RICH MAN

RICH MAN
MENJAGA



Dengan perasaan yang sangat berat. Nagita merasa


hatinya sakit saat berpisah dengan Rey, putra yang sudah dirawatnya penuh kasih


sayang semenjak lahir. Walau tidak mendapat kebahagiaan seperti yang diimpikan.


Tetapi kini dengan permintaan Dimas, ia hanya perlu belajar menjadi lebih baik


lagi.


“Nagita tinggallah di sini dengan baik. Satu hal


yang harus kamu ingat, biaya menyewa apartemen ini tidak pernah murah. Dimas


dan aku menguras isi tabunganku demi kamu. Jangan lupa untuk membayarnya!”


“Aku pasti akan membayarnya suatu saat nanti, Damar.


Terima kasih, nanti kalau aku sudah bekerja, aku pasti akan mengganti seluruh


biaya selama aku tinggal di Jepang,”


“Jarak kamu ke kampus lebih dekat, tetapi


bagaimanapun juga kamu harus pulang tepat waktu. Jangan sering mampir, hidup di


sini itu berat. Kamu harus mengurus diri kamu sendiri, bertemanlah dengan baik.


Dan ingat tata cara komunikasi kita itu sangatlah berbeda,”


“Iya. Sebelumnya aku berterima kasih sama kamu,


Damar.”


“Oke, jangan lupa bayar hutangmu sama aku,”


“Aku pasti bayar,”


“Aku mau kamu bayar dengan ini,” Nagita terdiam saat


Damar memegang kedua bahunya. Ia takut terjadi sesuatu dengan dirinya dan


Damar. “Bayar semua hutangmu, dengan cara kamu harus menjadi perempuan yang


sangat hebat Nagita,”


Nagita langsung tersenyum saat itu juga, ia


menganggukkan kepalanya saat Damar meyakinkan dirinya bahwa ia harus baik-baik


saja dalam segala hal di sana.


“Nagita, aku di sini hanya beberapa hari. Karena


brengsek mantan suamimu itu pasti tidak akan berhenti untuk menghubungiku,”


“Kenapa kamu begitu berjuang untuk aku, Damar?”


“Karena Rey. Dan demi kebahagiaanmu,”


“Tapi ini berlebihan,”


“Apanya yang berlebihan? Aku bahagia melihat kamu


seperti ini, mau berjuang dan tidak bergantung sama orang. Aku sepakat dengan


Dimas untuk patungan biaya pendidikan kamu, karena nggak mungkin Dimas aja kan,


karena dia itu punya tanggung jawab. Dan selagi aku belum punya tanggung jawab,


kamu harus baik-baik di sini,”


“Bukannya kamu punya adik yang harus di biayai?”


“Kunyuk itu tidak pernah sama sekali menerima uang


dariku semenjak dia lulus SMA, dia dapat beasiswa, Nagita. Dia nggak pernah


nyusahin. Kalau dia minta uang juga pasti aku kasih ke dia kok,”


“Kamu ikhlas kan?”


“Aku akan ikhlas jika itu membuat kamu bahagia,


Nagita. Aku cuman pengin kamu sama Rey itu bahagia, nggak pernah nangis lagi.


Buktiin bahwa perempuan yang dicampakkan itu nggak berhak di sakiti,”


Nagita tertegun dengan ucapan Damar. Mereka terdiam


beberapa saat di dalam apartemen dan saling tatap.


“Nagita, janji sama aku, bahwa kamu nggak bakalan


balik sama, Azka!”


Nagita langsung mengangguk. “Kamu nggak boleh


ngerasain hal yang sangat menderita lagi. Coba lihat ke Dimas, dia itu selalu


saja bersedih melihat kamu di sakiti, sama kayak aku juga, aku juga bakalan


sedih kalau perempuan sebaik kamu harus di sakiti berkali-kali,”


“Aku akan berusaha sebaik mungkin di sini, Damar.”


“Baiklah, kamu istirahat ya. Ini sudah hampir malam,


aku carikan kamu makanan. Udah gitu aku pergi,”


“Kamu nggak nginap di sini?”


“Aku ke tempat, Luna,”


“Luna itu siapa?”


“Luna ya pacar aku, dia juga di sini,”


“Heh, dia kuliah di sini?”


“Hmmm iya, dia di sini. Tapi nggak di sekitaran sini


sih, dia ada di Shibuya,”


“Dekat?”


