RICH MAN

RICH MAN
BERTEMU KEMBALI



Pukul delapan malam. Dimas belum juga menampakkan dirinya. Nagita sudah terbiasa mendapati Dimas yang lembur bahkan pulang tengah malam. Selama berhenti di perushaaan Azka, Dimas kini bekerja di salah satu perusahaan ternama sebagai seorang manager. Bahkan beberapa kali Nagita berusaha mencarikan calon istri untuk kakaknya itu. Tetapi tidak ada satupun perempuan yang berhasil meluluhkan hati saudaranya. Nagita bahkan kadang berpikir bahwa kakaknya enggan untuk berpacaran.


Saat suara mobil terdengar memasuki halaman rumahnya. Ia yang sedang menemani Rey menonton acara televisi langsung menyambut kakaknya.


“Rey mana?”


“Rey nonton tv tuh,”


“Dia belum tidur?”


“Belum. Setelah makan, dia langsung minta di temani nonton,”


“Oh. Kalau gitu kakak mandi dulu ya, ada teman yang mau datang soalnya. Ya sudah kamu temani Rey sana!”


Nagita kembali lagi dan duduk di samping anaknya yang menonton Tv. Tetapi Nagita justru mulai merasa sangat lucu ketika mendengar cerita-cerita dari Rey mengenai teman sekolah dan juga teman sepergaulannya.


“Mama, jangan pulang ke rumah Papa ya. Rey senang kok ada di sini. Teman Rey banyak, terus bisa main bola. Belum lagi Rey boleh main kelereng, tapi Ma, Rey pengin dibeliin sepeda kayak teman-teman Rey,”


“Iya nanti setelah Om mandi, kita omongin ini sayang.”


Ia terus mendengar putranya mengoceh menceritakan banyak hal. Ia merasa sangat senang dengan tingkah Rey yang tidak pernah mengeluh tentang keadaan mereka. Justru Rey sangat betah berada di sana. Tidak ingin bertemu dengan Leo dan juga teman-teman yang lainnya. Nagita sangat menyayangi Rey. Meski kehadirannya dulu sangat dibenci oleh Azka, tetapi beberapa kali Azka berusaha untuk mengambil Rey, namun Dimas seolah menjadi pahlawan baginya yang membuat Rey tetap bertahan di sisinya hingga sekarang ini. Waktu itu bahkan dia tidak diberikan izin oleh Azka membawa Rey pergi. Tetapi Rey justru menangis dan akhirnya diberikan izin.


Suara mobil masuk ke halaman rumahnya lagi. Nagita hendak beranjak, namun Dimas keluar dari kamarnya. “Biar kakak saja, tetap temani Rey!”


Nagita duduk kembali dan Rey bersandar di dadanya sambil bermanja-manja. Anaknya memang terlihat sangat manja jika berada di sisinya. Anak itu tidak pernah berubah sama sekali dan selalu saja seperti itu.


“Nagita, bisa buatin minuman untuk teman kakak? Teh sama kopi satu ya!”


“Ma?” Rey mendongakkan kepalanya dan Nagita justru memberikan isyarat agar Rey ikut bersama dengan Dimas sebentar. “Sama Om dulu sayang. Sebentar saja!” anak itu langsung turun dari sofa dan keluar bersama dengan Dimas.


Nagita keluar dari dapur menuju ruang tamu untuk menjamu tamu kakaknya. Namun saat itu juga Nagita mengembangkan senyumannya saat Damar tersenyum ke arahnya. “Pak Damar?”


“Apa kabar?”


“Baik pak.”


“Ngomong-ngomong ini Rey kan?”


“Ma, Om ini siapa?”


“Om ini temannya Om Dimas. Namanya Om Damar, salaman dulu!”


“Bukannya Kak Dimas berhenti di perusahaan Mas Azka. Kenapa mainnya sama Pak Damar?”


“Iya gitu, semenjak dia keluar dari perusahaan, aku malah sering sama dia. Ngomong-ngomong Nagita, aku nggak pernah lihat kamu di rumah Azka?”


“Sudah cerai,”


“Ck, benar-benar pria sialan itu,” gerutu Damar.


“Ya sudah. Kalian ngobrol dulu, ini Rey entah mau ngapain dari tadi narik-narik.” Ucap Dimas dan menggendong Rey.


