RICH MAN

RICH MAN
JANGAN TERPAKSA



Seminggu setelah kejadian di mana mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami istri, Rey sudah berhasil untuk membujuk Marwa dan setiap harinya mereka berdua selalu tidur bersama. Pria itu juga sudah biasa memeluk dan juga mencium istrinya, hanya saja untuk urusan jatahnya sebagai seorang suami, dia belum mendapatkan hal itu.


Suara gelak tawa keduanya bahkan terdengar hingga luar kamar mereka, Nagita dan Azka yang sedang duduk di luar kamar mereka bersama kedua anak mereka sambil membimbing Nabila dan Salsabila belajar di sana.


“Pa, kakak ngapain ya?”


Azkayang tadinya sedang fokus bersama sang istri membahas bulan madu untuk anak dan menantunya itu langsung menoleh kea rah sumber suara. Mereka berdua hanya akan membantu Nabila dan adiknya belajar jika mereka berdua mengalami kesulitan, Azka yang melepaskan rangkulannya dari istrinya  pun langsung terdiam dan mendengarkan suara yang sedari tadi tidak berhenti tertawa. Sudah sangat lama dia tidak pernah mendengarkan


anaknya tertawa seperti itu, mungkin hanya bisa dihitung dengan jari bagaimana Rey bisa bercanda seperti itu bersama dengan kedua adiknya.


“Pa, tidur aja yuk!” ajak Nagita yang waktu itu tersenyum setelah mendengarkan Rey dan Marwa yang tertawa seperti itu. Sudah sangat lama sekali dia tidak mendengar suara gelak tawa anaknya yang cerita seperti itu. Nagita dan suaminya tetap saling tatap sambil tersenyum, “Papa dengar?”


“Tentu sayang,” ucap Azka sambil tersenyum kepada istrinya.


“Sudah lama banget ya enggak pernah dengerin Rey ketawa seperti itu, rasanya  ini seperti mimpi. Semenjak balik sama Marwa, Rey jadi anak yang ceria lagi,” timpal Nagita yang benar-benar bahagia ketika mendengar suara tawa anak dan menantunya.


Azka dan Nagita menoleh ketika melihat Rey keluar dari kamarnya, “Loh kok belum tidur, Ma, Pa?” Azka tersenyum. “Ini juga yang dua, besok tuh sekolah. Harusnya kalian itu tidur!”


“Kak Rey sendiri kenapa belum tidur sampai sekarang ini? Mama sama Papa dari tadi senyum aja tuh dengerin kakak ketawa, kakak kenapa?” timpal Salsabila.


Rey menggaruk kepalanya dan tersenyum, dia sedang membahas masa lalunya  bersama sang istri di kamar. Mengingat betapa konyolnya mereka dahulu saling mengejar satu sama lain, akan tetapi Marwa tidak ingin mengakui perasaan yang ada itu.


“Ya udah enggak usah di dengerin apa yang dibilang sama adik kamu, Rey! Mending kamu tuh tidur, jangan mikirin apa-apa!” ucap papanya.


“Iya, Pa. Ngomong-ngomong lusa aku sama Marwa mau izin bulan madu, Pa,”


Nagita dan Azka saling lempar tatap kemudian tersenyum melihat tingkah anaknya yang tidak seperti biasanya.


“Bakalan beneran dapat cucu nih dengan segera, Ma. Kala uterus seperti ini  rasanya Papa tuh pengin nambah anak juga, Ma,” ucap Azka sambil mencubit pipi istrinya di depan Rey.


“Papa masa mau punya anak lagi? Aku loh yang bakalan punya anak nanti,” protes anak  pertamanya. Azka yang saat itu menahan tawa karena hendak tertawa setelah mendengarkan ucapan anaknya itu.


“Ya udah sana kamu masuk kamar! Ngapain coba keluar, harusnya itu  pengantinan sama Marwa, masa udah baik enggak ada tanda-tanda Marwa hamil. Perlu kursus sama Papa? Sekali main langsung jadi?” ucap Azka yang membuat istrinya geram saat itu juga. Rey yang mendengar ucapan itu juga terlihat sangat kesal karena tingkah Papanya.


“Papa tuh kalau ngomong enggak pernah disaring! Enggak lihat tuh Nabila sama Salsabila di dekat Papa! Kalau ngomong tuh jangan gitulah, Pa. Malu  dikit gitu sama anak, Papa ini kebiasaan banget,” protes Rey yang  benar-benar kesal dengan tingkah papanya ceplas ceplos. Meskipun dia merupakan pria yang belum pernah berpengalaman seperti papanya, tetapi dia masih bisa menjaga Marwa dengan baik, tidak ingin memaksa Marwa  melayaninya, walaupun dia berhak terhadap perempuan itu, Rey hanya ingin hubungannya dengan istrinya baik, itu saja dulu. Jika urusan hubungan suami istri, sepertinya dia belum memikirkan itu hingga jauh. Dia tidak ingin bahwa hubungannya dengan istrinya justru merenggang jika dia memaksakan hanya ingin dipenuhi nafsunya. Tetapi justru menyakiti batin Marwa.


