
Beberapa hari
berikutnya, Azka tetap datang malam hari ketika Nagita tertidur. Itu
adalah perintah dari Dimas sendiri. Salahnya sendiri yang melukai
perasaan istrinya. Ia tidak pernah terpaksa untuk datang. Sesibuk apa
pun ia, meski bersama dengan Deana sekalipun, maka ia memilih untuk
menemui Nagita di rumahnya.
Malam-malam berlalu
seperti biasanya. Nagita masih sangat trauma dengan kejadian itu, Azka
sendiri khawatir dengan keadaan janin yang ada dalam perut Nagita.
Tiba di sana, ia sudah
disambut oleh Dimas. Laki-laki yang menjadi kakak iparnya bahkan usianya
lebih muda dari dirinya, tetapi pandai mengambil posisi menjadi jalan
tengah menyelesaikan urusan rumah tangganya bersama dengan Nagita.
Azka akan mengutuk
dirinya sendiri jika hal itu terjadi lagi, cukup diberikan rasa
penyesalan oleh Tuhan sudah membuatnya tersadar.
"Dia sudah tidur?"
"Belum. Tunggu dibelakang pintu, jangan masuk dulu. Setidaknya dia sudah membaik, jauh dari biasanya,"
"Dim, apa Nagita nggak bisa diobati?"
"Bisa, yaitu dengan
bapak selalu ada di sampingnya. Menghapus traumanya, jangan sampai
kejadian itu terulang lagi, saya akan ngomong dan berusaha untuk
menenangkan dia,"
Ada rasa khawatir
menyeruak dalam diri Azka. Meski sudah dalam masalah seperti ini, ia
belum mampu menceritakan kejadian ini kepada kedua orang tua dan juga
adiknya. Sebab ia masih belum siap menerima reaksi keluarganya dengan
kejadian bodoh itu. Terlebih sekarang keadaan istrinya memburuk akibat
perbuatannya.
Dimas masuk perlahan ke
dalam kamar. Sementara itu Azka tetap berdiri di depan pintu sambl
mendengarkan percakapan mereka berdua. Selama ini Azka selalu tidur di
samping istrinya dan pulang sebelum Nagita terbangun.
"Dek, gimana keadaan kamu?"
"Baik kak. Kakak tumben nanya gitu?"
"Nggak apa-apa, cuman penasaran aja. Masih marah sama suami kamu?"
Hening, Azka bersandar di tembok dan menundukkan kepalanya sambil memainkan kakinya di lantai.
"Gita nggak pernah benci. Nggak pernah marah, tapi Gita takut sama dia,"
"Takut? Takut dia ngelakuin hal itu lagi?"
"Iya, Gita nggak mau dia berlaku kasar lagi. Sudah cukup kak, Gita mau cerai,"
"Orang hamil mana boleh
cerai. Dek, jangan berpikir seperti itu saat kamu lagi emosi. Kakak
nggak maksa kamu buat maafin dia, memang sewajarnya dia harus kamu
benci. Tapi apa kamu akan tetap seperti ini? Kakak khawatir kamu
kenapa-kenapa,"
"Kak, salah kan Gita pernah sayang sama dia?"
Azka yang mendengar itu
langsung membenturkan kepalanya berkali-kali ke tembok. "Selama ini lo
ke mana brengsek?" gerutunya pada dirinya sendiri dan terus mendengar
percakapan dua saudara itu.
"Sekarang masih sayang?"
"Nggak lagi."
"Kalau gitu, kalau dia minta maaf sama kamu gimana?"
"Minta maaf? Dia nggak akan lakuin itu kak,"
"Siapa bilang?"
"Gita nggak mau." Suara itu meninggi.
"Kenapa nggak mau? Kakak nggak paksa kamu, tapi alasan adek nggak mau lagi sama dia apa?"
"Takut,"
"Kalau takut, nggak mungkin setiap malam kamu tidur peluk dia,"
Azka merasa begitu terkejut dengan pernyataan Dimas yang tak menyaring ucapannya dan langsung pada inti pembicaraan.
