RICH MAN

RICH MAN
PERMASALAHAN PERTAMA



Keesokan paginya Rey mencari keberadaan istrinya,


biasanya perempuan itu berada di kamar bersama dengan dirinya. Rey tadi


hanya menemukan sprei baru yang sudah diganti oleh istrinya. Pasalnya,


Rey begitu tidak suka ketika pagi tadi mereka bertengkar hanya karena


noda yang ada di sprei mereka. Yang di mana Rey meminta agar asisten


saja yang mengerjakan pekerjaan itu, akan tetapi justru Marwa memaksa


untuk melakukan pekerjaan itu, membuat Rey sedikit geram dan akhirnya


terjadi pertengkaran itu. Rey menghindar dan akhirnya keluar dari kamar,


dia kembali lagi setelah beberapa saat merasa bahwa dia bersalah kepada


istrinya karena sudah membentak Marwa.


Rey


keluar dari kamar kemudian mencari keberadaan istrinya, di sana dia


bertemu dengan papanya. “Kenapa kalian tuh berantem pagi-pagi?” ucap


Papanya yang mengejutkan Rey yang baru saja keluar dari kamarnya, dia


terkejut dengan pria yang tiba-tiba merangkulnya.


“Pa, lihat Marwa?”


Azka


yang mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan anak dan menantunya,


tadi pagi mereka rebut dengan hebatnya, tetapi dia dan Nagita tidak


ingin mencampuri hubungan suami istri Marwa dan Rey. Biarlah mereka


berdua berusaha untuk saling mengerti, dan tidak ada yang perlu diikut


campuri. Jika kesalahannya sudah sangat fatal, barulah mereka akan


bertindak menjadi penengah. Akan tetapi jika seperti sekarang ini,


mereka tidak ingin ikut campur.


Sebagai


pria yang sudah menjalin hubungan rumah tangga sudah sangat lama, dia


mengerti bahwa rumah tangga yang dicampuri oleh orang lain akan membuat


berantakan, dan ingin sekali Azka membiarkan bahwa keduanya berpikir


untuk menyelesaikan masalah.


“Pa, lihat Marwa enggak?”


“Istri


kamu sendiri malah kamu tanyain ke Papa,” ucap Azka ketus. Sesungguhnya


dia merasa sangat lucu dengan tingkah laku keduanya yang kali ini


benar-benar seperti sepasang anak ABG yang baru saja menjalin hubungan.


Tidak ingin terlalu ikut campur, Azka hanya diam dan membiarkan keduanya


menyelesaikan masalah ketika Rey pergi begitu saja.


Azka


turun ke ruang makan dan di sana sudah ada kedua putri dan juga


istrinya. Seperti biasa Azka mencium istrinya sebagai sapaan pagi, dan


mencium kedua anaknya yang tengah menyantap sarapan.


“Pa,


hari ini Kak Rey enggak kerja, jadi kita berangkat sama, Papa?” Tanya


Nabila. Pasalnya tiap hari mereka akan berangkat sekolah bersama dengan


Rey karena satu jalur.


Azka mengernyitan dahinya, “Kenapa kak Rey enggak kerja?”


“Katanya mau istirahat sama Kak Marwa. Papa enggak dengar mereka itu bertengkar hebat?” timpal Nabila lagi.


Masalah


yang tidak seharusnya diketahui oleh kedua putrinya harus didengar oleh


Nabila dan Salsabila. Ketika dia dan Nagita bertengkar pun, dengan


segala usaha mereka bertengkar ketika tidak ada anak-anak di rumah. Azka


yang mampu mengendalikan emosinya, sedangkan Nagita jauh lebih egois


dan membesarkan masalah. Tetapi ketika sekali Azka membentak untuk


mengingatkan bahwa mereka berdua tidak boleh bertengkar dihadapan Nabila


dan Salsabila, maka Nagita akan langsung mendengar hal itu.


“Pa,


mereka berdua kenapa?” Tanya Nagita yang ikut menanyakan perihal itu.


Dia juga penasaran dengan masalah Rey dan Marwa yang sepertinya membuat


Marwa mengasingkan diri. Dan sedari tadi dia juga tidak menemukan


menantunya.


“Nyonya, Tuan muda sama Non Marwa berantem di belakang,” ucap bibi yang membuat Nagita langsung terjingkat.


“Di belakang mana, Bi?” Tanya Azka.


