
Sudah dua minggu lebih Reynand bersama dengan Alin berada di luar negeri. Bukan hanya satu tujuan, dan benar saja bahwa mereka berdua melakukan perjalanan ke berbagai Negara untuk menemani Alin pameran.
Beberapa kali panggilan masuk dari papanya tidak pernah dia jawab. Bahkan beberapa kali juga Marwa menghubunginya. Tetapi sama sekali tidak pernah direspon oleh Reynand.
Alin begitu bahagia karena sudah berhasil mengubah REynand menjadi seperti yang diinginkannya. Berhasil telah membuat pria itu tidak lagi mengabari istrinya yang ada di Indonesia. Sekarang ini suami orang sedang bersama dengan dirinya untuk menghadiri pameran.
Tidak pernah ada orang yang mau diduakan, bagaimanapun juga Alin ingin agar REynand bercerai dengan istrinya. Menjadi yang kedua walaupun diutamakan tidak pernah ada yang mau berbagi. Terlebih Alin yang kali ini merasa menang atas dasar memiliki hati pria yang sedang bersamanya saat ini.
Alin bersumpah dalam dirinya bahwa dia akan menikah dengan Reynand nanti. Tidak peduli lagi dengan harta yang diincar oleh papanya. Kali ini dia mementingkan perasaannya yang sudah terlanjur mencintai pria itu. Meski memiliki istri, tetapi setelah merasa dekat dengan Rey, Alin merasa begitu menang. Karena setiap kali bersama dengan dirinya, pria itu jarang sekali menceritakan mengenai istrinya. Apalagi menyinggung soal kehamilan Marwa kepadanya. Alin sendiri tahu bahwa Rey akan memiliki anak sebentar lagi.
“Kamu mau makan di sana?” tunjuk Alin kepada Rey yang menunjuk salah satu restoran yang ada di Jerman kali ini. Mereka berdua sebelum masuk berfoto begitu mesra, apalagi ketika melihat penjual topi yang begitu lucu dan mereka menggunakannya kemudian berpose layaknya pasangan kekasih yang sedang memadu kasih.
Tidak ada satupun orang yang tahu mengenai hubungan mereka yang sudah jauh dari kata teman. Kali ini mereka bukan lagi teman seperti biasanya, apalagi REynand yang tidak pernah melepaskan tangan ALin ketika mereka berdua sedang berjalan ke tempat satu ke tempat yang lainnya.
Tidak peduli lagi terhadap perusahaannya yang ada di Indonesia, sudah ada yang mengatur akan hal itu. Kali ini perjalanannya lebih condong pada liburan berdua. Padahal jika bersama dengan istrinya sendiri, Rey tidak pernah semesra ini.
“Kamu mau beli oleh-oleh kalau kita pulang nanti nggak?” tawar ALin.
“Nggak sih kayaknya,”
“Rey,” rayu Alin ketika itu memegang pipi pria itu. Rey yang merasa nyaman pun di selimuti oleh perasaan yang tidak bisa lagi dihindari dengan Alin. Dia mencium tangan perempuan itu.
“Maaf atas apa yang aku lakukan sama kamu selama ini, ya. Aku udah jahat sama kamu, aku udah nolak kamu. Aku udah buat kamu sakit hati,”
Alin tersenyum, pria itu sudah berhasil masuk ke dalam perangkapnya. Dia membantu Rey juga karena ada maksud tersembunyi. Akan tetapi dengan perlakuan REynand yang seperti itu kadang membuat Alin jatuh cinta dan tidak akan pernah melepaskan REynand apa pun yang terjadi.
Keduanya jalan-jalan seusai makan siang di salah satu restoran di sana. Melihat ada penjual cincin couple dan Rey langsung menawarkan itu kepada Alin. Dia juga memasangkan cincin itu kepada Alin. “Suka?” tanya Reynand kemudian ALin tersenyum bahagia kemudian memeluk dan mencium pipi Rey. Pria itu juga tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Alin saat itu juga.
Setelah puas jalan-jalan. Mereka berdua kembali lagi ke hotel. Yang di mana mereka akan istirahat di kamar masing-masing. Akan tetapi, saat itu juga Alin tiba-tiba mengetuk pintu di saat Rey membaca puluhan Chat dari Marwa yang sama sekali hanya dia baca tanpa dia balas satupun. Rey juga mendapat pesan agar dia segera pulang dari orang tuanya. Akan tetapi ini sangat menyenangkan baginya, dia enggan untuk membalas pesan itu.