"Maksud kakak?"
"Dia yang selalu menemani kamu, meluk kamu kalau kamu lagi ketakutan. Dia nggak pernah tidur semalaman cuman untuk jagain kamu."
"Bohong. Gita peluk kakak,"
"Nggak, kamu peluk dia. Apa dia pernah ngomong sama kamu seperti kakak?"
"Enggak,"
"Jadi, itu memang dia. Dia selalu datang buat nemenin kamu. Nenangin kamu, jangan salah sangka, dia peduli sama kamu,"
"Kalau dia peduli, kenapa kasar?"
"Terbawa emosi, dek. Jangan pernah benci, nanti malah kebalik perasaan kamu ke dia. Waktu dia nggak peduli, kamu malah butuh,"
"Kak, Gita boleh ketemu dia?"
"Yakin?"
"Yakin, kak,"
"Janji jangan teriak lagi?"
"Kakak tetap di sini, temani. Gita takut kalau sewaktu-waktu Gita kumat lagi,"
"Tunggu di sini, balik badan dan tutup mata kamu! Jangan berbalik sebelum kakak meluk kamu,"
Napas Azka mulai
tersenggal setelah mendengar ucapan istri mungilnya itu, tidak mungkin
baginya untuk membuat Nagita takut lagi.
Dimas keluar mempersilakan dirinya masuk. Di sana ia memandangi punggung kecil istrinya yang menuruti apa kata Dimas tadi.
Azka terdiam sejenak dan
setelah Dimas memeluk erat Nagita, seolah isyarat bahwa Azka harus
berada di depan Nagita saat itu juga.
"Buka mata, dek!"
Azka berjongkok di depan
Nagita sambil memegang kedua tangan istrinya. Di sana sudah ada Dimas
yang memeluk erat tubuh Nagita. Azka menatap mata Nagita nanar, pikiran
kosong itu pasti menguasai Nagita hingga terjadi lagi, bahwa Nagita
mendorongnya. Tapi ia tidak menyerah.
"Lawan, dek! Lihat, dia suami kamu."
"Gita nggak bisa, kak." Ia melihat Nagita menutup matanya rapat.
Ia menciumi kedua tangan Nagita dan menunduk di paha perempuan itu. Lagi-lagi Nagita sontak mengamuk.
"Dek, jangan ngamuk. Ingat kandungan kamu,"
"Maafin saya, Nagita. Saya menyesal,"
"Pergi, aku nggak mau!"
Merasakan tubuh Nagita
yang kembali bergetar, tapi tak sehebat pertama kali itu, Azka memilih
untuk mengalah dan keluar dari kamar itu. Ia tak tahan melihat air mata
Nagita terus menetes karenanya.
Di ruang tamu, ia merasa gagal. Rencana baik Dimas juga gagal total.
Ia ketiduran di ruang tamu karena beberapa hari tidak tertidur dengan pulas. Sebab harus menjaga Nagita sepanjang malam.
"Bangun, Azka!" merasa
tubuhnya diguncang paksa oleh seseorang. Azka membuka matanya dan
menemukan Dimas yang berdiri di depannya. Dan juga Nagita yang melilit
dasternya dengan jemarinya.
"Saya pamit pulang,"
"Tetap di sini. Tidurlah di kamar Nagita!"
"Nggak, Dim. Saya lebih baik pulang."
"Bapak mau Nagita sembuh kan? Temani dia!"
Azka langsung menatap ke arah istrinya yang tengah menggigit bibir bawahnya. Matanya yang sembab.
"Gita?"
Perempuan itu memejamkan matanya dan menggeleng, namun kemudian mengangguk. Azka mengambil piihan kedua.
Ia beranjak dari sofa tempatnya tertidur tadi dan langsung masuk ke kamar Nagita.
"Jaga nafsu lo brengsek.
