RICH MAN

RICH MAN
BERPISAH



“Nagita!”


Dimas yang tadinya tengah terlelap langsung tercengang saat


tangan Nagita bergerak saat digenggam. Sudah beberapa hari Nagita mengalami


koma dan mau tidak mau ia pisahkan dari Azka karena tidak ingin lagi adiknya


menjadi korban sakit hati karena perbuatan Azka.


“Dokter! Dokter!”


Baru saja dokter masuk ke ruang Nagita untuk memeriksa


secara rutin. Namun keajaiban datang begitu saja. Dimas yang tidak bisa


membendung lagi rasa bahagianya meneteskan air mata bahagia saat melihat Nagita


mulai membuka mata. Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan


rumah sakit.


Dimas mundur beberapa langkah membiarkan dokter memeriksa


keadaan adiknya. Keponakan Dimas baru berusia satu minggu, bahkan selama itu


pula Azka terus saja datang. Akan tetapi selalu dihalangi oleh Dimas karena


tidak ingin kehidupan adik dan keponakannya kembali lagi pada pria yang telah


menghancurkan hati adiknya dan hampir saja membuat Nagita kehilangan nyawanya.


“Dok, keadaannya gimana?”


“Syukurlah keadaannya membaik. Detak jantungnya sudah mulai


normal, jadi dia baru boleh pulang setelah beberapa hari di rawat di sini. Tetapi


saran saya, bawa anaknya kemari. Kasihan belum pernah nyentuh asi ibunya,”


Dimas mengangguk dan pergi ke ruangan khusus didampingin


oleh salah satu perawat yang akan membantunya membawa keponakannya ke ruangan


Nagita.


Dimas tertegun saat si kecil menggeliat, “Akhirnya Mama


sadar juga, Nak.” Lirihnya. Selama ini ia harus bolak-balik menjaga keduanya. Dimas


harus benar-benar siaga untuk menghindari Azka yang suatu waktu bisa bertindak


gegabah karena ia larang untuk bertemu istri dan anaknya.


“Sus, apa nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa. Justru bagus, kasihan kan si kecil,”


Dimas mengangguk dan melihat perawat itu mulai menggendong


keponakannya menuju ruangan Nagita. Di sana adiknya masih berbaring di brankar,


saat Nagita tersenyum menyambut kedatangan mereka dan hendak bangun. “Nggak


usah, tidur saja. Masih bisa kok!” ucap perawat itu dan langsung membantu


Nagita menyusui anaknya untuk pertama kali.


“Kak,”


“Sejak kapan kamu sadarkan diri?”


“Sejak semalam, tapi lihat kakak tidur. Aku nggak berani


ganggu, dan sengaja pura-pura tidur, tapi aku kepikiran anak aku,”


“Kakak khawatir tahu, kamu nggak bangun-bangun.”


“Semalam dia datang kan?”


Dimas terdiam sejenak, “Kamu tahu dari mana?”


“Aku dengar, aku dengar setiap kali dia datang kakak usir. Aku


sadar kak, cuman mataku nggak bisa kebuka. Dengar semua pembicaraan kakak sama


dia, dengar kakak marah-marah, semuanya aku dengar,”


“Maafin kakak, Nagita!”


“Kakak nggak salah. Tanpa kakak suruh pun, Nagita bakalan


pisah sama Mas Azka,”


Dimas terkejut dengan pernyataan Nagita. suara perempuan itu


berubah seketika, napasnya menjadi berat dan Dimas menyadari hal itu. perawat


yang tadi membantu Nagita keluar membiarkan mereka berdua untuk berbincang


dengan lebih leluasa.


“Kamu yakin sama pilihan kamu?”


Sebenarnya ia tak tega, tetapi karena keputusan Nagita sudah


bulat akan meninggalkan Azka. Dimas menyetujui apa yang dikatakan oleh Nagita.


meski pada awalnya ia ragu dengan keinginannya untuk memisahkan Nagita, setelah


melihat keponakannya. Rasa itu tumbuh dan tidak mungkin ia begitu jahat


memisahkan anak dari ayah kandungnya sendiri.


*****


Jam istirahat, Azka bergegas menuruni anak tangga di


kantornya. Setelah mendapat telepon dari mama bahwa Nagita sudah sadarkan diri,


ia merasa begitu bahagia. Hanya ia yang dilarang untuk bertemu dengan Nagita


oleh Dimas. Keluarganya selalu ke sana, tetapi respons Dimas tetap hangat.


Diperjalanan ia bersemangat menyetir mobilnya menuju rumah


sakit. Untuk pertama kalinya ia akan bertemu dengan Nagita dan anaknya. Selama Nagita


di sana, ia belum pernah melihat putranya karena selalu dihalangi oleh Dimas. Kini


Azka tak bisa berkata apa-apa lagi setelah sekian lama merindukan wanitanya.


