
"Ma, sebelum kita makan bisa buatin bekal buat, Fendi? Aku rencananya mau ke bengkel tempat dia kerja malam ini,"
"Mau keluar lagi?"
"Jam 9 aku pulang, Ma,"
"Ya sudah, ngambilnya nanti dulu. Mama buatin bekal buat dia, biar enggak dapat sisa, enggak baik. Pisahin dulu buat dia,"
"Pakai mobil, Rey. Enggak baik kena angin melulu!" perintah papanya. Rey mengangguk dan menerima kunci mobil dari papanya.
Mamanya pun datang dari arah dapur dan menenteng kotak nasi, bekal yang akan dibawakan untuk Fendi nantinya. "Ajak makan bareng di rumah, Rey. Teman kamu itu jarang banget sekarang main?"
"Dia kan kerja, Ma. Makanya aku mau ke sana, bantuin. Dia jarang banget istirahat,"
"Sekarang kamu udah bisa bedain, kan? Kamu harus tetap bersyukur dengan keadaan orang tua, jangan pernah lihat teman itu dari statusnya, jadilah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi kalau memang Fendi itu bidangnya sama bengkel, ya udah nanti Papa buka bengkel, kalian nongkrong deh di situ. Biar enggak bergantung lagi sama orang lain, Papa buatin bengkel atas nama kamu, kamu suruh dia kerja. Cuman pesan Papa jangan pernah anggap dia karyawan kamu, anggap dia sama seperti Leo. Hanya karena dia bukan dari keluarga yang kurang beruntung, jangan diperlakukan seenaknya dan nyuruh dia ini itu,"
"Seriusan, Papa bakalan buka bengkel?"
"Serius, tapi kalau itu memang cara kamu mau berbagi. Dan kalau memang mau, Papa bakalan buatin kok. Bukan hanya untuk Fendi, tapi buat Fendi yang lain di luaran sana yang mungkin nasibnya sama. Kamu pimpin langsung, belajar bisnis, tanpa sepengetahuan dia kamu juga harus persiapkan yang lainnya, contohnya dia mau kuliah nanti, boleh juga. Papa bakalan biayai, yang penting dia rajin di sana, memang selama ini Papa awasi dia kok, dia enggak pernah buat ulah. Jadi daripada kamu itu keluyuran, mending buat sama dia, kerjasama. Bagi hasil, walaupun modalnya dari kamu,"
"Beneran ya, Pa?"
"Iya, apa sih yang enggak buat anak Papa yang satu ini, hmmm?" ucap papanya sambil mengacak rambut Reynand.
"Makasi ya, Pa,"
"Terima kasih Papa buat kamu yang masih mau patuh sama orang tua,"
Rey tersenyum, alasan dia patuh bukan hanya untuk memperlihatkan bahwa dirinya adalah orang baik. Tetapi dirinya ingin melindungi adiknya jika kelak keduanya tumbuh dewasa dan menjaga dengan baik. Karma itu selalu berdampingan dengan perbuatan buruk yang dilakukan oleh manusia. Hanya saja tidak pernah menyadarinya, contoh yang dia ambil adalah dari kisah Syakila yang meninggal.
"Rey, tadi Mama beli susu, tapi cuman ada dua. Kasih ke dia ya?"
"Kasih aja, Ma. Bawain makanan apa aja,"
"Rey sering beliin dia makanan, kan?" Rey yang tadinya fokus pada pembicaraan mamanya kini menoleh ke arah papanya.
"Nanti ajak aja ke rumah, Mama bakalan masakin untuk dia, lagian dia sudah seperti kamu kok, bukannya kalian temanan udah lama? Tapi kamu baru kenalin ke kita beberapa bulan yang lalu?"