“Dekat kok. Nggak bakalan lama,”


“Kamu tidur di tempat dia?”


“Iya, sekalian mau buat adik,” Damar menyeringai,


Nagita langsung mendorong tubuh Damar menjauh. “Bercanda, Nagita. Aku cuman mau


kunjungi dia, udah lama banget sih nggak ketemu,”


“Ngasih kejutan gitu?”


“Iya. Dia udah nunggu juga sih, aku udah kasih tahu


dia,”


 


 


“Ya udah aku pergi cari makan dulu.  Kamu di sini baik-baik, dan nanti aku akan


kenalin kamu sama dia,”


“Kamu bilang waktu itu dia di Amerika,”


“Bohong, dia di sini kok. Sama seseorang,”


“Aku ngerti,”


“Semoga kamu ketemu sama dia,”


“Iya udah ih, aku mau beres-beres.”


Damar pergi meninggalkannya sendirian di apartemen.


Nagita langsung membereskan pakaiannya dan memasukkan barang-barangnya. Tak


berseleang lama kemudian, Nagita merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang


sangat berbeda dari tempat tinggalnya. Tetapi itu sangatlah nyaman, dan


apartemen tempat tinggalnya kini sangatlah besar dan nyaman. Nagita yakin pasti


Damar dan juga kakaknya mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk kenyamannya


berada di sini.


Nagita mandi dan berpakaian rapi. Suasana baru di


tempat tinggal yang baru. Bahkan ia belum menguasai bahasa jepang sama sekali,


dan nanti saat Damar pergi, ia akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang


lain. Bahasa yang ia kuasai adalah bahasa Inggris, tetapi tidak semua orang


bisa menggunakan bahasa inggris, meski itu adalah bahasa umum. Ia mendengar


namanya di panggil. Nagita langsung beranjak dari tempat duduknya saat


mengeringkan rambutnya.


“Loh, udah balik?”


“Nih makanannya. Ohya Nagita, jangan bawa cowok ke


apartemen kamu, awas. Aku akan pantau kamu,”


“Idih, aku mau ngapain juga bawa cowok, Mar?”


“Barang kali mau pacaran,”


“Nggak,” ucapnya sambil meraih kantong plastik yang


berisi makanan.


“Aku pergi ya,”


“Istirahat dulu, Mar,”


“Nggak usah. Aku berangkat Nagita, besok aku kemari


lagi,”


“Oke, hati-hati ya!”


Damar langsung melambaikan tangannya. Sebelum


berangkat ke Jepang, Damar membelikannya buku untuk memudahkan belajar bahasa


Jepang, dan lagi ia akan di kursuskan untuk menguasai bahasa sebelum menjalani


pendidikannya. Pilihan yang tepat adalah Universitas Tokyo, sebagai peremuan


yang akan mengambil jurusan seni. Tentu saja bagi Nagita ia harus pandai-pandai


bersosialisasi nantinya dan berusaha untuk tidak menyusahkan Dimas dan juga


Damar.


*****


Setibanya di apartemen Luna. Ia mengetuk pintu kamar


kekasihnya. Perempuan yang sudah lama dipacarinya itu lebih memilih untuk tetap


menjalani pendidikan. Dan Damar sangat mendukung kekasihnya untuk mengejar


cita-cita.


“Damar.”


Perempuan itu langsung memeluknya dengan sangat


erat. “Ayo masuk!”


“Kamu nggak sibuk?”


“Nggak, Mar. Kamu nginap kan?”


“Tentu saja, aku sangat merindukanmu,”


“Nagita mana?”


“Hmmm sudah di apartemennya. Ngomong-ngomong jangan


beritahu adikku kalau Nagita di sini,”


“Kenapa?”


“Biar mereka ketemu tanpa sengaja nantinya, jangan


khawatir, aku sengaja mencari tempat yang dekat untuk dia. Karena sebelumnya


dia tidak pernah ke Jepang. Jadi harus kursus dulu untuk kelas bahasa. Ohya dia


di mana?”


“Di kamarnya. Adikmu itu loh sayang, dia kenapa


dingin sekali sih?”


“Itu memang wataknya dia,”


“Ngomong-ngomong dia sering cerita tentang Nagita,”


“Itulah kenapa aku nggak mau kasih tahu dia, biar


dia bisa ketemu langsung nantinya,”


“Kamu sama adik kamu nggak ada bedanya ya. Selalu


saja baik sama orang,”


“Luna, bagaimanapun aku tidur sama perempuan lain.


