RICH MAN

RICH MAN
ENDING



Azka baru saja pulang dari pusat perbelanjaan karena membeli keperluan untuk persalinan nanti. Istrinya ia titip kepada anaknya di rumah, karena Nagita sudah benar-benar terlihat seperti tidak baik-baik saja. Azka juga sudah bersiap diri jika Nagita nantinya melahirkan anak kembar mereka, dibantu oleh beberapa orang yang bekerja di rumahnya. Azka memasukkan barang-barang tersebut ke ruang tamu, siang itu ia melihat anaknya sedang bermain PS bersama dengan Leo yang entah kapan anak itu datang karena ketika Azka pergi, keponakannya belum ada.


"Om, Mama sudah pulang?"


"Udah, tapi dia langsung pulang sih. Kamu kapan datang? Lama-lama kayak tuyul, nyelonong melulu,"


"Ih Om, ini keponakan tertua om, ingat ya aku ini adiknya Abang loh,"


"Daripada ngoceh, mending sin bantuin Om!"


Reynand dan Leo berhenti untuk bermain PS dan membantunya untuk mengangkat barang belanjaan yang dibelinya tadi bersama dengan Naura. Kini, sifat Azka semakin membaik dengan adanya dua calon buah hati yang sedang dikandung oleh Nagita.


Azka menghempaskan dirinya ke sofa setelah selesai memindahkan barang-barang dari mobil ke ruang tamu. "Mama mana?"


"Mama istirahat, Pa,"


"Dia sudah makan?"


"Sudah,"


"Ya sudah, Papa ke kamar dulu ya. Kalian jangan ke mana-mana, Papa istirahat dulu, Leo nginap ya!"


"Enggak, nanti dicariin Papa,"


"Oh, oke,"


Azka berlalu meninggalkan kedua anak laki-laki yang melanjutkan permainannya yang sempat berhenti tadi. Azka yang benar-benar kelelahan karena harus mengikuti apa yang dikatakan oleh adiknya mengenai perlengkapan bayi. Azka tidak pernah memiliki persiapan sebelumnya, semua itu adalah perintah dari kedua orang tua dan juga adiknya, awalnya Azka sudah sepakat akan membeli barang itu bersama dengan Nagita, nanti. Tetapi mengingat keadaan istrinya yang seperti sekarang ini, tidak mungkin baginya untuk mengajak Nagita pergi.


Saat melahirkan Rey dulu, Azka bahkan tidak membelikan perlengkapan seperti sekarang ini.


Perlahan Azka masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya yang tengah terelelap dengan posisi miring dan perutnya disangga dengan bantal yang tipis, Azka merasa kasihan melihat keadaan istrinya yang sekarang, perlahan ia mendekati Nagita dan mencium kening istrinya. "Cepat lahir sayang, kasihan Mama," ucapnya pelan sambil mengelus perut istrinya. Azka sendiri sangat memanjakan Nagita setelah mengetahui bahwa istrinya hamil anak kembar. Hal itu tidak pernah diduga oleh Azka dan kini kejutan yang sangat luar biasa hadir ditengah-tengah keluarganya. Tidak pernah terbesit dibenak Azka bahwa ia akan memiliki anak kembar, tetapi Tuhan begitu baik padanya, dianugerahi seorang putra yang sangat cerdas, istri yang cantik sekaligus paling sabar menghadapinya.


"Sayang, sudah pulang?" Azka menyingkirkan rambut yang ada diwajah istrinya dan menyingkap ke belakang telinga istrinya.


"Istirahat sayang, Papa mandi dulu, ya,"


"Cium dulu!"