“Di tempat pencucian pakaian, Tuan,”


Azka


dan Nagita langsung memerintahkan kedua anaknya agar tidak ikut ke


belakang. Nabila dan Salsabila dititipkan pada bibi agar kedua anak itu


tidak pergi mendengarkan percakapan dua orang dewasa yang sedang


memiliki masalah itu.


“Aku


bilang apa sama kamu, Mas? Aku suruh kamu minta pemutih pakaian sama


Mama aja kamu masih mikir dan nolak, ini semua karena siapa? Karena


kamu, Mas,”


“Marwa, nanti yang kerjain itu Bibi,”


Marwa


menyangkal kedua tangan Rey yang berusaha memegannya, sedangkan Azka


dan Nagita tetap berdiri dibelakang tembok sambil mengintip pokok


permasalahan itu, setidaknya mereka berdua tahu bahwa mereka berdua


bertengkar karena apa.


Tidak


mungkin Rey dan Marwa bertengkar jika tidak ada penyebabnya. Mereka


sangat ingat bahwa Rey dan Marwa semalam tertawa begitu bahagia, tidak


mungkin tiba-tiba bertengkar karena tidak ada penyebabnya.


“Mas, ayo dong aku mohon banget sama kamu, kamu tuh minta pemutih pakaian sama, Mama!”


“Enggak, kamu enggak boleh nyuci. Enggak boleh nyuci segala,” ucap Rey yang tidak ingin kalah dari istrinya.


“Mas, ini juga karena perbuatan kamu,”


“Itu karena kamu istri aku, makanya aku minta hak aku. Tapi kamu enggak boleh nyuci, titik!”


“Aku malu, nanti kalau bibi cerita tentang darah itu gimana?”


“Ya


enggak masalah, toh kita juga sudah nikah, enggak bakalan ada yang


marah sayang. Enggak bakalan ada, seorang suami istri lakuin itu juga


sudah wajar banget, enggak ada masalah sedikit pun,”


Azka


menutup mulut istrinya yang sepertinya ingin tertawa tadi. Dia melihat


istrinya benar-benar menahan tawa di sana. Azka menarik istrinya agar


menjauh dari tempat itu dan pergi dari sana. “Mama kenapa coba nahan


tawa?”


“Mama ketawa karena kepolosan mantunya Papa. Malam pertama dipermasalahin,”


“Menang banyak si Rey, dapat perawan, Ma,”


Nagita


Padahal Papa tuh cobain sana-sini,” protes Nagita dan langsung membuat


ekspresi Azka berubah seketika.


“Mulai lagi,”


“Emang


benar,” ucap Nagita dan melipat kedua tangannya di depan dada. Nagita


tidak suka jika Azka mulai membahas hal mengeni masa lalu, apalagi


membahas perihal perawan, pasalnya dia kehilangan kehormatannya waktu


Azka mabuk dan itu benar-benar membuat Nagita masih sakit. Jika


disinggung perihal perawan lagi, dia akan merasa sangat sedih karena


tidak melakukannya dengan saling mencintai.


“Ma,


maaf,” ucap Azka yang sepertinya sadar dengan tindakan istrinya yang


tadi langsung berubah ketika Azka membahas hal itu. “Mama marah?” dia


melihat Nagita dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh, walaupun mereka


sudah menikah, Nagita paling tidak bisa jika mereka membahas hal itu.


Sangat sakit, bahkan tidak bisa lagi digambarkan bagaimana perihnya hati


Nagita mengingat kejadian tidak menyenangkan itu.


“Papa,” ucap Rey yang membuat keduanya terkejut dengan ucapan Rey yang tiba-tiba muncul. “Mama sama Papa ngapain?”


Azka dan Nagita saling tatap dan mencari alasan. “Mama sama Papa tadi mau manggil kamu sarapan,” ucap Nagita mencari alasan.


Rey


menatap mamanya dengan tatapan tidak percaya, pasalnya tidak biasanya


mereka berdua berada di tempat itu. Pria itu menelisik kebohongan dari


mamanya. “Mama sama Papa nguping?”


“Enggak,” seka papanya. Tapi Rey tahu bahwa mereka berdua mendengarkan percakapan Rey dan Marwa.


“Papa


sama Papa tuh benar-benar nguping, kan?” ucap Rey terus memastikan


bahwa keduanya benar-benar mendengarkan percakapan Rey bersama dengan


Marwa.