Mendengar pintu kamarnya di ketuk, dia langsung membukakan pintu itu, Alin datang hanya dengan menggunakan jubah mandinya. “Ngapain?”
“Aku mau numpang mandi. Airnya nggak bisa keluar di kamar aku,”
Rey mempersilakan perempuan itu dan kemudian Alin langsung masuk ke dalam kamar mandi sementara Rey menelepon papanya bahwa dia akan pulang beberapa hari lagi. Dengan nada yang sedikit emosi, Papanya masih bisa menetralkan amarahnya. Rey sendiri tidak terlalu ingin mempedulikan akan hal itu. Karena ini juga untuk pertemanannya dengan Alin.
Dia menutup telepon dan merasakan bahwa tubuh Alin menempel pada punggungnya. Rey hanya mengenakan kaos biasa, dan tubuhnya membeku ketika tubuh Alin yang masih basah menempel pada punggungnya.
Rey tidak ingin berbalik, dia melihat ke arah bawah bahwa Alin sedang bertelanjang dibelakangnya. “Alin, apa yang kamu lakukan,” perempuan itu mengelus dadanya.
Pria itu berusaha menahan diri agar tidak terbawa suasana seperti sekarang ini. “Aku rela serahin perawan aku buat kamu, Rey. Asal kamu nikah sama aku,”
Rey memejamkan matanya kemudian menurunkan tangan Alin dari dadanya. Perempuan itu terus saja mengelus perutnya. “Oke, Alin kita lakukan. Tapi nanti setelah nikah, sekarang jangan,”
Rey keceplosan mengakatakan hal itu. “Kamu mau nikah sama aku?”
Rey mengangguk pelan. Baru kali ini dia merasa begitu jatuh cinta terhadap perempuan. Selama ini dia memang mencintai Marwa. Akan tetapi perasaan membuncah itu hadir karena perhatian Alin dan juga cara perempuan itu yang selalu baik kepadanya.
“KEnapa nggak sekarang aja? Aku nggak apa-apa kok, Rey. Sebelum kita pulang, aku sama sekali belum pernah ngelakuinnya,”
Rey tetap pada pendiriannya. “Sekarang kamu tutup tubuh kamu!” sama sekali dia tidak ingin berbalik.
Beberapa saat kemudian Alin pun memakai jubah mandinya lagi. Kemudian Rey berbalik. “Apa yang kamu pikirkan sampai berani senekat itu sih?”
“Karena aku bakalan buktikan, kalau aku ini sayang sama kamu. Cuman aku yang paling sayang sama kamu,” ucap Alin kemudian menjijit dan mencium leher Rey. Pria itu mendorong tubuh Alin. Terlihat begitu jelas lekukan dada Alin.
Akan tetapi ada satu hal yang membuat Rey tidak berani melakukan itu anak yang sedang dikandung oleh istrinya saat ini berjenis kelamin perempuan. Dan jika Rey melakukan hal itu, bisa saja anaknya akan jauh lebih parah lagi kelakuannya dengan dirinya. “Balik ke kamar kamu,”
“Rey,” lirih Alin kemudian air matanya jatuh. Rey tidak bisa melihat air mata itu jatuh membasahi pipi Alin.
Perlahan dia memegang pipi Alin dan mencium bibir perempuan itu dengan lembut. Kali ini Rey sudah kelewatan, dia sudah berani melakukan hal itu di saat istrinya seolah tidak memiliki kekurangan sedikitpun.
Alin membalas ciuman Rey kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jubah mandi itu dan langsung memotret apa yang sedang mereka lakukan. Bahkan itu adalah ciuman pertama Alin. Rey melakukannya dengan lembut hingga dalam jangka waktu beberapa menit, Rey terus memperdalam ciumannya dan terakhir menggigit bibir bawah Alin hingga perempuan itu mendorong tubuh Rey setelah berhasil mengambil gambar yang akan dikirimkan ke nomor Marwa.
“Maaf,” ucap Rey kemudian memeluk Alin. Rey tidak sadar bahwa dirinya sedang dijebak oleh Alin untuk kejadian adegan menangis tadi. Tidak sadar bahwa perempuan itu akan menghancurkan rumah tangganya nanti.