
Kali ini dia akan benar-benar menemui Alin dan menjelaskan itu semua. Mungkin memang benar bahwa rumah tangganya baik-baik saja dengan Marwa. Akan tetapi siapa yang tahu bahwa istrinya sedang menangis dalam diam. Marwa sudah mulai curiga terhadap dirinya yang menghindar ketika ditanya siapa yang menelepon waktu itu. Rey menjelaskan bahwa itu adalah rekan bisnisnya. Akan tetapi Marwa mengatakan bahwa selama ini dia tidak pernah berbohong. Ia sadar, bahwa tidak ada artinya berbohong terus menerus. Apalagi di saat istrinya hamil seperti sekarang ini.
Mendengar pintu ruangannya terbuka dan baru saja melihat ke arah pintu. Ada Leo yang datang mengunjunginya ke kantor karena ada rapat tadi di perusahaannya. Tetapi hanya beberapa orang yang diperintahkan oleh Rey. Dan barangkali Leo juga demikian, membiarkan bawahannya rapat ruangan bawah.
“Kak, udah ada rencana tujuh bulanan?”
Rey menghampiri Leo yang duduk di sofa sambil menatap foto Rey bersama dengan istrinya yang ada di atas meja. “Belum ada rencana,”
“Segerakan. Bentar lagi kan Kak Marwa tujuh bulanan,”
“Masih lima bulan, Leo,”
“Minimal persiapan,”
Di ruanganya, Rey langsung menggenggam tangannya menandakan bahwa ada keresahan di dalam rumah tangganya. “Kakak kenapa? Ada masalah sama pekerjaan atau apa gitu?” Leo spontan bertanya seperti itu kala melihat raut wajah Rey yang kusut.
“Ini mengenai rumah tangga aku sama Marwa,”
“Berantakan?”
Rey sadar bahwa ini bisa dikatakan sebagai rumah tangga yang sangat berantakan. Dia yang sudah mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumah tangganya dan membiarkan orang itu mengambil alih kesibukan Rey dan setiap kali ada urusan, Rey selalu menemani Alin sebagai syarat dari kerjasama itu.
“Kakak selingkuh?”
Rey mengangkat kepalanya dan melihat Leo dengan intens, pria itu masih menatap foto dirinya dengan Marwa yang sengaja di taruh di sana sebagai hiasan sekaligus jika rindu dia akan menatap foto tersebut.
“Bukan, tapi ini semua karena pekerjaan yang mengharuskan aku sama anak dari orang yang kerja sama denganku itu harus bersama setiap hari,”
“Kakak ngapain saja?”
“Entah,”
Leo tahu bahwa dari raut wajah Reynand. Nampaknya kakak sepupunya itu tidak bisa berpikiran jernih lagi mengenai masalah itu semua hingga bercerita mengenai rumah tangganya. Hal yang tidak pernah diceritakan oleh Rey sebelumnya. “Kalau ada orang lain, ya usahakan jangan berkhianat. Ingat saja bagaimana usaha kakak sama istri kakak itu seperti apa. Jangan mudah terkecoh, terkadang saat menikah kita akan menemukan orang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan istri kita sendiri. Mulai dari lebih cantik, pintar juga sih kadang, atau bahkan baiknya melebihi istri kita,”
“Bukan seperti itu, Leo,” seka Rey. Walaupun apa yang dikatakan oleh Leo semuanya adalah benar. Alin yang lebih perhatian, masakan Alin jauh lebih lezat. Pintar dan juga perempuan itu memiliki nama yang cukup baik. Bahkan beberapa waktu ke depan perempuan itu akan pergi ke luar negeri untuk ikut pameran.
Leo meletakkan foto itu dan melihat ke arah mata Reynand yang memancarkan penuh perasaan serta seperti pusaran air yang dalam. Akan tetapi bola matanya memancarkan warna kemerahan seperti nyala api. Sekuat apa pun Rey menahan itu semua, Leo sedikit mengerti tentang keresahan yang dialami oleh kakaknya.
