RICH MAN

RICH MAN
DUKA DAN BENCI



Tak kuasa menahan emosinya, Nagita menyetir ugal-ugalan tanpa memikirkan keadaannya yang tengah hamil. Hatinya terlalu sakit melihat perbuatan Teddy yang selingkuh di depannya. Belum puaskah orang-orang menyakiti hatinya begitu dalam? Berusaha mengusap air matanya dan melihat kebelakang bahwa ada mobil Teddy dan Naura yang mengejarnya.


Naura yang tak kalah syok dengan kejadian tersebut hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi. "Ayo Pak kejar!"


"Nona Nagita terlalu kencang, Non,"


Naura tak bergeming dan ia memeluk ketiga anak yang bersama dengan dirinya. Di sana Rey yang menggigit kuku tangannya karena ketakutan dengan sopir yang berusaha mengejar. Akan tetapi kalah cepat oleh mobil Teddy yang menyalipnya.


Braaak.


Seketika itu juga suara dentuman keras membuat sopir berhenti. "Ada apa, pak?"


"Nona Nagita kecelakaan,"


"Tolong bawa anak-anak pulang, Pak! Saya akan mengurus Nagita,"


Naura segera berlari mendekati mobil Nagita yang baru saja mengalami kecelakaan. Tempat itu langsung rame karena sebuat truk yang berhenti mendadak di tabrak oleh Nagita.


"Nagita!" Teriak Teddy. Pintu mobil terkunci dan membuat mereka kesulitan untuk mengeluarkan Nagita. Kaca mobil yang juga tak tembus pandang membuatnya sulit untuk melihat keadaan Nagita.


Seseorang datang yang mengenakan pakaian khas bengkel langsung merusak pintu mobil, butuh waktu beberapa menit hingga pintu pun terbuka. Naura terkejut karena Nagita sudah tak sadarkan diri.


Teddy langsung mengangkat tubuh Nagita ke dalam mobil. Di sana Naura juga ikut mengejar, "aku ikut, Teddy," Naura melihat wajah Teddy yang begitu pucat karena melihat ada darah di tubuh bagian bawah Nagita.


"Terima kasih bantuannya, pak. Saya permisi ke rumah sakit," ucapnya sambil memberikan sejumlah uang kepada orang yan telah membantunya untuk mengeluarkan Nagita. Tak butuh waktu lama, mereka langsung melesat ke rumah sakit.


Dengan perasaan yang campur aduk. Sudah dua jam berlalu Nagita ditangani. Perempuan yang tengah berada di ruang operasi itu belum juga ada kabar baik yang datang.


Naura melihat Teddy yang duduk memeluk lututnya sendiri dan menumpukan kepalanya dengan lututnya. Meski Tefdy juga merupakan dokter ahli bedah, tetapi membiarkan Nagita ditangani oleh dokter lain


Sreet


Suara pintu ruang operasi terbuka. Keduanya langsung menuju ke dokter yang menangani Nagita tadi.


"Gimana keadaan dia?"


"Ibu Nagita baik-baik saja dan masih dalam keadaan kritis. Tidak ada patah tulang dan luka yang serius, hanya saja-"


Mereka berdua saling pandang dan langsung menatap dokter itu begitu lekat.


"Anak anda tidak bisa diselamatkan, Pak. Akibat benturan keras tepat pada perutnya. Anak anda meninggal dunia,"


Naura terkejut dengan hal itu. Ia juga dahulu pernah kehilangan, sangat sulit untuk menerima suatu kehilangan. Sama seperti dirinya yang dahulu pernah kehilangan karena keguguran. Kali ini perempuan yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung harus mengalami hal yang sama.


"Saya permisi, pak,"


Mereka berdua mengangguk dan langsung menuju ruangan di tempat Nagita dipindahkan tadi. Naura mengambil tas dan mengambil ponsel Nagita, baru saja ia ingin menghubungi Dimas. Teddy sudah merebut ponsel itu. "Biar aku yang mengurus, Nagita sendirian. Ini semua salahku, anakku meninggal karena perbuatanku, pulanglah! Jaga Reynand baik-baik!"


Naura hendak pulang, akan tetapi pikirannya terhenti dan terfokus pada Dimas. Tak mungkin ia tak memberitahu Dimas perihal ini. Karena apaa pun yang terjadi, Dimas adalah saudara Nagita satu-satunya. Ia memerintahkan sopir taksi dan menuju rumah Dimas. Naura ingat di mana Nagita tinggal dulu.


Baru saja ia keluar dari taksi, sebuah mobil masuk ke halaman rumah perempuan itu.


