RICH MAN

RICH MAN
SAH



Reynand berada di kamar ganti. Dirinya sedang di rias sebaik mungkin. Dia telah menghafalkan apa yang akan di ucapkan nanti di depan orang tua perempuan yang akan menjadi istrinya itu.


Rey terus menarik napas panjang, berusaha untuk tidak gugup nanti ketika berhadapan langsung dengan perempuan itu nanti.


Sejenak dia berusaha lepas dari kesedihan yang dialaminya. Kali ini dia akan menghalalkan seorang perempuan asing untuk menjadi istrinya. Bahkan dia belum pernah melihat perempuan itu secara langsung walaupun mengenakan cadar seperti yang diceritakan oleh Leo. Hatinya terlalu sakit, perih ketika akan melakukan prosesi akad nikah nanti.


Saat berada di ruang ganti. Mamanya datang bersama dengan papanya, "Rey, harus ikhlas terima ini, ya!" ucap Mamanya sambil mengelus punggung Rey.


Pria itu mengembuskan napasnya kasar kemudian memegang kedua tangan perempuan yang sudah melahirkannya dulu. "Ma, apa pun yang terjadi, Rey bakalan terima apa pun keputusan Mama sama Papa, walaupun ini sebenarnya sangat sulit untuk diterima, tapi aku percaya bahwa ini adalah yang terbaik dari Mama dan juga Papa. Doakan semoga semuanya lancar, semoga Marwa adalah perempuan yang dikirimkan oleh Allah untuk aku, untuk hadir ditengah-tengah keluarga kita sebagai perempuan yang juga kalian inginkan, berbakti juga sama aku kelak," Reynand mencium kedua tangan mamanya.


"Rey, Mama sama Papa do'ain kok. Ingat ya jangan salah sebut nama, ngomong-ngomong istri kamu enggak ikutan loh ke depan,"


"Eh, kenapa gitu?"


"Dibelakang dia, malu sih katanya,"


"Ya sudahlah Ma. Enggak apa-apa,"


"Maaf ya Rey, kali ini pernikahan kamu hanya pernikahan siri, enggak secara hukum. Tapi nanti melalui hukum, ini gara-gara si Leo sama Fendi yang buru-buru, jadi enggak ada waktu gitu,"


"Mama, enggak masalah kok,"


Rey ingin mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya kelak karena tidak bisa menunggu Bintang terlalu lama lagi. bagaimanapun juga dia akan tetap menghargai istrinya, layaknya perempuan itu yang sudah menerimanya sebagai seorang pasangan hidup. mau tidak mau, dia harus menerima perempuan asing itu juga hadir di dalam hidupnya.


Kemarin, dia sempat emosi karena tidak bisa menerima kenyataan dirinya yang dijodohkan dengan perempuan lain, bukan dengan perempuan pilihannya sendiri. Terlalu sakit untuk menerima semua itu, terlalu perih hatinya untuk melepaskan perempuan yang pernah begitu dia cintai sangat dalam. Barangkali, dia butuh waktu untuk melupakan itu semua dengan sendirinya.


Berharap bahwa kehadiran Marwa membawa kebahagiaan baru ke dalam hidupnya yang kelak bisa membuatnya merasakan jatuh cinta yang jauh lebih hebat lagi dari Bintang.


Hari itu, suasana menjadi sangat ramai ketika Reynand keluar dari ruang ganti bersama dengan kedua orang tuanya dan di sana sudah ada Papa dari perempuan itu.


Reynand duduk, dia menarik napas panjang berusaha untuk menenangkan diri. Pasalnya dia baru bertemu untuk pertama kali dengan calon mertuanya.


"Rey, semoga kelak kamu bisa jaga anak saya dengan baik," ucap pria itu begitu Reynand duduk.


Suasana di sana pun tampak gembira.


Acara pun dimulai, Reynand mulai mengambil posisi berjabat tangan dengan papa dari perempuan itu.


"Alexi Reynand, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Marwatul Aira binti--"


Suasana dibalik ruangan tersembunyi itu pun mulai tegang. Marwa yang menarik napas sambil merapalkan doa ketika calon mempelai prianya mulai menyebutkan namanya dengan begitu lantang.