Sebelum tiba di sana, Azka berhenti untuk membeli bunga


untuk Nagita. ia melanjutkan perjalanannya untuk bertemu dengan kedua orang


yang sangat ia sayangi.


Tiba di depan ruangan Nagita di rawat, Azka menarik napas


terburu-buru entah yang kesekian kalinya. Memberanikan diri untuk masuk ke


risiko tolakan dari Dimas.


Baru saja kakinya masuk beberapa langkah, Dimas sudah


berdiri dari tempat duduknya tetapi di tahan oleh Nagita. Azka tersenyum


melihat wanitanya baik-baik saja. Tanpa ragu ia memeluk istrinya yang tengah


menyusui dan berbincang dengan mama Azka.


“Kamu nggak tahu gimana khawatirnya saya lihat kamu nggak


sadarkan diri di sini?”


“Sekarang aku sudah kembali lagi kan, Mas,”


“Kapan kamu bisa pulang?”


“Nggak tahu,”


Azka melepaskan pelukannya dan mencium kepala Nagita.


“Daddy datang, ayo


bangun!” Azka mencolek pipi anaknya yang tengah tertidur namun tetap saja anak


itu tidak bangun juga justru tetap terlelap.


“Ma, aku mau ngomong sama Mas Azka, berdua. Mama sama Kak


Dimas dan yang lain bisa tunggu di luar!”


Mereka mengerti dan langsung keluar dari ruangan rawat


Nagita.


Azka duduk di kursi sebelah brankar Nagita.


“Mau apa, sayang?”


Nagita menunduk nampak menggit bibir bawahnya. Firasat Azka


sudah mulai berubah dengan apa yang dikatakan perempuan itu nantinya.


“Kamu kenapa?” tanya Azka parau saat Nagita mempererat cara


memegang bayinya.


“Kita pisah!”


“Apa?” Azka terkejut dan langsung berdiri dari tempat


duduknya.


“Please!” Nagita menitikan air mata.


“Tapi kenapa? Apa Dimas memaksa kamu?”


“Nggak, ini kemauan aku, Mas.”


“Tapi kenapa harus pisah? Nagita, saya mencintai kamu,


mencintai anak kita, apa yang saya lakukan ini belum cukup? Setiap hari saya


selalu dipukuli Dimas ketika nekat lihat keadaan kamu, saya merindukan kamu,”


jawabnya parau.


“Aku nggak bahagia nikah sama kamu, Mas Azka.”


“Ini nggak benar, Nagita. pasti ada apa-apa? Jawab!”


“Please, aku mau kita udahan. Apa artinya kita mempertahankan


semuanya jika salah satunya tersiksa,”


“Kamu tersiksa kenapa?”


“Aku pengin bebas,”


“Oke, aku bebasin. Tapi kamu harus ikuti persyaratannya, aku


akan ikuti apa yang kamu mau, Nagita,”


“Apa?”


“Kamu tetap biarin saya bertemu dengan anak saya, kedua kamu


harus tinggal di rumah yang saya hadiahkan untuk kamu. dan lagi, saya akan


tetap mengunjungi kalian seminggu sekali, kamu bebas melakukan apa pun,”


“Aku mau pisah,”


“Setelah kamu menuruti, saya akan menuruti juga,”


“Tapi aku nggak bisa,”


“Oke, jadi aku akan merebut anak kita dari kamu. aku hanya


mau kamu dan anak aku hidup nyaman. Aku nggak bakalan usik hidup kamu, aku


hanya ingin bertemu dengan anakku. Terserah kamu mau ngapain, aku nggak peduli,”


Sebenarnya Azka tidak serius dengan ucapannya. Ia memilih


kata-kata dengan sangat hati-hati karena takut keceplosan menjatuhkan talak


kepada Nagita saat mereka sedang dalam keadaan emosi.


“Aku pergi.”


Azka keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan keluarganya


di luar dan melewatinya begitu saja. Hatinya benar-benar kecewa karena


keinginan Nagita untuk berpisah. Selama ini ia sadar bahwa Nagita selalu


tersiksa olehnya. Namun, keinginan Azka untuk membuat rumah tangganya utuh


adalah harapan yang sangat sulit. Tidak mungkin memaksakan Nagita yang ingin


pergi agar tetap tinggal di sisinya. Tak ada gunanya menahan orang yang ingin


pergi saat hatinya sudah tidak bersama kita lagi.


“Aku sadar, aku sudah keterlaluan. Kamu akan tetap menjadi


milikku, tidak ada yang memilikimu, selain aku. Kita tidak akan berpisah. Aku akan


terus memperjuangkan kamu, meski kamu menghindar, aku akan tetap mengejar. Meski


kamu pergi, aku akan tetap mencari. Meski kamu ingin melupakan, tetapi aku


tetap ingin bertahan, Nagita.” Azka mengusap wajahnya dengan gusar dan


menumpukkan kepalanya di jendela mobilnya. Ia berdiri di sana sejak pikirannya


tidak bisa lagi untuk netral.