
Keesokan paginya Rey mencari keberadaan istrinya,
biasanya perempuan itu berada di kamar bersama dengan dirinya. Rey tadi
hanya menemukan sprei baru yang sudah diganti oleh istrinya. Pasalnya,
Rey begitu tidak suka ketika pagi tadi mereka bertengkar hanya karena
noda yang ada di sprei mereka. Yang di mana Rey meminta agar asisten
saja yang mengerjakan pekerjaan itu, akan tetapi justru Marwa memaksa
untuk melakukan pekerjaan itu, membuat Rey sedikit geram dan akhirnya
terjadi pertengkaran itu. Rey menghindar dan akhirnya keluar dari kamar,
dia kembali lagi setelah beberapa saat merasa bahwa dia bersalah kepada
istrinya karena sudah membentak Marwa.
Rey
keluar dari kamar kemudian mencari keberadaan istrinya, di sana dia
bertemu dengan papanya. “Kenapa kalian tuh berantem pagi-pagi?” ucap
Papanya yang mengejutkan Rey yang baru saja keluar dari kamarnya, dia
terkejut dengan pria yang tiba-tiba merangkulnya.
“Pa, lihat Marwa?”
Azka
yang mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan anak dan menantunya,
tadi pagi mereka rebut dengan hebatnya, tetapi dia dan Nagita tidak
ingin mencampuri hubungan suami istri Marwa dan Rey. Biarlah mereka
berdua berusaha untuk saling mengerti, dan tidak ada yang perlu diikut
campuri. Jika kesalahannya sudah sangat fatal, barulah mereka akan
bertindak menjadi penengah. Akan tetapi jika seperti sekarang ini,
mereka tidak ingin ikut campur.
Sebagai
pria yang sudah menjalin hubungan rumah tangga sudah sangat lama, dia
mengerti bahwa rumah tangga yang dicampuri oleh orang lain akan membuat
berantakan, dan ingin sekali Azka membiarkan bahwa keduanya berpikir
untuk menyelesaikan masalah.
“Pa, lihat Marwa enggak?”
“Istri
kamu sendiri malah kamu tanyain ke Papa,” ucap Azka ketus. Sesungguhnya
dia merasa sangat lucu dengan tingkah laku keduanya yang kali ini
benar-benar seperti sepasang anak ABG yang baru saja menjalin hubungan.
Tidak ingin terlalu ikut campur, Azka hanya diam dan membiarkan keduanya
menyelesaikan masalah ketika Rey pergi begitu saja.
Azka
turun ke ruang makan dan di sana sudah ada kedua putri dan juga
istrinya. Seperti biasa Azka mencium istrinya sebagai sapaan pagi, dan
mencium kedua anaknya yang tengah menyantap sarapan.
“Pa,
hari ini Kak Rey enggak kerja, jadi kita berangkat sama, Papa?” Tanya
Nabila. Pasalnya tiap hari mereka akan berangkat sekolah bersama dengan
Rey karena satu jalur.
Azka mengernyitan dahinya, “Kenapa kak Rey enggak kerja?”
“Katanya mau istirahat sama Kak Marwa. Papa enggak dengar mereka itu bertengkar hebat?” timpal Nabila lagi.
Masalah
yang tidak seharusnya diketahui oleh kedua putrinya harus didengar oleh
Nabila dan Salsabila. Ketika dia dan Nagita bertengkar pun, dengan
segala usaha mereka bertengkar ketika tidak ada anak-anak di rumah. Azka
yang mampu mengendalikan emosinya, sedangkan Nagita jauh lebih egois
dan membesarkan masalah. Tetapi ketika sekali Azka membentak untuk
mengingatkan bahwa mereka berdua tidak boleh bertengkar dihadapan Nabila
dan Salsabila, maka Nagita akan langsung mendengar hal itu.
“Pa,
mereka berdua kenapa?” Tanya Nagita yang ikut menanyakan perihal itu.
Dia juga penasaran dengan masalah Rey dan Marwa yang sepertinya membuat
Marwa mengasingkan diri. Dan sedari tadi dia juga tidak menemukan
menantunya.
“Nyonya, Tuan muda sama Non Marwa berantem di belakang,” ucap bibi yang membuat Nagita langsung terjingkat.
“Di belakang mana, Bi?” Tanya Azka.
“Di tempat pencucian pakaian, Tuan,”
Azka
dan Nagita langsung memerintahkan kedua anaknya agar tidak ikut ke
belakang. Nabila dan Salsabila dititipkan pada bibi agar kedua anak itu
tidak pergi mendengarkan percakapan dua orang dewasa yang sedang
memiliki masalah itu.