Gimanapun juga aku bantuin perempuan lain, ingat aku tetap sayangnya sama kamu,


nungguin kamu pulang. Bahkan aku nggak mau kamu rusak, nggak mau kamu itu


ngecewain aku. Aku tahu aku memang brengsek, sering gonta-ganti pasangan di


sana. Tidur sana sini sama perempuan, tapi aku manusia biasa yang kadang butuh pelampiasan


kebutuhan biologis,”


“Iya. Aku percaya sama kamu,” perempuan itu


bergelantungan di lehernya. Setelah itu Damar langsung mengajak kekasihnya


untuk istirahat. Begitu banyak hal yang ingin sekali ia ceritakan.


“Luna, kamu masih bisa jaga diri?”


“Tentu saja, Damar. Aku masih utuh, bahkan  kamu yang bakalan pertama nantinya,”


“Lun, aku bukannya tetap kamu perawan loh ya. Tapi


sebrengsek apa pun aku, tetap ingin yang terbaik bukan? Dan kalau sayang, mana


mau aku ngerusak kamu,”


“Iya, aku percaya kok,”


“Aku capek. Mau istirahat,”


Damar langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Di


susul oleh Luna dan ia langsung memeluk perempuan kesayangannya itu. Damar


benar, sebrengsek apa pun seorang pria, pasti menginginkan yang terbaik. Tidak


mungkin menginginkan yang sudah terlanjur merusak diri mereka. Tetapi Nagita,


itu bukan suatu penolakan baginya. Karena perempuan itu adalah korban dari


sikap kurang ajar Azka yang waktu itu merusak perempuan yang sama sekali tidak tahu


apa-apa.


Niatnya membawa Nagita ke jepang adalah, karena


Jepang terkenal dengan seninya. Dan itulah yang membuat Azka tertarik. Terlebih


bahwa adik dan juga Luna berada di sana.


“Damar, yakin sama aku?”


“Bagaimanapun juga aku selalu yakin sama kamu, Luna.


Setelah pulang dari sini, aku sudah janji sama kamu kalau kita bakalan nikah,”


“Hmmm, bagaimana kalau kita tidak di restui?”


“Jangan khawatir. Aku akan perjuangin kamu sampai


kita dapat restu,”


“Damar,” perempuan itu menatap mata Damar begitu


“Ada apa?”


“Aku pengin cepat-cepat lulus,”


“Sabar, sebentar lagi lulus kok. Aku bakalan kemari


waktu kamu wisuda nanti, sekaligus melamar kamu,”


“Janji?”


“Iya. Aku janji sama kamu,”


Perempuan itu mengelus dada Damar. Seketika ia


merasa bahwa dirinya menegang dengan sikap Luna yang seperti itu. Dari dulu ia


bahkan tidak pernah berani sekadar mencium Luna. Karena ia sungguh mencintai


perempuan itu, baginya menjaga kekasihnya adalah hal yang paling berharga. Saat


itu juga Luna naik ke atas perutnya.


“Apa harus aku lakukan ini biar kamu berhenti sama


perempuan-perempuan malammu itu? Berhenti tidur sama jalangmu itu? Damar, aku


cemburu saat perempuan lain kamu peluk. Kamu cium, bahkan kamu belai saat aku


nggak ada, aku ini apa buat kamu?” Damar merasakan nyeri dihatinya. Selama ini


Luna selaluu mengerti perihal itu. Namun saat ini sikap Luna sedikit lebih


agresif. Bahkan air mata Luna jatuh mengenai dadanya. “Ayo Damar, lakukan!


Lakukan jika itu yang bisa buat kamu berhenti, apa artinya aku jaga diri selama


ini? Kalau kamu sendiri terus saja tidur sama perempuan-perempuan itu. Kamu


bilang semenjak Azka menghamili Nagita, kamu berhenti. Tapi kenyataannya kamu


tetap nggak bisa berhenti juga sama sikap brengsek kamu itu, apa harus aku


tetap jaga diri, sedangkan kamu di sana entah sudah berapa perempuan yang kamu


tiduri?”