"Permisi," ucapnya berkali-kali. Seorang perempuan keluar dengan membawa anak kecil.


"Cari siapa?"


"Dimas ada?"


"Silakan masuk! Saya panggilkan dulu. Kebetulan dia baru pulang kerja,"


Naura menunggu beberapa saat dan akhirnya Dimas datang dari arah garasi.


"Naura, ada apa?"


"Maaf sebelumnya telah lancang datang kemari,"


"Nggak apa-apa. Ini ada apa? Rey baik-baik saja?"


"Nagita kecelakaan dan masuk rumah sakit,"


"Apa?" Suara Dimas meninggi.


"Aku baru saja pulang dari sana. Nagita bertengkar dengan suaminya tadi di restoran,"


"Terus?"


"Awalnya dia sangat ingin bertemu dengan Rey, bahkan dia nekat karena Teddy melarangnya. Di saat kami mengobrol, suaminya datang bersama seorang perempuan di sana. Nagita tak bisa menahan emosinya dan langsung melabrak keduanya. Di sana mereka bertengkar, di ujung pertengkaran Nagita keluar dan langsung pulang. Akan tetapi waktu perjalanan pulang Nagita tak peduli dengan keselamatannya dan menyetir dengan ugal-ugalan hingga terjadi kecelakaan. Satu hal lagi, bayinya meninggal,"


"Viona, ayo ke rumah sakit!"


"Nagita kritis. Dan tadi suaminya melarangku untuk memberitahu siapapun tentang ini,"


"Terima kasih informasinya, Ra. Aku segera ke sana, jangan lupa jaga Rey dengan baik! Dia tahu soal ini?"


"Iya, dia lihat Mamanya kecelakaan,"


"Jangan berikan izin ke sana dulu. Sampai Nagita benar-benar sadarkan diri. Aku bakalan hubungi kamu nanti,"


"Baiklah."


"Ini nomorku."


Dimas memberikan kartu namanya dan langsung diterima oleh Naura. Ia berpamitan dan segera pulang untuk memastikan ketiga anak itu tidak bercerita.


Baru saja Naura pulang. Ia sudah dikejutkan dengan keluarganya yang berkumpul di ruang keluarga. Rey dan Leo menceritakan hal itu kepada keluarganya. Sontak mama dan papanya terkejut dengan apa yang mereka dengar. Kedua orang tuanya langsung bertanya pada Naura. Tak bisa lagi menyembunyikan apa yang telah terjadi.


Sejak kedua orang tuanya tahu. Mereka hendak pergi untuk menjenguk Nagita. Akan tetapi ia larang sebab tak ingin semuanya menjadi tambah rumit. Beruntunglah orang tuanya memahami hal itu dan tidak memaksa. Bagaiamanapun juga orang tuanya tetap menyayangi Nagita seperti dulu meski sudah berstatus sebagai istri orang lain.


Naura berpamitan kepada kedua orang tuanya dan masuk ke dalam kamar bersama Leo dan Clara. Sedangkan Reynand ia biarkan bersama mamanya di bawah. Tentu pikiran anak itu akan terganggu karena melihat kejadian Nagita kecelakaan di depan matanya.


"Mama, tante nggak apa-apa?"


Seketika itu Naura melirik ke arah Leo yang tak kalah terkejutnya dengan kejadian tadi.


"Leo, tante baik-baik aja kok. Tante nggak kenapa-kenapa. Jadi jangan khawatir ya!"


"Rey pasti kaget dengan yang dia lihat tadi,"


"Sudah sayang. Jangan dibahas lagi, sekarang mandi sana!"


******


Azka pulang ke rumahnya karena sudah sore. Semenjak Rey tinggal bersama dengannya ia tak lagi memiliki alasan untuk lembur. Walau pekerjannya sangat banyak, akan tetapi Azka adalah orang yang tak ingin menyia-nyiakan kebersamaannya sekarang. Rey adalah anak yang akan di didiknya sendiri tanpa bantuan mantan istrinya.


Baru saja ia masuk ke dalam kamarnya. Aroma Nagita yang dulu tercium, seolah kerinduan menyapanya sore itu. Memang tadi semenjak pulang ia tak bertemu dengan siapapun di rumahnya. Barangkali keluarga yang lain berada di halaman belakang, pikirnya.


"Daddy!"


"Rey sakit?" Tanpa berpikir panjang Azka langsung memeluk anaknya. Tak mungkin seperti ini jika Rey baik-baik saja. Bahkan tubuh anak itu bergetar seolah sedang ketakutan.


"Mama kecelakaan, Daddy,"


Tubuh Azka membatu, mendengar perkataan anaknya tadi. "Di mana?"


