RICH MAN

RICH MAN
BERTEMU LAGI



Di taman itu, duduklah


sosok ibu dan anak yang tengah berusia sekitar tiga tahun setengah. Seorang anak


kecil dengan mata coklat khas dengan bulu matanya yang sangat lentik, serta


tubuhnya yang sangat mungil membuat siapa saja gemas untuk melihatnya. Dengan rambut


yang dikucing dua dan baju kaus serta celana hingga paha menutupi tubuhnya.


Setelah kepindahannya


dari luar negeri, dan mulai tinggal di area perumahan bersama dengan mamanya. Anak


kecil itu adalah Syakila, gadis kecil malaikat hidup bagi ibunya. Harta satu-satunya


yang dimiliki setelah meninggalkan pria yang tengah menghamilinya dulu. Ia tidak


meminta pertanggung jawaban. Melainkan pergi begitu saja meninggalkan pria


tersebut, karena ia sadar bahwa hati pria yang telah menidurinya itu bukan lagi


untuknya, melainkan untuk anak dan istrinya, perempuan itu adalah Deana. Yang kini


telah memiliki seorang anak perempuan yang kala itu terjadi sebuah kecelakaan,


yang di mana Azka tidak menggunakan pengaman saat bercinta dengannya dalam


keadaan mabuk dan menghasilkan Syakila. Darah Deana berdesir, saat mengingat


kejadian di mana ia meninggalkan Azka saat ia hamil, tidak ada kabar yang ia


tinggalkan untuk pria tersebut. Ia pergi jauh bahkan melahirkan di Jepang


bersama dengan temannya yang membiayainya. Teman yang membiayainya hidup selama


di sana adalah Atha, seorang pria yang sangat mencintai dirinya. Tetapi Deana


memilih sendiri karena ingin menebus kesalahannya. Pertama ia telah


menghancurkan rumah tangga seseorang, kedua ia akan membahagiakan Syakila


sendirian tanpa campur tangan orang tua anak itu.


Deana tengah menemani


Syakila bermain di taman untuk mengenalkan dunia luar. Sebab selama berada di


Jepang. Anak itu tidak pernah keluar karena selalu ia titipkan pada pemilik


rumah yang ia sewa sewaktu di sana. Meski Atha telah memberikan apartemen,


tetapi Deana selalu berusaha untuk membiayai segala kebutuhan Syakila dengan


bekerja keras demi anak semata  wayangnya


itu. Beberapa kali Atha menawarkan diri kepada Deana untuk menjadi ayah dari


anaknya. Tetapi perempuan itu terus saja menolak karena tidak ingin suatu waktu


Syakila mengetahui ayah kandungnya siapa. Namun, maksud Deana kembali adalah


karena merindukan tempat tinggalnya yang dulu. Ia masih memiliki apartemen yang


diberikan oleh Azka, bahkan ia juga memiliki rumah yang ia beli dengan


tabungannya sendiri.


Sebuah bola


menggelinding di kaki Syakila, anak itu menoleh ke arah Deana dan nampak


seorang anak laki-laki berdiri mengejar bola tersebut.


“Main yuk, nama adek


siapa?” Deana hanya tersenyum saat melihat anak laki-laki itu.


“Kila, kakak ciapa?”


“Kenalin aku Reynand,


panggil Rey aja ya. Kila mau main bola bareng?”


Seketika anak itu


menoleh ke arahnya. “Ma, boleh ya?” izinnya. Deana tersenyum, “Boleh sayang,


sana main sama kak Rey,”


Deana duduk di bawah


pohon jati yang berada di taman itu.


Melihat ke akraban


putrinya dengan Rey, Deana akan berusaha untuk sering-sering mengajak Syakila


untuk bermain di taman agar bisa bersosialisasi dengan yang lainnya. Taman itu


tidak terlalu ramai karena jam masih menunjukkan jam bekerja dan orang-orang


masih beraktivitas. Deana sengaja membawa Syakila ke tempat itu agar anaknya


bisa sedikit lebih akrab, karena selama di sana ia tidak pernah menemukan teman


bermain untuk anaknya seperti sekarang ini. Kehidupan di sana sangatlah


berbeda, dan itulah yang membuat Deana ingin segera kembali ke Indonesia.


