RICH MAN

RICH MAN
APA PUN YANG TERJADI



“Gimana, Rey angkat telepon kamu?” tanya mamanya yang di sana sedang menemaninya malam itu. Marwa khawatir perihal Rey yang tidak dia temui ketika pulang tadi. Dalam pikirannya adalah suaminya sedang ketiduran karena setelah tujuh kali panggilan keluar, nomor suaminya tidak bisa dihubungi lagi. Untuk menghilangkan kekhawatiran itu. Marwa duduk disamping mamanya dan memberikan obat sebelum tidur.


Marwa merawat mamanya begitu baik sesuai dengan perintah suaminya. “Marwa, Mama tanya kenapa kamu diam aja?”


Perempuan itu tersenyum, “Mas Rey biasanya tidur jam segini, Ma. Tadi waktu aku telepon juga aktif sih. Tapi waktu aku telepon lagi nomornya nggak aktif lagi,” walaupun sebenarnya perasaan Marwa malam itu benar-benar kalut. Tetapi karena di hadapan mamanya, dia berusaha untuk menyembunyikan itu semua.


Rey tidak menghubunginya balik, dia menunggu waktu di mana dia ditelepon balik. Tetapi karena dia sudah mengatakan kepada mamanya bahwa Rey sedang tidur. Dia juga berusaha meyakinkan diri bahwa suaminya itu memang sudah tidur. “Mending kamu balik ke kamar deh! Mama nggak apa-apa sendirian,”


“Tapi Papa belum pulang, Ma,”


Mamanya kemudian duduk bersandar kemudian memegang tangan Marwa. “Sayang, nggak ada masalah sama Rey, kan?”


Marwa tahu bahwa banyak hal yang harus dia sembunyikan agar tidak terjadi kebencian dihati orang tuanya mengenai suaminya. Seburuk apa pun, rumah tangga itu harus dijalani berdua. Meskipun pernah bertengkar hebat, akan tetapi Marwa berusaha melupakan itu semua dan mengembalikan keadaannya pada sediakala.


Lebih dari lima belas menit, Marwa menceritakan tentang rumah tangganya yang baik-baik saja bersama dengan Rey. Tetapi dia tidak pernah menceritakan satupun keburukan suaminya kepada mamanya.


“Cerita apa pun yang terjadi sama, Mama! Kalau ada masalah yang enggak bisa kamu selesaikan, ngomong! Barangkali Mama sama Papa bisa bantuin kalian berdua,”


Marwa ingat ketika beberapa hari lalu di mana Rey memutuskan kontraknya dengan salah satu perusahaan demi keutuhan keluarga. Di situ dia mengerti bagaimana sayangnya Rey kepada dirinya dan calon buah hati mereka berdua. Marwa juga yang tidak ingin terlalu berprasangka buruk terhadap suaminya. Percaya bahwa apa yang terjadi merupakan kisah dari perjalanan cinta mereka. Kadang ketika masalah itu datang, Tuhan sedang menguji kesetiaan mereka. Apalagi ketika mendengar cerita mama mertuanya dulu ketika mereka masih tinggal di rumah mertunya, Marwa ingat bahwa mama mertuanya mengatakan bahwa ujian terberat adala ketika saat masa kehamilan di situ akan banyak terjadi masalah. Akan tetapi tergantung bagaimana cara mereka menghadapinya nanti.


“Ma, aku sama suami aku nggak ada masalah apa-apa kok, jadi Mama sama Papa jangan khawatir perihal itu ya!”


“Mama sama Papa percaya karena kalian saling mencintai, Mama percaya kalau Rey juga bakalan berusaha untuk buat kamu bahagia, dia anak yang baik. Kamu juga anak yang baik, semoga rumah tangga kamu selalu baik sama dia, ya,”


Marwa tersenyum. “Aamiin, Ma. Terima kasih doa Mama untuk Marwa itu sangat baik, semoga Mama juga lekas sembuh,”


“Mama pengin banget kamu tetap disamping Mama. Jadi anak kecil Mama seperti dulu lagi. Akan tetapi kamu punya kehidupan sendiri, jadi Mama nggak bisa nahan kamu di sini,”


“Mama kangen?”


