RICH MAN

RICH MAN
MASA NGIDAM



Rey yang tengah duduk di ruang tamu bersama dengan kedua adiknya, sedangkan kedua orang tuanya sedang pergi ke rumah sang Oma. Karena sakit, dia harus berjaga di rumah dan menunggu kedua adiknya dan istrinya.


Sambil menikmati secangkir teh hangat di ruang tamu, Nabila dan Salsabila memang sengaja tidak ikut karena ada tugas sekolah, orang tuanya menitipkan kedua adiknya untuk tinggal di rumah saja dan mengerjakan tugas mereka.


"Kak, nanti kita bobok sama Kak Marwa ya," pinta Nabila yang waktu itu berdiri dan mendekati Reynand. Dia mengernyitkan alisnya, sungguh dia tidak relah walaupun hanya satu malam istrinya tidur bersama kedua adiknya karena orang tuanya akan menginap di sana.


Reynand memicingkan matanya menyorot ke arah Nabila yang masih menyeringai di depannya. "Enggak," jawabnya singkat. Dan ekspresi adiknya langsung berubah begitu saja kala dia menolak permintaan adiknya untuk tidur bersama dengan Marwa walaupun hanya satu malam. Apalagi istrinya dalam keadaan hamil muda, rentan terhadap amarah. Sedikit saja Rey berbuat salah, maka istrinya akan langsung memarahinya, Marwa terlihat galak semenjak hamil. Seperti yang telah dikatakan oleh Papanya. Dia harus menerima sikap aneh Marwa setiap hari. Terkadang perempuan itu mengusirnya dari kamar, walaupun berat hati, dia menerima itu semua.


Salsabila mendengar penolakan yang baru saja Rey lontarkan. Sontak anak gadis itu langsung terbangun dari tempatnya semula dan langsung mendekati Reynand. Dia menatap ke arah kedua adiknya secara bergiliran. "Apa? Sekarang apa lagi? Kalian berdua mau izin untuk tidur sama Kak Marwa? Kakak enggak bakalan izinin, kalian punya kamar masing-masing," ucapnya dengan nada dingin penuh kemenangan. Akan tetapi adiknya langsung berkacak pinggang dihadapannya. "Mau lawan kakak?"


Nabila menggelengkan kepalanya. "Enggak, kita mau ngadu aja ke Kak Marwa. Kan Mama sama Papa nginap di rumah Oma. Jadi kita punya Kakak sama Kak Marwa. Tapi kakak enggak bolehin untuk bobok bareng, kenapa sih kak?"


Rey menutup mulutnya dengan punggung tangannya, "Karena kakak enggak bisa tidur kalau enggak peluk Kak Marwa," suaranya sedikit dia rendahkan agar tidak terdengar jelas.


Adiknya memiringkan kepalanya. "Kakak bilang apa?" tanya keduanya serentak. Rey mengelus kepala adiknya.


"Enggak ada, cuman kakak enggak mau kalau kalian ganggu Kak Marwa. Akhir-akhir ini Kak Marwa muntah-muntah, berat badannya turun. Kakak enggak tega lihat kalau kalian ganggu dia istirahat, buktinya sekarang Kak Marwa lagi tidur. Dia berusaha untuk tidur cepat, kakak enggak mau ganggu dia, jadi kakak temenin kalian belajar," sangkalnya. Sejujurnya Rey enggan berbagi Marwa walaupun itu dengan adik kandungnya sendiri. Dia enggan untuk membiarkan keduanya menggangu istrinya nanti.


Nabila dan Salsabila ber-oh ria. "Adik di perut Kak Marwa buat dia sakit ya kak? Kasihan banget, pasti adik pengin keluar, iya kan, kak?" jawab Salsabila dengan begitu lantangnya. Rey yang mendengar itu pun berpura-pura menggangguk. Tidak mungkin baginya menjelaskan itu semua kepada adiknya yang belum mengerti dengan urusan orang dewasa seperti dirinya.


Tidak pernah terbayangkan di dalam benak Rey bahwa dia akan memiliki keturunan dari perempuan yang selama ini dia cari, usahanya dalam mencari pun selalu saja berujung pada kekecewaan. Akan tetapi kini semuanya begitu menjadi indah kala Bintang hadir sebagai Marwa, apalagi di dalam perut istrinya tumbuh janin dari cinta mereka berdua.


"Kalian emangnya enggak tidur? Besok sekolah," ucap Rey ketika dia melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara Marwa pun tidak terdengar lagi memanggilnya seperti yang sudah-sudah. Dia yakin bahwa istrinya kini sedang terlelap.