“Mata anak itu mirip


kamu, Azka. Hingga saat ini aku belum pernah bertemu lagi denganmu. Tetapi aku


berharap bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi, karena aku tidak mau kamu


tahu bahwa Syakila anak kamu, mungkin dulu adalah suatu kesalahan yang di mana


kita tidak pernah peduli dengan perasaan wanita mana pun, jika telah mengikat


diri dengan suatu hubungan, maka sikap berkhianat kita akan selalu saja tumbuh.


Dan baru kali ini aku memikirkan bagaimana rasanya menjadi Nagita ketika hamil


kamu tinggal demi aku, tetapi saat ini aku yang meninggalkanmu, agar kamu


memiliki celah untuk membahagiakan anak dan juga istrimu. Meski harus aku yang


terluka. Kita pernah sama-sama saling mencintai, salah dalam mengambil tindakan


hingga akhirnya kita memiliki dosa yang sangat besar dalam hidup. Andai aku


adalah penjelajah waktu, aku ingin kamu tetap bahagia dengan Nagita, membuatnya


tersenyum tanpa pernah membuatnya menangis. Mungkin inilah rasanya berbagi, ah


aku salah, ini bukan berbagi. Terlebih kali ini aku adalah yang kalah. Dan Nagita


adalah pemenang dari segala pertandingan antara mempertahankanmu


danmeninggalkanmu, saat memilih untuk meninggalkanmu, tentu saja aku sudah


berpikir ini ribuan kali agar tidak pernah ada yang kecewa. Barangkali kamu


juga harus mengerti, Syakila memang sering menanyakan Papanya. Tapi percayalah


Azka, aku tidak akan pernah menghancurkanmu seperti dulu lagi, Syakila adalah


milikku. Meski ia ada karena kita, tetapi anak kamu dan Nagita jauh lebih


penting kebahagiaannya, Syakila masih bisa ku kendalikan seorang diri.” Ucapnya


berbicara pada dirinya sendiri.


Deana menghela napas


panjang dan melihat ke area sekelilingnya, banyak anak-anak yang berpacaran di


taman. Ia mengingat betapa dulu bodohnya ia saat merebut Azka dari seorang


perempuan yang hatinya begitu lembut bahkan Deana tidak munafik perihal kebaikan


Nagita. Ia tahu bahwa perempuan itu sangat baik, masih bisa memberikan


kesempatan kelak, karena yang ia tahu bahwa Azka datang padanya karena


melampiaskan nafsunya ketika Nagita pergi meninggalkan pria itu beserta


memisahkan Azka dengan anaknya.


Syakila berlari ke


arahnya dengan keringat yang bercucuran, “Anak Mama capek?”


“Iya Ma. Ma pengen


minum,”


“Ya sudah kita ke sana


yuk! Kita beli minuman buat Kila, ya?”


Anak kecil itu


mengangguk pelan. Dan Deana langsung menggendongnya. Ia tidak pernah menyesal


telah melahirkan Syakila, justru semenjak kehadiran anak itu di dalam rahimnya,


ia menyadari semua dosa-dosanya yang telah lalu. Dosa di mana waktu itu tidak


pernah terbayangkan olehnya. Namun kini ia sangat begitu bersyukur semenjak kehadiran


Syakila hidupnya berubah.


“Kak Reynand mana,


Syakila?”


“Dijemput Daddy katanya telus di bawa pulang.”


Deana tersenyum dan


menciumi pipi Syakila dengan sangat gemas. “Suatu saat kamu ketemu juga sayang,


tapi bukan berarti ia akan tahu bahwa kamu adalah anaknya, kalian hanya akan


bertemu, entah kapan itu. Walaupun di dalam mimpi, tetapi akan tetap bertemu


bagaimanapun caranya, Tuhan itu adil sayang.” Gumamnya dalam hati.


Mereka berdua mendekati


seorang penjual es krim keliling. Deana langsung memberikan pilihan kepada


anaknya sebelum mereka kembali ke rumah. Alasan ia tidak ingin kembali ke


apartemennya adalah tidak ingin mengingat masa lalunya di sana bersama dengan


Azka.


