
Tiba di rumah setelah
kembali dari supermarket ia langsung menuju kamarnya untuk menemui
istrinya. Mamanya yang lebih dulu pergi ke dapur untuk menyiapkan bubur
keinginan Nagita. baru saja membuka pintu kamar, Azka dikejutka oleh
adiknya yang hendak keluar.
"Aku ke dapur dulu kak. Mau bantu Mama," belum sempat Azka bertanya adiknya sudah memberitahu tujuannya.
Ia hanya ber-oh ria dan
langsung masuk ke kamarnya. Azka membawa beberapa kantong plastik
belanjaan khususnya untuk Nagita. baru beberapa langkah kakinya masuk,
setelah mengunci pintu. Ia sudah dikagetkan dengan istrinya yang hendak
turun dari ranjang.
"Mau ke mana?"
Nagita langsung menoleh, "Pengin pipis,"
Dengan sigapnya ia menaruh barang-barangnya dan langsung mengejar Nagita dan mengangkat tubuh istrinya.
"Aku bisa sendiri, Mas,"
"Nggak, nanti kamu jatuh,"
Istrinya tak menjawab apa pun. Tiba di toilet ia membuka celana dalam Nagita.
"Mas, aku bisa sendiri. Kamu tunggu aja di luar!"
"Saya nggak suka di bantah,"
Nagita hanya menuruti
semua keinginannya. Azka, pria yang terkenal dengan sikap dinginnya dulu
kini berubah 360 derajat, seperti bukan dirnya yang saat ini begitu
perhatian kepada istrinya.
Saat hendak membersihkan, ia menahan Nagita.
"Mas yang bersihin,"
"Kamu nggak jijik, Mas?"
"Untuk apa? Bahkan saya sering pegang kok, saya sebagai suami kamu nggak boleh jijik sama milik istri sendiri,"
Nagita tersenyum.
"Sayang buka dasternya ya. Ganti! Soalnya udah basah sama keringat kamu, pasti nggak nyaman dipake tidur nanti,"
Nagita mengangguk, Azka
langsung melepaskan daster istrinya dan melakukan kegiatannya untuk
membersihkan organ intim perempuan itu. Nagita berpegangan pada lehernya
dan ia merasakan tubuh Nagita masih panas.
Selesai dengan kegiatannya ia langsung membuka bra dan membiarkan istrinya telanjang.
"Kenapa di buka semua, Mas?"
"Ganti sayang,"
Azka meletakkan baju kotor itu di keranjang tempat mencunci dan langsung mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mereka.
"Nanti Mama masuk, Mas?"
"Pintunya udah dikunci,"
Perlahan tubuh Nagita
disandarkan di sandaran ranjang. Ia beranjak begitu saja dan mengambil
kantong plastik yang ada di atas nakas.
Azka mengeluarkan tisu basah dari kantong plastik itu dan perlahan mulai membersihkan tubuh Nagita yang lengket karena keringat.
"Terima kasih ya, Mas!"
"Untuk?"
"Karena udah rawat aku selama ini,"
"Justru saya yang
berterima kasih, karena kamu telah mau sembuh dari trauma kamu demi
saya, Gita akan saya bawa pulang setelah sembuh, sampai kamu melahirkan,
Mama yang minta hal itu,"
"Aku takut, Mas,"
"Takut kenapa?"
"Takut melahirkan. Pasti sakit, Gita takut,"
Azka menatap mata
istrinya dan berusaha menenangkan. "Saya temani, Gita lahiran nggak
bakal sendiri. Ada saya, kita berjuang bareng, pasti akan baik-baik saja
sayang,"
"Jangan ke mana-mana ya, Mas!"
"Kita akan bareng terus, sayang,"
Perempuan itu langsung mengalungkan kedua tangannya dan memeluk Azka.
"Aku sayang kamu, Mas,"
"Saya lebih sayang sama kamu, jadi jangan pernah takut dalam menghadapi apa pun. Saya selalu ada buat kamu, calon anak kita,"
"Mas, dada aku sakit setelah Mas lepas bra tadi,"
Azka mengernyit dan
melepaskan pelukan istrinya, ia langsung menoleh ke punggung istrinya
dan melihat tanda merah di punggung Nagita.
"Sakit banget ya?"