****


Dimas mengajak Rey keluar dari ruang tamu dan duduk di teras depan rumahnya. Rey begitu banyak menceritakan tentang kejadian hari ini. Dimas justru sangat senang melihat keponakannya itu aktif dan bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.


“Om beliin Rey sepeda ya?”


“Rey pengin beli sepeda?”


“Iya. Tadi Mama bilang mau ngomong sama Om, tapi Om lama pulang,”


“Hari minggu kita beli ya?”


“Besok kan Minggu, Om.”


Dimas menepuk jidatnya karena lupa dengan hari. Ia terlalu sibuk berada di kantor. Ia tidak pernah merasa keberatan harus membiayai Nagita dan juga Rey. Justru ia senang saat Azka menceraikan Nagita dan tidak membuat masalah lagi. Semenjak keadaan kurang membaik, Dimas sudah merasa bahwa ada yang tidak beres dengan rumah tangga Nagita. Dan kini ia harus benar-benar merasa lega karena Nagita sudah resmi diceraikan. Berarti tidak akan ada lagi beban Nagita selama ini. Cukup ia membiayai adik semata wayangnya itu. Meski kehadiran Rey dulu merupakan bencana baginya. Tetapi Rey telah ia terima dengan sangat baik. Anak itu tidak pernah salah, yang salah adalah Azka yang dahulu menghadirkan Rey dengan cara yang tidak baik. Meski begitu, Nagita juga tidak salah. Waktu itu perempuan tersebut menginginkan rumah tangganya utuh. Akan tetapi harus berakhir tanpa diduga. Setelah mendengarkan keluh kesah adiknya. Ia merasa sangat puas dengan hal itu. Nagita juga akan ia biayai pendidikannya nanti. Ia akan melanjutkan pendidikan Nagita yang tertunda dahulu.


Tidak ada salahnya mengejar cita-cita. Lagi pula, Nagita masih muda dan memiliki bakat dalam bidang desaign. Hal itu tidak pernah di sadari oleh Nagita. Meski cita-citanya dulu ingin menjadi seorang dokter. Tetapi kala itu bencana datang bersamaan dengan kabar baiknya. Dan itu sempat membuat Dimas merasa sangat frustrasi.


“Ayo, sekarang kita jalan-jalan dulu!”


“Ke mana?”


“Rey mau ke mana?”


“Teman-teman Rey mau nginap malam ini, tapi mereka belum datang, Om.”


“Oh berarti malam ini rumah ramai dong?”


“Iya,”


“Kalau gitu kita cari teman-teman Rey. Terus kita cari makanan sama beli es krim. Udah gitu kita pulang sama-sama ke sini,”


“Mama?”


“Mama masih ngobrol,”


Tadi sebelum pulang ke kantor. Niat Damar memang ingin bertemu dengan Nagita entah untuk membicarakan apa. Ia tahu bahwa selama ini Damar begitu banyak membantu Nagita. Dan ia membiarkan mereka berdua bercengkrama. Dan mengajak Rey mencari teman-temannya yang akan mengingap.


Satu persatu rumah di datangi oleh Dimas dan menjemput teman-teman Rey dengan berjalan kaki. Jarak rumah mereka sangat dekat. Dan di luar gang ada supermarket dan ia pun langsung mengajak anak-anak itu ke sana untuk mencari makanan.


“Ayo pilih apa aja yang kalian mau, asal jangan beli permen. Kalau mau beli es krim sama makanan yang banyak!”


Anak-anak itu langsung berpencar untuk mencari makanan. Ada yang menggunakan keranjang. Ada pula yang menggendong makanannya. Dimas merasa sangat senang melihat Rey yang juga aktif bersama dengan teman-temannya. Hingga supermarket tersebut begitu riuh oleh suara mereka. Pukul sembilan malam, mereka masih sibuk mencari makanan dan sesekali Dimas mengajak mereka semua berbicara. Hingga ia dipercaya oleh orang tua anak-anak untuk membiarkan anak mereka dibawa oleh Dimas. Selama ini ia memang membiarkan Rey mencari temannya sendiri. Hingga kini selama berada di sana, ia selalu bertemu dengan keempat teman Rey.


Saat sedang duduk di bangku supermarket di luar. Dimas bertemu dengan Viona, cinta pertamanya dulu. Yang bahkan hingga kini masih menetap dihatinya. Perempuan itu mengenakan pakaian merah dan celana hitam khas supermarket tempat ia berbelanja tadi.