“Minimal jangan main api. Jangan sampai itu semua akan menjadi boomerang bagi kakak sendiri. Apalagi nanti kalau kakak udah sadar bahwa apa yang kakak lakukan selama ini adalah hal yang salah. Kadang ya kita itu terkecoh sama kebaikan orang, ya kita lihat dia baik. Karena kita belum tahu watak aslinya dia seperti apa. Istri kita juga gitu, kan. Awalnya baik, ujung-ujungnya sifat aslinya ketahuan juga. Walaupun kadang nyebelin, ya namanya juga udah jadi istri. Sama halnya sekarang kita tergoda dengan perempuan lain, kemudian kita lihat dia baik. Kalau udah nikah beda lagi ceritanya kak,”
Bayangan Leo mengenai apa yang diceritakan oleh kakak sepupunya itu adalah sebuah perselingkuhan yang dilakukan oleh kakak sepupunya sendiri. Leo sangat takut jika Rey berselingkuh dengan alasan bahwa dulu Marwa pernah mencampakkan. Bukannya ingin membela, akan tetapi ia sangat tahu bahwa sifat kakaknya itu terkadang berubah-ubah dan jika sudah mengatakan tidak. Maka sampai kapan pun kata tidak itu akan selalu begitu. Pun dengan sebaliknya.
Rey menarik napas sejenak kemudian mengembuskannya kasar. “Cantik, pintar masak. Pelukis, dan juga dia energik, selain itu dia juga sangat pintar,”
Leo menaikan sebelah alisnya. Sejak kapan kakaknya mulai memuji perempuan lain?
“Apa dia secantik Kak Marwa?”
Rey mengangguk, “Lebih cantik lagi,”
Mengenai perempuan yang diceritakan oleh Rey. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya karena itu semua seolah jauh lebih membela perempuan asing itu dibandingkan dengan menyebut kelebihan istrinya sendiri.
Mata Leo mendarat pada ponsel Rey yang berbunyi dan terpampang foto perempuan dan ia belum melihat nama dari perempuan itu karena Rey keburu menarik ponsel dan mematikan telepon itu.
Rey menunjukkan sikap aneh yang membuat Leo tidak mengerti dengan kakak sepupunya yang berbeda seperti itu. Keraguan apakah yang dipikirkan oleh Rey hingga membuatnya seperti itu?
“Pak, Ibu Alin membuat janji temu bersama anda,”
Rey terkejut karena di sana ada Leo dan membuat Leo sedikit terkejut dengan kedatangan sekretaris dan langsung memberitahukan mengenai hal itu.
Alin? Mata Leo langsung menyipit kemudian beranjak dari tempat duduknya dan langsung berpamitan kepada Rey. “Sepertinya kakak sibuk banget. Jadi aku permisi. Mungkin kita harus punya janji berdua baru bisa ngomongin masalah tadi,”
Leo keluar dari ruangan Reynand dan langsung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi sedikit pun.
Perasaan kalut menyelimuti hati Reynand saat itu juga. Apalagi Leo seperti membaca pikriannya saat itu. Dia nampak mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Reynand dan kali ini memilih untuk diam. Akan tetapi siapa yang bisa menduga jika Leo bersikap tidak peduli seperti itu kepadanya.
Pernah berpikir bahwa memberikan kebahagiaan kepada Marwa seorang adalah suatu harapan yang belum terwujud hingga saat ini. Apalagi Rey berusaha untuk menabung demi membeli rumah baru yang harganya lumayan fantastis. Walaupun kali ini dia mampu membelinya, tetapi dia ingin usahanya terlebih dahulu maju agar kehidupannya kelak jauh lebih baik tanpa uluran dari orang tua.
Tidak akan pernah meminta Marwa untuk bekerja. Dia tidak akan pernah mengizinkan Marwa bekerja selama dia masih kuat untuk mencari rezeki demi menghidupi keluarganya kelak.
Sebelum dia memenuhi janji temu dengan Alin. Kali ini ia harus benar-benar memantapkan apa yang akan dikatakannya kepada gadi itu nantinya.