"Daddy ayo jemput Mama dan bawa pulang ke rumah! Mama nangis lagi, Daddy,"


"Mama kenapa sayang?"


"Tadi Rey sama Aunty ketemu Mama di restoran. Di sana juga ada Papa sama perempuan lain. Rey kasih tahu Mama kalau di meja beberapa meter dari tempat kami duduk ada Papa sama orang lain, di sana Mama sama Papa berantem. Mama nangis dan keluar dari restoran. Mama nyetir sendirian dan Aunty sama Papa berusaha ngejer. Tapi pas Papa mau sampai, Mama justru kecelakaan,"


"Terus?"


"Adik meninggal kata Aunty,"


"Sabar ya Rey!" Azka memeluk putranya. Cobaan terus datang bertubi-tubi. Setelah Syakila meninggal. Kini bayi yang dikandung oleh Nagita juga meninggal. Dan sulit percaya dengan apa yang di dengar. Akan tetapi ucapan Rey tadi barangkali tak salah karena Teddy sudah keterlaluan membuag Nagita menangis lagi.


"Daddy, ayo jemput Mama!" Isaknya.


"Rey, Daddy nggak ada hak lagi buat jemput Mama,"


"Kenapa? Daddy nggak sayang sama Mama?"


"Rey, Mama istrinya Papa Teddy. Bukan istri Daddy,"


"Kenapa Mama harus ngerasain sedih lagi, Daddy? Rey pikir Mama bakalan bahagia sama Papa, tapi ternyata Mama tambah sedih. Daddy, sejahat apa pun Daddy, Rey percaya Daddy yang paling sayang sama Mama kan?"


Azka tak menjawab apa pun. Di kamar yang tadinya sepi kini terdengar suara isakan anaknya yang diakibatkan oleh Nagita yang masuk rumah sakit. Jujur, ingin sekali rasanya Azka pergi ke sana. Tetapi jika ia pergi, suasana akan semakin kacau. Tak ingin membuat rumah tangga Nagita kacau.


Dengan cerita Rey tadi. Sulit bagi Azka untuk tidak khawatir. Kini hatinya menorehkan luka baru mendengar kabar mantan istrinya di sakiti oleh suaminya sendiri. Azka tidak bisa berpikir jernih barangkali Nagita salah paham atau bagaimana. Akan tetapi mendengar kata perempuan. Itu sangat menyakitkan bagi Azka.


*****


Suara monitor terus saja berbunyi. Teddy sungguh menyesali perbuatannya yang selingkuh dan menyakiti hati istri dan membuat calon anaknya meninggal. Jika tidak karena kebodohannya. Nagita tak akan seperti ini.


Teddy melihat ke arah wajah cantik Nagita yang tak sadarkan diri sejak beberapa jam lalu. Malam itu hatinya diliputi oleh rasa bersalah yang tak berkesudahan. Sungguh, jika ia tak bermain perempuan di belakang Nagita. Semuanya tak akan kacau seperti sekarang. Suara ponsel Nagita yang terus berdering membuatnya sedikit terganggu. Itu dari Dimas. Ia tak bisa beralasan jika Nagita terus seperti ini.


"Halo?"


"Nagita di rumah sakit-" Teddy memberitahukan lokasi rumah sakit tempat Nagita di rawat.


"Baik, aku tunggu,"


Setelah menutup telepon dan ia langsung menghubungi Damar untuk memberitahukan keadaan istrinya sekarang.


Tak butuh waktu lama, orang yang baru dihubungi beberapa mebit lalu muncul dengan keluarganya masing-masing. Tangannya tak berhenti menggenggam tangan Nagita. Hatinya hancur dengan kejadian ini. Tak habis pikir jika permainannya membawa petaka dan menghancurkan rumah tangganya hingga terjadi hal seperti sekarang.


"Teddy apa yang terjadi?" Dimas datang dan langsung menanyakan hal yang tak bisa dijelaskan oleh Teddy.


"Hanya kecelakaan,"


"Hanya? Kamu jawab hanya kecelakaan?" Teddy tak sanggup menerima pertanyaan lagi dari Dimas. Pikirannya kosong karena jika terjadi apa-apa dengan Nagita. Sungguh ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Jika Azka dulu menghancurkan perasaan Nagita. Tak ada bedanya dengan dirinya.


"Keluar Teddy!"


"Ta-"


"Keluar, aku ingin bersama adikku sebentar!"


Teddy menurut dan diajak keluar oleh Damar. Di sana kakaknya tak bereaksi apa-apa.


"Sebenarnya ada apa?"


"Aku ketahuan selingkuh, Mar,"


Damar mengusap wajahnya gusar. "Alasan kamu selingkuh apa?"