"Ya kan malu, Ma. Aku pikir kalian bakalan batasi aku bergaul sama orang, aku juga diam-diam kok bergaul sama dia, Mama sering lihat aku keluar malam itu juga ketemu dia,"
"Papa enggak pernah begitu, Rey. Mama apalagi, kalau mah iya, tapi Papa ketemu sama orang yang tepat, sampai akhirnya Papa itu sadar kalau yang paling berharga itu bukan harta, tapi keluarga dan kasih sayang. Mungkin yang lainnya bisa dibeli dengan uang, tapi ketulusan itu enggak, Rey,"
"Memang harus begitu, Papa. Tapi bersyukur sih kalau Papa ketemu sama, Mama. Papa jadi enggak sombong lagi. Ohya Pa, Fendi itu yang nyekolahin adiknya loh, Pa,"
"Oh ya? Sehari dia dapat 30 ribu dari bengkel, dia kan kerja setiap pulang sekolah. Kalau minggu dia dapat 50, dia mau berhenti sekolah dan fokus biayai adiknya, Pa,"
"Ya sudah besok pulang sekolah, kita cari lokasi buat buka bengkel ya, enggak harus berhenti sekolah juga, kan kasihan,"
"Dia sebenarnya pintar, Pa. Tapi karena enggak ada waktu buat belajar jadi gitu, Papa dia sakit, mamanya cuman tukang jahit biasa, dia yang tertua, mau enggak mau dia juga bantuin ekonomi keluarga, pernah dia itu enggak masuk sekolah, aku cariin, dan ketemu di bengkel itu, dia mau berhenti sekolah, aku bayarin SPP dia pakai uang yang Papa kasih, maaf,"
Reynand menunduk karena beberapa kali diberikan uang oleh orang tuanya dan justru selalu habis, "Apa yang kamu lakukan itu benar, berbagi sama orang yang enggak mampu. Jangan tunggu kaya dulu baru berbagi, Papa enggak pernah nyalahin, Papa dia sakit apa?"
"Enggak tahu, dia cuman bilang kalau Papanya sakit, selebihnya dia enggak pernah cerita masalah pribadi, jadi karena privasi, aku enggak nanya lagi,"
"Ya sudah, kalau ada apa-apa bantuin aja. Besok pulang sekolah ganti seragam terus ke kantor, Papa!"
Reynand mengangguk dan menyantap makanan yang sudah disediakan oleh mamanya. Suasana di ruangan itu pun selalu tenang, walau terkadang Reynand mendengar pertengkaran antara kedua orang tuanya suatu waktu. Namun ia tahu bahwa itu adalah urusan yang harus diselesaikan oleh keduanya tanpa harus ikut campur.
Perjalanan untuk memperbaiki rumah tangga itu disaksikan langsung oleh Reynand, perjalanan dari manis, luka bahkan kehilangan. Rey sudah pernah merasakannya. Antara bahagia dan juga dimanjakan, Reynand juga pernah merasakan itu. Mendengar gelak tawa adiknya di sana, mereka jangan sampai mendapatkan kebohongan seperti yang dirinya alami seperti dulu.
Reynand tersenyum dan sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, bukan menjadi anak yang dahulu harus memikirkan bagaimana kehidupan selanjutnya tanpa seorang papa yang di sisinya setiap saat.
Terkadang rasa iri itu ia rasakan saat adiknya mendapatkan perlakuan khusus di usianya yang kecil. Sedangkan dia dahulu sudah pisah dengan Papanya dan harus tinggal bersama dengan Om dan juga mamanya.
'Orang selalu bilang bahwa semua itu bisa dibeli dengan uang. Maka aku adalah orang yang pertama akan menyangkal hal itu, jika bahagia itu bisa dibeli. Tentu aku akan kehabisan karena telah dibeli oleh orang-orang yang memiliki uang banyak. Dan orang-orang yang dari kalangan tidak mampu akan kesulitan mendapatkan kebahagiaan. Sayangnya, Tuhan itu begitu adil. Memberikan bahagia bagi siapa saja yang bersyukur dan mencari bahagia itu dengan cara yang baik. Bagi mereka yang mencarinya dengan cara tidak baik, maka keadilan tentang perih itu juga pasti akan menyapa bukan?' gumamnya. Lagi-lagi ia tersenyum dengan tingkah kedua adiknya yang melengkapi kebahagiaan yang sekarang.
***Jangan lupa like ya 😁