Damar memegang kedua tangan Luna dan langsung


bangun. Kini posisinya terbalik, Luna yang berada di bawahnya. Ia takut bahwa


akan melakukan hal yang keterlaluan terhadap pujaan hatinya.


“Luna, jangan lakukan ini. Aku tahu kamu marah,”


“Apa artinya aku selama ini buat kamu?”


“Luna, kamu hanya salah paham. Aku begini karena


nggak mau kamu rusak,”


“Apa artinya rusak sama nggak?” perempuan itu


terisak dan memberontak. Tangannya bahkan berusaha dilepaskan. Tetapi Damar


tetap menggenggam erat tangan Luna. Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Damar


saat Luna mengabaikannya.


“Cukup Damar,”


“Cukup apanya?”


“Aku capek,”


“Luna, lihat aku!” namun Luna tetap membuang


wajahnya.


“Yakin kamu kita lakuin hal itu?”


“Asal kamu berhenti, berhenti tidur sama jalangmu,”


“Luna, aku bukannya menolak. Aku bukannya tidak


tertarik sama tubuh kamu, tapi satu hal. Di sini, aku ingin kamu baik-baik


saja,”


“Beberapa bulan lagi kamu wisuda,”


“Dua bulan lagi, Damar. Ingat dua bulan,”


“Kamu sudah menyelesaikan segalanya?”


“Sudah.”


“Ayo pulang ke Indonesia, aku akan melamarmu,”


“Damar?” perempuan itu menoleh dengan air mata yang


sudah membanjiri matanya.


“Jangan lagi kamu buktikan perasaanmu dengan cara


kotor seperti ini. Aku hanya ingin kita menikah, mencintai kamu. Memiliki anak,


aku sadar bahwa selama ini aku brengsek. Permainkan banyak perempuan, tapi


ingat aku selalu jaga kamu,”


“Kamu nggak terpaksa?”


“Aku cuman pengin kamu itu kuliah, selesaikan


semuanya. Bukan berarti juga kamu boleh bekerja atau bagaimana. Tapi aku ingat


bahwa Nagita dulu sangat ingin menjadi dokter seperti kamu, tetapi petaka


menghampirinya, hamil di luar nikah. Kamu mau itu terjadi? Tentu saja aku ingin


dapat anak baik-baik dari hasil pernikahan kita. Aku nggak mau jadi orang yang


ngerusak masa depan kamu. Aku memang tidur sama perempuan lain di sana, tetapi


itu adalah pekerjaan mereka. Kamu itu beda, jangan samakan diri kamu sama


mereka. Kadang mereka itu hanya mencari kesenangan,”


“Tapi kenapa kamu nggak bisa tahan?”


“Karena aku selalu bayangin itu adalah kamu,”


“Eh?” raut wajah Luna seketika berubah.


“Kamu nggak ada kegiatan kan? Kita pulang, aku


akan  lamar kamu. Kita percepat,”


Luna mengangguk. Damar meraih dagu kekasihnya, ia


mencium Luna begitu lembut, bahkan hingga napas perempuan itu begitu berat, ia


baru melepaskannya.


“Luna, jangan lakukan lebih, oke!”


“Hmmm. Damar, ciuman pertama aku,”


“Aku tahu, ingat waktu kita baru jadian?”


“Hmm, ingat,”


“Itu waktu kamu masih sekolah. Kamu dekat dengan adik


aku, terus udah gitu kamu sering main ke rumah. Entah kenapa aku tertariknya


sama kamu dari sekian banyak temannya adik aku,”


“Itu kelas berapa? Aku lupa,”


“Waktu kamu kelas dua SMA,” Damar berusaha untuk


menghibur Luna di sela-sela pertengkaran mereka tadi.


“Janji mau pulang?”


“Iya, Mar,”


“Nikah. Terus lahirin anak-anak aku,”


“Iya, aku mau,”


Damar langsung berbaring di samping Luna dan memeluk


kekasihnya. Walaupun sebenarnya ia sangat menginginkan hal yang ditawarkan oleh


Luna. Tetapi Damar tetap tidak bisa melakukannya. Kecintaannya terhadap


perempuan itu mampu membuka matanya, bahwa mencintai itu berarti harus menjaga.


“Kamu kenal Viona?”


“Hmmm, Viona pacarnya si Dimas kalau nggak salah,”


“Kamu kenal Dimas?”


