RICH MAN

RICH MAN
SENYUMNYA



Rey mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dan juga kaos putih polos sebagai dalaman, kancing kemeja itu dibiarkan terbuka. Sedangkan untuk sepatunya, ia memakai sepatu kets berwarna putih, rambutnya ia biarkan seperti biasa, merapikannya dengan sangat baik, karena dirinya bukan termasuk lelaki yang suka mengenakan pomade.


Di depan rumah gadis yang ditunggunya, Rey masih menunggu kedatangan gadis itu di samping mobilnya. Beberapa waktu yang lalu gadis itu mengirimkannya lokasi dan seketika Rey langsung mengemudi ke sana untuk menjemput teman sekelasnya.


Rey yang tadinya memainkan kunci mobilnya untuk menghilangkan bosan karena sudah sepuluh menit berlalu dia menunggu di sana, tiba-tiba saja pandangannya terpana pada satu objek yang ada di depannya. Bintang keluar dengan mengenakan pakaian kaos putih dan rok berwarna abu rokok serta sepatu kets putih senada seperti warna sepatu Rey.


Gadis itu pun langsung menghampirinya, hampir saja Rey kehilangan kendali hanya dengan melihat penampilan Bintang yang seperti itu, selama ini dia tidak pernah melihat perempuan manapun berpakian seperti itu, apalagi Clara. Dengan sangat keras, Rey akan melarang adik sepupunya untuk berpakaian seperti itu.


"Sudah lama nunggu, Rey?"


Rey berusaha mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah lain karena tidak ingin terganggu dengan pemandangan yang ada di depannya.


"Kamu yakin mau pakai itu?"


"Memangnya kenapa? Aku sering pakai rok begini kok kalau pergi,"


Rok di atas lutut, Rey menghela napas panjang. Tidak mungkin juga Rey melarang gadis itu karena dirinya bukan siapa-siapa, tetapi pandangannya memang terganggu dengan penampilan Bintang yang terbuka seperti itu.


Jika dikatakan munafik, jawabannya tidak. Rey bukan munafik, tetapi ia tidak ingin melihat paha Bintang menjadi tontonan gratis bagi siapa saja, termasuk dirinya.


"Rey enggak jadi pergi?"


"Ja-jadi kok," ucapnya terbata. Tetapi Rey hanya tidak suka dengan apa yang ada di pemandangannya kini.


"Sebelum kita pergi, bisa enggak ganti roknya pakai celana panjang!"


"Kenapa?"


"Aku enggak suka ada yang lihat pakai rok beginian di luar, mata begitu banyak yang lihat kamu, apa kamu enggak khawatir, sekalipun kamu jalan sama aku, aku enggak bisa cegah pandangan mereka ke kamu,"


Gadis itu nampak berpikir sejenak, "Ya udah tunggu!" jawabnya dibarengi dengan senyuman. Rey tersenyum mendengar keputusan gadis itu dan menunggu di dalam mobil.


Sudah hampir lima menit, Bintang belum juga keluar untuk menemuinya, Rey bersandar sambil menunggu kedatangan gadis itu.


"Rey,"


Rey menoleh begitu saja saat gadis itu tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya dengan penampilan yang sudah terbilang cukup sopan. Bajunya pun diganti dengan lengan panjang, Rey tersenyum dan tak menampakkan raut wajah bahagianya melihat penampilan gadis itu.


Rey melajukan mobilnya menuju toko buku terdekat, dua puluh menit berlalu dari rumah Bintang menuju toko buku, keduanya pun tiba di sana. Rey memarkirkan mobilnya dan Bintang merapikan rambutnya sebelum mereka berdua turun.


Senyum mengembang di raut wajah Rey saat bertemu dengan gadis yang ada di sampingnya kini, denga balutan lipstik merah muda yang begitu indah di bibir gadis itu, Rey mencuri pandangan sesekali. Melirik ke arah Bintang tanpa diketahui, "Ayo turun!" ajak Rey.


Di dalam toko buku, keduanya nampak sedang asyik bercanda di sana, hingga Rey pun merasa tidak canggung lagi dengan Bintang, gadis itu menarik tangannya berkali-kali dan membawanya ke arah komik, Bintang memilih komik tersebut namun Rey menggeleng karena tidak menyukai komik, sedangkan dia lebih memilih untuk membelikan buku dongeng yang akan ia hadiahkan kepada adiknya sepulang nanti.


"Rey, aku mau yang itu," Bintang bergelantungan dilengan kanannya, sama sekali Rey tidak merasa risih dengan kelakuan Bintang yang terbilang manja, tetapi jika itu yang dilakukan oleh Widya, tentu saja Rey akan mencari banyak cara agar gadis itu menghindar darinya. Sama sekali Rey tidak suka kepada Widya, tetapi beda halnya dengan Bintang.


Kali ini Rey mengalah dan membiarkan gadis itu memilih buku apa saja yang diinginkannya, Rey berjalan di belakang sambil menenteng buku yang sudah dipilihkan untuk kedua adiknya, dan Rey mengambil buku mewarnai serta krayon yang akan dibelikan untuk kedua adiknya.