Adiknya pun mulai membereskan buku-buku yang berserakan itu. Kemudian mereka berdua saling mengajak kembali ke kamar. Rey yang menghela napas panjang akhirnya bisa lolos dari kedua adiknya yang saat itu bebas darinya.


Baru saja dia hendak masuk ke kamar. "Kak, kami ikut ya?" pinta Nabila.


Rey mengeluarkan napasnya dengan kasar. "Nabila, sama adik. Kakak mau bilang apa coba? Kakak kan suruh kalian tidur di kamar, kenapa masih berkeliaran di sini?"


"Mama sama Papa selalu nemenin kami sebelum bobok, Kak. Jadi kami mau lihat Kak Marwa dulu karena enggak ada Mama,"


"Enggak boleh," ucap Rey sambil menghadang adiknya ketika berusaha untuk menerobos masuk. Ia merentangkan kedua tangannya untuk menutup pintu dan membiarkan istrinya istirahat.


"Kakak, kenapa pelit, sih?"


"Sekali kakak bilang enggak boleh, tetap enggak boleh,"


"Sejak kapan kalian berani bantah kakak?"


Salsabila memberontak dan berusaha melawan. Akan tetapi kekuatan tangan Rey tentu lebih kuat dibandingkan dengan adik-adiknya yang tidak ada apa-apanya. Rey menggendong Salsabila ke kamarnya berusaha untuk menguncikan adiknya, sementara itu dia akan kembali lagi untuk membawa Nabila pergi dari kamarnya.


Rey benar-benar kesal dengan tingkah kedua adiknya yang membuatnya merasa kerepotan. Itu adalah untuk pertama kalinya kedua adiknya menyebalkan seperti itu.


Rey membuka pintu kamarnya setelah berhasil mengunci Salsabila di dalam kamar. "Kak Rey mau bawa aku ke kamar, kan?"


"Nabila, kakak capek. Ayo dong balik ke kamar!"


"Enggak mau, mau bobok sini,"


"Nabila, kasihan Kak Marwa mau tidur, apa enggak kasihan sama keponakan Nabila yang pengin istirahat?"


"Perut kakak kapan besarnya?" tanya Nabila seolah tidak peduli dengan keberadaan Reynand.


Sedangkan di sana, Rey sudah kehabisan akal dengan adiknya. "Nabila, sebelum kakak marah, tolong balik ke kamar!" Rey kembali lagi memberi peringatan untuk adiknya. Dia tidak pernah membentak adiknya untuk hal seperti ini, berbeda halnya jika keduanya bertengkar dan memperembutkan mainan, itu yang akan membuat Rey geram sebagai seorang kakak. Apalagi dia sudah menikah, ingin hidup berdua akan tetapi orang tuanya melarang karena keadaan Marwa yang tidak memungkinkan.


"Kak, malam ini aja, Nabila mohon," Nabila berlindung dibelakang tubuh Marwa. Terlihat perempuan itu nampak pucat. Rey tidak tega melihat istrinya, perempuan itu tersenyum sambil mengelus kepala Nabila perlahan.


Tubuh itu semakin kurus, akibat ngidam yang di derita oleh Marwa. Rey rela dirinya yang merasakan ngidam, karena semakin hari istrinya semakin parah ketika muntah-muntah. Itu yang membuat dirinya tidak tega melihat keadaan istrinya yang semakin tidak baik.


"Maafin kakak ya! Kakak enggak bisa nemenin kalian tidur," ucap Marwa perlahan.


Rey yang geram dengan adiknya tiba-tiba luluh ketika melihat istrinya berusaha meluluhkan Nabila. "Jadi, kakak enggak mau bobok sama Nabila?"


"Bukan begitu sayang, nanti kalau kakak udah sembuh kalian boleh bobok sini. Tapi untuk sekarang maaf ya, keponakan kalian terlalu rewel. Lihat Kak Rey, kakak capek. Dia butuh istirahat. Nanti kalau Kak Marwa enggak muntah-muntah lagi, kalian boleh bobok sini,"


"Terus aku?" tanya Rey spontan ketika mendengar istrinya memperbolehkan kedua adiknya menghuni kamar mereka.


"Tidur di luar,"


"Jangan bercanda, Marwa!" ucap Rey geram. Marwa justru tersenyum sambil melirik ke arah Nabila. Keduanya pun tertawa puas karena kemenangan. Sebentar lagi mereka boleh bermain di kamar itu kapan pun. Tinggal menunggu usia kandungan Marwa sedikit membaik dan tidak muntah-muntah lagi.