"Iya, branya kekecilan kayaknya, Mas,"
"Bukan branya yang kekecilan, tapi punyamu yang kebesaran sayang,"
"Emang bisa?"
"Bisa, kan sebentar lagi mau melahirkan, bukan cuman itu, tapi putingnya juga tambah besar, sayang,"
"Mas perhatiin sampai segitu detailnya?"
"Kan tiap hari dipegang, jadi Mas tahu,"
"Mulai deh mulai,"
"Hehehe, bercanda
sayang. Ya udah nggak usah pakai lagi, ukurannya kan sama semua. Tadi
saya beliin kamu dengan ukuran yang lebih besar malah. Mama yang
nyaranin, tapi menurut saya nggak usah pakai. Panas banget kan? Kamu
lagi kurang sehat gini jadi nggak usah pakai bra segala. Yang ada malah
sumpek,"
"Mas aneh-aneh aja, tapi makasih banyak ya udah mau tetap di sini buat nemenin,"
"Sama-sama, yang penting
nanti mau nambah lagi, nggak cuman satu anak kita, kalau bisa sih tiga
atau empat, nggak enak tahu punya saudara cuman satu,"
"Satu aja aku takut, Mas,"
"Tapi buatnya yang enak, kamu juga suka kan?"
"Nggak tahu tuh,"
"Yang bener?"
"Nggak enak, Mas. Sama sekali nggak,"
Azka tersenyum jahil dan langsung menciumi dada istrinya dan meremasnya. Ia tak peduli Nagita mendorong tubuhnya.
"Aaaah, Mas. Udah, aku cuman bercanda!" ia menggigit ** Nagita yang terlihat menggemaskan.
"Masih mau bilang nggak?"
"Bercanda, Mas."
Azka tersenyum dan beranjak ke lamari pakaian dan memilihkan istrinya baju.
"Sayang pakai dulu!"
"Pakaiin!"
"Sekali manja sekali main, lho,"
"Nggak jadi, sini. Aku pakai sendiri," raut wajah kesal Nagita membuat Azka tertawa kegirangan melihat ekspresi itu.
Ia pun memakaikan pakaian yang lebih longgar kepada istrinya,
"Mama sebentar lagi pasti masuk,"
"Ya udah sana Mas buka kunci pintunya!"
"Cium dulu!"
"Kan lagi sakit, pahit tahu nggak,"
"Sayang kan sama saya?"
"Banget,"
"Kalau begitu jangan pernah pergi dari sisi saya, sayang,"
"Mas yang jangan pergi. Apalagi bentar lagi jadi papa,"
"Bukan Papa honey, tapi Daddy, oke!"
"Apa bedanya sih?"
"Biar terlihat lebih muda,"
"Bapak kalau gitu,"
"No Mommy, nggak mau,"
Nagita terkekeh saat Azka menutup telinganya. Mereka pun bercanda seperti biasanya di kamar.
"Kamu lucu, Mas,"
"Kenapa lucu?"
"Kamu menggemaskan kalau kesal,"
"Kamu nyebelin kalau sakit,"
"Kok nyebelin?"
"Saya harus merelakan jatah saya,"
"Mesum, ih,"
"Lagian mesumnya sama istri, nggak masalah tuh, makanya Mommy buruan sembuh dong, kangen tahu,"
"Sabar ya sayang, nanti kalau sembuh pasti dapat lagi kok,"
"Harus. Karena setelah melahirkan, saya akan puasa lama banget nggak nyentuh kamu,"
"Kan masih bisa, ciuman misalnya," Nagita menyentuh pipi Azka dengan lembut.
"Nggak mau. Cuman itu doang, nggak asyik,"
"Terus maunya?"
"Kamu itu lho, Mas. Ada aja yang kamu bilang,"
"Hehehe, biar cepat sembuh. Hmm, demamnya turun?" Azka menempelkan dahinya dengan dahi Nagita.
"Agak membaik sedikit, Mas. Nggak kayak tadi,"
"Lekas sembuh sayang.
Kalau saya tahu kita nikah itu asyik gini, pasti nggak bakalan saya
sia-siain masa kehamilan yang kamu jalani sendirian dulu di apartemen,
hm ngomong-ngomong tadi Mama minta izin buat ngajak kamu ke mall.