“Kak?”


“Viona kamu kerja di sini?”


“I-iya,”


Viona adalah teman sekolah Nagita, yang waktu itu adalah cinta pertamanya. Akan tetapi perempuan itu selalu saja bersikap malu-malu. Namun saat menjadi sopir angkot, Viona adalah perempuan yang tidak pernah meninggalkannya, meski seringkali Viona itu sangat malu bertemu dengannya, Dimas bersyukur masih ada perempuan sederhana seperti Vioana.


“Rey?”


“Tante, kenapa nggak pernah main ke rumah?”


“Tante sibuk kerja,”


“Lho, Rey kenal sama tante Viona?”


“Kenal Om, Mama sering ngajakin ke sini.”


Dimas mengelus kepala Rey. “Aku balik kerja dulu ya,”


“Aku nggak ketemu kamu tadi di dalam,”


“Aku lagi beliin teman-teman makan malam,”


“Pulangnya jam berapa?”


“Jam sebelas malam,”


“Aku jemput ya,”


Perempuan itu menggeleng. “Nggak usah,”


“Kenapa? Kita masih pacaran, kamu kenapa menjauh?”


“Kita berbeda,”


“Bedanya di mana?”


“Aku masih seperti aku yang dulu, kakak sudah jadi orang yang sukses,”


Dimas paham bahwa Viona meninggalkannya dulu karena status mereka yang berbeda. Sejak dulu, Viona bukan perempuan yang gila harta. Dan hingga akhirnya ia berpamitan pada perempuan itu dan mengajak anak-anak itu pulang.


“Kalian masuk gih, ada tante di dalam!”


“Nagita, jaga anak-anak ya!”


“Kakak mau ke mana?”


“Kakak ada urusan,”


“Om mau ketemu tante Viona ya?” ucap Rey. Seketika membuat Nagita tersenyum.


“Bu-bukan,”


“Ya sudah sana. Ketemu, aku kira kakak sudah lupa sama dia,”


“Bagaiamapun juga dia cinta pertama,”


“Masih sayang?”


“Sudah bocah jangan bahas itu,”


“Sana ih. Ngapain malu-malu, toh kalian juga nggak pernah putus.”


Nagita benar. Bahwa selama delapan tahun pacaran, Dimas tidak pernah putus dengan Viona. Ia langsung mengambil kunci mobilnya dan melajukan mobilnya begitu saja menuju supermarket tadi. Jarak rumahnya dengan Viona hanya berkisar satu kilometer saja. Namun ia tidak ingin perempuan kesayangannya terjadi apa-apa.


Dimas sudah menunggu di depan toko supermarket tempat kekasihnya bekerja. satu jam menunggu, hingga akhirnya toko tersebut tutup dan Viona menunggu di depan toko. Ia keluar dari mobil dan langsung menghampiri perempuan itu.


“Viona,”


“Kak Dimas?”


“Nungguin siapa?”


“Bapak,”


“Aku antar pulang,”


“Nggak usah,”


“Ayolah. Viona, apa kamu sudah punya pacar sampai kamu nggak mau aku antar  lagi?”


“Bukan begitu,”


“Jadi, sekali ini saja.”


Perempuan itu mengangguk dan Dimas merasa sangat senang karena tidak mendapati penolakan dan perempuan itu justru menghubungi orang tuanya. Jarak usia Dimas dengan Viona memang jauh. Bahkan perempuan itu ia anggap sama seperti adiknya sendiri.


“Na, kenapa kamu tiba-tiba pergi?”


Dimas mulai membuka suara saat berada di dalam mobil. Ia merindukan perempuan itu. Saat dirinya berada diposisi paling bawah. Perempuan itu tidak pernah meninggalkannya, justru Viona pernah ia antar sekolah hanya dengan menggunakan motor butut peninggalan orang tuanya. Tetapi perempuan itu tidak pernah protes. Bahkan Nagita selalu menyuruh Dimas bersama dengan Viona dari dulu. Akan tetapi semenjak Nagita menikah, ia tidak pernah lagi bertemu dengan Viona.


“Nggak apa-apa, apa istri kamu nggak marah kalau kamu jalan sama perempuan lain?”


“Perempuan yang pantas jadi istri aku itu kamu, Na.”


“Ke-kenapa aku?”