“Ya, maaf. Papa kan cuman bercanda,”


Nagita melihat suaminya yang kali ini di skak oleh anaknya sendiri. “Ya udah, Pa. Aku pamit mau ambil air minum dulu untuk Marwa, katanya haus. Enggak jadi pergi nih gara-gara Papa,” ucap Rey dan kemudian meninggalkan kedua orang tuanya ke dapur untuk mengambil air minum.


Rey menarik napas panjang, jujur dia sangat menginginkan hal itu. Tetapi bagaimana jika Marwa menolaknya dengan alasan belum siap dan tidak mau melayaninya dengan baik, layaknya seorang istri yang berusaha untuk taat pada suami.


Pria itu kembali lagi ke kamar setelah mengambil dua gelas air untuk dirinya dan juga istrinya. Rey mengembuskan napas dengan kasar setelah ucapan papanya tadi. Rey menaruh air di atas nakas kemudian menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Marwa yang sudah terbiasa membuka diri seperti mulai tidak mengenakan jilbab hanya untuk dirinya.


Perlahan, Rey mendekati Marwa yang tengah menyisir rambutnya itu. Darahnya berdesir hebat, belum pernah dia rasakan perasaan seperti itu setelah sekian lama berduaan dengan istrinya, jika pun berduaan mereka hanya saling memeluk kemudian berciuman. Hanya pada tahap itu, Rey tidak pernah melakukan hal yang lebih lagi. Rey tiba-tiba mengambil alih dan menyisir rambut istrinya.


“Marwa, tadi Papa sama Mama-“


“-Singgung soal anak?” ucap Marwa memotong pembicaraan Reynand. Pria itu terkejut setelah mendengarkan ucapan istrinya. Pasalnya istrinya itu benar-benar tepat ketika berbicara. Rey yang canggung berusaha mengabaikan hal itu.


Marwa berbalik dan mengambil sisir itu dari tangan Rey. “Mas, kamu tersiksa karena aku, kan?”


Rey menatap istrinya kemudian menangkup kedua pipi istrinya dan menggeleng pelan. Bukan itu maksudnya, akan tetapi terlihat dari raut wajah istrinya yang waktu itu seperti orang yang merasa bersalah. Sungguh, dia tidak ingin istrinya merasa terpaksa jika hanya mendengar ucapan mama dan papanya tadi ketika dia sedang berbicara.


“Marwa, jangan pikirkan ucapan mereka!”


“Mas,bagaimanapun aku berusaha untuk tidak memikirkan apa yang mereka katakan, aku tetap perempuan yang harus melayani suaminya, kan? Apalagi kamu yang sudah sah jadi suami aku, mau enggak mau aku bakalan ngasih  itu juga ke kamu,” ucap Marwa pelan. Rey melihat kea rah istrinya dan mencium kening istrinya.


“Jangan pikirkan hal itu! Aku udah bilang kalau aku itu enggak apa-apa. Jangan pernah buat diri kamu tersiksa, aku enggak mau maksain. Kalau memang kamu belum siap, aku enggak bakalan paksa. Jadi, kamu bisa abaikan ucapan mereka,”


Marwa menggeleng pelan. “Kenapa?” ucap Rey pelan.


“Aku tahu perasaan kamu, Mas. Kamu juga enggak bisa terus menerus nyiksa diri kamu karena kamu punya istri kamu punya hak atas dasar aku,”


“Kalau memang semua itu terpaksa, kenapa aku harus menagih hak aku? Sudah aku  bilang kalau aku itu enggak bakalan maksain kehendak aku sebagai seorang suami, Marwa. Aku tahu bahwa kamu itu sangat tersiksa hanya karena aku. Pertama aku sudah buat kamu terjebak dalam rumah tangga dan akhirnya nyakitin kamu juga, kan? Kedua, kamu harus mendengar sindiran mengenai hamil. Aku enggak mau kamu paksain diri kamu hanya karena ucapan orang lain, sayang,”


Marwa memegang kedua tangan suaminya kemudian menggeleng. “Aku enggak pernah ngerasa terpaksa, Mas.


Kamu berhak atas aku, kalau kamu mau aku enggak bakalan nolak,”


"Mas?" panggil Marwa, Rey mundur beberapa langkah dari istrinya. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya, tidak ingin memaksa Marwa untuk tetap melayaninya dengan baik, dia hanya ingin bersatu kembali seperti dulu. Jika urusan itu, dia tidak ingin membuat istrinya terpaksa karena ucapan mamanya barusan.