Katanya beli perlengkapan bayi sama Naura,"
"Kak Naura juga bilang gitu tadi, eh kan kita sudah beli wkatu itu?"
"Nggak Mommy semua yang bersangkutan dengan masa lalu sudah saya singkirkan. Semua
harus baru, saya nggak mau ingat dengan yang dulu lagi, sudah cukup.
Bahkan saya tahu kamu nggak mau pulang ke apartemen. Meski beberapa kali
saya rayu, kamu tetap nggak mau. Mommy, hidup saya. Nggak boleh
terluka lagi. Tujuan kita menikah sekarang nggak lagi perihal tanggung
jawab semata, tapi karena saya ingin membangun rumah tangga yang
sebenar-benarnya sama Mommy, jangan lagi bepikir saya akan cari
perempuan lain. Perempuan di depan saya saat ini adalah bunga terbaik
hidup saya, tahu kan, kadang saya berpikir bagaimana susahnya jadi kamu
menghadapi saya yang dulu, saya sedih kalau ingat kelakuan saya dulu.
Lupa kalau saya punya istri, lupa kalau saya akan jadi orang tua, istri
saya hamil di rumah, saya pergi sama perempuan hanya untuk
bersenang-senang. Istri saya nungguin di rumah, saya nggak peduli. Saya
pengin banget buat kamu bahagia, kamu tanggung jawab saya, bukan Dimas
lagi. Apa pun keadaannya saya akan tetap menemani, sekalipun kamu nggak
cantik seperti sekarang, saya akan tetap cinta. Biarpun rambut kamu
memutih, saya akan menua sama kamu. Sampai saya sudah tidak ada lagi di
dunia ini,"
"Mas, kamu buat aku takut,"
"Saya akan tetap bahagiain kamu, bagaimanapun caranya. Mengawasi tumbuh kembang si kecil nantinya, jadi Mommy dan istri pertama dan terakhir saya. Kalau saya pergi bekerja dan nggak
pulang, jangan khawatir, saya akan tetap pulang hanya untuk kamu, untuk
anak kita, untuk keluarga kecil kita,"
Nagita terisak dan
memeluknya, sama seperti Azka yang tidak bisa membendung lagi rasa
bahagianya selama ini yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia hanya
bersenang-senang dengan wanita. Tak peduli dengan kebahagiaan untuk
menikah, memiliki keluarga. Yang ada dipikirannya adalah
bersenang-senang. Menghamburkan uangnya, namun semuanya telah berbeda
semenjak Tuhan menghukumnya dengan suatu kejadian yang memang tak pernah
diharapkan. Tetapi semua itu adalah rencana terbaik Tuhan
mempertemukannya dengan kebahagiaan yang hingga kini membuatnya masih
tak percaya.
"Gita kenapa nangis? Hm?"
"Terharu,"
"Heeh, kenapa bisa begitu?"
"Mas selalu sabar hadapi sikap kekanakan aku,"
"Nggak sayang. Tapi kamu yang sabar hadapi sikap, Mas,"
"Tapi aku bahagia, Mas,"
"Setelah sembuh janji
pulang ke rumah, Mas! Kita ketemu Papa, minta restu. Kita juga akan ke
makan orang tua kamu, minta kamu sama mereka. Kita bawa semua keluarga,
sayang,"
"Mas, gini aja aku sudah bahagia,"
"Tapi bagaimana pun juga
saya mau melakukan itu. Bahkan setelah kamu melahirkan, saya pengin
ngadain resepsi untuk pernikahan kita. Umumin ke semua orang bahwa kamu
istri saya, istri dari seorang Azka,"
"Apa pun yang mau kamu
lakukan, aku dukung, Mas. Kecuali jika itu buat hati aku sakit, aku
nggak bakalan dukung kamu satu langkah pun,"
Azka melepaskan
pelukannya dan memegang kepala Nagita. Ia menciumi bibir Nagita, tak
terasa air matanya pun meleleh. Ia pun juga merasakan air mata Nagita
meleleh di pipinya, tautan bibir mereka terlepas saaat seseorang
mengetuk pintu yang ia yakini adalah mamanya.
"Kamu nangis, Mas?"