Jangan terulang lagi. Gue nggak bakalan segan-segan bunuh lo." Baru
saja beberapa langkah kakinya masuk, bisikan Dimas mampu menyadarkan
kegilaan Azka. Ia pun langsung mendorong tubuh Dimas dan mengunci pintu.
Agar Nagita tidak kabur lagi.
Mereka berdua berbaring
di tempat tidur. Azka yang tadinya sempat ragu dan canggung. Akhirnya
mau tidak mau harus membuka suara.
"Gita?"
"I-i-iya pak?"
"Berhentilah memanggil saya dengan sebutan itu, lihat saya sebagai suami kamu,"
"Maksudnya?"
"Kita ini suami istri kan?"
"Iya."
"Panggil saya dengan nama, atau apalah. Jangan panggil bapak lagi,"
Tak ada jawaban. Bahkan
lampu kamar tak dimatikan seperti biasanya. Kali ini mereka bisa saja
beradu tatap. Tetapi mereka tidur telentang. Sesekali Azka menatap
tangan Nagita di sampingnya.
"Dulu, saya tidak pernah
berkeinginan untuk menikah. Tidak memikirkan memiliki anak. Tapi
setelah saya menikahimu, saya berpikir sekarang. Bagaimana serunya
menjadi orang tua, apalagi waktu kita USG bayi yang kamu kandung
laki-laki,"
"Izinkan saya membesarkannya sendirian. Saya nggak akan ganggu hidup kamu, Azka,"
"Kita merawatnya bersama,"
"Nggak. Kamu akan menikah, saya tidak mau anak saya dirawat perempuan lain, saya janji tidak akan menyusahkan."
"Jangan pikirkan hal itu, saya akan tetap di sini. Sama kamu, sama anak kita, keluarga kita,"
"Apa jaminan saya untuk percaya?"
"Saya akan dibunuh oleh Dimas jika menyakiti kamu lagi,"
"Hahaha, yang benar saja? Kak Dimas itu nggak bisa marah."
Azka langsung memiringkan tubuhnya seketika mendengar tawa Nagita. "Kamu tertawa?"
Hening. Ia menatap wajah istrinya kali ini.
"Nggak." Nagita berbalik membelakangi dirinya.
"Gita, hadap sini. Saya nggak mau kamu takut lagi sama saya,"
Tak ada respon. Azka menyerah, ia tak mungkin memaksa. Setidaknya istrinya sudah mampu ditenangkan walau sesaat.
Azka menutup matanya
pelan berusaha untuk terlelap, tapi ketika itu ranjangnya bergerak.
Harap cemas Nagita akan kabur, ia membuka matanya. Dan menemukan Nagita
menghadapnya.
Mereka berdua saling
bertatap mata. Azka tak menyentuh Nagita sedikit pun, namun matanya yang
menatap tepat dibola matanya seolah tak sedang menatap dirinya.
"Gita, lihat saya!"
Nagita memejamkan matanya dan air matanya keluar. meski sempat ragu, Azka mengusap air mata istrinya dengan lembut.
"Kamu masih takut?"
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukkan oleh Nagita.
"Maafkan saya,"
Nagita menggeleng.
"Kita harus pisah,"
Azka terkejut dengan ucapan Nagita. "Kenapa?"
"Saya capek,"
"Saya tahu. Tapi nggak bakalan ada yang pisah,"
"Untuk apa bertahan kalau hanya mementingkan anak kamu? apa pernah kamu ada rasa sama saya?"
"Saya akan belajar mencintai kamu."
Tanpa ragu. Azka menarik
isakan tangis dari istrinya. Ia merasakan perut Nagita menempel di
perutnya, di sana ada bayi yang harus lahir ke dunia dengan keadaan
baik-baik saja.
*******
Keesokan harinya,
setelah mampu sedikit meluluhkan Nagita. Azka segera meninggalkan tempat
itu dan langsung menuju ke apartemen Deana.
Tanpa basa basi, ia
langsung masuk ke apartemen kekasihnya. Bukan hal yang baru menemukan
Deana dalam keadaan telanjang di pagi hari. Ia pun langsung membangunkan
perempuan itu dan menutup tubuh Deana dengan selimut.
