RICH MAN

RICH MAN
TERIMA KENYATAAN



Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Reynand berhenti sejenak disebuah toko bunga yang akan mengunjungi pemakaman adik perempuannya juga. Mengajak Audri sekaligus Marwa ke pemakaman Syakila. Reynand belum sempat mengajak istri dan juga anaknya ke pemakaman sang nenek yang ada di kampung halaman om Dimas yang sampai saat ini tidak pernah meninggalkan kampung halaman mamanya.


Sementara itu dia turun sendirian untuk membeli bunga. Rey juga akan membelikan bunga untuk istrinya. Jarang-jarang dia memberikan bunga kepada sang istri. Mengingat jika Marwa yang selalu sibuk di rumah, dan juga dirinya yang terlalu sibuk bekerja. Waktu untuk berdua pun sangat jarang. Tidak ada salahnya jika dia memberikan bunga juga kepada istri tercintanya. Rey membawa dua buket bunga yang kemudian diletakkan dibelakang.


“Beli dua, Mas?”


Rey tersenyum kepada istrinya begitu istrinya bertanya demikian. Dia tahu bahwa selama ini dia tidak pernah ada waktu untuk bermesraan. “Satunya buat kamu,”


Marwa tersenyum begitu Rey berkata jika dia membelikan untuk istrinya. Memang bunga itu untuk istrinya karena selama ini istrinya yang sudah dengan sabar menemani dan juga merawat anaknya dengan sangat baik. sedangkan dia yang terlalu sibuk bekerja sampai lupa untuk memberikan kado terindah untuk sang istri.


“Beneran kan, Mas?”


“Iya, kenapa juga Mas harus bohong?”


“Buat Ashira?”


Rey sampai lupa jika mereka akan ke rumah sakit hari ini untuk menjenguk anaknya Alvin. Pria itu sudah lama bekerja pada dirinya dan baru kali ini Alvin meminjam uang untuk biaya pengobatan anaknya. Rey akan memastikan jika anak temannya itu dirawat dengan baik. Dia ingin jika Ashira mendapat perawatan khusus dan ditangani dengan baik.


Karena sudah mengingat apa yang menjadi tujuan mereka kali ini. Rey kembali lagi untuk membeli bunga yang akan diberikan untuk Ashira nanti di rumah sakit. Dia juga tidak akan lupa untuk membeli beberapa makanan untuk Ashira di rumah sakit nanti.


“Aku sampai lupa,” kata Rey sambil memasukkan bunga ke dalam dan ditaruhnya dibelakang.


Rey menoleh sejenak ketika melihat anaknya yang sedang makan sosis disuapi oleh Marwa. Perempuan itu menekan-nekan sosis tersebut agar menjadi lebih lunak karena tidak mungkin Audri yang baru punya gigi beberapa mengunyah makanan tersebut. Anaknya makan dengan lahap, “Makan terus nih ndutnya, Papa.” Rey begitu gemas dengan anaknya yang sudah tumbuh besar seperti sekarang ini. Anaknya tertawa begitu Rey memainkan dagu anaknya. Memang dia yang begitu dekat dengan anaknya. Ditambah lagi anaknya yang memang sangat cerita. “Insya Allah akan sehat terus anaknya, Papa. Semoga Papa dan Mama juga sehat terus biar bisa dampingi kesayangan Papa ini ke manapun mau pergi kelak. Biar Papa juga bisa rajin kerjanya, Mama sehat dan tambah cantik,” kata Rey ketika melihat istrinya yang masih sibuk menyuapi anaknya.


“Aamiin, semoga Mama dan Papa bisa rawat dan bisa pertanggungjawabkan didikannya kelak,” jawab istrinya yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh Reynand.


Rey kemudian melajukan mobilnya dengan perlahan ke rumah sakit yang di mana dia diberitahukan oleh Alvin kemarin.


Selama beberapa menit diperjalanan, mereka tiba di rumah sakit. Mereka pergi ke ruang inap Ashira dirawat.


Begitu tiba di sana, dia melihat anak itu sedang tidur. Rey mengucap salam dan langsung dipersilakan duduk oleh mertua Alvin yang ada di sana sambil menunggu Ashira juga. Mereka bergiliran menunggu anak kecil yang sedang tak berdaya diatas brankar.


Reynand mengusap kepala anak itu, “Dia nggak pernah kesakitan lagi?”


“Semalam dia nangis karena bilang sakit banget,”


“Semoga dia segera sembuh dan bisa main dengan teman-temannya,” kata Rey yang kemudian begitu simpati melihat anak temannya yang sedang tidur itu.


Rey tahu sendiri bagaimana khawatirnya orang tua Alvin dan juga mertuanya. Apalagi anak itu masih terlalu kecil untuk merasakan sakit yang teramat luar biasa itu. Sebenarnya Rey ingin melupakan di mana kejadian kehilangan itu pernah begitu merenggut bahagianya dulu. Tapi dia tidak bisa mengeluh dengan keadaan itu. karena dia yang tidak mengerti apa-apa waktu itu.


“Aku keluar sebentar ya,”


Rey keluar untuk mengurus biaya administrasi mengenai apa yang diceritakan oleh Alvin kemarin. Dia tidak ingin jika Alvin merasakan kehilangan seperti apa yang dia rasakan belasan tahun yang lalu. Sungguh, sekalipun itu sangat lama, tapi rasanya dia belum bisa melupakan kejadian itu.


Harapannya adalah agar Ashira mendapatkan perawatan yang baik. begitu dia selesai mengurus administrasi barusan. Sejenak dia melangkah ke salah satu ruangan di mana ruangan itu dulu pernah membuatnya kehilangan adiknya.


Rey berdiri di depan pintu, ruangan itu kosong.


