
Malam hari, saat Rey tengah sibuk dengan pekerjaannya. Seperti biasanya, mereka yang bertengkar tapi tetap terlihat baik-baik saja di depan orang tua. Bahkan orang tuanya sendiri tidak tahu bahwa keduanya sedang bertengkar.
Sedangkan di ruang tamu, Nagita yang sibuk melayani menemani suaminya yang akan pergi ke luar kota besok pagi. Mulai dari menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya, hingga membicarakan mengenai anak sulungnya.
“Ma, tadi Mama di rumah saja, kan?”
“Iya, kenapa memangnya, Pa?”
“Rey sama istrinya baik-baik aja?”
Nagita pasti akan menyembunyikan masalah yang sedang dialami oleh anak bersama dengan menantunya itu. Tidak mungkin jika dia bercerita mengenai pertengkaran keduanya karena Marwa yang masih belum bisa memberi maaf sepenuhnya atas kesalahan yang pernah dilakukan oleh Rey. Berselingkuh adalah kesalahan yang teramat sulit untuk dilupakan, barangkali maaf memang bisa diberikan. Tetapi hati belum tentu ikhlas menerima semua pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh Rey kepada Marwa.
Nagita sendiri tahu bagaimana sakitnya hati Marwa saat itu. Karena dia pernah merasakan hal yang sama. Alasan kembali dengan Azka juga demi Rey waktu itu, jangan sampai sekarang ini Marwa justru bertahan hanya demi anaknya. Memang perilaku orang tua tidak akan jauh-jauh dari anaknya, maka dari itu tidak heran jika kelakuan Rey yang awalnya dibentuk dengan begitu susah payah oleh Nagita hancur begitu saja.
Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya, begitulah kata pepatah menggambarkan sikap anak yang tidak akan jauh dari orang tuanya. Nagita seperti sedang bercermin sekarang ini dengan bayangan masa lalunya bersama Azka terulang lagi saat ini.
Tidak bisa dipungkiri rasa kecewa Nagita juga terhdap anaknya. Bagaimana mungkin anak itu mengecewakan hati seorang wanita yang begitu dicintainya. Tetapi Nagita tak bisa berbuat banyak saat menantunya berusaha menghindari. Tidak bisa dilarang juga mengenai Marwa yang lebih banyak menghindari Rey. Sebagai seorang ibu, dia mengerti perasaan itu. Perasaan dikhianati, kepercayaan yang begitu baik diberikan kepada sang suami justru dipermainkan begitu saja.
Yang lebih mahal dari harga sebuah barang di dunia ini adalah bukan barang mewah. Melainkan sebuah kepercayaan yang telah diberikan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun harganya. Saat seseorang telah memberikan kepercayaan, itu artinya dia telah percaya terhadap orang yang diberikan kepercayaan. Akan tetapi, justru dikhianati. Sakit, dan itu sangat keterlaluan.
“Besok, jam berapa berangkatnya?”
“Jam 9 pagi, Ma,”
Azka sepertinya tidak menyadari bahwa istrinya berusaha untuk menghindar mengenai permasalahan anaknya itu. Azka tidak ingin jika anak dan menantunya berantakan lagi, tidak ingin jika masa lalu itu terulang lagi. Apalagi setelah mengetahui waktu itu Marwa menyiapkan gugatan kepada Rey yang sangat membuatnya terpukul. Seolah dia melihat kepada dirinya sendiri dahulu yang pernah mengkhianati istrinya.
Mengingat kejadian di mana Nagita juga menyetujui dirinya kembali lagi adalah demi menjaga perasaan anak mereka dahulu. Tetapi, semua itu justru terulang lagi. Andai saja waktu bisa ia ulang lagi, Azka tidak ingin mengkhianati Nagita. Tidak ingin menyakiti hati istrinya hanya untuk memuaskan dirinya pada dunia ini saja, tapi lupa dengan tanggung jawabnya sebagai orang tua dahulu. Membiarkan Nagita merawat Rey saat dia dan istrinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tetapi hubungan tidak baik-baik saja itu justru dia buat lebih berantakan lagi karena menghadirkan orang ketiga lagi.