Azka menuruti permintaan istrinya, semenjak menikah lagi, mereka berdua memang melakukan suatu rutinitas yang tidak akan pernah bosan dilakukan oleh Azka, yaitu mencium istrinya dalam suasana apa pun. Dalam keadaan apa pun hatinya, ia akan tetap mengikuti apa yang dikatakan oleh istrinya, apalagi sekarang Reynand sudah tumbuh menjadi anak yang akan menginjak remaja. Itulah yang dikhawatirkan oleh Azka jika suatu waktu ia kembali lagi menjadi pria yang brengsek menyakiti anak dan istrinya seperti dulu. Sungguh jika waktu bisa diputar kembali, semua orang pasti senang hati melakukan kesalahan dan bisa mengembalikan itu semua, akan tetapi Tuhan memang adil, apa yang telah terjadi tidak akan pernah kembali lagi seperti dulu, itulah mengapa setiap manusia harus berpikir sesering mungkin dalam mengambil tindakan agar tidak ada air mata lagi yang jatuh dan tidak akan ada lagi luka yang menyayat di hati orang lain oleh suatu kesalahan yang kita lakukan.


"Tadi Rey bawain Mama makanan seperti yang dilakukan oleh Papa setiap harinya, Mama bahagia punya kalian berdua. Doakan agar persalinan nanti lancar, Pa,"


Azka menatap istrinya lekat, tiba-tiba air mata Nagita keluar begitu saja. Azka melihat itu langsung membungkukkan badannya hingga jarak keduanya begitu dekat, ia langsung mengusap keringat yang ada di dahi istrinya, "Mama kenapa nangis?"


"Mama bahagia Papa selalu ada di sisi Mama sampai sekarang,"


"Maafin sikap Papa yang dulu, Ma. Jangan lagi buat kesalahan seperti dulu, Mama juga jangan ungkit yang dulu-dulu ya! Papa enggak bakalan nyakitin istri dan anak Papa untuk kedua kalinya, harta yang paling berharga yang sekarang Papa miliki itu cuman kalian, tetap di sisi Papa ya!"


"Iya, Pa,"


Azka tersenyum dan mengusap air mata Nagita dengan punggung tangannya, di sana ia menemukan ketenangan ketika melihat ke arah mata istrinya dan mencium kening istrinya berkali-kali. Ia tahu bahwa ada ke khawatiran yang dirasakan oleh Nagita, yaitu mengenai hal persalinan yang Nagita takuti adalah melakukannya seorang diri, "Jangan nangis, sayang. Kita akan selalu bersama, Papa sangat mencintai Mama. Lihat sekarang hasil dari pertemuan cinta kita, ada tiga anak yang bakalan kita rawat bersama, hingga menua nanti, sayang,"


Nagita mengangguk, Azka mengelus puncak kepala istrinya dan menciumnya lagi. Tak ingin melihat air mata istrinya untuk kesekian kali seperti dulu, Nagita adalah harta yang paling berharga baginya, tidak ada lagi yang bisa menandingi perempuan itu. Apalagi mengenai Reynand, Azka sendiri sangat menyayangi putranya yang kini sudah berusia belasan tahun dan mengerti dengan keadaan mereka yang dahulu. Sudah cukup luka yang dirasakan oleh anak itu hingga membuat Azka merasa malu jika mengingat kejadian di mana ia dahulu menyakiti hati istri dan juga buah hatinya. Azka hanya ingin memperbaiki apa yang pernah rusak, walaupun tidak utuh, tetapi dia ingin seluruh hidupnya hanya untuk keluarganya yang sekarang.


"Sayang, Papa mandi bentar ya,"


"Jangan lama-lama!"


Azka beranjak ke kamar mandi meninggalkan istrinya sejenak di kamar.


Beberapa saat kemudian Azka keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar setelah membersihkan keringat yang menempel di tubuhnya. Ketika sedang mengeringkan rambut, Azka menemukan Nagita yang duduk di lantai sambil menggenggam erat sprei. Azka berlari mendekati istrinya di sana, "Mama kenapa?"


"Sakit, Pa," Azka mengenakan pakaian dengan asal dan langsung mengangkat tubuh istrinya.


"Cairan?" ucapnya pelan dan langsung membawa Nagita keluar.


"Rey suruh sopir bawa perlengkapan itu ke rumah sakit sekarang. Kamu jangan matikan ponsel, telepon Oma sama tante Naura.