“Aku
bilang apa sama kamu, Mas? Aku suruh kamu minta pemutih pakaian sama
Mama aja kamu masih mikir dan nolak, ini semua karena siapa? Karena
kamu, Mas,”
“Marwa, nanti yang kerjain itu Bibi,”
Marwa
menyangkal kedua tangan Rey yang berusaha memegannya, sedangkan Azka
dan Nagita tetap berdiri dibelakang tembok sambil mengintip pokok
permasalahan itu, setidaknya mereka berdua tahu bahwa mereka berdua
bertengkar karena apa.
Tidak
mungkin Rey dan Marwa bertengkar jika tidak ada penyebabnya. Mereka
sangat ingat bahwa Rey dan Marwa semalam tertawa begitu bahagia, tidak
mungkin tiba-tiba bertengkar karena tidak ada penyebabnya.
“Mas, ayo dong aku mohon banget sama kamu, kamu tuh minta pemutih pakaian sama, Mama!”
“Enggak, kamu enggak boleh nyuci. Enggak boleh nyuci segala,” ucap Rey yang tidak ingin kalah dari istrinya.
“Mas, ini juga karena perbuatan kamu,”
“Itu karena kamu istri aku, makanya aku minta hak aku. Tapi kamu enggak boleh nyuci, titik!”
“Aku malu, nanti kalau bibi cerita tentang darah itu gimana?”
“Ya
enggak masalah, toh kita juga sudah nikah, enggak bakalan ada yang
marah sayang. Enggak bakalan ada, seorang suami istri lakuin itu juga
sudah wajar banget, enggak ada masalah sedikit pun,”
Azka
menutup mulut istrinya yang sepertinya ingin tertawa tadi. Dia melihat
istrinya benar-benar menahan tawa di sana. Azka menarik istrinya agar
menjauh dari tempat itu dan pergi dari sana. “Mama kenapa coba nahan
tawa?”
“Mama ketawa karena kepolosan mantunya Papa. Malam pertama dipermasalahin,”
“Menang banyak si Rey, dapat perawan, Ma,”
Nagita
Padahal Papa tuh cobain sana-sini,” protes Nagita dan langsung membuat
ekspresi Azka berubah seketika.
“Mulai lagi,”
“Emang
benar,” ucap Nagita dan melipat kedua tangannya di depan dada. Nagita
tidak suka jika Azka mulai membahas hal mengeni masa lalu, apalagi
membahas perihal perawan, pasalnya dia kehilangan kehormatannya waktu
Azka mabuk dan itu benar-benar membuat Nagita masih sakit. Jika
disinggung perihal perawan lagi, dia akan merasa sangat sedih karena
tidak melakukannya dengan saling mencintai.
“Ma,
maaf,” ucap Azka yang sepertinya sadar dengan tindakan istrinya yang
tadi langsung berubah ketika Azka membahas hal itu. “Mama marah?” dia
melihat Nagita dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh, walaupun mereka
sudah menikah, Nagita paling tidak bisa jika mereka membahas hal itu.
Sangat sakit, bahkan tidak bisa lagi digambarkan bagaimana perihnya hati
Nagita mengingat kejadian tidak menyenangkan itu.
“Papa,” ucap Rey yang membuat keduanya terkejut dengan ucapan Rey yang tiba-tiba muncul. “Mama sama Papa ngapain?”
Azka dan Nagita saling tatap dan mencari alasan. “Mama sama Papa tadi mau manggil kamu sarapan,” ucap Nagita mencari alasan.
Rey
menatap mamanya dengan tatapan tidak percaya, pasalnya tidak biasanya
mereka berdua berada di tempat itu. Pria itu menelisik kebohongan dari
mamanya. “Mama sama Papa nguping?”
“Enggak,” seka papanya. Tapi Rey tahu bahwa mereka berdua mendengarkan percakapan Rey dan Marwa.
“Papa
sama Papa tuh benar-benar nguping, kan?” ucap Rey terus memastikan
bahwa keduanya benar-benar mendengarkan percakapan Rey bersama dengan
Marwa.