“Ma, nanti ajakin Kila  main ke lumah Kak Ley ya?” ucap anak itu


dengan suara khas cadelnya. Deana mencubit pipi tembam anaknya yang sedang


memakan es krim. “Pastinya sayang, nanti ketemu Kak Rey sering-sering di sini


ya, Mama pasti ajakin. Ohya tadi Kila lihat orang tuanya Kak Rey?”


“Lihat Ma. Cantik,


telus Daddy Kak Ley bilang kalau Kila


itu cantik Ma. Mommy Kak Ley itu


cantik, baik juga Ma,”


“Karena Syakila anak


Mama memang cantik, Mommy sama Daddy Kak Rey benar sayang. Ohya habiskan


es krimnya, terus kita pulang, bobok siang ya, sayang?”


“Iya Ma.”


*****


 Di kediaman Azka, Rey terus saja menceritakan


Syakila, teman yang baru saja ditemuinya di taman area perumahan mereka. Nagita


dan Azka hanya mendengarkan anaknya yang terus saja mengoceh dan meminta untuk


terus bertemu dengan gadis kecil itu. Memang semenjak pertama kali melihatnya,


Nagita sudah sangat gemas dengan anak itu. Terlebih saat ucapannya yang


terbilang lembut dan sopan. Ia juga sempat mendengar kabar bahwa anak itu baru


saja kembali dari Jepang dan  akan


menetap di Indonesia. Tingkah anak kecil itu pun masih sangat asing dengan


pergaulan di sini. Karena mungkin cara mendidiknya yang beda di sana hingga


Nagita takjub dengan anak kecil itu.


“Syakila itu lucu ya


Mas?”


“Terus?”


“Ya nggak ada, cuman


ngasih tahu aja. Aku pengin punya anak cewek sih nanti kalau dikasih sama


Tuhan,”


“Gimana kita mau di


kasih Nagita. Kita belum pernah nyoba, setiap kali mau itu, ada saja halangan. Terlebih


bocah ini nih, yang katanya pengin adik tapi nggak mau jauh dari ketek Daddy,” jawab Azka sambil menggelitiki


perut Rey hingga anak itu tertawa karena merasa sangat geli pada bagian


perutnya. Azka sendiri memang masih menikmati momen kebersamaannya dengan Rey


dan juga Nagita yang kian hari semakin membaik, bahkan jika dulu menemuinya


saja tidak mau, berbeda dengan sekarang yang mungkin saja membuat dirinya


selalu gemas berada di samping Nagita. Bahkan momen romantisnya seringkali


diganggu oleh Rey, hanya dengan berpelukan, ia merasakan kedamaian, setiap Rey


pulang sekolah Azka kini menyibukkan dirinya dengan meluangkan waktu. Terlebih Nagita


yang saat ini sudah ia larang untuk mengurus toko kuenya.


“Mommy Rey mau bobok siang,” keluh anak itu membuat Azka menggeleng


dengan tingkah manja Rey.


“Bisa  bobok sendiri nggak sayang?” pinta Nagita


“Iya deh. Tapi jangan


ke mana-mana ya nanti Rey nggak mau kalau Mommy sama Daddy nggak di rumah,”


“Di sini kok sayang,


kami berdua di sini. Tapi Mommy mau


kan bentar lagi mau balik ke kantor, sekarang Rey bobok sana!”


Anak itu mengangguk dan


langsung ke kamarnya. Sementara mereka berdua masih duduk di ruang tamu.


“Aku mandi dulu, Mas. Gerah


banget,”


“Aku ikut ke kamar,


istirahat bentar sebelum balik,”


“Kamu juga ngapain


pulang segala?”


“Nggak boleh gitu? Aku nggak


mau di protes sama Rey gara-gara nggak ada waktu lagi untuk dia kayak waktu


itu,”


“Ya sudah, terserah


kamu aja, Mas.” Mereka berdua berjalan menuju kamar, namun sebelum itu mereka


ke kamar Rey dan terlihat bahwa anak itu sudah tidur dengan sangat lelap. Mereka


berdua langsung masuk ke dalam kamar. Nagita yang langsung berlalu meninggalkan


Azka ke kamar mandi karena merasa badannya sangat lengket akibat


berpanas-panasan di taman tadi menemani Rey untuk bermain. Tetapi Nagita tidak


pernah merasa terbebani selama ini harus mengikuti tingkah manja anaknya dan


selalu gagal untuk menikmati momen keromantisannya dengan Azka. Ia sadar tidak


seperti dulu, jika dahulu setiap kali Azka ingin berduaan, tentu ia langsung


memenuhinya. Tetapi kini sudah berbeda, karena anak itu memang memiliki sedikit


waktu bersama dengan Azka dulu. Kini Nagita berusaha untuk memenuhi segala apa


yang diinginkan oleh Rey.