"Kamu beli ini?" Bintang datang dari belakang sambil menempel di bahunya.


Sejenak Rey melirik, "Iya, biar mereka senang aja gitu coret-coret. Aku harus kunci kamar biar mereka berdua itu enggak masuk dan ngambil buku aku,"


"Mereka tinggi dan nyampe gitu buat buka pintu?"


"Mereka pakai bangku terus naik, mereka berdua enggak bisa diremehin, Bintang. Kalau kamu sama mereka, pasti kamu juga bakalan ngerasa capek gitu ngurus mereka,"


"Kapan-kapan ajak mereka main ya!"


"Aku pengin loh Rey,"


"Nanti hari minggu kita jalan, tapi aku izin ke Mama dulu, Mama jarang ngasih aku keluar bawa mereka berdua, kalau Papa sih enggak masalah. Tapi karena Mama juga takut kali lihat aku mengemudi,"


"Mama kamu pasti baik banget ya, Rey?"


"Hmmm, Mama itu baik banget. Tapi adil banget ngasih kasih sayang ke aku sama adik-adik aku,"


"Kamu anak pertama, Rey?"


"Iya, aku anak pertama, kamu?"


"Aku kan sudah pernah bilang, kalau aku itu anak tunggal, Rey,"


Rey ber-oh ria tak melanjutkan lagi apa yang ingin dia tanyakan. Rey masih fokus memilih dan membalik lembar demi lembar halaman buku mewarnai tersebut, mellihat gambar kuda poni sesuai dengan karakter yang paling disukai oleh adiknya, Rey memilihkan yang kembar untuk keduanya, takut jika nanti memilihkan yang berbeda, justru pertengkaran terjadi. Itulah mengapa dia dan orang tuanya sepakat untuk tidak membelikan barang apa pun yang berbeda, karena Nabila selaku kakak seringkali menangisi mainan yang dimiliki oleh Salsabila.


Setelah membeli buku, Bintang dengan entengnya menggandeng tangannya dan bermanja pada Rey. Takut jika Bintang merasa tersinggung jika dia mengatakan apa yang tidak ia sukai, Rey berusaha membalas rangkulan Bintang dan lebih memilih menggenggam tangan gadis itu dibandingkan dengan membiarkan Bintang yang bergelantungan di lengannya, sedangkan dada gadis itu menempel. Dan Rey merasa risih dengan hal itu.


Sebelum pulang, Rey mengajak Bintang ke salah satu pusat perbelanjaan untuk jalan-jalan dan mereka berhenti di salah satu tempat untuk membeli minuman, lalu lalang anak-anak yang begitu banyak berlarian tidak sabar ingin pergi ke tempat permainan, Rey melihat anak-anak itu nampak sangat gembira, mengingat adiknya juga selalu berlaku seperti itu jika di ajak ke tempat ramai seperti ini.


"Kamu ikut tour kan?"


Rey menyerahkan minuman teh hijau kepada Bintang, semenjak kejadian di mana dia mencicipi minuman gadis itu, Rey menjadi tahu minuman yang disukai oleh Bintang.


Gadis itu tersenyum dan melepas ikat rambutnya, membiarkan rambutnya terurai, "Ikut,"


"Katanya sih kita mau muncak,"


"Eh, muncak? Yang benar saja?"


"Refreshing, harus dekat dengan alam, ya jadi mau gimana lagi. Para panitia itu memang menyetujui hal itu, lagian ya IPA, IPS, Bahasa, tujuannya itu berbeda. Tergantung juga nanti ketua kelas maunya ke mana, dan lagi kita bakalan berunding lagi,"


"Oh, aku pengin muncak ke Rinjani,"


"Kejauhan, tapi bisa aja sih. Cuman menurut aku ya enggak usah sampai ke sana, ada juga kok lokasi yang lebih mudah dijangkau dan memakan waktu beberapa jam, aku lihat di internet, enggak kalah jauh bagusnya dari Rinjani,"


"Aku penginnya ke Lombok,"


"Aku pernah ke sana, sama Mama waktu masih kecil, Bintang,"


"Muncak?"


"Ke pantai, usia segitu mana mungkin aku bisa muncak, tapi usul ke ketua kelas deh kalau pengin ke sana, toh juga kita punya biaya sendiri. Kamu beneran pengin muncak?"


"Iya, aku pengin banget, karena lihat teman-teman yang foto di sana, itu bagus banget. Apalagi sunset Rey, bagus banget pokoknya, aku yakin enggak bakalan ngecewain gitu, makanya aku pengin banget,"


"Kalau kita enggak ke sana bareng teman-teman kelas, ya nanti kita bakalan ke sana, tapi sama Fendi dan yang lainnya,"


"Aku mana diizinin sih, Rey,"


"Berdoa! Jangan ngeluh melulu!"


Gadis itu menyeringai dan membuat Rey menarik hidung Bintang hingga gadis itu mengaduh, ekspresi bahagia Rey pun tidak bisa dia sembunyikan lagi saat pergi bersama dengan gadis yang ada di depannya.


Mengendus aroma romance 😂