Saat para saksi berkata SAH, Marwa mengusap wajahnya sambil tersenyum dibalik cadarnya. Ia hanya mendengar suara pria yang sudah sah menjadi suaminya dari belakang ruangan itu.


Terdengar suara riuh orang-orang yang ada di depan pintu ketika mempelai pria datang menemui Marwa.


Marwa menunduk ketika melihat paras suaminya yang begitu tampan dengan setelan jas berwarna silver dan masuk ke ruangan itu.


"Salaman, salaman!" ucap orang-orang di sana. Begitu banyak pria dan juga wanita berada di ruangan itu.


Rey menoleh ke arah orang-orang itu langsung melihat ke arah istrinya. Dia mengulurkan tangannya setelah mendapatkan anggukkan dari mamanya.


"Cium, cium,"


Kali ini Rey sendiri yang merasa sangat malu ketika diminta untuk mencium istrinya.


"Ayo lakukan Rey!"


"Mama," keluh pria itu.


Tapi dirinya benar-benar merasa sangat malu dan langsung melakukan itu seraya berdoa dalam hati bahwa pernikahannya diberkahi dengan niat untuk ibadah dan membimbing istrinya di masa depan.


"Semoga Allah merestui pernikahan kita, Marwa," bisiknya saat itu dan mencium kening perempuan yang wajahnya masih ditutupi dengan cadar berwarna putih itu. Rey tak ingin terburu-buru melihat wajah istrinya, biarkan saja kelak dia melihat itu semua ketika dirinya sudah siap dan bisa menerima Marwa di dalam hidupnya. Daripada dia melihat istrinya, tetapi bayang-bayang masa lalu masih menghantuinya.


"Cadarnya dibuka ya!" perintah Jenny.


Rey menahan tangan Jenny. "Jenny, ada banyak orang. Jangan lakukan itu!" Rey menahan tangan istri dari sahabatnya itu. Sekaligus perempuan itu sudah menjadi sahabatnya sejak SMA. Rey tidak ingin wajah istrinya dilihat oleh banyak pria yang ada di sana.


"Rey, kamu kan harus lihat,"


"Jenny, masih ada waktu. Jadi jangan lakukan itu! Aku mohon mungkin ada waktu yang tepat untuk melakukan ini semua, jangan buru-buru apalagi memaksa Marwa melakukan itu, mungkin dia juga belum siap, bukan begitu?" ucapnya pada istrinya. Perempuan itu mengangguk.


Rey tetap menghargai, walaupun dia belum pernah melihat wajah istrinya yang katanya cantik. Tetapi Reynand masih belum siap melihat wajah istrinya secara nyata.


Mereka berdua pun berdiri.


"Resepsinya nanti malam. Jadi persiapkan diri ya!" ucap Leo sambil menyeringai.


"Sialan memang, semua ini buru-buru banget. Enggak ada persiapan apa pun gitu?"


"Yaelah, enggak perlu kali kak," ucap Leo dengan santai sambil menggandeng tangan istrinya yang tengah hamil cukup besar waktu itu.


"Gas langsung Kak Rey nanti malam," bisik Leo yang jaraknya sedikit lebih jauh dari istri Reynand.


"Sialan, kenal aja enggak, yakali mau langsung,"


"Elah, nanti juga kenal kalau udah ngerasain malam pertama,"


Reynand yang kesal dengan ledekan sepupunya langsung menjitak kepala Leo begitu saja.


"Bukannya kamu udah lihat waktu itu?"


"Iya, dia cantik banget sih. Senyumnya, eh kalau belum ada bini, mau deh sama dia,"


"Amanda, Leo katanya mau nambah istri," teriak Jenny yang membuat Amanda berbalik.


"Kampret nih pengantin muda malah ngacauin pembicaraan pria dewasa," jawab Leo dengan kesal.


Seketika itu Amanda datang. "Mas Leo mau macam-macam sama perempuan lain? Ingat loh di sini ada hasil perbuatan Mas Leo," ucap Amanda sambil menjewer telinga Leo dan menunjuk ke arah perutnya.


"Iya sayang iya, ingat kok kalau sayangku lagi hamil. Jadi agak sensitif, enggak usah dengar ucapan Jenny, dia itu bercanda," Leo mencari pembelaan saat itu juga.