
Selesai acara syukuran atas kehamilan Nagita di rumah Dimas. Kini, acara dilanjutkan di rumah Azka. Sesuai dengan permintaan kedua orang tua dan juga permintaan dari adiknya untuk melakukannya juga di sana. Sebagai bentuk hormatnya, Azka menyetujui itu tanpa membantah sedikit pun. Lagi pula itu juga hal baik yang diminta oleh orang tuanya.
"Rey kok nggak ikut? Akhir-akhir ini anak itu jarang main ke rumah, Mama," tanya sang mama memecah keheningan di antara mereka yang sempat terjadi karena Azka dan Reno sedang sibuk memindahkan sofa ke tempat lain sebagai tempat yang akan digunakan untuk acara nanti.
"Rey, Rey memang jarang mau kemari, Ma. Pulang ke rumah juga hampir dua bulan nggak pulang, karena dia sibuk di rumah, Dimas," jelasnya.
"Az, Dimas itu punya keluarga yang harus di urus. Sekarang nambah lagi tanggung jawabnya. Kamu mau bebanin, Dimas?"
"Bukan gitu, Ma. Aku sama istri aku juga berharap anak aku mau pulang. Tapi sayangnya dia selalu saja menolak kalau aku ajak,"
"Kenapa begitu?"
"Dia kesepian di rumah. Itu alasannya, Ma. Bukan berarti aku lupa tanggung jawab sebagai orang tua. Apalagi anak aku udah besar kayak gitu, lagian ya, Ma. Itu anak aku lebih rajin di sana. Di rumah enggak betah katanya," jelasnya sambil menggulung karpet alas sofa.
Azka sendiri meminta Nagita untuk istirahat karena beberapa hari ini istrinya kerap kali merasakan mual yang berlebihan bahkan menyebabkan Nagita jatuh pingsan. Tak ingin melihat Nagita kelelahan, Azka membiarkan perempuan itu istirahat lebih banyak lagi dibandingkan biasanya.
"Ada acara gini, anak kamu malah enggak hadir. Mama kangen dia yang manja,"
Azka menyinggungkan senyum, "Sayangnya cucu, Mama sangat berbeda dari yang dulu. Dia bukan Rey yang selalu ngeluh tentang orang tuanya lagi. Anak aku sedang sibuk belajar,"
"Iya Oma, Bang Rey dipilih buat lomba di sekolah," celetuk Leo.
"Kamu tahu?"
"Oma, aku kan satu sekolah sama, Bang Rey. Jadi aku tahu kenapa dia sibuk terus, Oma hubungi juga pasti enggak di respons kan?"
"Iya, Mama telepon dia. Tapi bahkan enggak pernah di respons sama sekali,"
"Karena ponsel dia enggak pernah di pakai, Ma. Jadi mainan adiknya Erlangga,"
"Mama, kangen sama dia, Az,"
"Nanti, Ma. Pasti akan aku bawa kemari kok. Biarin aja dia belajar dulu, aku sama istri aku juga sering berkunjung ke sana, Ma. Ngomong-ngomong Papa mana, sih?" Azka mengedarkan pandanganya mencari keberadan sang papa yang sedari tadi belum dia lihat kehadirannya.
"Dia main sama, Clara. Maklum Papa udah nggak kuat lagi buat bantu angkat berat-berat. Jadi, Mama suruh dia temani Clara main. Lagian adik kamu juga sibuk urus makanan, Az. Dia malah pengin masak sendiri karena baru pertama kalinya kamu sama istri kamu syukuran. Rey kan dulu enggak,"
Azka bukanlah pria yang mempermasalahkan itu. Menyadari bahwa usia sang papa juga bukan muda lagi. Kini yang dilakukan adalah bermain dengan cucunya. Apalagi nanti ketika Nagita melahirkan, Azka akan lebih sering mengajak istrinya tinggal di sana untuk menemani kesepian orang tuanya saat Leo dan Clara sekolah.
