RICH MAN

RICH MAN
MENERIMA KEKURANGAN



Jangan lupa likenya ya 😂


Rey baru saja duduk di tempat duduknya dan langsung diberikan satu lembar kertas yang berisikan tentang rencana tour kelas yang nantinya akan dilaksanakan dua bulan lagi, hal itu adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh sekolahnya sebelum menghadapi semester. Sebagai persiapan untuk biaya pun sudah mulai di lakukan oleh beberapa pelajar.


Tour itu hanya dilakukan oleh kelas sebelas yang akan menghadapi semester kenaikan kelas. Sebagai refreshing, itulah tujuan tour di lakukan. Dan itu merupakan sebuah kegiatan yang membuat semangat siswa dan siswi untuk belajar. Segala biaya pun mulai dicicil dari kelas sepuluh dengan penggabungan antara SPP dan tour. Hal itu agar tidak memberatkan mereka nantinya jika ingin ikut tour seperti yang direncakan itu.


"Ikut, Rey?" tanya Fendi tiba-tiba.


"Iyalah, kan duitnya udah ada. Kita tinggal persiapkan diri doang, segala uang makan dan yang lainnya udah ditanggung kan karena udah nabung dari dulu, itulah gunanya buku tagihan kita ada dua, SPP sama ini,"


"Kalau yang enggak ikut gimana?"


"Duitnya bisa diambil kok,"


"Kalau gitu gue enggak ikutan deh,"


"Yakin, Jenny ikutan loh," goda Rey. Karena dia tahu bahwa sahabatnya itu menyukai Jenny sudah sejak lama. bahkan Jenny juga memberikan respon baik bagi Fendi.


Meskipun Jenny setara dengan Widya, akan tetapi perempuan itu tidak pernah sombong. Memperlihatkan dirinya layaknya perempuan biasa yang tidak pernah membanggakan harta orang tua. Rey pun baru tahu sejak Fendi menceritakan hal itu tadi saat dirinya kembali ke kelas.


"Kenapa lo enggak ikutan coba?"


"Hehe, gue mau kasih adik gue,"


"Fen, tunggu lima hari lagi lo bakalan pindah kerja deh kayaknya. Gue cariin dulu, ya. Intinya lo itu harus ikut, jangan rusak kebahagiaan lo sendiri, Fen. Itu sih saran gue,"


"Rey, lo enak banget kalau ngomong ya, lo itu enggak tahu apa susahnya gue,"


"Makanya gue mau bantuin lo, kampret. Pokoknya beberapa hari lagi lo bakalan kerja di tempat lain.


"Rey lo itu punya hati gimana sih luasnya? Baik banget,"


"Selama bisa bantu, kenapa tidak?"


Fendi memukul bahu Rey hingga mereka berdua tertawa. Jenny pun ikut bergabung setelah selesai membagikan kertas itu kepada teman-teman yang lain.


"Fen, lo ikut?"


"Enggak,"


"Yaaah, kalau lo enggak ikut, gue enggak ikutan deh"


Rey pun tahu bahwa sebenarnya Jenny juga suka terhadap Fendi. Tetapi keduanya masih sangat kaku untuk mengakui perasaan masing-masing. Fendi pun demikian, dan Jenny juga terkadang mencuri perhatian kepada Fendi. "Fen, peka dikit kenapa, sih! Itu udah jelas loh Jenny mau sama lo,"


"Ih, kampret, Rey. Gue kan cuman pengin gitu dia ada. Kan kalau dia enggak ada, ya nanti malah sepi,"


"Bilang aja kalau lo itu naksir juga, Jenny. Lo kayaknya enggak peka juga, Fen. Nanti kalau gue yang maju dapatin Jenny baru tahu rasa, lo,"


"Ini akan horor, Rey. Lo enggak usah ngomong macam-macam deh,"


Mereka bercanda di dalam kelas sebelum kelas terakhir di mulai. Di sana juga nampak Widya yang tengah mendekati mereka bertiga. "Baby, ikut ya!" ucapnya sambil bergelantungan dilengan Rey.


"Ya ampun, Rey. Gue lupa ya, lo ingat enggak sama cewek yang gue kenalin ke lo, ngomong-ngomong gimana hubungan lo sama dia?" ucap Jenny sambil mengedipkan mata. Rey pun paham dengan yang dimaksud oleh Jenny untuk menyingkirkan Widya.


"Ya baik-baik aja. Rencananya juga nanti malam gue mau ajak dia jalan-jalan. Gimana kalau kita kencan bareng? Lo sama Fendi, terus gue sama dia? Setuju enggak?"


Rey melihat ekspresi Widya langsung berubah. "Sayang, aku bilangin ke Papa loh kalau kamu selingkuh,"


"Bodo amat," Rey menyingkirkan tangan Widya dan meninggalkan perempuan itu sendirian di tempat duduknya.


"Rey!" teriak Widya yang sama sekali tak dipedulikan oleh Reynand dan kedua temannya itu.


Mereka bertiga duduk di depan kelas dengan suasana yang begitu teduh di taman depan kelasnya, mereka bertiga bercanda di sana. Mereka yang tengah asyik mengobrol dan juga mendengarkan hafalan Fendi yang sedang berusaha untuk menghafalkan biologi.