Jangan lupa Om Dimas juga!" Azka yang melihat anaknya ikut panik karena melihat keadaan Nagita yang semakin melemah.


"Mama mau melahirkan, Pa?"


"Iya sepertinya begitu, Nak. Leo bantu Abang bawa barang itu ya! Om duluan ke rumah sakit," Leo mengangguk dan Azka langsung keluar dari rumahnya menuju garasi.


Setelah berhasil membawa Nagita hingga ke mobil, Azka semakin gugup dengan keadaan Nagita yang terus saja menahan rasa sakitnya, di sana ia juga ikut panik karena tidak tega dengan keadaan itu.


"Kita akan segera sampai rumah sakit, Mama,"


Harusnya tadi ia tidak perlu meninggalkan Nagita ke kamar mandi jika tahu keadaan istrinya seperti sekarang. Barangkali Nagita menangis tadi itu merupakan suatu kejadian di mana dia merasa kesakitan tetapi tidak bisa dikatakan kepada Azka. Sepanjang perjalanan Azka merutuki kebodohannya, hingga tiba di rumah sakit, Azka langsung menghampiri suster dan memberitahukan bahwa istrinya sedang ada di mobil dan dengan cairan yang sudah penuh membasahi daster yang dikenakan Nagita.


"Istrinya mau melahirkan, Pak."


Nagita hanya mengangguk, saat tubuh istrinya di bawa masuk, hal yang dilakukan oleh Azka adalah berdoa agar istrinya baik-baik saja. "Kuatlah, sayang!" Azka terus merapalkan doa, di depan ruangan Azka hanya diperbolehkan menunggu di luar, beberapa menit kemudian dokter pun keluar dengan mengatakan bahwa Nagita harus segera di operasi. Tidak perlu berpikir panjang lagi, Azka menyetujui hal itu demi keselamatan anak dan istrinya.


"Bapak mau ikut ke ruang operasi?"


Azka segera menggunakan pakaian untuk ikut menemani sang istri operasi. "Papa, maafin Mama selama ini, ya!"


"Mama enggak boleh ngomong gitu, Papa enggak pernah ngerasa Mama itu salah,"


Azka hanya pasrah saat jarum suntik mulai ditusukkan pada tubuh Nagita untuk pembiusan, kali ini Azka berjanji bahwa dia tidak akan lagi membuat istrinya menangis setelah melihat kejadian di mana ia menyaksikan sendiri betapa sakitnya tubuh Nagita.


Beberapa saat kemudian, bius yang disuntikkan tadi bereaksi dan operasi pun di mulai, Azka tak berhentinya merapalkan doa sambil mencium pipi Nagita. Bahkan ia sendiri sudah tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang lain mengenai dirinya yang menangis dan memeluk Nagita. Di pembatas yaitu bagian dada ada tirai yang menutupi kegiatan operasi, Azka juga tidak ingin melihat itu, yang ia khawatirkan adalah keadaan istrinya.


"Ya Allah, kuatkanlah istri hamba."


Azka mencium dan menangisi Nagita yang keadaannya melemah. Karena setelah konsultasi mengenai proses persalinan Nagita yang harus caesar, dan itu adalah yang terakhir kalinya. Azka tidak ingin lagi menyakiti Nagita dengan hal yang sama.


Azka terus berdoa dan membawa sholawat ditelinga istrinya hingga proses persalinan berjalan lancar. Bahkan ia mendengar tangis kedua anaknya. Azka pun di minta untuk keluar beberapa saat, di luar ia menemukan semuanya sudah berkumpul di ruang tunggu, "Gimana?"


"Lancar, Nagita hanya perlu istirahat,"


"Bayi kalian?"


"Keduanya sedang dibersihkan, Ma," Azka berjalan gontai ke kamar mandi. Sungguh ini adalah pertama kalinya ia menemani proses persalinan Nagita.


Beberapa saat menunggu di ruang tunggu bersama yang lainnya, dia sudah diperbolehkan untuk bertemu dengan anaknya, dan Nagita juga sudah dipindahkan menuju ruang perawatan.