Terkadang Azka seringkali berandai-andai tentang masa lalunya yang pernah terjadi. Andai saja dahulu ia tak memiliki kenangan buruk bersama dengan Deana, menghadirkan Syakila di tengah-tengah hubungannya dengan Nagita. Masa lalu adalah masa lalu yang tidak akan pernah berubah, tugas Azka adalah untuk memperbaiki apa yang telah rusak bukan menjadikannya untuk kembali. Namun, untuk memperbaiki menjadi lebih baik lagi, apa yang sudah rusak tidak selalu menjadi utuh dan apa yang telah rusak tidak selalu hancur dan tidak bisa diperbaiki.
Azka sangat senang ketika Nagita mau kembali lagi bersama dengan dirinya untuk memperbaiki rumah tangganya yang pernah rusak dahulu, walau sebenarnya kecewa karena Nagita pernah menikah dengan Teddy, namun itu bukanlah suatu masalah besar baginya setidaknya dan istrinya hidup kembali lagi ke sisinya
Tidak peduli seberapa hebatnya pun untuk mencari yang lebih baik jika memang yang pertama adalah yang paling baik. Mengapa harus mencari yang terbaik hanya untuk dipamerkan kepada semua orang? Kadang apa yang kita lihat buruk itu adalah yang terbaik dikirimkan oleh Tuhan untuk kita, hanya saja kita harus selalu ingin mencari yang terbaik di mata orang lain dan bisa dibanggakan.
Saat mengingat kejadian di mana ia pernah mencintai Deana, karena perempuan itu adalah perempuan yang paling cantik yang pernah dicintai akan tetapi kini Azka sadar bahwa cintanya milik perempuan yang tengah hidup bersamanya selama belasan tahun. Menikah tanpa cinta, hanya demi anak dahulu. Tetapi saat ini cintanya seolah tak bisa dihindari lagi. Sepenuhnya milik, Nagita.
"Panggil istri kamu buat makan siang, Azka!" Perintah mamanya. Azka tersadar dari lamunannya yang mengingat masa lalunya dahulu. Seketika itu juga menuruti apa yang dikatakan oleh sang mama.
Azka membuka pintu kamarnya perlahan, mendapati istrinya yang tengah terlelap memegang perut yang masih datar itu. Perlahan Azka mendekati Nagita untuk membangunkan istrinya.
"Sayang, bangun yuk! Makan siang dulu," ucapnya sambil mencium pipi istrinya. "Masih mual?"
Nagita menggeleng, "aku makan di sini aja ya!"
"Kenapa nggak mau di luar sayang?"
"Aku takut mereka jijik kalau aku mual lagi,"
Azka mengangguk paham. Tangannya ikut mengelus perut istrinya yang kini sedang hamil muda. Apa yang terjadi dahulu setidaknya menjadi pelajaran yang berharga bagi Azka. Mulai dari Nagita yang kehilangan bayinya dahulu saat menikah dengan Teddy.
"Papa, ambilkan makanan ya! Mama, diam di kamar!"
Azka membantu Nagita duduk. Azka sadari semenjak mengalami mual, Nagita semakin kurus dan tidak bernafsu makan. Ada rasa khawatir yang dirasakan olehnya saat tak ada makanan yang mampu masuk ke dalam perut Nagita.
Ia meninggalkan istrinya di kamar dan segera turun ke ruang makan mengambil makanan untuk mereka berdua nantinya.
"Nagita mana?"
"Nggak mau keluar, Ma. Katanya takut ganggu kalau mual,"
"Ya sudah kamu mau ambilkan dia makanan?"
"Iya, Ma. Mau makan di kamar. Siapa tahu juga nanti dia bisa makan. Di rumah dia nggak pernah makan, Ma. Keluar melulu," keluhnya.
"Sama kayak kamu ngidam, Rey. Kamu sampa ngesot juga kan waktu itu. Eh sekarang itu anak malah ganteng banget. Baik juga, cucu tertua Mama itu memang luar biasa,"
"Lah terus aku nggak luar biasa, Oma?" Protes Leo. Semua saling tatap dan tertawa.
"Apa sih Leo? Kamu mana tahu dulu Om kamu itu ngesot waktu ngidam Abang Rey," jelas Naura.
"Emang ada cowok ngidam?"