"Kamu kenapa pagi-pagi sekali?" kedua tangan Deana menggantung di lehernya.
"Dee, saya harus pergi,"
"Ke mana?"
"Jangan hubungi saya, selama dua bulan saya akan ke Jerman."
"Azka, apa kamu akan sesibuk itu hingga tidak mau mengabariku?"
"Aku banyak urusan. Kamu jangan pernah ke kantor, ingat itu! Kamu tidak akan menemukanku di sana,"
"Azka, kamu nggak sayang lagi?"
"Cukup! Aku buru-buru."
Azka langsung pergi dari
kamar Deana menuju parkiran dan langsung membela jalan kota Jakarta. Ia
pun langsung kembali lagi ke rumah Nagita untuk melihat keadaan
istrinya.
"Sudah ke mana? Kok buru-buru banget?"
"Dim, saya izin bawa Nagita pergi. Boleh?"
"Ke mana?"
"Saya cukup meluangkan waktu berdua dengan dia kan?'
"Pak, ini terlalu
berisiko. Belum waktunya, tunggu dia benar-benar pulih, saya akan
izinkan. Kalau untuk sekarang, maaf saya nggak bakalan mengizinkan."
Dimas benar, tak seharusnya ia melakukan hal itu. "Kalau begitu, minta Damar pegang kendali selama saya nggak ke kantor,"
"Kenapa nggak ke kantor?"
"Saya akan menemani istri saya di rumah."
Jawaban itu mampu
menyinggungkan senyum di bibir Dimas. Azka pun menyadari hal itu, ia
langsung masuk ke kamar Nagita sambil membangunkannya pelan. semalam
adalah waktu terberat baginya, harus menerima kenyataan beberapa kali
Nagita terisak dan menggigitnya.
"Hey, bangun!"
Perlahan istrinya mulai membuka mata.
"Ada apa?"
"Mau jalan-jalan?"
"Ke mana?"
"Beli perlengkapan bayi, mau?"
Nagita tersenyum dan mengangguk. "Tapi singkirkan dulu tanganmu dari perut saya!"
"Maaf."
"Saya nggak jamin bakalan buat bapak nyaman selama kita pergi. Saya nggak mau ada kontak fisik antara kita."
Azka menarik napas. "Oke
baiklah." Ia harus ekstra sabar menghadapi sikap Nagita yang terbilang
labil. Ia menyanggupi hal itu agar sedikit lebih dekat. Mau tidak mau,
dia harus mengobati trauma Nagita jika tak ingin membuat perempuan itu
menangis lagi. Tentang Deana, ia memiliki alasan ke Jerman untuk
beberapa bulan ke depan. Namun yang terjadi adalah ia akan menemani
Nagita sepanjang harinya hingga istrinya melahirkan.
Tentang rencana awal
menikah Deana, ia tak yakin akan hal itu. Kini waktu berharganya adalah
membuat bayinya baik-baik saja dan juga Nagita harus baik-baik saja.
Beberapa menit berlalu, mereka berdua keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi.
"Mau ke mana?" Dimas yang hendak berangkat bekerja dikagetkan dengan Nagita yang sudah berpakaian rapi.
"Katanya mau beli perlengkapan bayi, kak,"
"Jangan lupa makan, ya!"
"Ya kak, tenang aja. Aku berangkat, ya."
Nagita yang lebih dulu
keluar, Azka ditarik oleh Dimas saat itu juga. "Rayuan lo brengsek juga,
jangan lakuin hal yang nggak dia suka. Ingat itu! Satu lagi, ajakin dia
makan."
Tiba di pusat
perbelanjaan. Benar saja bahwa Azka membawa istrinya untuk membeli
perlengkapan bayi. Setidaknya itu manjur untuk sedikit menghibur Nagita.
