RICH MAN

RICH MAN
PEKA



Sebelum pergi memancing bersama dengan papa mertuanya. Reynand sibuk menggendong anaknya sambil ia suapi makan siang. Sementara istrinya masih sibuk untuk menyiapkan makan siang untuk dirinya dan juga papanya nanti. Mereka berdua berada di ruang tamu sambil menemani si kecil.


Reynand menurunkan Audri di karpet yang bulunya sangat tebal agar tidak takut ketika anaknya nanti tiba-tiba terjatuh. Mengingat Audri yang baru belajar duduk dan belum terlalu fasih, harus dijaga dengan baik karena takut nanti anaknya terjatuh kemudian kenapa-kenapa. Sedangkan di sana ada Papa mertuanya yang sedang memperbaiki pancingnya yang memasang kail dan juga yang lainnya. Memeriksa tali pancingnya juga di sana.


“Kamu nggak tidur siang dulu?” papa mertuanya bertanya tanpa melihat ke arahnya. Pria itu masih sibuk dengan pancingnya dan mencoba reel, serta dia melihat juga papa mertuanya memasang pelampung. “Bisa jadi nanti kita pulangnya malam. Kapan lagi kamu ada waktu kayak gini kan?”


Rey memang sadar jika dia memang terlalu sibuk untuk bekerja. Waktu bersama keluarga juga sangat jarang. Sekarang ditambah lagi ketika dia disuruh menemani papa mertuanya untuk memancing. Mungkin itu adalah hal yang sangat sederhana. Tapi, Rey tahu jika itu mungkin pasti akan sangat menyenangkan bagi papa mertuanya. Rey sendiri tidak pernah tahu bagaimana bahagianya papa mertuanya ketika dia meluangkan waktu seperti itu. papanya juga sering mengingatkan jika dia harus membagi waktunya dengan baik. rey sadari itu, jika dia selalu sibuk dengan pekerjaan di kantor.


Dia yang menyuapi anaknya kemudian bersandar, “Nggak, Pa. lagian nggak apa-apa kok,”


“Mengenai anak, jangan punya cuman satu ya!”


Papa mertuanya sudah beberapa kali mengingatkan mengenai anak. Rey tidak ingin terburu-buru menambah keturunan. Karena satu saja sudah membuatnya sulit meninggalkan rumah. Apalagi kalau dia menambah lagi dan justru membuat Marwa semakin tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan. mengingat juga mengenai anaknya yang sangat rewel jika hanya dengan satu orang. Maka anaknya akan menetap meminta digendong pada satu orang. Anaknya yang memang sering berubah-ubah keinginan yang kadan membuat Rey harus bersabar jika ingin menambah anak lagi.


Lagipula Rey dan Marwa pernah berdiskusi bahwa mereka menginginkan banyak anak. Rey juga sanggup jika dia harus membiayai semuanya selama dia masih sehat. Dia tidak ingin jika anaknya kesepian seperti Marwa yang tidak ada saudara sama sekali dan sangat kesepian ketika berada di rumah.


“Pa, aku nggak mau buru-buru. Kasihan Marwa, dia juga belum siap kayaknya,”


“Papa cuman ingetin aja kok. Lagian mau nambah kapanpun Papa bakalan dukung. Rey, Papa nggak mau ya jika kalian berdua bercerai dan korbanin Audri,”


Bodoh, itu adalah keinginannya dulu tidak peduli dengan masa depan anaknya dan juga istrinya. Yang dia tahu bahwa dia dikhianati saja waktu itu sudah sangat menyebalkan. Reynand sendiri sangat merasa takut kehilangan anak dan juga istrinya kali ini. Jika saja dia bisa menghapus ingatan itu dari ingatan istrinya. Apalagi ketika Marwa dengan begitu sabar menghadapi dirinya yang pernah menjadi brengsek tersebut.


Istrinya datang membawa minuman dingin dan juga camilan.