"Tuh buktinya dulu. Ya sekarang sih belum, nggak tahu nanti dia ngidam atau enggak. Kalau ngidam lagi, ya bakalan tahu rasa."
Azka tak menanggapi ucapan adiknya. Justru setelah selesai mengambil makanan, ia bergegas ke kamar untuk makan bersama dengan istrinya.
Ia masuk ke dalam kamar dan menemukan istrinya duduk di lantai beralas karpet sambil menonton televisi.
"Kok di bawah? Sofa kan ada?"
"Penginnya di bawah,"
Azka hanya mengangguk sekilas. Kemudian dia duduk bersila di samping Nagita. "Makan dulu, sayang!"
Azka mulai menyuapi Nagita. Makanan yang dipilihkannya tidak ada yang berbau menyengat seperti daging, ikan dan telur.
Baru satu suapan, Nagita berlari ke toilet dan mengeluarkan makanan yang baru saja masuk ke perutnya. Beberapa saat kemudian Nagita kembali lagi dan meminta disuapi. Suapan kedua, terjadi lagi hal serupa. Azka beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Nagita.
"Jangan dipaksain, pengin apa? Ayo beli di luar,"
"Rujak,"
"Hmmm, nanti sakit perut sayang,"
"Papa yang buat,"
"Anaknya yang mau,"
Azka mengangguk dan memegang tangan Nagita sambil mentuntunnya keluar kamar. Demi apa pun Azka akan menuruti agar istrinya bisa makan dengan tenang. Tidak mengalami hal separah ini lagi, Azka sudah lelah dengan melihat istrinya yang selalu saja muntah-muntah saat berusaha untuk makan.
"Kalian nggak jadi makan?"
"Nggak bisa masuk, Ra. Kakak ipar kamu ini pengin rujak,"
"Biasanya depan kompleks ada, kak,"
"Aku yang buat. Bukan buatan pedagang,"
"Orang ngidam emang gitu, Az. Harus diturutin, Rey juga dulu pasti selalu diturutin sama Dimas. Makanya condong ke Dimas dibandingkan Papa sendiri," ledek Reno dan membuat anggota keluarganya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Reno.
"Ayo sayang. Jangan dengar apa kata orang aneh!"
Keduanya melenggang ke dapur. Azka membuka kulkas mencari mangga yang biasanya disediakan oleh sang mama untuk membuat jus. Azka mengambil dua buah mangga besar dan siap untuk di kupas.
"Nggak pengin mangga. Maunya bengkoang,"
Azka menepuk jidatnya. "Mana ada rujak bengkoang sih, Sayang,"
"Ada. Aku sering makan, enak kok,"
"Bengkoang ada di kulkas yang satunya paling bawah Azka. Mama selalu sedia kok," Azka menoleh saat sang mama mendengar percakapan mereka. "Mama selalu beli, Mama bahkan makan tiap hari biar mulus. Awet muda, makanya Papa selalu nyantol,"
"Curhat, Ma?"
"Ngasih tahu aja kok. Ya sudah Mama buatin ya, Nagita?"
Nagita menggeleng,"Biar Mas Azka aja yang buat, Ma,"
"Bahannya itu cabai, garam, terasi, gula merah sama bawang merah aja kan, Ma?" Tanya Azka.
"Mana ada rujak pakai bawang merah, Azka. Kamu udah sinting?"
"Eh salah. Tanpa bawang kan?"
"Iya. Makanya belajar jadi suami yang benar. Jangan bisanya cuman buat anak doang. Istri ngidam rujak malah mau ditambahin bawang,"
"Ma, buat anak sama rujak itu pasti beda. Kalau buat anak kan yang di uleg beda. Kalau rujak di cobek," jawab Azka sambil memainkan alisnya. "Aa-adduh sayang," Azka mengusap telinganya yang ditarik oleh istrinya.
"Anak kita yang mau tahu,"
"Oke sayang Papa buatin dulu, ya! Baik-baik di sana!"
