RICH MAN

RICH MAN
INGIN MENGENAL LEBIH JAUH



Pada masa sekolah Reynand dahulu, mencintai seorang gadis merupakan hal yang tidak pernah dipikirkan begitu serius olehnya. Hingga pada akhirnya sosok Marwa hadis sebagai Bintang menjadi murid baru di sekolah itu. Semua berawal saat dia mulai merasa nyaman, respons dari gadis itu juga baik. Kemudian, setelah beberapa waktu berjalan. Entah dimulai dari mana, Rey jatuh cinta pada sosok Bintang yang begitu berharga baginya.


Siapa sangka bahwa gadis yang dulu dia kejar dengan usaha yang begitu keras kini menjadi istrinya.


Dalam kehidupan Reynand dahulu. Begitu banyak rintangan hidup yang dia lewati begitu saja. Mulai dari bagaimana usahanya untuk hidup tanpa kehadiran gadis itu dulu.


Sejenak ia melihat ke arah istrinya yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Meskipun memiliki asisten, Rey tahu bahwa istrinya ingin tetap menyajikan makanan untuk dirinya. Ia tahu bahwa istrinya sangat suka memasak dan ia hafal bagaimana rasa masakan istrinya entah itu di rumah mamanya sekalipun.


Melihat istrinya yang berjalan dengan begitu lambat karena terhalang oleh perutnya yang terlihat sedikit berat. Ada rasa haru sekaligus bercambur dengan rasa kasihan terhadap perempuan itu. Perempuan yang sedang mengandung buah hatinya, perempuan yang pernah di sia-siakan beberapa waktu lalu. Jika mengingat itu semua, rasanya ingin kembali pada masa di mana dia akan membahagiakan Marwa. Bukan justru membuat istrinya pergi dari rumah dulu.


“Kalau ada apa-apa yang kamu inginkan, jangan pernah sungkan untuk ngomong. Karena aku bakalan penuhi semuanya, sekalipun saat aku sibuk. Karena aku ingin meluangkan waktu berhargaku untuk menemani masa-masa kehamilan kamu,” kekhawatiran Rey memuncak saat Marwa duduk dan memegang perutnya. Memang belum sebesar seperti yang dibayangkan oleh Rey ketika kehamilan mamanya dulu. Apalagi dulu mamanya hamil anak kembar dan tentu saja jauh lebih besar dibandingkan dengan istrinya yang sekarang baru hamil lima bulan.


Marwa duduk kemudian meneguk minumannya terlebih dahulu. “Kamu nanti pulangnya jam berapa?”


“Mungkin agak malam sih, karena harus ketemu klien dulu. Kalau kamu nggak mau nunggu, kamu bisa tunggu aku di rumah mama dulu,”


“Nggak usah deh, Mas. Aku bisa di rumah sendirian kok. Nanti juga Bibi bentar lagi datang. Kamu mau di masakain apa untuk makan malam?”


Rey nampak berpikir sejenak. Akan tetapi kasihan terhadap istrinya yang memasak untuk dirinya. “Nggak usah, nanti aku bisa makan di luar. Kamu mau dibeliin apa?”


“Yakin nggak mau dimasakin, Mas?”


Rey mengangguk. Ia ingin sekali makan sepulang bekerja. Akan tetapi tidak bisa begitu saja karena istrinya pasti sangat kelelahan dengan pekerjaan yang di rumah. Belum mencuci dan sebagainya. Marwa hanya menugaskan asisten untuk membersihkan. Bukan untuk mencuci pakaian serta memasak. Karena itu adalah tugasnya. Dan Rey tahu bahwa istrinya tidak pernah mau menggunakan jasa asisten untuk mencuci pakaian serta menyetrika. Dia bilang bahwa ingin menjadi istri yang mengerjakan itu semua. Dan Rey hanya pasrah atas apa yang dilakukan oleh istrinya.


Selesai sarapan. Ia memerintahkan istrinya untuk minum susu terlebih dahulu sebelum Rey berangkat kerja. Hal itu rutin dilakukan oleh Rey untuk memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. Dia ingin agar istri dan anaknya mendapatkan asupan yang baik. Kesehatan istrinya adalah hal yang paling utama. Bahkan untuk kebutuhan biologisnya pun Rey terkadang malu untuk meminta haknya. Karena ketika tidur Marwa sangat susah sekali untuk terlelap dengan posisi tidur yang tidak nyaman.


