambil meletakkan ponselnya di atas dadanya. Memejamkan mata sejenak berharap sekali bahwa ada pemberitahuan masuk ke ponselnya.
"Sudah tidur?"
Suara itu membuat Bintang membuka matanya dan menyalakan senter ponselnya kemudian keluar dari kamarnya yang di mana sumber suara itu berasal. Bintang yang tadinya ingin sekali tidur akan tetapi menunda setelah mendengar ucapan papanya dari luar.
Bintang membuka pintu kamar dan mempersilakan papanya untuk masuk.
"Kenapa belum tidur?" ucap pria itu sambil mengusap bahu kanan Bintang. Seorang anak gadis yang selalu saja butuh untuk dimanjakan oleh papanya.
"Papa, kenapa Papa juga belum tidur?"
"Bintang, lusa temui Mama!"
Gadis itu membulatkan matanya terkejut dengan apa yang dikatakan oleh papanya begitu mendadak.
"Kenapa tiba-tiba begini, Pa?"
"Mama yang minta, Bintang,"
Bintang mengangguk pasrah, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertemu dengan Reynand suatu saat nanti. Dia akan menyatakan perasaannya dan meminta maaf. Barangkali mereka bisa saling mengerti walaupun pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bersatu.
Baik Bintang maupun Reynand, keduanya harus benar-benar saling melepaskan jika memang tidak disatukan nanti.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh papanya, tetapi semua itu terdengar begitu jelas.
"Sayang, Papa permisi. Lusa ingat ya, Papa yang bakalan antar kamu untuk ketemu sama Mama kamu," kemudian pria itu berpamitan. Bintang mengunci pintu kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang. Dia memejamkan matanya, merasakan sakit yang teramat sangat. Satu minggu lagi dia akan bertemu sebagai pertemuan sekaligus perpisahan yang akan dilakukan bersama dengan lelaki yang pernah begitu berharga baginya.
Ia telah membangun harapan yang begitu besar terhadap Reynand. Hancur seketika saat harus terpisah bersama dengan lelaki yang begitu membuatnya bersemangat untuk tetap hidup lebih kuat lagi.
Jatuh ke dalam kenyamanan yang diciptakan oleh lelaki itu bukanlah suatu hal yang salah. Rey, adalah lelaki yang sudah meruntuhkan segala kekokohan hatinya dalam bertahan untuk sendiri kali ini.
"Jangan lupa kita bertemu, dan maaf aku percepat waktunya menjadi besok. Karena aku ingin menghabiskan waktu bersama keluarga."
Bintang pun mengirim pesan itu.
Terdengar suara notifikasi yang masuk ke ponselnya. Rey yang tadinya sedang menonton film di laptopnya mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Bintang yang mengajaknya untuk bertemu besok.
Lelaki itu pun menyinggungkan senyum, berharap bahwa esok akan menjadi lebih baik lagi. Dan Bintang jauh lebih jujur terhadap perasaannya seperti yang dituliskan dalam buku catatan yang pernah diberikan.
Sengaja dia tidak membalas pesan itu agar gadis itu berstirahat dengan baik. Raut bahagia nampak dari wajahnya yang tersenyum layaknya memang remaja yang benar-benar jatuh cinta.
Lelaki itu paham, bahwa ada jeda yang memang tercipta di antara mereka berdua. Yaitu saling bertukar kabar yang beberapa hari ini menghilang begitu saja. Dari kebiasaan menjadi suatu ketidak biasaan.
Dia tidak ingin mengeluh dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Ingin sekali dia bertemu dengan Fendi untuk menceritakan itu semua, sudah beberapa kali bercerita mengenai Bintang kepada Fendi, tetap saja permintaan teman lelakinya itu untuk meninggalkan Bintang dan fokus pada perintah orang tua. Akan tetapi dia percaya bahwa kali ini dia akan menemukan Bintang yang lain menjadi cahaya baru dalam hidupnya; dalam arti menemukan Bintang yang jujur terhadap perasaannya sendiri.
Rey keluar dari kamarnya hendak ke dapur untuk mengambil air minum karena kehausan sebelum tidur. Tadi air yang dibawanya sudah habis ketika sedang sibuk menonton film yang di laptopnya.
"Rey kok belum tidur?" ucap papanya sambil menguap dan meregangkan ototnya.
Rey berhenti tepat beberapa langkah dari pria yang sedang membuka kaca matanya sambil menguap itu. "Iya mau ambil air minum, Pa. Papa sendiri kenapa belum tidur?"
"Papa disuruh Mama buat susu untuk adik-adik kamu kalau mereka bangun nanti,"
Rey mengangguk, tetapi dia melihat papanya benar-benar kelelahan. "Sini biar aku saja yang buatin susu untuk mereka, Pa. Papa istirahat aja, kamarnya jangan dikunci, aku nanti masuk untuk antarin,"
"Beneran?"
"Iya, Pa. Papa tidur aja, kelihatannya Papa capek banget,"
"Lebih capek Mama yang jaga adik-adik kamu, Rey. Papa enggak apa-apa sih," ucap Azka dengan tenang karena sesungguhnya yang paling berat itu memang mengasuh anak. Apalagi yang diasuh oleh Nagita itu kembar, dan itu benar-benar melelahkan.
"Ya sudah, Pa. Aku ke dapur dulu, Papa tidur aja, nanti kalau Mama tanya kan tinggal jawab aku yang buatin mereka susu,"
Azka mengusap kepala Rey dan berbalik ke arah kamarnya. Sedangkan Reynand turun untuk ke dapur membuat susu sekaligus mengambil air untuk dirinya sendiri.
Di sana dia mulai untuk membuat susu, mamanya selalu menyediakan air panas di sana. Dia sudah terbiasa membuat susu untuk adiknya, kedua adiknya sudah tidak minum ASI lagi dari mamanya. Akan tetapi tetap meminum susu formula.
Selesai membuat susu, Rey langsung ke atas menuju kamar kedua orang tuanya dan juga adiknya. Dia masuk begitu saja, mendapati papanya yang tengah memeluk mamanya. Sedangkan yang dua itu berada di pojok dekat tembok, lelaki itu menaruh susu di dekat meja dan menaikkan selimut. Dia melihat kedua adiknya tengah tertidur sangat lelap.
Melihat kenyamanan saat orang tuanya berpelukan ia hanya tersenyum melihat kebahagiaan sederhana itu.