“Papa


tuh lagi berantem sama, Mama. Kamu tuh ada-ada aja, yakali Papa sama


Mama enggak ada kerjaan banget urusin rumah tangga kamu sama istri kamu,


Papa tuh banyak kesibukan, enggak harus ikut campur soal rumaht tangga


kamu, Rey,” ucap Azka yang diacungi jempol oleh Nagita. Entah dia nanti


akan mendapatkan masalah lebih besar lagi dari Nagita atau


tidak.Setidaknya Azka berhasil meyakinkan Rey dengan cara pria itu


mengangguk kemudian berlalu.


Azka


dan Nagita menarik napas panjang karena lega dengan kepergian Rey dari


hadapan mereka. Tetapi baru beberapa langkah, Rey berhenti. “Ohya, Ma?”


Azka dan Nagita menegang seketika. “Ada pemutih pakaian?” Tanya Rey yang


membuat Nagita hendak tertawa dengan kepolosan Reynand yang diminta


oleh sang istri untuk mencari pemutih pakaian.


Nagita


berusaha untuk tetap terlihat tenang karena tidak ingin membuat anaknya


malu karena pertengkaran pagi itu bersumber hanya karena malam pertama


yang di mana mereka berdua hanya mempermasalahkan soal sprei.


Perempuan


itu pun melangkah ke arah dapur, dan membuka salah satu lemari yang ada


di sana, dia mengeluarkan pemutih pakaian yang ada di lemari bawah,


“Mama tuh kenapa taruh begituan di sana? Nanti kalau Nabila sama


Salsabila minum gimana?” Azka terlihat geram melihat perlakuan istrinya


yang mengeluarkan pemutih pakaian dari dapur.


“Pa,


Mama baru belu kemarin, jadi enggak sempat gitu naruhnya di sana.


Biasanya juga Mama taruh di belakang, tempat pencucian. Cuman Mama


enggak sempat, jadi Mama taruh di dapur dulu, lagian Mama tuh kunci kok.


Yakali Mama tuh mau racunin anak sendiri,” sela Nagita dan memberikan


pemutih itu kepada Rey.


Setelah anaknya pergi, Nagita menatap kea rah Azka. “Pa,” ucap Nagita pelan.


“Hmm?” jawab Azka simple.


“Papa kok gitu jawabnya?”


“Kenapa


sayangku?” jawab Azka dan mendekati istrinya, dia tahu bahwa istrinya


sedang marah karena ucapannya tadi. Azka mendekati Nagita.


“Papa gimana tanggapannya sama yang tadi?”


“Gimana apanya?”


“Ya soal Rey yang berantem, kalau seandainya Papa seperti itu juga dulu, apa Papa bakalan permasalahin malam pertama juga?”


“Yang permasalahin itu perempuan, Papa sih enggak,” ucap Azka sambil tersenyum.


“Papa kalau udah bahas begituan, wajib banget senyum ke arah, Mama,”


Azka


menyentil dahi istrinya hingga membuat perempuan itu mengaduh, “Mama


tuh ya, Papa kan punya istri, jadi apa salah gitu kalau Papa tuh ngomong


hal semesum apa pun sama Mama?”


Nagita menggeleng, “Papa cepat banget marahnya,”


“Mama tuh yang marah, Papa sih enggak masalah, cuman hati Mama aja yang terlalu sensitif,”


“Papa tuh,”


Azka


menarik napas panjang dan mengeluarkan dompetnya. “Perempuan tidak


pernah salah, Ma. Jadi Papa nyerah aja, yang ada nanti Papa dijambak


sama Mama. Enggak dapat jatah,” ucap Azka memberikan kartu debitnya


kepada sang istri.


Nagita merasa menang karena sudah berhasil membuat suaminya mengalah.


“Mama ngerasa menang, Pa,”


Azka


menarik hidung istrinya, “Kapan memangnya Mama tuh kalah? Mama selalu


menang kalau debat sama Papa, maklumlah Papa tuh hatinya baik banget


sama istri,”


Nagita pura-pura batuk mendengar ucapan Azka. “Iyain aja suami, yang penting enggak nyari lagi,” jawab Nagita polos.


“Papa nungguin kabar Marwa hamil, hahaha,” ucap Azka yang membuat Nagita juga tertarik dengan pembahasan itu.


“Tumben kali ini benar, Pa?”


“Papa selalu benar, Ma. Giliran dong, Papa kali ini yang menang,”


“Papa


sama Mama dari tadi debat melulu,” ucap Rey yang keluar bersama dengan


Marwa sambil bergandengan tangan. Tadi mereka menyaksikan sendiri


bagaimana Rey dan Marwa bertengkar. Tetapi kini keduanya sudah akur


seperti itu.