“Nggak sih. Cuman sering lihat dia jemput Viona,


tahu kok kalau mereka pacaran. Dia adik kelas aku, aku salut sih karena Dimas


itu selalu antar dan jemput Viona dulu, dan itu kalau nggak salah sahabatnya


Nagita,”


“Kamu tahu?”


“Damar, Nagita itu adik kelas aku. Aku kelas tiga,


dia baru kelas satu. Tapi jangan salah, itu anak dulu selalu dibanggakan di


sekolah karena seni. Dia pernah buat miniatur sekolah dan lukis buguru dulu,


dia juara melukis waktu itu,”


“Bentar. Jadi kamu saling kenal?”


“Lah, kan kamu cerita kalau Nagita itu adalah


adiknya Dimas, iya kan?”


“Sialan. Kalau aku tahu kalian saling kenal, kenapa


aku nggak biarin kalian tinggal bareng,”


“Dia terkenal sih, makanya adik kamu itu ya ngejar


banget dari dulu,”


Damar menarik Luna lebih dekat dan memeluk perempuan


itu. “Sekarang pun masih,”


“Dia tahu nggak kalau Nagita punya anak?”


“Tahu, aku sudah kasih tahu dia,”


“Terus?”


“Biarin aja dia deketin, Nagita. Aku setuju kok,


lagian itu si brengsek Azka ngebuang istrinya gitu aja,”


“Dia sahabat kamu loh,”


“Emang aku peduli?”


“Ohya, aku punya kabar baik untuk kamu. Teddy,


setelah ini akan langsung bekerja di rumah sakit Tokyo,”


“Benar-benar anak itu. Dia akan menjadi dokter di


negara orang,”


“Tahu kan pintarnya adik kamu itu kayak apa,”


“Aku akui, tapi dia nggak brengsek kan?”


“Nggak. Bahkan perempuan-perempuan lain nyerah


ngejar dia,”


“Tenang, Teddy bakalan dekat sama Nagita. Jadi Ayah


untuk Rey,”


“Kamu tuh ya. Malah ngejodohin adik kamu, eh tapi S2


ini susah banget,”


“Jangan ngeluh sama aku, Luna. Kamu nggak tahu


gimana susahnya Nagita pengin S1 aja susah,”


“Hah? Beneran?”


“Dia hamil waktu usia baru 19 tahun,”


“Sekarang?”


“Bentar lagi 25,”


“Iya berarti kelamaan nganggur.  Waktu itu Teddy beli hadiah sih untuk dia,


waktu Nagita lulus, itu waktu usia 17 tahun,”


“Masa sih?”


“Iya, liontin,”


“Bentar, Nagita lulus kalian udah di sini loh,”


“Adik kamu pulang diam-diam, Mar,”


“Kamu juga?”


“Iya, dia pulang aku ikut dong,”


“Serius aku itu masih pusing. Kalian itu udah kenal


lama. Tapi setiap kali aku cerita kamu hanya iyain aku aja, gitu. Terus Teddy,


dia malah nyantai. Seolah nggak tahu,”


“Iyalah dia nggak mau ketahuan. Kakaknya brengsek


gini,”


“Gini-gini calon suami kamu, Luna,”


“Bodo amat.”


Damar langsung menindih Luna. Ia menciumi bibir


perempuan itu. Damar menyeringai saat Luna berusaha menerima ciumannya. Perlahan


ciumannya menurun ke leher.


“Ah, Damar.”


‘Ck, suara kamu Luna. Aku nggak yakin bisa tahan’


gumamnya dalam hati.


Damar terus menciumi Luna. Bahkan perempuan itu


beberapa kali mengerang saat Damar memperdalam ciumannya di leher Luna.


“Lanjutkan saat kita nikah nanti.  Aku mandi bentar.” Ia beranjak dari tempat


tidur. Sebelumnya ia melihat leher Luna begitu banyak bekas ciuman yang ia


timbulkan.


“Damar?”


“Maaf, Luna. Aku sayang sama kamu. Jadi aku harap


kita bisa bertahan sampai pernikahan.”


“Iya.”


Damar melihat rona wajah Luna sudah seperti kepiting


rebus karena begitu merah. Meski tadi nafsunya sudah di ubun-ubun. Damar memilih


mandi karena tidak tega merusak kekasihnya sendiri. Di dalam kamar mandi ia


berlama-lama di sana.


“Ck, sialan. Kenapa sampai kelolosan begini? Hampir saja.”