Selesai mandi ia keluar


dengan melilitkan handuk hingga menutupi sebagian tubuhnya dan mengeringkan


rambutnya. Sementara itu Azka berbaring di atas ranjangnya dengan menutup


matanya dengan lengannya.


“Kamu mandi deh, Mas.”


“Bentar. Aku mau tidur


sebentar saja,”


Nagita tak menanggapi


lagi ucapan Azka. Ia justru fokus mengeringkan rambutnya dengan handuk sebelum


mengeringkannya dengan hair dryer. Sesekali


Nagita melirik ke arah cermin melihat keadaan Azka yang sudah telelap,


terkadang Nagita merasa sangat kasihan jika Azka terus berusaha untuk


meluangkan waktu untuk Rey. Tetapi mau bagaimana lagi, karena suaminya itu


keras kepala dan selalu melakukan apa yang dia inginkan. Tanpa mempedulikan apa


yang orang lain katakan, bahkan apa yang Nagita inginkan tidak pernah dituruti


jika memintanya untuk istirahat.


Saat rambutnya


benar-benar sudah kering, Nagita mengenakan pakaian begitu saja. Namun saat hendak


mengenakan bajunya, Azka tiba-tiba memeluknya dari belakang dan itu sontak


membuat Nagita terkejut dengan tingkah Azka yang tadi tidur terlelap.


“Kamu sengaja ganti


baju depan aku terus telanjang gitu?”


“Kamu kan tidur, jadi


aku pakainya di sini, Mas. Kamu juga kenapa bangun?”


“Sayang, aku nggak bisa


tidur saat lihat kamu lepas semuanya, mau ya?”


“Apaan?”


“Itu,”


“Itu apa?”


“Ya itu,” Azka berusaha


menjelaskan dengan memberikan kode dengan kedua tangannya yang masih melingkar


di perut Nagita.


Nagita langsung


berbalik dan menatap lekat ke mata Azka. Kedua tangannya sudah dikalungkan di


leher Azka. Nagita tak berucap sepatah kata pun saat Azka mulai menciumnya,


perlahan pria itu mendorongnya hingga duduk di tepian ranjang.


“Ini masih siang,”


“Ya nggak apa-apa. Daripada


kita selalu saja dihalangi oleh Rey, kan. Aku nggak mau nahan lagi Nagita, ayolah!”


Nagita tersipu malu,


pipinya merah merona saat Azka menciumnya. Perlahan tubuh Nagita dibaringkan di


atas ranjang dan Azka mengabsen setiap inci tubuhnya untuk dicium. Sudah lama


ia tidak merasakan cumbuan suaminya sendiri hingga ia merasa sangat canggung


dengan suasana itu. Bahkan beberapa kali saat Azka ingin melepas kaos yang


Nagita kenakan tadi, ia langsung bereaksi menahan tangan Azka dan menggeleng


seolah belum berani mempercayakan hal itu kepada Azka. Padahal mereka sudah


berstatus suami istri, tetapi itu selalu membuat Nagita belum yakin.


“Kenapa?” Azka terlihat


putus asa.


“Kamu harus janji satu


hal, kamu nggak bakalan ninggalin aku dan Rey, apalagi nanti jika memang aku


hamil. Aku takut kamu pergi dan aku ngelewatin semua ini sendiri lagi,”


“Jika aku tidak


mencintai kamu, untuk apa aku bertahan selama lima tahun dan terus


memperjuangkan pernikahan kita hingga detik ini, ini semua demi kamu dan juga


Rey,”


“Tapi aku takut,”


“Takut kenapa?”