Sang mama meninggalkan mereka berdua. Nagita membantunya mengupas bengkoang dan mengirisnya kecil-kecil. Sedangkan Azka sibuk membuat bumbu rujak yang diinginkan oleh istrinya. Beberapa kali mencicipi, pertama terlalu asin dan pedas, ia tambahkan gula lagi untuk kesekian kalinya. Terakhir ia meminta Nagita untuk mencicipinya.
"Enak,"
"Beneran?"
"Iya enak. Papa mau?"
"Buat Mama aja, buat anak kita juga,"
Azka tersenyum saat melihat istrinya bisa makan. Hanya itu yang bisa bertahan lebih dari satu menit. Bahkan hingga rujak itu tandas, Azka merasa sangat bersyukur istrinya bisa makan walaupun hanya dengan rujak. Setidaknya ada makanan yang masuk ke dalam perut Nagita.
"Papa nggak makan?"
"Nanti aja. Ma, Papa jadi ingat belasan tahun yang lalu waktu Mama hamil, Rey. Makannya juga rujak, tapi dulu mangga, sekarang beda,"
"Mama sendiri bahkan lupa, Pa,"
"Papa selalu ingat, Ma. Apalagi waktu Mama bawa cilok banyak banget,"
"Malu tahu nggak,"
Azka menyodorkan satu kotak susu cair untuk untuk ibu hamil. "Sekarang minum susu, jangan bandel lagi, sayang!"
"Terima kasih, Pa,"
"Besok harus kuat ke acara Rey, sayang. Papa juga bakalan selesaikan pekerjaan Papa dengan segera. Biar bisa cuti besok. Papa mau lihat anak Papa tampil,"
"Mama juga,"
"Aduh si om tambah nempel," Clara tiba-tiba muncul sambil membawa beberapa potong buah di atas piring. "Nih buat tante, itu dari Mama,"
"Makasih sayang,"
"Semoga adiknya perempuan. Biar Clara punya teman main. Kak Leo kan punya Bang Rey. Sekarang harus perempuan biar Clara nggak kesepian"
"Aamiin. Besok ke tempat Abang mau?"
"Mau. Kan Abang besok lomba,"
"Iya sayang. Doakan semoga Abang lancar lomba besok ya!" Jawab Nagita lembut.
"Pastinya, Tante," Clara pergi meninggalkan mereka berdua di dapur. Azka hanya menyaksikan istrinya yang minum susu dan memakan buah yang sudah disediakan oleh Naura.
'Andai jatuh cinta seperti ini. Aku akan memutuskan untuk jatuh cinta hanya denganmu. Sayangnya kita tidak pernah bisa untuk memaksa takdir itu tetap baik-baik saja. Selalu ada ujian dibalik semua ini. Aku yang mencintaimu, harus merasakan kecewa yang hampir saja membuatku tak bisa bangkit lagi. Semesta mengirimmu yang tak utuh waktu itu, aku menerima dirimu yang rapuh. Untuk aku yang rapuh, semata hanya untuk menguatkan satu sama lain. Satu pintaku, tetaplah di sisiku. Hingga maut memisahkan. Harta yang sesungguhnya adalah kamu, dan anak kita, keluarga kita. Inginku sederhana, mencintaimu tanpa peduli jika kelak tubuhmu mulai tak indah lagi. Tak cantik lagi, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Mengatakan pada dunia, bahwa aku mencintai wanita sesederhana dirimu. Menerima aku yang tak punya kelebihan apa pun. Aku lengkap, karenamu dan buah hati kita. Teruntukmu, bunga hidupku'
***** Jangan lupa kasih bintang ☆☆☆☆☆ (lima) ya jangan lupa like biar aku rajin up.
Ngomong-ngomong apa saja hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini? Jangan lupa tinggalkan komentar ya! Terima kasih buat teman-teman yang sudah meninggalkan komentar baiknya untuk terus menyemangati. Jangan lupa tulis komentar kalian di bawah ya, hehehe. Walaupun author sempat sedih sih karena beberapa yang komentar buruk dan mencaci. Tapi karena semakin ke sini, semakin bagus. Jadi aku ucapkan banyak terima kasih. Aku lanjut nulis ☺
Hehehe.
Jangan lupa bintang 5 ya.
Terima kasih, SAYANG (eh sayang)