
Rey telah merencanakan liburannya bersama dengan Marwa ke Maldives.
"Gimana, Rey udah tahu belum kalau si Marwa itu Bintang?" tanya Jenny di sela-sela mereka bertiga yang sedang berkumpul di rumah Fendi.
"Belum, gue dengar sih mereka mau ke Maldives. Gue enggak tahu ya kalau si Rey itu bakalan beneran tahu atau enggak, yang jelas gue berdoa banget gitu," jawab Leo dengan penuh harap.
"Gue enggak minta banyak hal sih dari dia. Yang penting dia tahu istrinya itu adalah si Bintang. Gue kasihan juga sama mereka berdua, bersama tapi enggak saling tahu. Rey juga, dia bilang bakalan buka cadar si Marwa nanti kalau sudah siap menerima istrinya," Jenny kali ini yang tak kalah gemasnya dengan pasangan itu.
Kali ini mereka bertiga berencana untuk mengunjungi Rey di kantornya walaupun hanya berkumpul biasa. Dan, Jenny juga akan sengaja menyinggung soal kehamilannya yang baru berusia tiga minggu itu. Setelah Leo menceritakan bahwa dua hari lalu Rey pernah ditanya soal kapan kehamilan Marwa? Justru Rey menghindar dari pertanyaan itu. Leo yang waktu itu juga terkejut dengan pertanyaan Oma.
Mereka bertiga pun berangkat menuju kantor Rey yang tidak jauh dari rumah Fendi sekarang. Keduanya setelah menikah memilih untuk tinggal terpisah dari orang tua agar mereka bisa menjalani rumah tangga tanpa ikut campur dari orang tua ketika mereka memiliki masalah nantinya.
Setelah dua puluh menit menyusuri jalanan yang sedikit macet dan tidak terlalu parah. Mereka tiba di kantor Rey dan langsung menemui pria yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya siang itu.
Ketika orang itu tidak pernah izin untuk masuk dan justru nyelonong begitu saja tanpa mempedulikan apa yang dikatakan oleh sekretaris Rey.
"Kalian mau apa?" tanya Rey dengan nada dinginnya.
Leo yang sedikit tersinggung dengan pertanyaan itu langsung berdiri dari sofa tempat dia duduk kemudian berdiri di dekat jendela. "Gimana sama rencana liburan bulan madu kakak? Apa akan terlaksana kali ini?"
Rey melepaskan berkas dan juga bolpoin itu kemudian membuka laptopnya untuk memesan tiket secara online. Sekarang ini apa pun sudah mudah dilakukannya, bahkan apa pun kebutuhan Marwa dia selalu membelinya dari online. Dia tidak ingin lagi suatu kejadian di mana yang tidak menyenangkan terjadi lagi seperti waktu itu ketika mereka hendak membeli peralatan memasak.
Rey melonggarkan dasinya setelah melihat paket liburan ke Maldives.
"Udah direncanain dan mau ke Maldives sih," ucap Rey dengan santai.
"Kalau emang udah fix mau ke sana, ya udah tinggal lo pesan aja tiketnya. Jangan tunda lagi untuk liburan lo, masa lo tunda terus. Yang ada perut istri gue makin besar atau bahkan lahiran duluan daripada nungguin lo itu bulan madu,"
Rey melongo mendengar ucapan Fendi saat memeluk Jenny. "Maksud lo?"
"Kesayangan gue hamil, Rey. Nah sekarang itu tinggal lo yang belum terdengar kabar kalau lo berhasil hamilin si Marwa,"
Rey sedikit menggosok tengkuknya. "Yang sabar aja, mungkin belum waktunya. Gue juga berusaha kok sama dia,"
"Berusaha apaan kalau lo sendiri belum pernah tahu istri lo itu siapa? Dan lo bakalan terkejut kalau sudah tahu. Pura-pura bohong hanya untuk terlihat bahwa lo sama dia itu baik-baik aja," gumam Fendi di dalam hati.
Pintu ruangannya pun di ketuk oleh seseorang. Rey mempersilakan orang tersebut masuk. Seorang kurir datang menyerahkan paket, ketiga orang itu mengernyit setelah melihat orang yang mengantarkan paket tersebut.
"Lo pesan apaan?" Jenny yang mendekati Rey hendak membuka paket itu.
Rey duduk di sofa bergabung bersama teman dan adik sepupunya untuk melihat isi paket tersebut. Semua itu merupakan foto-foto masa lalunya bersama dengan Bintang.
Jenny, Fendi dan Leo tersentak melihat itu. "Maksudnya apa ini, Rey?"
