
Hari minggu, yang di mana keluarga Azka berkumpul di rumahnya. Kecuali, Reynand, Clara dan Erlangga. Sudah menjadi suatu kebiasaan yang di mana ketika pria itu jarang sekali pulang ketika minggu tiba. Akan lebih banyak waktu untuk pergi sekadar nongkrong. Sedangkan di sana, sudah ada Leo dan juga istrinya, Amanda.
Leo juga sudah mencintai perempuan itu sejak lama. Bahkan ketika mereka menjadi sahabat, dan karena memang Amanda adalah perempuan yang tidak memiliki orang tua, hingga kini pria itu bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Amanda.
Naura yang waktu itu juga sangat setuju dengan permintaan aneh, awalnya Leo hanya iseng-iseng. Hingga pada akhirnya orang tuanya langsung menyiapkan untuk pernikahan keduanya.
Hingga saat ini, Amanda tengah mengandung enam bulan. Yang di mana suatu kebahagiaan bagi mereka semua ketika mendengar kabar beberapa bulan setelah menikah, Amanda hamil.
Naura tahu bahwa dulu Amanda merupakan perempuan yang memiliki penyakit, tetapi ketika operasi itu berjalan lancar, hingga sekarang penyakit menantunya tidak kumat lagi.
Dia sendiri tidak ingin mencari perempuan yang memiliki pendidikan tinggi, tetapi etikanya tidak baik. Menikahkan Amanda dengan Leo juga pernah menjadi suatu masalah bagi keluarga besar Reno, suaminya-- yang menolak Leo untuk menikah dengan perempuan itu. Tetapi Reno dan Naura memiliki pemikiran yang sama. Hingga akhirnya pernikahan itu terjadi, terlebih Azka yang terkejut ketika mendengar anak asuhnya sendiri diminta oleh Leo waktu itu.
"Clara enggak ikut nih, tumben?" tanya Nagita yang sedari tadi tidak melihat Clara di sana.
"Kencan, biasalah anak itu. Selama baik, ya biarin ajalah. Aku juga sudah ajari dia ini itu, pacarnya izin baik-baik. Kalau berani macam-macam, aku bilang sama Clara ngomong sama aku," ucap Naura yang waktu itu sedang duduk di sana. Dan terakhir, ketika itu Naura hamil anak ketiga, tetapi keguguran lagi. Hingga saat ini dia tidak ingin hamil lagi karena telah mengalami keguguran sebanyak 2 kali. Reno pun tak ambil pusing dengan hal itu. Kehilangan merupakan suatu hal yang berat bagi Naura. Sekarang dia lebih over protektif pada menantunya yang tengah hamil enam bulan. takut jika kejadian yang pernah dia alami terjadi lagi.
Sedangkan orang tua mereka sudah sangat tua jika terus mengomel perihal kelakuan cucu-cucunya.
"Azka, sesekali ajak Rey pulang!" pinta mamanya.
"Enggak mau, Ma. Dia sudah aku minta pulang setiap hari minggu," ucap Azka kepada Mamanya yang sudah keriput. Azka sendiri terkadang lelah melihat mamanya jika terus menanyakan perihal Rey.
Di sana ada Dimas dan juga keluarganya, kecuali Erlangga. Sengaja Dimas minta untuk mencari Rey di apartemennnya.
"Jadi, apa yang kalian mau bicarakan? Sepertinya ini serius sekali," tanya papanya yang duduk di sofa utama.
"Mengenai Rey, bagaimana kalau aku jodohin dia Ma?" ucapnya pelan.
"Azka, bagaimana itu bisa terjadi? Kamu saja dulu nolak dijodohin dan beberapa kali ada perempuan yang kita ajak makan malam, satupun enggak ada yang kamu terima,"
"Tapi ini beda, Ma. Aku enggak tega lihat Rey yang terus seperti ini,"
Azka berusaha menjelaskan dan memberitahukan mengenai calon yang akan diberikan kepada Reynand sesuai dengan cerita Dimas.
"Namanya siapa?"
"Marwatul Aira, Ma. Dia anaknya bos Dimas,"
Leo yang tadi sedang minum tiba-tiba tersedak begitu saja ketika mendengar nama itu disebut. "Aira?"
"Ya ampun, Om. Aira? Bentar, Aira?" Leo berusaha untuk mengingat-ingat tentang nama perempuan itu yang sepertinya tidak asing ditelinganya. "Aira, hmm? Lanjutin aja, Om," ucapnya. Dia tidak ingin menebak-nebak apakah itu Bintang atau bukan. tetapi dari namanya saja sudah berbeda. Sudah dipastikan bahwa perempuan itu adalah perempuan yang berbeda dari Bintang.