"Saya bahagia. Saya nangis karena saya merasa bodoh pernah nyia-nyiain kamu,"
Azka mengusap air
matanya dan air mata Nagita dan berlalu membuka pintu. Ia duduk di sofa
sambil memainkan ponselnya untuk mengalihkan pandangannya. Mereka berdua
saling membuang muka seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Mama yang mendekat ke arah Nagita. sementara Naura duduk di samping Azka.
Ia terus memainkan ponselnya dan membelakangi ketiga orang tersebut.
Diam-diam mama memperhatikan gelagat mereka berdua yang seperti habis menangis dan saling mengabaikan.
"Kalian habis berantem?"
Azka dan Nagita menggeleng. Mereka tak menjawab apa pun.
"Yang benar?"
"Iya, Ma. Nggak ada yang berantem kok, aku keluar dulu." Azka menghindari ketiga perempuan yang ada di kamarnya.
Nagita yang melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu merasa sedikit lega dengan perkataan Azka.
"Azka kenapa? Dia nangis? Dia selama ini nggak pernah nangis, lho. Kalian bertengkar?"
"Nggak, Ma."
"Kamu jug kelihatannya abis nangis,"
"Nggak, Ma. Kami nggak bertengkar, Mas Azka lagi bad mood,"
"Kenapa bisa?"
"Mas Azka bilang pengin ngadain resepsi setelah aku melahirkan, Ma,"
"Bagus dong, tapi kenapa dia sampai nangis gitu?"
"Dia bahagia, Ma."
"Nagita jangan bohong
sama, Mama! Jangan pernah sembunyikan apa pun dari Mama, jika memang ada
sesuatu, Mama mau kamu jujur. Kalau Azka keterlaluan, Nagita bilang!"
"Percaya sama aku, Ma. dia itu baik, bertanggung jawab. Bahkan selama menikah Mas Azka nggak pernah ngecewain."
Mama Azka tahu bahwa
Nagita berbohong. Selama ini ia tahu bahwa putranya pernah tidak peduli
dengan Nagita. namun perempuan itu berbohong dan menyembunyikan
kesalahan Azka selama ini.
"Setelah sembuh, jangan lupa pulang! Mama pengin kamu tinggal di rumah untuk sementara waktu. Mama pengin rawat kamu,"
"Iya Ma, nanti kalau sudah sembuh pasti kami akan ke sana,"
"Sayang sama anak Mama?"
"Sayang, Ma. Calon anak aku juga sayang sama Daddy-nya, Ma." jawab Nagita sambil tersenyum.
"Tahu dari mana, coba?"
"Setiap kali Mas Azka pegang, dia bergerak, Ma."
"Semoga nanti kamu jadi ibu sekaligus istri terbaik untuk anak mama ya, sayang,"
"Aamiin, Ma,"
"Jadi ibu muda, tapi
tetap nikmati sayang! Mama akan sering berkunjung nantinya, sekarang
kamu makan dulu, terus minum obat! Mama pergi dulu ada yang mau Mama
bicarakan sama suami kamu,"
"Terima kasih banyak Ma."
ia sungguh bersyukur
mendapatkan mertua sebaik mamanya Azka. Bahkan Naura di sana setia
menemaninya selama makan. Keluarga yang terasa sempurna baginya.
"Ma, Pa, lihat kan!
Sekarang Nagita punya keluarga baru, Mama sama Papa jangan khawatir lagi
soal hidup Nagita seperti dulu. Gita punya Mas Azka, sebentar lagi jadi
seorang ibu. Punya Kak Dimas, orang yang selalu sayang sama Gita. punya
mertua yang baik, punya ipar yang baik juga, Ma, Pa, Nagita rindu sama
kalian. Harusnya kalian saksikan ini." gumamnya dalam hati. Tak terasa
air matanya menetes lagi jika itu membahas kedua orang tuanya. Tak ada
kebahagiaan yang sempurna di dunia ini. Pada dasarnya kita saling
membutuhkan di dunia ini untuk menciptakan suatu kebahagiaan. Tak ada
manusia yang tak butuh dengan manusia lainnya. Yang ada hanyalah manusia
yang menuhankan dirinya sendiri dan beranggapan apa yang ada di dunia
ini hal yang begitu mudah di dapatkan. Namun suatu hal yang paling
berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang. Yaitu, ketulusan kasih
sayang keluarga.