Memperbaiki kesalahannya yang membuat masa depan seseorang hancur,
sorot mata menatapnya begitu tajam. Bagaimana tidak, Azka adalah
pengusaha terkenal yang usianya masih muda dan mendapat harta yang
berlimpah dari hasil kerja kerasnya. Pria yang dahulu dijuluki pria gila
bekerja. Tiba-tiba saja membawa perempuan hamil ke pusat perbelanjaan
ternama.
"Selama pagi, Pak Azka,
ada yang bisa kami bantu?" siapa yang tak mengenalnya. Bahkan namanya
sudah sangat terkenal karena bisnisnya yang berkembang pesat.
Foto-fotonya sering terpampang jelas di media sosial sebagai pemuda
dengan ambisi yang kuat untuk berbisnis. Namun tentang menikah. Tak ada
yang tahu bahwa ia sudah menikah, bahkan tanpa ragu ia menyebut Nagita
sebagai istrinya.
"Saya mencari perelengkapan bayi untuk anak dan istri saya. Tolong temani dia!"
Ia melihat-lihat
beberapa pakaian yang sangat lucu, bahkan Azka tak kalah antusiasnya
memilihkan Nagita perlengkapan bayi. Meski akan lahir beberapa bulan
lagi. Ia menyiapkan itu semua agar tidak terburu-buru nantinya.
Dua jam berlalu. Azka mulai bosan. Tetapi tak menampakkan wajah bosannya saat itu juga.
"Gita, ayo kita makan!"
"Nggak mau,"
"Kita makan dulu. Setelah itu kita lanjut, oke!"
"Kita pulang,"
"Lho kok pulang? Sudah selesai?"
Nagita mengangguk, dan Azka begitu terkejut dengan belanja yang dibeli oleh Nagita dan juga ia yang memilihnya begitu banyak.
"Ini alamat saya, antarkan saja ke apartemen saya!"
"Pak, aku mau boneka itu?" Nagita menunjuk salah satu boneka pikachu yang sangat lucu.
"Oke, kita beli."
"Yang besar,"
"Gita, itu badut. Apa kamu nggak bisa bedain?"
"Maunya yang itu?"
"Pak istrinya ngidam. Nanti anaknya ileran lho kalau nggak diturutin,"
Azka mendekat ke salah
satu toko boneka dan benar bahwa ia membeli badut pikachu tersebut
walaupun tidak dijual. Tetapi ia akan membayar berapa pun asal anaknya
tidak ileran seperti yang dikatakan oleh karyawan toko perlengkapan bayi
tadi.
Ia pun lagi-lagi hanya
memberikan alamat lengkapnya. Namun kali ini tidak dengan badut
tersebut, ia memberikan alamat tempat tinggal Nagita.
"Ayo pulang!"
Nagita mengekor, mereka
berdua pun akhirnya pulang. Namun saat diperjalanan beberapa deretan
penjual makanan berjejer dipinggir jalan.
"Pak berhenti, mau itu!" Nagita menunjuk salah satu pedagang cilok tersebut.
"Itu nggak sehat, nanti kamu sakit perut,"
"Lapar,"
"Kita cari restoran,"
"Saya turun, beli sendiri kalau begitu."
Azka berhenti dan mengikuti Nagita yang turun untuk membeli cilok.
"Pak, ciloknya dua puluh ribu!"
"Silakan ditunggu non,"
Beberapa saat kemudian,
cilok itu pun disuguhkan kepada Nagita. Ia menatap istrinya heran karena
menyantap makanan itu dengan sangat lahap. Bisa saja ia membelikan
semuanya untuk Nagita, tetapi bagaimanapun juga Nagita harus makan nasi,
dan makanan yang lain agar gizinya seimbang.
"Pegangin!" Azka menerima piring yang berisi cilok tersebut lalu melihat Nagita beranjak dari tempat duduknya tadi.
Kali ini es cendol.
Azka tak pernah sekalipun makan-makanan yang seperti itu karena tidak menyukainya jika bukan buatan sang mama.
Istrinya kembali lagi
dengan membawa es cendol di tangan kirinya dan rujak yang ada ditangan
kanannya. Azka bergidik ngeri melihat makanan yang dibawa Nagita.
