
Seharusnya mereka berdua bertemu kemudian membangun rumah tangga yang bahagia seperti yang orang lain lakukan, akan tetapi justru itu membuat Marwa sedikit terkejut setelah mengetahui identitas suaminya yang tidak lain adalah pria yang dia gantung hubungannya waktu itu. Sulit untuk menerima, karena waktu seseorang melamarnya, dia tidak menerima lamaran itu dengan alasan bahwa dia belum siap untuk menikah. Tapi entah mengapa pilihannya pada Reynand waktu itu sangat meyakinkan dirinya untuk menerima lamaran itu.
Di kamar hotel, di sana ada Clara yang tengah sibuk dengan tugas kuliahnya di atas ranjang. Perempuan itu memang izin untuk tidak diganggu beberapa saat, Marwa pun mengerti dengan dirinya yang hanya ditemani oleh perempuan itu.
"Kak, kenapa kakak dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan? Aku pusing loh lihatnya," protes Clara yang memegang kepalanya karena sudah sangat pusing melihat Marwa yang sedari tadi bolak-balik seperti orang kebingungan.
"Ah-"
"-Kak Marwa mikirin kak Rey?" potong Clara yang waktu itu langsung menebak isi kepala Marwa yang tidak bisa di sangkal lagi oleh perempuan itu.
Marwa terdiam, sebetulnya dia ingin sekali menjenguk suaminya yang sedang sakit seperti yang diberitahukan oleh Om Dimas. Akan tetapi dia masih belum siap untuk bertemu dengan Rey dengan sosok Marwa atau Bintang yang diketahui oleh suaminya itu.
Berat memang, antara dia merindukan pria itu atau karena dia khawatir tentang kesehatan pria itu yang beberapa hari terbaring di kamar rumah sang Oma.
"Kakak mau dengar cerita enggak?" tawar Clara yang langsung menutup laptopnya waktu itu.
Marwa melirik ke arah Clara dan mendekati perempuan itu dengan sedikit keraguan karena malu mengakui perasaannya sendiri. Marwa sendiri memang ingin sekali ke sana, sekadar melihat keadaan Rey. Tetapi hatinya masih belum mampu untuk melakukan itu. Seolah dilarang oleh hatinya sendiri untuk melakukan hal tersebut.
Nalar, memang terkadang lebih mudah memahami hal itu dibandingkan hati.
Clara menggeleng sambil berdecak melihat tingkah istri kakak sepupunya itu, dia langsung turun dari atas ranjang dan menarik Marwa ke ranjang untuk menceritakan tentang Rey sedari dulu yang selalu curhat mengenai Bintang pada Clara. Yang saat ini Clara tahu sendiri bahwa perempuan yang selama ini diceritakan itu berada di depan matanya. Sungguh menjadi suatu kebahagiaan bagi Clara bertemu langsung dengan perempuan yang sudah menjadi topik pembicaraan mereka selama bertahun-tahun. Dan itu tidak pernah bosan dia dengar keluar dari mulut kakak sepupunya, mengingat bahwa Rey memang seringkali mengatakan bahwa dia akan tetap menunggu Bintang dan meminta penjelasan dari perempuan yang sudah meninggalkannya itu.
Marwa yang merasa malu karena ditarik oleh Clara, dia pun menurut kepada adik sepupu dari suaminya itu dan ikut duduk di atas ranjang. Jika bersama dengan sesama perempuannya, baik dari keluarga suaminya. Dia mau membuka cadarnya, namun jika itu adalah orang asing, walaupun perempuan. Marwa tetap mempertahankan itu.
"Kakak mau dengar cerita menarik enggak sih? Dari tadi kakak tuh kayak orang kebingungan,"
Marwa menggigit bibir bawahnya sambil menahan diri untuk tidak menanyakan perihal kabar suaminya dari perempuan itu.
"Clara, Hp kamu mana?"
Clara memiringkan kepalanya sambil mengangkat alisnya curiga dengan gerak-gerik kakak sepupunya yang bahkan menanyakan ponselnya.
"Kenapa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Telpon kakak kamu ya!" ucapnya pelan. Dia ingin sekali tahu mengenai kabar suaminya, walaupun berat. Tetapi dia berusaha untuk memberanikan diri untuk bertanya perihal Rey kepada Clara.
Tebakan Clara benar, bahwa istri kakak sepupunya itu memang merindukan suaminya. Clara pun langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
"Kamu enggak sibuk, kan?" tanya Marwa memastikan.
Clara terdiam sejenak. "Enggak, tugasnya udah kelar. Udah di kirim juga," balas Clara sambil fokus pada ponselnya.
Clara menghubungi Rey karena permintaan Marwa. Pria itu pun menjawab telepon dari Clara.