Azka sangat kaku ketika suster menyerahkan satu anaknya kepada dirinya, Nagita yang sudah sadarkan diri membuat semuanya merasa sangat bahagia. Satu lagi digendong oleh Naura.


"Uh, Rey dia mirip kamu banget nih yang sama tante,"


Rey bergegas menuju ke arah Naura dan melihat adiknya yang membuka matanya perlahan melihat ke arah Reynand. "Ih, lucu banget tante, gantengnya pasti kayak aku kalau besar,"


"Apanya yang ganteng, mereka itu perempuan, Rey," jawab Azka, Reynand menggaruk tengkuknya karena mereka berdua memang merahasiakan jenis kelamin anak mereka walaupun sudah melakukan USG berkali-kali. Hal itu sengaja dilakukan karena Azka dan Nagita begitu khawatir jika hasilnya berbeda seperti kebanyakan orang, ketika diperiksa jenis kelaminnya lain, dan ketika keluar justru berbeda. Hal itu seringkali terjadi dan semua adalah kehendak Tuhan, tidak bisa dipastikan oleh manusia meskipun alat begitu canggih untuk memastikannya.


"Pa, terus kakak yang mana?"


"Kakak yang ini, yang Papa gendong, itu yang paling kecil,"


"Papa sih malah buat yang kembar, aku enggak bisa bedain kan," protes Rey.


"Papa kamu memang jago Rey, enggak diragukan lagi benihnya," celetuk Dimas yang membuat Azka melotot karena malu dengan celetukan Dimas itu. Azka bahagia dikaruniai seorang putra tunggal dan dua putri yang baru saja lahir ke dunia.


"Jadilah seperti Mama, yang di mana tidak sembarangan orang yang bisa mendapatkan hatinya," ucap Dimas mengelus kepala anak yang digendong oleh Azka. Dia tersenyum mendengar iparnya berkata demikian.


"Aku boleh gendong, Pa?"


"Biar yang ini aja, Rey. Kalau Papa masih kaku banget," ucap Naura yang langsung menyerahkan anak itu kepada Reynand.


Reynand yang gemas bahkan tak bisa berhenti mencium adiknya walau sudah dilarang oleh Oma dan juga Viona. Rey tak mengindahkan itu, dia tetap saja merasa sangat lucu dengan statusnya sebagai kakak dari dua perempuan kecil yang akan mewarnai hidupnya nanti.


Anak yang digendong oleh Azka pun di ambil oleh Viona, Azka duduk di brankar sambil menggenggam tangan Nagita kemudian mencium istrinya sudah tidak tahu berapa kali Azka mencium istrinya karena sangat bahagia, "Terima kasih kado terindahnya, sayang,"


Nagita hanya membalas dengan senyuman. Suasana haru begitu membahagiakan bagi mereka semua dengan kehadiran putri kecil mereka. Keluarganya nampak begitu antusias menyambut malaikat kecil itu, bahkan kedua orang tuanya bergiliran menggendong cucu kembar mereka.


"Aku mencintaimu, lagi, hingga seterusnya," ucapnya kepada Nagita. Bahkan Azka merasa sangat bahagia ketika melihat Reynand begitu bahagia menyambut adiknya.


"Aku sungguh mencintaimu."


Azka sudah tidak bisa lagi menggambarkan rasa bahagianya ketika melihat keluaranya yang sangat antusias melihat semuanya begitu memperebutkan kedua putri mereka. Clara juga tidak mau kalah, apalagi anak perempuan Dimas, anak itu juga tidak mau kalah.


"Lyla juga mau, Papa," protesnya pada Dimas. Setelah berebut dengan Clara, anak Dimas yang paling kecil pun tak mau kalah dengan yang lainnya. Azka tersenyum, "Nanti buat lagi ya!" bisiknya, namun Nagita menarik hidungnya hingga membuat Azka tersenyum ketika melihat istrinya juga ikut bahagia.