Syakilla, jika mengingat itu, Azka seolah tidak bisa memaafkan dirinya. Kadang, seseorang perlu merasakan penyesalan yang teramat berat agar membuat hidupnya menjadi lebih baik. Dan penyesalan itu akan Azka ingat sampai kapan pun. Dia tidak pernah berhenti mendoakan kebaikan kepada Syakilla. Semenjak kepergian Syakilla, mulai dari sanalah kehidupan Azka berangsur membaik. Tetapi, sekarang pilu itu datang lagi dengan kejadian Rey mengulang luka tersebut.
“Ma, lihat Papa!”
Azka yang kali ini ingin mengetahui itu semua, ia tidak ingin lagi jika ada sesuatu hal yang membuat Marwa justru terluka lagi. “Mama jangan sembunyikan kesalahan Rey pada Papa, Papa nggak suka,”
“Kenapa Papa bilang begitu?”
“Karena Papa tahu kalau Mama lagi sembunyikan sesuatu, kan?” berusaha tegas kali ini bukan ingin memarahi keduanya. Tapi mengajarkan kepada Rey bagaimana harus mempertahanakan rumah tangga itu agar tetap utuh. Bukan alasan karena anaknya, melainkan karena dia juga mencintai istrinya dengan baik.
‘Penyesalan akan terasa menyedihkan ketika orang yang pernah dicintai dengan begitu hebatnya hilang’
Braaaaaak
Azka dan Nagita langsung mendongakan kepalanya. Dan keduanya langsung berdiri, barangkali Rey dan Marwa bertengkar kali ini hingga menimbulkan suara yang begitu membuat keduanya terkejut.
Saat mereka hendak ke kamar, Rey justru sedang menggendong Marwa yang sedang merintih kesakitan.
“Pa, minta tolong siapin mobil!” Rey yang terlihat panik saat itu membuat Nagita juga tidak bisa menahan perasaannya.
Ia segera membuka pintu utama dan saat itu juga Papanya sedang menyiapkan mobil. “Kalian nggak bertengkar, kan?”
“Nggak, Ma. Tiba-tiba dia bilang sakit perut,”
Nagita terdiam tidak menanggapi, begitu keduanya masuk ke dalam mobil. “Mama di sini sama anak-anak. Nanti Papa telepon!!” ia hanya mengangguk, putri kembarnya sedang tidur saat ini tidak mungkin ditinggalkan.
Begitu mobil pergi. Nagita berdoa agar menantunya baik-baik saja. “Nanti kamu akan mengerti saat kamu berada di ruangan di mana kamu akan melihat istrimu dengan sangat baik. Di mana semua penyesalan itu akan seperti kaset yang sedang diputar ulang dikepalamu, Rey,” ucap Nagita pelan. Meski begitu, dia tetap berharap bahwa rumah tangga anaknya baik-baik saja hingga menua.
Dia langsung masuk ke dalam rumah sambil menunggu telepon dari suaminya ia menyiapkan barang-barang persiapan untuk bersalin yang barangkali Marwa akan melahirkan. Yang ada di dalam benak Nagita adalah menantunya mengalami kontraksi hingga menangis seperti tadi. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa menantunya akan melahirkan.
Suara ponselnya pun berbunyi, dia langsung. “Ma, bisa siapin barang-barang persalinan, Marwa? Katanya dia bukaan satu, Ma. Udah kerasa dari tadi sore, tapi dia nggak ngomong,”
“Rey nggak tahu itu?”
“Marwa nggak ngomong, Ma. Dia diam sampai tadi Rey nemuin istrinya tergeletak waktu balik dari ruang kerjanya,”
Nagita terdiam. Sampai seperti itukah menantunya yang diam saat dia sedang dalam hamil seperti sekarang ini. Nagita menutup telepon dan mengantarkan barang kepada sopir yang ada dibawah yang sudah lebih dahulu dia hubungi tadi. “Pak, nanti sampai sana telepon Bapak atau Rey ya!”
Ia langsung kembali lagi ke kamar. “Apa yang buat kamu sampai seperti itu, Nak? Kalau memang bisa dibicarakan, bicarakan baik-baik. Gimana kalau bayi kamu sampai kenapa-kenapa? Rey nggak bakalan bisa maafin dirinya sendiri. Belum lagi dia harus bertanggung jawab sama orang tua kamu mengenai ini semua,” Nagita menggigit ujung jarinya karena begitu gugup dengan kejadian tadi yang melihat Rey menggendong Marwa dari kamar.