“Karena hatiku cuman ada kamu, bahkan hingga usia sekarang, kamu satu-satunya perempuan yang aku sayangi. Nagita tak pernah bercerita tentang kamu, andai saja aku tahu kamu ada di sini, aku sudah mencarimu dari dulu, Na. Semenjak kamu pergi, aku tidak pernah punya niat untuk mencari perempuan lain lagi, apa alasan kamu pergi, aku ingin tahu? Jangan gantung hubungan kita, kita masih pacaran, Na,”


“Aku sudah bilang kalau aku itu nggak pantas, kamu sudah berjaya. Ka-kamu,” suaranya tercekat. Dimas hanya terdiam. Bagaimana pun juga mereka pernah saling mencintai.


“Siapa sekarang yang berhasil mengisi hati kamu?”


“Nggak ada,”


“Terus kenapa kamu tiba-tiba ninggalin aku?”


“Aku sudah bilang kan?”


“Apa pernah kamu pikirin perasaan aku?”


“Kamu nggak ngerti, Dimas.”


“Apa yang aku nggak ngerti? Apa ninggalin itu perbuatan yang nggak jahat?”


Dimas tidak pernah membuka hati untuk perempuan lain. Meski perempuan yang berada di sampingnya kini memang tidak secantik perempuan yang berpendidikan tinggi. Tetapi perempuan inilah yang menjadi alasannya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dan harapannya menjadi pria sukses juga karena Viona. Ia ingin membahagiaan Nagita dan juga Viona. Tetapi perempuan itu justru meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.


Setibanya di gang rumah rumah Viona. Dimas menahan tangan perempuan itu.


“Aku mau pulang,”


“Jawab satu hal. Kenapa kamu pergi? Apa kamu nggak sayang sama aku?”


Viona terdiam, dan menggeleng.


“Lalu apa? Bisa kasih aku jawaban? Aku akan berhenti saat kamu kasih jawaban kalau kamu nggak sayang, aku akan usahakan berhenti ngejar kamu, ini terakhir kalinya aku berharap, Na,”


Perempuan itu menggeleng. “Lalu apa maksud dari semua ini, Na? Kamu terus menggeleng seolah itu memberi harapan bahwa kamu mencintai aku, tapi hatimu nggak ngasih izin aku buat miliki kamu,”


“Karena aku juga masih sayang, dari dulu. Bahkan sampai saat ini, setiap kali Nagita kemari, dia selalu saja menceritakan kamu, dan itu yang buat aku nggak bisa lupain kamu,”


“Selama kamu pergi, siapa yang ngisi hati kamu?”


“Kamu,”


“Selama enam tahun?”


“Iya, jawabannya tetap kamu,”


“Na?”


Dimas memegang kedua tangan perempuan itu dan ia mematikan lampu dalam mobil. Perlahan ia mencium bibir Viona. “Jadi milikku, Na,” bahkan saat mereka berciuman untuk pertama kalinya perempuan itu tak memberontak.


“Ayo turun, aku antar sampai ke rumah kamu,”


“Kak Dimas?”


“Jangan hilang lagi, apa nggak cukup kita pisah? Dan saling menyakiti hati masing-masing, Na?”


“Nggak tahu,”


“Na, usia aku sekarang sudah tiga puluh satu lebih. Mungkin bukan waktunya untuk main-main,”


Mereka berdua turun dari mobil dan Dimas memberanikan diri untuk menggenggam tangan Viona.


“Kak Dimas, yang tadi itu,”


“Kenapa?”


“Pertama buat aku,” ucap perempuan itu sambil menunduk.


“Iya aku tahu, itu pertama kali buat kamu. Sama seperti aku, aku nggak pernah khianati kamu selama ini, Viona. Hati aku tetap sama kamu,”


Hingga mereka tiba di depan rumah Viona. Dan perempuan itu langsung mengucapkan salam kepada orangtuanya. Dimas berdiri di samping Viona.


“Dimas?” ucap ayah Viona.


“Saya permisi, Pak. Ini sudah terlalu larut, nggak enak sama tetangg. Saya permisi, Pak,”


“Hati-hati di jalan, kak,”


“Minggu depan saya kembali lagi, pak. Untuk melamar, Viona.”


Sontak kedua orang itu langsung terkejut, “Aku nggak mau kamu hilang lagi, Na.” Ucapnya lirih. Dan langsung dibalas anggukkan oleh Viona.