Aryo pun datang memanggil mereka. Aryo merupakan ketua kelas mereka dan kini sedang membawa selembar kertas.


"Masuk dulu, ada pengumuman nih!"


Mereka bertiga pun beranjak dari tempat duduknya dan duduk di tempat masing-masing. Aryo menuliskan pengumuman itu di papan tulis.


"Aryo, Pak Benu enggak masuk?"


Pak Benu merupkan guru biologi mereka yang justru memberikan tugas, bukan hafalan mereka. "Hajar gue, Rey! Kok kesal banget gue, kalau gue enggak hafal, gue dijewer. Kalau gue lagi hafal, dia enggak masuk. Benar-benar Pak Benu itu bikin gue kesal,"


Mereka pun membawa tas mereka keluar dari kelas menuju perpustakaan. Tugas mereka kali ini adalah merangkum materi mengenai fotosintesis. Mereka bertiga langsung menuju ruangan dua dan mulai mencari buku referensi yang jelas itu mengenai foto sintesis dan mencantumkan sumber. Sedangkan sebagaian besar temannya mencari di internet.


"Rey, ini?" Jenny membawa tiga buku dengan judul yang sama dan masih berhubungan dengan tugas yang diberikan, teman-teman yang lain pun datang dan bergabung bersama mereka bertiga. Jam terakhir merupakan saat-saat di mana hal itu membuat mengantuk dan tidak semangat belajar.


"Gue tidur bentar, ya," Fendi pun menutup wajahnya dengan buku. Rey tak masalah dengan itu karena dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat kelelahan dan nanti akan lebih sangat lelah saat bekerja.


"Rey, lo dekat sama dia, kan?"


"Iya, kenapa?" Rey langsung mengikuti saat Jenny menariknya ke pojok rak buku dan jauh dari Fendi.


"Dia benar kerja sambil sekolah?"


"Iya, dia kerja di bengkel,"


"Terus, dia enggak pernah belajar gitu?"


"Kadang belajar, kadang juga enggak, Jen, kenapa lo nanya gitu?"


"Fendi itu kan pintar, kenapa harus bekerja, sih?"


"Tahu enggak keadaan keluarga dia?"


Jenny menggeleng, Rey menghela napas. "Tapi gue tanya dulu ke lo, lo suka kan sama dia?"


"Rey, perihal suka enggak suka, gue cuman pengin tahu cerita sebenarnya. Tentang suka itu bisa dijawab nanti,"


"Jawab dulu!"


Jenny menggigit bibir bawahnya, "Iya, gue suka sama dia. Bahkan sejak lama, dia baik, Rey, sama kayak lo, walaupun dia blak-blakan. Dia juga ceria,"


"Fendi bukan dari kalangan orang kaya, Jen. Lo bisa terima itu?"


"Maksud lo?"


"Dia jadi tulang punggung keluarganya, yang di mana sekarang ini dia sedang membiayai pendidikan adiknya,"


"Jadi dia pulang sekolah sama lo itu karena emang benar enggak ada kendaraan?"


"Iya. Setelah ini apa lo bakalan ninggalin dan menjauh dari dia?"


"Rey, gue tahu loh orang kaya. Tapi gue lihat lo itu dekat banget sama dia, gue pikir dia sama kayak lo,"


"Kenapa ngomong gitu? Berarti lo enggak tulus dong?"


"Rey, gue enggak masalah. Yang penting dia udah buat gue nyaman," ucap Jenny malu-malu.


"Sejak kapan?"


"Udah lama, pokoknya dia itu baik. Dia buat gue betah sama dia, walaupun usil, tapi gue kangen kalau dia enggak masuk,"


"Bahkan saat nanti Fendi enggak punya apa-apa lo masih sayang sama dia?"


"Seenggaknya dia bisa bahagiain, gue. Enggak mesti pakai harta, intinya dia mau berusaha,"


"Orang tua lo?"


"Rey, kita enggak tahu kan suatu saat orang sukses itu siapa. Barangkali gue yang banyak duit, bisa gagal. Dia yang enggak punya apa-apa justru sukses,"


"Emang lo mau nemenin Fendi dari nol?"


"Tanpa lo suruh, dan tanpa lo tanya, Rey. Udah lama banget gue pengin tanyain dia sama lo,"


"Berarti?"


"Apanya?"


"Lo tulus sayang sama dia, gitu?"


"Iya. Tapi jangan ngomong gini ke dia, ya! Tahu kok gue, dia itu menghindar dari gue sejak dia lihat gue dijemput sama nyokap beberapa waktu yang lalu."


Rey mengangguk, karena Fendi juga tadi menceritakan hal itu dan ingin menyerah. Tapi mendengar pengakuan dari teman sekelasnya itu, Rey menjadi sangat yakin bahwa keduanya bisa saling mengisi kekurangan satu sama lain. Apalagi Jenny sudah berkata demikian dan terlihat dari sorot mata perempuan itu, bahwa dia jujur mengenai perasaannya.