“Pa, ini aku buat puding, dan juga es kopi untuk Mas Rey. Karena kebiasaan kalau di rumah pas lagi libur gini dia paling suka minum es kopi,” Marwa menjelaskan meskipun papanya tidak bertanya. Karena terlihat dari tatapan matanya pria itu memang hendak ingin bertanya tapi ditahan dan memilih diam. Marwa peka dengan apa yang sebenarnya hendak ditanyakan oleh papanya karena di rumah ini papanya tidak minum kopi pada siang hari.


“Kamu kok masih muda minumnya kopi?”


“Hehehe, sesekali aja, Pa,”


“Kamu nggak ngerokok kan?”


“Mas Rey ngerokok?” Marwa tertawa mendengar pertanyaan papanya. Bagaimana Rey mau merokok jika mencium bau rokok saja suaminya sudah pusing. “Mana bisa sih dia, Pa,”


“Nggak usah. Nggak ada stamina nanti,”


“Siapa bilang, Pa? buktinya teman-teman aku tuh pada sehat,”


“Ngeyel dibilangin. Intinya Papa nggak mau kamu ngerokok, nggak suka,”


“Aku nggak bisa, Pa. tanya tuh sama anak Papa! Aku nggak ngerokok sama sekali. Kasihan juga Audri kalau aku ngerokok nantinya,”


“Nah ini baru bener,” papa mertuanya mengacungkan jempol untuknya. Rey memang kenyataannya bahwa dia tidak mau merokok karena merasa tidak baik untuk kesehatannya. Papanya juga melarangnya untuk merokok. Sedangkan dia juga memang sebenarnya tidak merokok.


Jika berada di rumah dan tidak pergi bekerja seperti sekarang ini. Mereka akan tidur siang bertiga. Sorenya barulah mereka akan jalan-jalan untuk mengajak si kecil mengenal dunia luar dan kadang mengajak Audri pergi ke rumah orang tuanya. Tapi, sudah lama dia tidak ke sana karena ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya.


Marwa mengambil mangkuk bubur yang sudah tandas oleh Audri kemudian membawanya ke dapur. Sedangkan Rey dan juga papanya menikmati puding yang dihidangkan oleh Marwa tadi. perempuan itu memang sangat pandai membuat makanan seperti ini. Bukan hanya puding yang ada di sana, ada beberapa kue kering juga yang disiapkan untuk mereka berdua.


Di rumah mertuanya Rey berusaha untuk bersikap biasa saja seperti biasanya ketika dia bersama dengan orang tuanya. Karena Marwa pernah memintanya untuk menjadi pria yang biasa saja dihadapan orang tua Marwa. Memang Rey akui jika soal ekonomi, papa mertuanya lebih berada dibandingkan dengan dirinya. Sekalipun dia akui jika apa yang dimiliki oleh papanya jauh lebih banyak. namun, tidak ada niat sedikitpun bagi Rey untuk menerima harta dari papanya. Karena dia ingin berjuang sendiri mendapatkan apa yang dia inginkan dan juga untuk membahagiakan istrinya.


“Mas, ke sini sebentar!”


Rey menoleh ketika melihat istrinya yang sedang berdiri di dekat pintu dapur. Sedangkan Papa mertuanya dia titipi Audri yang sedang duduk di sana. “Sebentar ya, Pa,”


“Iya udah temui istri kamu sana!”


Rey beranjak dari ruang tamu kemudian pergi ke arah dapur saat dirinya dipanggil oleh sang istri. “Kenapa?”


“Mas, aku boleh beli gamis nggak? Aku lihat kemarin ada yang bagus, modelnya itu polos kok, nggak ada bentuk-bentuk khusus yang kayak kamu nggak suka gitu,”


Yang dimaksud oleh Marwa adalah model yang banyak motif bunganya dan juga terlalu ketat. Rey tidak suka itu. karena selama ini istrinya tidak pernah berpakaian ketat, untuk celana pun hanya mengenakan celana tidur yang terbilang sangat longgar. Di rumah dia melepas cadarnya, karena tidak ada orang lain selain dirinya. Berbeda halnya ketika keluar rumah.