"Hanya tertarik dengan perempuan lain,"


"Lalu?"


"Menjadikan dia yang kedua dan membiarkan Nagita jadi yang pertama. Tetapi justru hal itu diketahui oleh Nagita siang tadi di restoran,"


"Apa karena Nagita hamil?"


"Bukan hanya itu,"


"Lalu?"


"Perempuan yang bersamaku kini jauh lebih baik dari, Nagita,"


"Harusnya kamu tahu bahwa apa yang terlihat baik di awal belum tentu benar-benar baik, Teddy. Mungkin semua hal yang kamu lihat bukan kejadian yang sesungguhnya. Dia yang kamu anggap baik, belum tentu. Soal Nagita, kamu sudah tahu baik buruknya dia. Dan perempuan tadi, kamu belum tahu dia berasal dari keluarga mana, apakah dia perempuan baik-baik atau tidak. Dan justru sekarang kamu mencelakakan istri kamu sendiri. Otak kamu di mana?"


"Aku menyesal, kak,"


"Sudah terlambat. Bahkan bayi kamu sendiri tidak bisa diselamatkan, Teddy. Rey mana? Bukankah dia tinggal bersamamu?"


Teddy menggeleng, "Rey tinggal bersama Azka sebulan lebih. Nagita yang membawanya ke sana,"


"Pasti karena suruhanmu kan? Nagita tidak akan pernah membawa Rey keluar dari rumah apalagi bertemu Azka jika itu bukan perintah konyolmu itu, Teddy. Sekarang kamu mau nyakitin dia lagi? Kamu mau nikah, oke silakan nikah, tapi ceraikan Nagita! Sudah muak dengan semua orang yang terus saja membuatnya sakit. Kamu memang saudaraku, tapi ingat kamu itu sudah dewasa. Calon Ayah, bahkan punya anak tiri,"


"Tapi aku tidak bisa menerima dia karena dia anak haram,"


Plak.


Damar melayangkan tamparan kepadanya. Seumur hidup baru kali ini Teddy dipukul oleh Damar. Kakaknya tak akan pernah memukulnya apa pun yang ia lakukan. Hanya memarahi atau kadang membentaknya. Tetapi kini kakaknya terlihat begitu berbeda.


"Hanya karena Rey anak haram, kamu mencampakkannya begitu saja? Setiap anak pasti tidak mau hal itu terjadi. Itu adalah kesalahan, kamu tidak berhak mengatakan itu kepada dia. Terlebih. Karena dia masih kecil, apa orang-orang mencemoohmu?"


"Iya,"


"Mereka menertawakanmu?"


"Iya,"


"Mereka hanya fokus pada dosa orang lain tanpa pernah bercermin. Bahwa dosa mereka lebih banyak dibandingkan orang yang ia cemooh. Beruntunglah kamu menikahi Nagita. Perempuan sebaik dia, hanya saja kesalahan membuatnya harus menerima semua ini. Aku mendukungmu menikah dengan dia bukan karena tanpa alasan. Tetapi ingin bahwa setiap orang yang menghina Rey maupun Nagita, kamu bisa melindungi keluargamu. Bukan justru mendengar kata orang lain dan menghancurkan keluargamu sendiri. Apa setelah Nagita dan Rey pergi, orang-orang yang menertawakanmu akan menghiburmu? Tidak Teddy. Justru mereka akan menertawakanmu karena kebodohanmu dalam memilih. Kamu lebih mendengar kata orang lain, buka matamu! Rey itu anak kamu juga, sekarang jika sudah berada di tangan Azka kamu tidak akan bisa mengambilnya lagi."


"Aku bisa,"


"Percaya dirimu sangat tinggi, Teddy. Azka yang dulu dan sekarang sudah berubah. Dia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Barangkali jika kamu menyakiti Nagita, dia yang akan mengambil Nagita kembali. Jangan gegabah dengan suatu pilihan Teddy. Tidak semua yang kamu anggap baik itu memang baik. Jika kamu marah karena dulu Nagita di sakiti oleh Azka. Sekarang apa bedanya kamu dengan dia?"


Teddy terdiam. Benar apa yang di katakan oleh Damar. Kesalahannya tak jaug beda dengan apa yang dilakukan oleh Azka di masa lalu. Tetapi Teddy akan memperjuangkan Nagita dan memulainya dari awal lagi. Berharap bahwa istrinya memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki. Rasa sakitnya karena kehilangan anaknya pun belum seutuhnya pulih. Kini harus benar-benar lemah melihat istrinya berada di atas brankar tak sadarkan diri.