Melihat istrinya yang sudah menghabiskan susu untuk ibu hamil. Hatinya sedikit lega untuk meninggalkan istrinya. Perlahan dia bangun dari tempat duduknya kemudian berpamitan kepada perempuan itu. “Aku berangkat ya, jaga diri sama kandungan baik-baik!” perintahnya. Pria itu selalu saja khawatir mengenai kabar keduanya. Bahkan dia sering meminta asistennya untuk tinggal di sana. Tetapi asistennya menolak. Karena memiliki anak yang masih kecil, Rey paham bahwa dia harus benar-benar menjadi suami yang siaga nantinya.


Beberapa menit mengendarai mobilnya menuju kantor. Dia pun akhirnya mulai mengerjakan beberapa berkas yang ada di atas mejanya. Rey merupakan seorang direktur, akan tetapi tidak pernah menonjolkan diri secara berlebihan. Siapa yang tidak mengenal orang tuanya yang merupakan pengusaha terkenal. Namun, Rey tetap memilih membangun perusahaan sendiri dengan usahanya.


Hingga pada tahap seperti sekarang ini. Bahkan ketika menikah pun Rey meminta kepada orang tuanya untuk membiayai diri sendiri. Sampai detik ini Marwa tidak pernah tahu bahwa Rey menikah karena tabungan yang sudah disiapkan dititipkan pada mamanya.


Sebelum berangkat dia mandi di kantornya dan sudah ada beberapa pakaian yang disediakan di sana. Hitung-hitung jika dia pergi mendadak seperti sekarang ini, jadi dia tidak perlu lagi untuk pulang ke rumah mengganti setelan kerjanya.


Ia telah berpakaian rapi kemudian ponselnya berdering di atas meja. Ia menghampiri ponselnya dan panggilan itu berasal dari Pak Refi, calon rekan bisnisnya nanti. Sejenak berbicara melalui telepon. Hingga pada akhirnya ia bersiap-siap untuk pergi ke sana.


Rey tiba sedikit terlambat dan sudah menjelang malam. Di sana sudah ada keluarga besar serta beberapa kerabat yang sengaja diundang oleh Pak Refi untuk pertemuan mereka saat ini. Tidak lupa juga dengan sekretaris Pak Refi yang selalu saja ikut ke manapun dia pergi, begitulah pikir Rey kepada sosok perempuan cantik dengan penampilan yang begitu memukau. Tapi dia ingat di rumah ada seorang istri yang sedang menunggu kepulangannya.


“Selamat malam, Mas Rey!” sapa Pak Refi, “Ayo silakan duduk!” perintahnya. Rey pun langsung mengambil posisi duduk bersebrangan dengan sekretaris Pak Refi. Sekitar enam orang yang ada di sana. Rey datang sendirian untuk menghadiri undangan itu.


Mereka semua makan malam dan langsung berbincang kepada inti pembicaraan mereka. Hingga pada di titik pembahasan itu selesai. Pak Refi memperkenalkan perempuan yang duduk disebelahnya itu. “Ohya, Mas Rey. Kenalin ini putri saya, namanya Alin. Dia adalah putri kesayangan saya satu-satunya, bukan anak tunggal sih. Tapi maklum, dia sendirian yang perempuan,” ucap Pak Refi kemudian Rey hanya menjawab dengan anggukan. Dia pikir bahwa perempuan itu adalah sekretaris dari Pak Refi.


Ia tidak ingin terlihat terlalu pendiam saat itu. “Ngomong-ngomong kerja di perusahaan Bapak juga?”


“Tidak, dia baru saja pulang dari London. Menyelesaikan study di sana. Jadi baru 2 minggu di Indonesia,”


Rey ber-oh ria tanpa menjawab apa-apa.


“Mas Rey ini kenapa datang sendirian,” tanya Alin yang ikut berbincang di sana.


 


 


“Iya di rumah istri lagi hamil. Jadi sengaja nggak di bawa aja, kasihan nanti capek,” jelas Rey kemudian membuat orang-orang di sana nampak begitu pura-pura tertawa. Begitu pula dengan Refi yang tidak suka mendengar Rey menyebut istri. Pasalnya dia tahu bahwa Rey adalah anak dari Azka yang sudah tidak diragukan lagi dalam dunia bisnis. Niatnya adalah menjadikan anaknya sebagai istri dari Reynand. Meski sudah memiliki istri, tetapi Alin juga yang sepakat dengan permintaan itu akhirnya berencana untuk mengenal Rey lebih jauh.