“Marwa, walaupun kita ketemu seperti ini. Mama tetap merasa kangen, dan Mama bakalan tetap kangen sama kamu. Ketika kamu ada masalah atau apa pun, pulang! Mama bakalan tetap sama kamu, Mama bakalan tetap jadi penguat untuk anak Mama satu-satunya ini. Papa juga bakalan tetap jadi orang yang selalu sayang sama kamu, Papa selalu anggap kamu putri kecilnya, sama seperti waktu kamu di taman kanak-kanak dulu,”


“Ma, bagaimanapun juga aku sudah menikah, Ma. Bukan anak kecil lagi,”


“Tapi kamu adalah bidadari kecil, Mama sama Papa,”


Dia tersipu malu mendengar jawaban sang mama. Tanpa sadar dia meneteskan air mata. “Loh, kenapa nangis? Mama salah ngomong sama kamu?”


Dia langsung menggelengkan kepalanya kemudian memeluk mamanya. “Maaf dulu kalau Mama selalu sabar hadapi aku, sebentar lagi aku bakalan jadi Mama. Ngerasain gimana rasanya jagain anak, sama seperti Mama dulu rawat aku sampai seperti sekarang ini,”


“Tetap sabar. Mungkin pertengkaran itu wajar dalam rumah tangga, sayang. Tapi kamu harus kompak sama suami kamu buat didik anak kamu, jangan sampai nanti kamu jadi merasa terbebani karena anak,”


Suatu kebahagiaan yang membuat Marwa bahagia adalah semenjak bayi itu tumbuh di dalam janinnya, banyak hal yang terjadi antara dirinya dan sang suami. Masalah silih berganti akan tetapi mereka meredamnya dengan sangat baik. Bahkan keduanya begitu berjuang untuk tetap membuat keluarga utuh. Suara Marwa mulai tercekat ditenggorokan saat mengingat bagaimana suaminya merelakan proyek hanya untuk rumah tangganya. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya, mau seberapa hebatnya pun dia menahan, tetap saja terjauh. “Ada masalah?”


Marwa menggeleng, “Nggak, Ma. Aku nggak pernah ada masalah sama Mas Rey kok. Cuman aku bangga sama dia, Ma. Dia selalu berusaha untuk ngalah. Berusaha untuk pertahanin rumah tangga sebesar apa pun masalah yang dilalui, dia nggak pernah mau buat semuanya menjadi rumit. Dia..” suaranya tidak bisa lagi melanjutkan apa yang membuatnya terharu kepada suaminya itu.


Mamanya pun memeluknya dengan mengelus punggungnya. “Mama bersyukur kamu bisa bahagia sama dia. Walaupun pada awalnya Mama sempat ragu karena kalian nggak saling kenal. Tapi siapa yang bisa menyangka kalau kalian berdua adalah orang yang terpisah hanya karena musibah masa lalu. Jadi, apalagi yang buat Mama ragu sama kesetiaan suami kamu. Apalagi sekarang ini dia begitu sayang sama kamu semenjak kamu hamil, dan jangan pernah curhat kepada orang lain mengenai masalah rumah tangga kamu jika suami kamu melakukan hal yang buruk. Itu nggak baik sama sekali, bisa saja saat dia melakukan kesalahan, justru kamu beberkan keburukan suami kamu. Jangan pernah lupakan kebaikan yang selama ini dia buat sama kamu,”


“Bahkan Mas Rey nggak pernah mau aku lakukan itu, Ma. Dia juga nggak izinin aku ngumpul-ngumpul gitu,”


“Lebih baik hindari. Kalau memang masalah kalian nggak bisa diselesaikan berdua. Masih ada orang tua masing-masing untuk mengadu, jangan cerita sama orang yang nggak bisa ngasih solusi. Misalnya sekarang kamu berantem, kamu update di sosial media bahwa suami kamu gini-gitu. Besok akur, eh kamu mendewakan suami kamu. Jangan sampai hal itu terjadi, banyak kan tuh sekarang jelek-jelekin suaminya. Sampai lupa sama bahagia yang dulu,”


 


 


Marwa belajar banyak hal beberapa hari selama di rumah mamanya. Apa yang dikatakan Rey juga beberapa waktu lalu mengenai pertengkaran mereka tidak boleh sampai ada orang tua yang tahu perihal jeleknya. Karena mereka akan belajar mendewasakan diri dari masalah tersebut.