"Kak," panggil Clara dan langsung membuat Marwa menghindar.
"Kak, aku pindah ke mode video call ya. Tapi aku enggak aktifin kamera aku," ucap Clara pelan.
"Kenapa?"
"Hehehe, ini lagi pakai baju pendek kak, jadi kakak kan enggak suka aku pakai kaos pendek gitu. Jadi aku tutup aja, ya," ucap Clara bohong terhadap kakak sepupunya itu. Marwa melirik ke arah adik sepupu suaminya dan mendekat setelah Clara mengayunkan tangannnya agar dia mau mendekati perempuan itu.
"Kakak jangan lupa minum obatnya! Katanya pengin cari Kak Marwa," ucap Clara pelan.
Pria dari balik layar itu tersenyum. "Iya, kakak sudah minum obatnya kok. Mungkin besok sudah lebih baik lagi, infusnya juga sudah dilepas kok. Mama kamu ngamuk kalau kakak enggak makan,"
"Kak Rey masih mau cari Kak Marwa, kan?"
"Clara, hal itu tidak perlu lagi kamu tanyain. Kakak bakalan tetap cari dia, mau dia di mana pun juga. Kakak bakalan tetap cari, kakak enggak mau dia hilang untuk kedua kalinya, sudah cukup kakak ngerasain kehilangan dia untuk pertama kalinya waktu itu dan kakak enggak mau lagi hal itu terulang lagi," ucap Rey kemudian diam sejenak, "Kakak sangat mencintai dia, Clara. Mau sampai kapan pun, kakak bakalan tetap ingin dia,"
Clara terdiam sambil terus mendengarkan ceritanya kakak sepupunya,.
"Hilangnya dia untuk pertama kalinya sudah membuat kakak menjadi pria yang benar-benar lemah. Dan setelah tahu kalau ternyata dia adalah Bintang, itu semakin membuat kakak menjadi sakit hati. Tapi, kakak lebih percaya bahwa dia jauh lebih sakit ketika tidak tahu bahwa yang kakak maksud waktu itu adalah Bintang, dan tidak lain adalah dia yang dulu, mungkin ini memang terlambat untuk mengatakan hal itu, tetapi kakak benar-benar sayang sama dia. entah apa pun alasannya, Clara. Kakak akan tetap mencintai dia, walaupun dia adalah Marwa. Bukan Bintang seperti yang dulu, perempuan yang selalu berhasil membuat kakak rindu, dan lagi berhasil membuat kakak menjadi pria lemah seperti sekarang ini,"
"Gimana perasaan kakak waktu tahu dia adalah Bintang?" tanya Clara, Marwa yang waktu itu juga penasaran dengan jawaban Rey, tetap diam untuk menunggu jawaban dari suaminya. Sakit memang, sama halnya dengan Marwa yang sakit hati ketika mengetahui tentang suaminya itu.
"Sakit banget, ngerasa dibohongi. tapi satu sisi, kakak begitu bahagia karena orang yang selama ini kakak cari adalah orang yang sudah buat kakak nyaman, terlebih ketika memeluk dia, itu rasanya nyaman. Dan seandainya dia pergi lagi, kakak enggak sanggup untuk memeluk diri sendiri seperti dulu lagi. Intinya, kakak mau memperbaiki, membantu dia mengingat apa yang hilang dari memorinya. Kakak juga sadar bahwa kakak dibenci sama orang tua dia, tapi ini sudah menjadi suatu takdir bukan? Dia enggak datang, terus kakak nunggu delapan tahun lebih," Rey menggantungkan ucapannya. "Dan besok, adalah hari di mana tahun ke-9 dia pergi ninggalin kakak,"
"Kakak mau datang?"
"Hmm, tentu saja. Entah dia mau datang atau enggak, kakak bakalan tetap datang. Kalaupun tidak, kakak sudah siap. Tapi kalau untuk menerima dia hilang lagi dari hidup kakak, rasanya kakak enggak sanggup lagi, Clara."
Aku tidak pernah hilang
sama sekali tidak pernah.
Hanya sedikit memori bahagia denganmu yang sedikit hilang
Mengingatnya begitu sulit
Rey,
begitu banyak misteri yang belum mampu kita pecahkan
Tentang perasaan yang dulu belum usai
Mungkin kita bisa menatanya kembali
Rey,
Mungkin kita bertemu dengan terpaksa
Menjalaninya dengan belajar menerima
Kemudian ditengah-tengah kita menghadapi begitu panjang masalah yang masih menjadi suatu tanya
Semoga Tuhan mempertemukan kita dan mengakhiri semua duka itu menjadi suati bahagia
dan, aku menantikan hari di mana hati kita menjadi satu untuk bertemu di pelukan yang membuat kita belajar lagi dari awal.
--Marwatul Aira