"Bercanda kok, enggak bakalan lagi Nagita. Mereka bertiga sudah cukup, lihat kamu yang tadi saja sudah cukup buat aku menderita. Nagita, lekas sembuh. Kita akan berkumpul dengan keluarga kita."


Perlahan Nagita memejamkan matanya. Azka tahu bahwa Nagita butuh istirahat walaupun istrinya baru sadarkan diri, tetapi melihat kejadian itu, Azka merasa kasihan terhadap istrinya.


'Begitu banyak manusia yang diberikan kesempatan untuk berbahagia, justru menyia-nyiakan sumber bahagianya lalu lebih mendengarkan apa yang diucapkan oleh orang lain. Menghancurkan hidup sendiri karena celoteh orang lain, tanpa berpikir bagaimana sebuah rasa itu harus bertindak ketika diterpa oleh suatu masalah. Bukan salahmu yang dahulu meninggalkanku dan memilih orang lain, terlebih itu adalah karena salahku yang tidak bisa meyakinkan diriku sendiri terhadap pilihan hatiku. Tetapi betapa bodohnya dia yang mengatakan bahwa dia paling tangguh mencintaimu, nyatanya paling hebat memberikan luka. Setelah berada dalam pelukku, takkan lagi kubiarkan orang lain menyentuhmu. Jika dahulu dia melepasmu karena tidak bisa menjadikanmu ratu dalam istananya, maka aku akan menjadikanmu sebagai ratu disinggasana terindahku. Bersama dengan pangeran, pun dengan para putri yang jelita. Jika engkau ingin dimiliki oleh orang yang hebat, maka jadilah wanita yang hebat dan tak sembarang pria yang bisa memilikinya. Usaha kita dalam menggapai kebahagiaan ini tidak pernah mudah. Begitu banyak rintangan dan air mata yang sering menyapa kita, tetapi semua itu telah kita lalui. Maka dari itu, tetaplah bersamaku, dalam keadaan apa pun. Jadilah rumah, yang di mana ketika aku pergi, kamu adalah rumah untukku kembali'


END


Persembahan cerita yang sudah berakhir setelah berbagai banyak part yang menguras emosi, mulai dari tokoh yang kasar, baik, lembut semua telah ada. Azka yang kasar, keras kepala. Begitulah hati, sekeras-kerasnya hati jika terus diberikan kelembutan, ia akan luluh juga. Bahkan saat orang yang paling keras itu jatuh cinta, maka dia akan menjadi sosok yang sangat penyayang.


Setiap manusia yang berdosa memiiki kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Tidak ada manusia yang betah dengan kesalahan di masa lalu, pasti suatu saat akan dihampiri oleh rasa penyesalan yang barangkali membuatnya sadar.


Sekian untuk cerita Season 1, akan dilanjutkan untuk season 2. Ditunggu ya, ngomong-ngomong sharing yuk apa saja yang kalian rasakan, petik hikmahnya dan apa saja pesan untuk author? Kasih saran ya, hehehe.


Novel ini jauh dari kata sempurna, mulai dari banyak typo, atau mungkin banyak yang berharap bahwa ini adalah full cerita dewasa. Tapi author tidak menyediakan cerita demikian. Justru hanya membuat cerita yang tidak jauh dari kehidupan nyata, mulai dari perempuan yang harusnya dihargai, anak yang lahir diluar nikah jangan pernah di judge. Seolah kita semua adalah manusia tanpa dosa. Novel ini banyak cacatnya. Perihal Teddy, pahami saat Nagita menghindar. Sengaja tidak dimunculkan. Atau barangkali nanti muncul di part Reynand.


Season dua, pastinya akan lebih seru lagi. Yang penting setia menunggu. Season dua bakalan tiba-tiba update nanti, hehehe. Untuk soal nama si kembar, nanti di season dua oke.


Selamat bertemu di cerita berikutnya.


Jangan lupa like dan komen dibawah ya.


Bagi yang berkenan ngasih koin juga boleh, diterima dengan senang hati, hehehe.


Akhir kata dari author. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.