Baru saja Rey hendak masuk lagi ke dalam ruangan itu, tangannya digenggam oleh seseorang. Begitu dia berbalik, ada Marwa yang menggenggam tangannya. Ya, istrinya memang tahu mengenai adiknya yang meninggal itu. sama halnya ketika dulu Amanda dirawat di rumah sakit ini. Rey juga masuk ke dalam ruangan ini sendirian.


“Mas, ayo keluar!” dia belum sempat masuk. Tapi istrinya justru menahan dia agar tidak masuk lagi. “Mas, aku nggak mau lagi kamu nanti malah nggak bisa maafin diri kamu sendiri seperti dulu. Ingat kan kalau Mama bilang kamu nggak boleh kayak gini terus?”


Reynand memang ingat dengan perintah mamanya yang mengatakan bahwa dia tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan itu. “Hey, ayo keluar!”


Dia berdiri diambang pintu dan melihat bayangan masa lalu ketika dia berdiri dibelakang adiknya. Di sana, papanya duduk sambil memangku Syakila dulu. Terlihat dengan jelas kenangannya seperti itu.


“Mas, ayo!”


“Mas,” panggil Marwa perlahan.


“Nggak apa-apa, Mas nggak apa-apa. Sumpah Mas enggak kenapa-kenapa,” Marwa menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti langkah ke mana Rey pergi. “Dulu dia dirawat di sini, dia main sama aku, dia dulu bilang pengin punya kakak,”


Rey melihat ke arah jendela kamar tersebut. Melihat bayangan Syakila di sana. sudah belasan tahun adiknya pergi. Tapi tetap saja dia tidak bisa melupakan dengan baik kejadian itu. dia hanya bisa mengingat kejadian yang pernah menimpanya itu. Kehilangan pasti sangat menyakitkan.


Di sana dia melihat bayangan Syakila yang dulu berdiri di dekat jendela dan mengatakan bahwa dia pasti sembuh untuk bermain dengan kakaknya. Sampai pada akhirnya ketika mereka berdua saling mengenal satu sama lain, justru anak itu pergi untuk selamanya. Jika saja dia masih hidup, pasti mereka berdua akan akrab, sekalipun berbeda mama. Tapi karena Rey sudah terlanjur sayang kepada adiknya waktu itu.


Rasa sesak sudah mengisi ruang hati Rey yang kosong dengan rasa sakit karena rindu. Bukan dia tidak bisa menerima kenyataan pedih itu. dia hanya merindukan sosok adik perempuan yang pertama kali memanggilnya dengan panggilan kakak. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan bagaimana dulu dia kehilangan.


“Kamu masuk ke ruangan Ashira! Aku butuh waktu,”


Rey ingat jika mantan papa tirinya masih bekerja di sini. Rey keluar dari ruangan itu dan menutup pintu secara perlahan. Dia mencari keberadaan pria itu. baru saja dia hendak menanyakan. “Rey!” dia dipanggil oleh pria tersebut.


“Om,” balas Reynand yang kemudian mendekati pria itu. ya, Rey memang pernah punya masa lalu yang begitu menyakitkan dengan pria ini. Tapi tidak benci sama sekali, waktu itu pria inilah yang merawat Syakila juga. Kali ini dia ingin meminta tolong jika Ashira harus dirawat dengan baik oleh Teddy.


“Kamu ngapain di sini?”


“Aku jengukin anak teman aku, Om. Apa kabar?”


“Teman? Yang mana? kabar Om baik kok,”


“Ada, namanya Ashira. Dia dirawat di sini,”


Oh, iya kemarin dia dipindahkan. Itu anak teman kamu?”


“Iya, Om,” jawab Rey dengan singkat.


Teddy menganggukkan kepalanya. “Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak lagi ya! Jangan mikirin yang dulu!” peringat mantan papa tirinya itu.


Rey mengerti dengan ucapan dari pria tersebut bahwa dia tidak boleh mengingat lagi dengan rasa sakit yang begitu mendalam. Rey pernah kehilangan perempuan yang begitu dia sayangi. Yang harusnya dia lindungi juga, justru tuhan mengambil adiknya kemudian dia tidak bertemu lagi dengan adik perempuannya itu.


Sejenak dia menghela napas. “Om nggak mau kamu seperti dulu lagi. Ngomong-ngomong kamu ajak istri kamu?”


“Iya, dia ada di ruangan Ashira. Anak aku juga,”


“Ya udah, kamu segera pulang ya! Jangan bawa anak kamu ke sini. Siapa tahu dia alergi bau obat nanti, di sini bau obat-obatan menyengat banget. Jadi kamu ajak dia pulang dengan segera ya! Takutnya dia kayak anak Om yang nggak bisa cium bau obat,”


“Om udah nikah lagi kan ya?”


“Iya, Om juga kan punya anak angkat juga. Ohya, dia anak kandung Om itu nggak bisa cium bau obat. Memang langka sih, tapi mau bagaimana lagi. Papanya dokter, dia malah nggak bisa cium bau obat-obatan,”


Rey padahal ingin bicara panjang dengan pria itu. “Aku mau ngomong, Om,”


“Kamu pasti minta anak itu dijaga dengan baik, kan? Pasti dijaga kok sekalipun kamu nggak bilang begitu, sayang,”


 


 


Rey menganggukkan kepalanya dan langsung tersenyum. Dia berpamitan kepada pria itu dan memilih mengajak istri dan juga anaknya keluar dari rumah sakit itu. Padahal tadi niatnya dia mau ke pemakaman terlebih dahulu. Tapi karena Rey bilang jika dia ingin ke rumah sakit dulu. Kemudian Marwa pasti hanya akan menuruti apa yang dikatakan oleh Rey.