Perempuan itu meletakkan makanan tersebut di bangku dekat tempat duduknya dan mengambil piring yang ada ditangan Azka..
Ia menelan ludahnya
seketika melihat Nagita menghabiskan satu piring cilok, ditambah lagi
kini menyantap rujak mangga membuat Azka menggelengkan kepalanya.
"Gita, udah dong. Nanti kamu sakit perut!"
"Kalau gitu, bapak yang makan!"
Senjata makan tuan,
tidak seharusnya ia meminta Nagita berhenti memakan makanan kesukaannya.
Kali ini ia harus menghabiskan rujak yang sangat banyak. Karena tidak
ingin mengecewakan, ia harus memakan itu meski terpaksa. Suapan pertama, ekspresi Azka berubah seketika, karena rujak mangga yang dimakannya itu sangat kecut. Tetapi tadi tidak menemukan ekspresi Nagita yang seperti dirasakan olehnya. Keringat dingin saat akan menyantap rujak yang terakhir disuapi oleh Nagita.Pedas, ditambah lagi dengan kecut. Hal itu membuat Azka sedikit merasa kurang baik.
"Kita pulang!"
Nagita berlalu untuk membayar makanan yang dipesannya tadi. Azka hanya bisa terdiam apa pun. "Sabar, Azka. Istri lo lagi hamil, jangan buatkacau semuanya!" gumamnya pada dirinya sendiri.
Mereka berdua akhirnya tiba di rumah. Azka merasa ada yang melilit di perutnya. Ia pun akhirnya langsung berlari ke toilet. Hingga sore tiba, lemas harus bolak-balik ke toilet karena sakit perut. Ia belum sempat sarapan. Sudah disuguhkan dengan rujak mangga yang benar-benar pedas.
"Aku pulang."
Suara Dimas , bahkan sedari tadi semenjak badut pikachunya datang, Nagita lebih banyak di luar. Namun ketika Dimas pulang, perempuan itu ikut masuk. yang melihat itu langsung terduduk di lantai karena menahan sakit perutnya.
"Bapak kenapa?" Nagita seolah tak merasa bersalah dengan ekspresi itu.
"Gara-gara kamu!"
"Kenapa adik saya yang salah?"
"Gara-gara dia nyuruh saya makan rujak, saya jadi sakit perut."
"Benar begitu, dek?"
"Dia ngelarang aku buat makan itu kak, jadi aku nyuruh dia yang makan. Daripada dibuang kan sayang banget,"
Tepat, jawaban itu sangat tepat sasaran bagi Azka. Nagita memang tidak memaksanya, tujuan Nagita memintanya untuk memakan itu karena agar tidak dibuang. Bukan semata karena anaknya.
Azka langsung masuk ke kamar.
Tak lama kemudian, Nagita datang. "Minum obat dulu!"
Ia menatap Nagita, "Kamu nggak takut sama saya?"
Nagita menggeleng, "Saya hanya takut saat kita kontak fisik, itu saja."
"Kalau begitu, taruh obatnya di sana. Mulai sekarang kita nggak akan ngelakuin itu lagi,entah itu pegangan tangan, atau lebih dari itu."
Istrinya mengangguk pelan. Azka meminum obat yang diberikan oleh istrinya dan merasa
perutnya sedikit membaik. Sedari pagi ia belum makan, justru sarapan hanya dengan rujak.
"Kamu sedari tadi belum makan. Nanti malam kita pergi makan, ya!"
"Iya, pak."
"Sini, tidur di dekat saya!"
Nagita menuruti kemauannya dan berbaring begitu saja. Ia menatap istrinya meringkuk,
perutnya yang membuncit, Azka ingin sekali mengelusnya. Tetapi ia mengingat ucapan Nagita bahwa istrinya sangat takut ketika mereka bersentuhan. Tidak ingin mengambil risiko, akhirnya ia menurutinya. Dan mau tidak mau, akan tidur tanpa memeluk Nagita lagi.