"Bintang tiba-tiba hadir lagi di dalam hidup gue," ucap Rey pelan.
"Man, please lo enggak boleh gegabah. Ini bukan Bintang. Kalaupun memang dia, lo bakalan ketemu sama dia. Dan alamat pengirimnya juga pasti bakalan ada di situ, lo cuman perlu untuk selidiki alamat pengirimnya,"
"Ini tuh tercantum alamat lama Bintang," Rey sangat yakin dengan perempuan yang mengiriminya paket tersebut adalah Bintang.
"Kak, jangan pikirkan hal lain. Ingat kakak sekarang sudah menikah, kenapa masih mikirin dia? Kalau memang dia masih sayang sama kakak, kenapa hadirnya baru sekarang setelah kakak menikah? Apa kakak enggak mikirin gimana nasibnya Kak Marwa kalau dia tahu bahwa Kak Rey masih menyimpan masa lalu Kak Rey seperti sekarang ini?"
Leo tidak ingin keceplosan ketika membahas tentang kakak iparnya itu. Biarlah Rey tahu bahwa Marwa itu adalah Bintang dengan sendirinya. Jika mereka memberitahukan hal itu, tentu saja Rey akan merasa sangat dibohongi selama ini karena telah menyembunyikan tentang fakta tersebut.
"Selama ini kamu ke mana Bintang? Kenapa baru muncul sekarang di saat seperti ini? Andai kamu tahu aku nungguin kamu, bahkan sampai aku menikah. Kamu tetap aku tunggu," ucapnya pelan sambil melihat foto-foto mereka di masa lalu,"
Ketiganya saling lempar tatap karena tidak ingin salah bicara nanti dan justru membuat Marwa menjadi sasaran emosi Rey. Apalagi saat ini kondisi hati Rey yang tidak stabil dan masih berharap bahwa perempuan masa lalunya itu hadir kembali. Jika mereka memberitahukan, tentu saja Rey akan merasa bahwa Marwa telah menipunya.
Jenny memikirkan cara bagaimana agar Rey tetap percaya bahwa Bintang sudah tiada, "Rey, ayo kunjungi alamat itu. Kalau memang itu Bintang, gue yakin lo bakalan ketemu sama dia, minta penjelasan kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat," pinta Jenny. Hal itu pun disetujui oleh Leo dan juga Fendi.
Rey diam sejenak dan nampak berpikir. "Ayo," ucap pria itu dengan penuh semangat.
Di dalam mobil, Jenny menggenggam tangan Fendi dan mengetik di ponselnya dan mengirimkan itu kepada Leo. "Bagaimana ini?" ucapnya. Leo yang menerima pesan itu langsung berbalik sementara itu Rey masih sibuk dengan menyetirnya.
"Rey, mending lo hati-hati dulu deh! Siapa tahu ini adalah jebakan yang di mana ingin menghancurkan rumah tangga lo sama istri lo," ucap Fendi pelan untuk mengalihkan kegugupan yang lainnya.
Rey sendiri sudah sangat yakin bahwa itu adalah perempuan masa lalu yang di mana bahwa dia dan Bintang terpisah karena saling menggantung satu sama lain. Apalagi Rey yang sudah pernah menyatakan cinta, sementara itu Bintang juga menyatakan cinta melalui buku diary yang diberikan kepada Rey beberapa tahun silam. Sebelum Bintang pergi, Rey sudah membaca begitu banyak catatan kecil yang dimiliki oleh Bintang.
Mereka telah tiba di rumah milik Bintang dahulu. Pria itu menarik napas panjang dan meyakinkan diri bahwa yang mereka cari adalah orang yang selama ini hilang.
Rey memberanikan diri untuk memencet tombol bel yang ada di rumah itu. Beberapa menit kemudian, seorang pria keluar sambil menggendong anaknya. "Cari siapa, Mas?"
Rey yang tidak pernah melihat pria itu sebelumnya, dia hanya menggeleng dan berusaha meyakinkan diri. "Bintang ada?"
"Bintang siapa?"
"Anak dari pemilik rumah ini," jawab Rey dengan lantang.
"Semenjak membeli rumah ini, saya tidak pernah tahu bahwa ada anak pemilik rumah ini bernama Bintang."
Rey sangat ingat bahwa dia menjemput Bintang dulu ke tempat itu. Kali ini justru dia harus menelan pahitnya kekecewaan itu karena tidak menemukan Bintang di sana. Justru bertemu dengan orang asing yang tidak pernah dia tahu sebelumnya menjadi pemilik baru rumah itu.