“Tepatnya, aku bukan


takut. Tapi aku gugup, malu,”


“Sama, bahkan aku


canggung saat kita seperti ini. Karena seolah kita orang asing yang akan


melakukan hal itu, ini rasanya sangat canggung Nagita. Aku juga mengerti akan


hal itu, karena tidak pernah melakuannya lagi setelah kamu melahirkan, tapi aku


janji akan berusaha buat kamu nyaman. Nggak bakalan nyakitin apalagi buat hal


yang macam-macam sama kamu,”


Nagita mengangguk pelan


seolah itu adalah yang pertama kali baginya, namun rasa canggung itu tetap saja


belum hilang hingga Azka mencium lehernya dan Nagita berusaha menahan rasa


malunya saat Azka membuka kaos yang menempel ditubuhnya. Hingga saat Azka melepas


kain terakhir. Nagita menutup matanya dengan kedua tangannya.


“Kenapa tutup mata?”


“Malu,”


“Aku berhenti kalau


kamu memang nggak mau, Nagita. Aku nggak mau maksain kehendakku jika itu


membuat kamu nggak nyaman,”


Nagita mulai


memperliatkan wajahnya.


“Lakukan! Aku nggak mau


kamu tersiksa lagi,”


Hingga akhirnya Azka


benar-benar menepati janjinya menyentuhnya dengan kelembutan berbeda dari yang


dulu-dulu. Kini jauh lebih lembut lagi.


****


Melihat Nagita yang


terlelap disampingnya, Azka mencium kening Nagita. Setelah berpuasa begitu lama


kini ia mampu melampiaskan semuanya. “Tetaplah jadi ibu untuk anak-anakku,


bahkan jika nanti kita diberikan kesempatan lagi, aku ingin satu-satunya wanita


itu kamu yang mengandungnya.’


Azka beranjak dari


tempat tidurnya hendak membersihkan diri dari peluh yang bercucuran di


tubuhnya. Ia langsung ke kamar mandi dan ia terus saja tersenyum karena


kejadian itu. Kini ia tidak akan berpuasa lagi dalam jangka waktu lama. Nagita telah


memenuhi kewajibannya untuk melayani Azka.


Seusai mandi, ia


langsung berpakaian rapi. “Aku berangkat, terima kasih sayang.”


Azka mencium kening


Nagita dan langsung pergi begitu saja. Ia sangat bahagia siang itu saat


berhasil meyakinkan Nagita. Seseorang hanya butuh bukti, bukan hanya janji yang


terus saja terucap.


Azka tiba di salah satu


restoran untuk makan siang. Tadi ia ingin makan siang di rumah tetapi istri dan


anaknya tengah tertidur pulas. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk makan siang


di luar. Dengan usianya yang masih tiga puluh empat, kini Azka lebih pandai


untuk mencintai istrinya tidak bermain perempuan lagi. Terlebih karena Rey yang


selalu menyentilnya perihal waktu kebersamaan. Terkadang itu yang membuatnya


merasa sedih karena tidak bisa menemani pertumbuhan si kecil.


Ia masuk begitu saja ke


restoran tersebut dan menabrak seseorang.


“Maaf,” ucap perempuan


itu.


 “Deana?”


Perempuan itu menoleh


dan Azka terkejut dengan apa yang ia lihat. Sungguh itu perempuan yang pernah


meninggalkannya untuk kedua kalinya.  “Kamu


ke mana saja?”


“Maaf, Az. Aku ada


urusan,”


“Kenapa kamu menghilang


waktu itu? Aku hanya ingin tahu,”


“Karena setiap kali


kita bercinta, kamu selalu menyebut nama Nagita. Apa itu yang buat kamu puas


dengan jawabanku?”


Azka melepas cekalannya


terhadap Deana dan langsung mengangguk. Nagita benar bahwa tidak seharusnya ia


mengingat lagi kejadian dulu, ia akan berusaha melepaskan semuanya. Terlebih saat


itu memang Deana adalah rumah yang paling nyaman tempatnya untuk berpulang


selama Nagita meninggalkannya. Azka menatap perempuan itu pergi jauh


meninggalkannya.


Azka langsung masuk ke


restoran. “Aku akan berusaha ikhlaskan semuanya, demi kamu Nagita.”