RICH MAN

RICH MAN
SINGKIRKAN DIA



Empat hari setelah Azka mual-mual, ia sudah merasa sedikit membaik, bahkan ia sudah pergi ke kantor. Akan tetapi mualnya masih saja usil untuk mengganggunya, disela-sela rapatnya ia keluar dan membatalka rapat tersebut. Kadang Damar mengambil alih untuk sementara waktu seperti biasanya.


Azka duduk di ruangannya sambil memeriksa berkas-berkas perusahaan yang akan ditanda tangani.


Sesekali ia menyeruput teh yang terpampang dihadapannya, karena hanya teh yang mampu masuk ke dalam perutnya, selain itu tentunya akan keluar lagi seperti biasanya.


"Az, lo sibuk?" Damar langsung menghampiri dirinya yang sedang sibuk.


"Ada perlu apa?"


"Lo sakit? Gue lihat lo muntah-muntah kayak orang ngidam,"


"Sialan lo, btw Dimas ke mana?"


"Dimas izin barusan pas lo keluar, katanya sih mau anterin adiknya ke rumah sakit,"


"Kenapa?"


"Entahlah, Az gimana menurut lo laki-laki yang memperkosa perempuan lalu meninggalkannya begitu saja?"


"Lo kok nanya gue?"


Azka terdiam sejenak.


Kenapa akhir-akhir ini orang-orang selalu saja bertanya ngidam? Bahkan pemerkosaan, bahkan Dimas juga sempat menceritakan tentang kehamilan adiknya pada dirinya.


"Cuman nanya, gue walaupun brengsek ya tapi enggak bakalan sampai ninggalin gitu. Minimal gue tanggung jawab," ucap Damar dingin.


"Mar, lo kenapa sih?"


"Az, gue enggak bego kayak lo. Gue enggak pura-pura bodoh, lo tahu adiknya Dimas korban pemerkosaan bosnya sendiri. Dan lo tahu adiknya Dimas siapa?"


Azka menggeleng.


"Nagita, perempuan yang bawa lo ke apartemen waktu lo mabuk berat karena si brengsek, Deana. Setelah lo bawa ke apartemen, lo perkosa dia. Gue masuk ke kamar untuk nengokin lo pagi-pagi, yang gue lihat bemandangan bajingan lo, gue mungutin baju Nagita, hampir semua robek karena ulah lo, bercak darah di seprai lo, lo dengan tenangnya meluk dia, dia berantakan banget, setelah itu gue pulang,"


*flashback*


Setelah mendengar kabar bahwa Azka mabuk, Damar segera menuju apartemen Azka untuk melihat keadaan sahabatnya tersebut, pagi buta ia segera menuju ke sana, sepanjang perjalanan ia mencoba menghubungi Azka akan tetapi tidak ada jawaban, bahkan mencoba untuk menghubungi Nagita, tetap tidak bisa.


Dengan langkah yang sedikit khawatir dan ia mulai memencet angka password apartemen milik Azka, Damar langsung berlari menuju kamar, akan tetapi betapa terkejutnya ia melihat pemandangan tersebut. Hatinya sangat nyeri, meskipun ia tidur dengan perempuan berbeda-beda. Akan tetapi Damar tidak pernah melakukan hal buruk seperti ini. Damar memungut baju Nagita yang robek, bahkan melihat keadaan perempuan itu dan memperbaiki selimut Nagita yang tubuhnya hanya tertutupi selimut, Damar benar-benar merasakan sakit hati melihat perempuan itu. Bukan jatuh cinta, tetapi ia kasihan dengan keadaan berantakan dan bercak darah di seprai, itu berarti semalam Azka telah memperkosa Nagita. Ia melemparkan pakaian tersebut.


'Brengsek' itulah kata yang keluar dari mulutnya saat ia melihat Azka dengan damai di kamar tadi. Laki-laki lemah itu mabuk jika bertemu  dengan Deana, Damar tahu betul bagaimana Azka sangat mencintai Deana. Dan ini adalah akibat patah hati, mengorbankan orang lain untuk patah hatinya sendiri.


Damar menuju ke kantor, tidak menemukan Nagita bekerja. Bahkan beberapa hari kemudian Nagita tak jua muncul. Hingga akhirnya ia memerintahkan seseorang untuk mencari alamat perempuan itu, dan terus mengetahui perkembangannya. Hingga akhirnya alamat itu ia temukan, dan suatu kebetulan adalah orang suruhannya mengatakan bahwa perempuan itu tinggal bersama seorang laki-laki yang bekerja di kantornya, yaitu Dimas.


Setelah menelusuri, ternyata mereka adalah saudara. Damar terus menyuruh bawahannya memantau Nagita hingga suatu kejadian, Damar mendengar kabar bahwa Dimas dan Nagita menuju dokter kandungan beberapa kali. Dan setelah memastikan dengan cara datang menemui dokter kandungan tempat


Nagita memeriksa, perempuan itu tengah hamil. Bahkan ia pernah mendengar bahwa Dimas sangat mencintai adiknya dan akan tetap merawat bayi itu hingga lahir dan tidak akan mempertemukannya dengan ayahnya.


Damar bergidik ngeri ketika ia mengingat kejadian itu. Mengingat tanggal kejadian itu dan menanyakan usia kandungan Nagita.


*Flashback off*


"Mar, lo jangan bercanda?"


"Gue bercanda apa? Lo muntah-muntah gini, lo kira lo sakit? Masuk angin? Lo ngidam brengsek, mungkin ini telat, tapi kadang memang laki-laki yang ngidam bukan hanya perempuan,"


"Mar, gue enggak pernah lakuin apapun," sekanya. Ia berusaha mengelak.