“Marwa, aku tahu kamu terpaksa,”


Marwa menggeleng, Rey yang berusaha meyakinkan hal itu kemudian mencoba untuk memegang istrinya. “Kamu yakin?”


Marwa menggangguk pelan, “Iya, aku yakin. Aku enggak bakalan pernah ragu sama kamu, Mas. Aku enggak bakalan pernah raguin cinta kamu, enggak bakalan  pernah ngerasa bahwa kamu main-main sama aku,” ucap Marwa kemudian Rey tersenyum dan menyingkap rambutnya ke belakang telinga.


“Aku sayang kamu,” ucapnya sambilnya tersenyum dan memegang dagu Marwa. “Boleh?” ucap Rey ketika melepaskan ciumannya.


“Enggak,” ucap Marwa kemudian tersenyum. Rey cemberut dan memanyunkan bibirnya, “Kenapa enggak boleh? Tadi malah mau kok,” ucap Rey sambil melepas tangan istrinya dan naik ke atas ranjang kemudian menutup kepalanya dengan selimut. Sebenarnya dia sudah terpancing dengan ucapan Marwa tadi. Akan tetapi istrinya bersikap seperti itu kemudian membuat Rey salah tingkah dan tidak habis piker dengan apa yang dilakukan oleh sang istri tercinta.


“Mas, hadap sini deh!”


Tetap saja Rey membelakangi Marwa kemudian tidak melihat perempuan itu sama  sekali. Rey hanya terdiam, dia tidak ingin melihat istrinya karena kali ini dia sangat menginginkan sang istri.


“Mas,” panggil Marwa beberapa kali.


Rey yang benar-benar tidak bisa menahan diri dengan panggilan Marwa yang sedari tadi membuatnya kesal. Pria itu berbalik dan langsung mengunci kedua tangan istrinya yang langsung berada dibawahnya.


“Jangan pernah membangunkan singa jika kamu sendiri enggak mau ngelakuin hal itu, Marwa. Kamu piker enggak sakit?” ucapnya sedikit kesal.


Marwa yang tahu bahwa kali ini suaminya benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Dia menarik hidung suaminya. “Sekarang apalagi?” Tanya Rey kemudian menatap mata istrinya dengan lekat.


“Kamu nyebelin,” ucap Marwa sambil menarik Rey.


“Enggak nolak lagi sekarang?”


“Dari tadi juga enggak nolak, karena kamu aja yang sensi, aku kan cuman bercanda,” ucap Marwa sambil tersenyum.


Rey pun melanjutkan aksinya dan diterima baik oleh Marwa.


“Lampunya bisa dimatikan enggak?” pinta Marwa.


Rey berpikir sejenak, “Enggak, aku enggak mau,”


“Mas, aku mohon!” ucap Marwa dan terus memohon. Rey pun akhirnya mau tidak mau harus menuruti daripada dia harus tersiksa lagi.


Keesokan paginya.


“Rey, Marwa! Yuk bangun subuhan dulu!” ucap mamanya yang terus mengetuk pintu sedari tadi. Marwa yang bangun terlebih dahulu mengucek matanya dan  merasakan beban diperutnya, ketika itu dia membuka matanya perlahan dan mendapati suaminya yang sedang memeluknya erat.


Semalam menjadi suatu pengalaman yang membuat Marwa benar-benar malu kali ini. “Bangun!” ucapnya sambil menggoyangkan tubuh suaminya.


“Bentar lagi, hmmm,” balas Rey.


“Kelewat subuh loh nanti, belum mandi juga,” ucap Marwa yang melihat ke arah  jam. Perlahan pria itu tersadar dari tidurnya, “Mas ini udah telat loh, enggak cukup waktunya kalau kamu lama-lama. Kita mandi giliran,”


Rey mencari kesadaran pun akhirnya benar-benar merasa bahwa dia telah sadar kemudian menarik napas panjang kemudian mengangkat tubuh istrinya. “Turunin!”


“Katanya enggak mau kelewat subuh, malah protes,” ucap Rey yang menggendong istrinya yang hanya mengenakan jubah mandi.


“Mas, kamu tuh ya, turunin enggak?”


Rey tidak mempedulikan ucapan istrinya dan masuk ke dalam kamar mandi  kemudian membuka jubah mandi istrinya dan melepaskan kolornya. “Mas,”


“Apalagi ya ampun?” Marwa menutup tubuhnya.


“Udah pernah lihat,” jawab Rey ketus dan membuat Marwa yang waktu itu


benar-benar kesal dengan jawaban Rey yang cukup keterlaluan waktu itu.