"Kali ini Rey mau apa enggak, aku bakalan tetap jodohin kok," ucap Azka tegas. Dia sudah jengah dengan anaknya yang masa depannya berantakan seperti sekarang ini. Sebagai orang tua yang sudah membesarkan anaknya dengan baik, bahkan dari segi pendidikan dan yang lainnya. tiba-tiba menjadi seperti sekarang ini.
"Azka jangan gila, kamu enggak tahu perasaan Rey seperti apa. Kalau kamu jodohkan, yang ada mereka enggak bisa mencintai satu sama lain,"
"Bicara soal cinta, apa aku dulu sama Nagita saling mencintai saat menikah? Enggak kan, bahkan aku benci sama Nagita waktu nikah. Aku anggap dia perempuan yang seperti pembantu aku dulu, Ma. Dan lihat sekarang, aku jadikan dia tuan putri di hati aku, Ma. Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, tidak terpaksa dan tidak pula direncanakan. Kita tidak pernah tahu bagaimana cinta itu bisa hadir, Ma," jelas Azka. Tentu saja dia tidak pernah mencintai Nagita dahulu ketika menikah. Siapa pun pasti tahu bahwa pernikahan mereka hanyalah keterpaksaan berawal dari tanggung jawab karena perbuatannya yang bejat itu. Tetapi, seiring berjalannya waktu, semua itu berubah seketika. Saat Rey hadir, semuanya berubah.
"Azka, dengerin Mama ngomong! Mama enggak mau kalau suatu hal terjadi sama Rey dan juga istrinya di masa depan,"
"Ciri-ciri perempuan itu bagaimana?" tanya Leo yang ikut larut dalam pembicaraan itu. Pasalnya dia tidak ingin sepupunya itu mendapatkan perempuan yang salah. Dan justru menyakiti hati perempuan itu nantinya.
"Dia mengenakan cadar, Leo,"
"Lalu ketika lamaran, apakah dia mau membuka cadarnya untuk kita?"
"Kita bisa bicarakan ini nanti, Leo. Setelah kita ke sana,"
"Kak Rey enggak ikut?" tanya Leo yang semakin tidak suka dengan pilihan Om Azka kali ini.
"Enggak. Om yang bakalan langsung ke sana,"
"Oke, aku ikut saat Om dan yang lainnya mau ke rumah perempuan itu. Bagaimana pun juga aku akan ikut dan aku berhak menolak atau bagaimana pun nantinya,"
"Leo, jangan sembarangan ngomong!" ucap Papanya.
"Pernah enggak kalian pikirkan bagaimana perasaan Kak Rey? Kalian tahu sendiri bagaimana dia seperti sekarang ini karena sakit hati, kalian mau tambah sakit hatinya dengan cara menikahkan dia dengan perempuan yang bahkan dia sendiri enggak kenal. Kalian mau hancurin dua hati itu? Bagaimana nanti kalau dia enggak bisa sayang sama istrinya?" Kali ini Leo benar-benar dibuat emosi oleh pilihan orang-orang yang sepakat untuk meminta perempuan itu untuk Reynand.
"Om Azka juga, Om sendiri tahu anak Om seperti apa. Aku yang sudah bertahun-tahun menempuh pendidikan di tempat yang sama. Dia sering cerita banyak hal, tapi apa? Rey berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan kalian, enggak mau buat kalian susah. Dia berusaha menenangkan hatinya dan mengikuti apa yang kalian mau. Dia belajar dengan baik, tapi tolong kali ini saja, jangan paksa dia atas apa yang dia enggak bisa lakuin. Dia juga punya hati, jangan pernah dipaksakan untuk pernikahan konyol ini. Pikirkan juga nasib perempuan yang akan dia nikahi,"
"Daripada kamu protes, lebih baik nanti kamu ikut saja, Leo!" jawab papanya dingin.
Leo yang tadinya ingin protes lagi, seketika diam begitu saja setelah papanya angkat bicara. Bahkan semua orang sudah sepakat akan melamar perempuan itu untuk Rey. Sedangkan saat ini Fendi sedang menikmati bulan madunya bersama sang istri tercinta. Dia tidak bisa meminta saran dari teman dekat kakak sepupunya itu.
"Maaf Om kali ini harus tegas, Leo. Jangan pernah ikut campur atas apa yang Om lakukan. Kamu punya kehidupan sendiri, kamu sebentar lagi punya anak. Tentu kamu juga ngerasain gimana rasanya menjadi Om kelak jika anak kamu terluka. Akan merasa di mana ketika kamu lebih baik terluka dibandingkan anak kamu, dan kamu akan mengerti. Setelah kamu menjadi kepala keluarga dengan bergelar seorang ayah."
Ucapan dingin dari Azka itu mampu membuat Leo bungkam dan tidak berkata apa pun lagi. Melawan, tidak ada gunanya. Karena semua orang yang ada di sana sudah sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Om Azka. Dia hanya bisa menerima dengan pasrah pilihan itu.