"Andai Dimas tahu lo yang jadi ayah dalam kandungan Nagita? Lo tahu apa yang terjadi?"


"Damar, tolong lo keluar dari ruangan gue!"


"Perusahaan lo bakalan hancur, karena otak dari semua ini adalah Dimas, kerja dia bagus, dia keluar dari kantor, jatuh miskin lo, ingat lo ngasih dia mobil karena lo suka cara kerja dia, gue bersyukur lo ngerti, gue tahu lo banyak uang, tapi lo enggak bakalan berani bertanggung jawab pada Nagita."


Damar keluar dari ruangannya. Ia benar-benar tidak habis pikir kejadian ini akan menimpanya begitu saja, Azka merasakan panas disekujur tubuhnya. Mual? Bukan hanya beberapa hari itu yang ia rasakan. Tapi pernah juga di beberapa bulan yang lalu, akan tetapi hanya dua hari.


Dengan kepala yang sudah tidak bisa lagi untuk berpikir jernih, Azka langsung mengambil jasnya lalu keluar dari ruangannya. Ia berniat untuk mencari perempuan itu, mempertanyakan apakah benar bahwa Nagita hamil karena perbuatannya yang sangat bejat waktu itu.


Ia menuju tempat di mana ia pernah menurunkan Dimas, ia yakin bahwa di sana adalah tempat tinggal mereka berdua.


Setibanya di sana, Azka turun dari mobilnya dan bertanya di beberapa warga setempat. Ia sudah ke sana kemari untuk bertanya akan tetapi tidak tahu.


Ia masuk kembali ke dalam mobilnya dan hendak pulang.


"Waktu yang tepat," gumamnya. Ia turun dari mobil dan langsung menghampiri perempuan itu.


"Nagita!"


Perempuan itu menoleh.


"Pak Azka?"


"Masuk ke mobil saya!!!" Azka menyeret Nagita dengan kasar.


*****


Di apartemen.


"Kamu hamil?"


"Iya pak,"


"Anak saya?"


"I-iya pak,"


Seolah pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat mengerikan. Dengan tatapan yang membunuh tentu saja siapapun yang melihat akan menunduk tidak akan pernah berani menatap mata laki-laki tersebut. Bagaimana tidak? Dia adalah manusia yang berhati es batu. Bahkan tidak akan pernah terhadap siapapun juga.


"Sudah berapa bulan?"


"Empat,"


"Besok saya antar kamu untuk aborsi, gugurin dia. Saya tidak sudi punya dia, dan tidak ada yang boleh mengandung anak saya. Siapapun itu saya tidak akan pernah peduli, saya akan tetap menggugurkannya, setuju atau tidaknya kamu,"


Laki-laki itu keluar dari kamarnya. gadis itu hanya tercengang mendengarkan apa yang dikatakan oleh atasannya. Menggugurkan adalah perbuatan pembunuhan, kenapa saat membuatnya begitu bahagia? Mengapa saat 'dia' hadir seolah tidak pernah ada yang menginginkannya. Mengguggurkan adalah tindakan pembunuhan.


Gadis itu hanya terdiam sambil mengelus perutnya dan terus menangis. Ia takut membunuh janinnya sendiri. Sebelum bertemu pria itu, ia dengan bahagianya merawat kandungannya. Meski tanpa ayah, namun kini saat bertemu dengan ayahnya.


Seolah kehadirannya sangat dibenci. Gadis itu hanya mengelus perutnya berkali-kali.


Ia tahu bahwa tidak ada yang mengizinkannya untuk mengandung bayi itu. Lagipula bukan salahnya yang menghadirkan janinnya. Hanya suatu kesalahan yang membuatnya harus benar-benar mengandung bayi tersebut.


"Maafkan Mama nak, Papamu tidak pernah menginginkan kehadiranmu. Kamu harus hadir tanpa cinta, harus berakhir juga dengan tanpa belas kasihan." Ia mengusap air matanya yang terus jatuh. Jika berpikir untuk kabur, tentu saja ia bisa.


Akan tetapi dengan keadaannya yang sekarang tidak memungkinkan untuk kabur dari apartemen pria yang begitu angkuh.


*****


Azka duduk di sofa apartemennya. Setelah berhasil membawa Nagita pergi, ia merasa begitu kesal.


"Mau ke mana?"


"Saya mau pulang,"


"Tetap di sini, sampai kamu berhasil menggugurkan kandunganmu!"


"Katakan padanya bahwa kamu menginap di rumah temanmu. Tidak ada penolakan Nagita,"


Perempuan itu mengangguk, dan menghubungi Dimas di depan Azka.


***


Malam pun tiba, bel apartemen Azka berbunyi ternyata itu adalah orang suruhannya yang membeli makanan dan pakaian untuk Nagita.


"Makan dan ini pakaianmu, saya akan mengantarkanmu besok pagi untuk aborsi,"


"Untuk apa saya makan?"


"Kalau kamu sakit, aborsi tidak akan dilaksanakan,"


Azka melihat butiran bening jatuh dari mata Nagita. Akan tetapi ia tidak peduli dan benar-benar ingin menghindari perempuan itu serta menggugurkan bayi hasil perbuatannya dan akan membayar penuh Nagita.


Semua kebutuhan Nagita ia akan penuhi berapapun biayanya. Bahkan ia sudah menelepon dokter dan mendapat jadwal lusa untuk aborsi, karena tidak mungkin ia datang di saat ramai. Bagaimana tanggapan orang-orang tentang dirinya, pengusaha muda yang justru membuat anak orang hamil. Tentu saja ia tidak ingin reputasinya hancur begitu saja. Untuk beberapa hari tentu saja ia akan tinggal bersama perempuan itu sampai sembuh.