“Papa
tuh lagi berantem sama, Mama. Kamu tuh ada-ada aja, yakali Papa sama
Mama enggak ada kerjaan banget urusin rumah tangga kamu sama istri kamu,
Papa tuh banyak kesibukan, enggak harus ikut campur soal rumaht tangga
kamu, Rey,” ucap Azka yang diacungi jempol oleh Nagita. Entah dia nanti
akan mendapatkan masalah lebih besar lagi dari Nagita atau
tidak.Setidaknya Azka berhasil meyakinkan Rey dengan cara pria itu
mengangguk kemudian berlalu.
Azka
dan Nagita menarik napas panjang karena lega dengan kepergian Rey dari
hadapan mereka. Tetapi baru beberapa langkah, Rey berhenti. “Ohya, Ma?”
Azka dan Nagita menegang seketika. “Ada pemutih pakaian?” Tanya Rey yang
membuat Nagita hendak tertawa dengan kepolosan Reynand yang diminta
oleh sang istri untuk mencari pemutih pakaian.
Nagita
berusaha untuk tetap terlihat tenang karena tidak ingin membuat anaknya
malu karena pertengkaran pagi itu bersumber hanya karena malam pertama
yang di mana mereka berdua hanya mempermasalahkan soal sprei.
Perempuan
itu pun melangkah ke arah dapur, dan membuka salah satu lemari yang ada
di sana, dia mengeluarkan pemutih pakaian yang ada di lemari bawah,
“Mama tuh kenapa taruh begituan di sana? Nanti kalau Nabila sama
Salsabila minum gimana?” Azka terlihat geram melihat perlakuan istrinya
yang mengeluarkan pemutih pakaian dari dapur.
“Pa,
Mama baru belu kemarin, jadi enggak sempat gitu naruhnya di sana.
Biasanya juga Mama taruh di belakang, tempat pencucian. Cuman Mama
enggak sempat, jadi Mama taruh di dapur dulu, lagian Mama tuh kunci kok.
Yakali Mama tuh mau racunin anak sendiri,” sela Nagita dan memberikan
pemutih itu kepada Rey.
Setelah anaknya pergi, Nagita menatap kea rah Azka. “Pa,” ucap Nagita pelan.
“Hmm?” jawab Azka simple.
“Papa kok gitu jawabnya?”
“Kenapa
sayangku?” jawab Azka dan mendekati istrinya, dia tahu bahwa istrinya
sedang marah karena ucapannya tadi. Azka mendekati Nagita.
“Papa gimana tanggapannya sama yang tadi?”
“Gimana apanya?”
“Ya soal Rey yang berantem, kalau seandainya Papa seperti itu juga dulu, apa Papa bakalan permasalahin malam pertama juga?”
“Yang permasalahin itu perempuan, Papa sih enggak,” ucap Azka sambil tersenyum.
“Papa kalau udah bahas begituan, wajib banget senyum ke arah, Mama,”
Azka
menyentil dahi istrinya hingga membuat perempuan itu mengaduh, “Mama
tuh ya, Papa kan punya istri, jadi apa salah gitu kalau Papa tuh ngomong
hal semesum apa pun sama Mama?”
Nagita menggeleng, “Papa cepat banget marahnya,”
“Mama tuh yang marah, Papa sih enggak masalah, cuman hati Mama aja yang terlalu sensitif,”
“Papa tuh,”
Azka
menarik napas panjang dan mengeluarkan dompetnya. “Perempuan tidak
pernah salah, Ma. Jadi Papa nyerah aja, yang ada nanti Papa dijambak
sama Mama. Enggak dapat jatah,” ucap Azka memberikan kartu debitnya
kepada sang istri.
Nagita merasa menang karena sudah berhasil membuat suaminya mengalah.
“Mama ngerasa menang, Pa,”
Azka
menarik hidung istrinya, “Kapan memangnya Mama tuh kalah? Mama selalu
menang kalau debat sama Papa, maklumlah Papa tuh hatinya baik banget
sama istri,”
Nagita pura-pura batuk mendengar ucapan Azka. “Iyain aja suami, yang penting enggak nyari lagi,” jawab Nagita polos.
“Papa nungguin kabar Marwa hamil, hahaha,” ucap Azka yang membuat Nagita juga tertarik dengan pembahasan itu.
“Tumben kali ini benar, Pa?”
“Papa selalu benar, Ma. Giliran dong, Papa kali ini yang menang,”
“Papa
sama Mama dari tadi debat melulu,” ucap Rey yang keluar bersama dengan
Marwa sambil bergandengan tangan. Tadi mereka menyaksikan sendiri
bagaimana Rey dan Marwa bertengkar. Tetapi kini keduanya sudah akur
seperti itu.