Dari tatapan matanya saja mereka sudah pasti bisa menilai, Marwa itu begitu cantik.


“Mas, boleh nggak?”


Rey tahu padahal istrinya punya toko yang cukup besar juga untuk pakaian muslim mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Tapi beginilah istrinya, dia memang lebih suka berbelanja ditempat lain. Karena tidak mau menggunakan barang dagangan sebagai barang pribadi. Takutnya dia bisa menghabiskan barang-barang bagus nantinya.


Rey juga tidak jarang membantu istrinya mencucikan gamis istrinya ketika berada di rumah. Apalagi urusan menytrika, dia mengambil bagian juga untuk itu.


“Audri juga aku beliin?”


“Boleh,”


“Kamu nggak bolehin ya? Kok jawabnya singkat gitu?” nada bicara Marwa merendah ketika Rey menjawab dengan sangat singkat.


“Nggak, bukannya gitu. Tapi aku lagi mikir aja sih, apa ada yang cocok untuk Audri?”


“Ada sih biasanya,”


“Nanti beliin ya! Pengin lihat dia pakai gamis,”


“Anak Mas itu pendek tahu kalau diberdiriin,”


Rey terkekeh. “Maka dari itu, lagi mikirin gimana lucunya dia. Ya udah kamu beliin aja buat dia,”


“Aku nanti pergi sama Mama waktu kamu sama Papa mancing,”


“Hmm, nyetir sendiri?”


“Iya, Mas,”


“Oke deh. Hati-hati ya bawa mobilnya,”


“Uangnya ada?”


“Ada, Mas,”


“Simpan aja uang belanja kamu. Buat beli gamisnya ambil kartu aku di dompet nanti. Beliin aku juga kaos biasa ya untuk ganti nanti di rumah,”


Marwa menyeringai ketika suaminya ini begitu peka dengan uang belanjanya yang aman karena Rey yang paham dengan kode yang diberikannya. “Berapa, Mas?”


“Tiga aja deh. Kaos yang biasa aja ya! Beliin pakaian buat Audri bukan cuman satu aja ya! Biar bisa ganti-ganti nanti ke rumah, Mama, nenek dan juga ke rumah Om Dimas,”


“Anaknya ngeborong banget,”


“Udah kamu juga beli aja, beliin Mama sama Papa sekalian. Buat makan malamnya nanti aku makan malam di luar,”


“Kamu mancingnya di mana sih?”


“Di kolam, Marwa. Tahu kan Papa kamu itu ngelawak banget. Aku pikir dipantai, tahu-tahu dia bilang di kolam. Ada perlombaan nanti sore sampai malam,”


Marwa terkekeh. “Itulah Papa, Mas. Paling gigih, kalau cuman di kolam kan kalian bisa pergi dari tadi pagi,”


“Aku juga mikirnya gitu. Barusan dia bilang waktu aku lagi suapin Audri, dia bilang kalau mancingnya itu di kolam,”


Marwa benar-benar tertawa karena kelakuan papanya. Rey sampai libur bekerja dan lombanya justru sore. Padahal bisa pergi ketika Rey pulang bekerja. Tapi alasannya adalah biar Rey bisa istirahat di rumah.


Pria itu hanya mengikuti apa pun yang dikatakan oleh papa mertuanya. Sekalipun itu sangat menyebalkan. Padahal dia bisa pergi ketika pulang bekerja. Tapi inilah mertuanya, selalu membuatnya merasa konyol. Namun, beruntunglah dia bisa akrab dengan papa mertuanya seperti ini. Apalagi ketika pergi ke suatu tempat.


 


 


Rey akui jika papa mertuanya memang sangat baik.