RICH MAN

RICH MAN
TERJEBAK PERMAINAN



Dengan perasaan yang sangat gugup ketika papanya datang ke kantor tadi siang. Rey harus mencari beberapa alasan untuk terhindar dari pertanyaan papanya yang terkadang sangat ketus dan bisa saja membuat dirinya keceplosan ketika berbicara.


Dia adalah pria yang masih memegang teguh terhadap hormat kepada orang tua. Bagaimanapun juga tanpa papanya, dia bukanlah apa-apa. Maka dari itulah Rey tetap hormat kepada papanya. Meski terbilang sudah mampu, tetapi ada kalanya dia butuh bantuan papanya menyelesaikan ini semua. Sungguh, Rey menyesal dengan sangat bahwa dia mengajukan diri berteman dengan Alin ketika pembatalan kontrak bersama dengan Refi waktu itu. Apalagi papanya yang sudah kehabisan banyak sekali pengeluaran hanya karena membantu dirinya menyelesaikan itu semua.


Dia telah berada di restoran Alin sesuai dengan janjinya. Namun, perempuan itu belum juga datang. Dia meminta salah satu karyawan Alin untuk menghubungi perempuan itu. Ia sudah tidak ingin lagi berhubungan sebenarnya, tetapi sepertinya Alin yang begitu sudah terlanjur mencintainya dan enggan untuk menolak keinginan Rey untuk menghindarinya.


Sambil menunggu perempuan itu datang, dia menanyakan apa saja yang diinginkan oleh istrinya. Dia akan membelikan apa pun yang istrinya mau. Beberapa saat kemudian Alin datang dengan pakaian kaos putih polos dan celana pendeknya. Tidak seperti biasanya dia menggunakan dress setiap kali bertemu dengan Rey.


“Kamu mau minum?” tawar Alin. Rey pun mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Iya, aku pesan jus jeruk aja ya,” ucap Rey kepada pelayan yang baru saja dipanggil oleh perempuan tadi.


Alin berpamitan sebentar dari Rey. Dia pun menuju dapur dan mendekati salah satu karyawannya. Dia mengganti minuman pesanannya dengan jus alpukat agar tidak tertukar nantinya. Setelah minuman itu selesai, pembuat jus tadi mengambil buah alpukat tersebut dan Alin langsung menuangkan obat tidur ke minuman Rey. Setelah karyawan itu kembali lagi. Alin langsung mendekati karyawannya. “jangan kebanyakan gula ya!” perintahnya kepada karyawannya.


Perempuan itu keluar dan menemukan Rey sedang menunggunya di sana. “Aku ngomong serius sekarang sama kamu, bisa nggak sih kita udahan,”


“Rey, kamu nggak sayang sama aku lagi? Kamu ingat waktu kita ke luar negeri, kamu yang nyatain cinta sama aku. Kamu juga yang udah janji mau nikahin aku. Bahkan kamu yang mulai ini semua, Rey. Apa sekarang kamu lupa sama itu semua? Kamu berjuang di awal aja, Rey. Apa semua cowok itu sama kayak kamu yang berjuang di awal. Terus membuang di akhir?”


Dia tidak tahu lagi cara menjelaskan kepada Alin dan benar-benar bahwa kali ini Rey tidak bisa lagi berpikir jernih. Yang ada dipikirannya adalah dia tidak bisa terus seperti ini menyakiti hati istrinya dan membuat perempuan itu menangis terus menerus. Dia tahu bahwa kesalahannya adalah bermain dibelakang istrinya selama ini. Sudah sangat keterlaluan bagi Rey untuk terus bersikap seperti itu.


Minuman pesanan mereka pun datang dan Rey mengaduk-aduk minumannya. “Sumpah, aku nggak mau lagi. Ini udah salah banget, kamu tahu sendiri kan Marwa sebentar lagi melahirkan,”


“Oke, aku ngerti,” ucap Alin dengan nada pasrah akan tetapi dia menunggu reaksi obat itu mampu membuat Rey pingsan nantinya. Akan tetapi dia tidak akan pernah mau membiarkan Rey bersama dengan Marwa.


Mereka berdua terus berbincang. “Oke, kalau kamu memang kita udahan. Aku nggak bisa maksa kamu,” ucap Alin setelah melihat Rey beberapa kali tidak fokus.


“Aku pamit pulang,” ucap pria itu kemudian pergi ke kasir dan langsung keluar dari tempat itu. Akan tetapi tubuhnya tidak mampu lagi menahan kantuknya.


Dengan segera Alin mengejar Rey yang ada di sana. Dia melihat Rey berdiri di samping mobilnya dengan menyangga tubuhnya di sana. “Kamu kenapa?” sapa Alin.


“Pusing, aku nggak bisa nyetir kayaknya,” ucap Rey kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung terjatuh begitu saja.


Beberapa saat kemudian Alin menyuruh sopir dan juga satpam yang ada di restorannya membantunya untuk memindahkan tubuh Rey ke belakang dan dia yang akan menyetir sendirian. “Bapak pulang aja sendirian ya!” perintahnaya kepada sopirnya. “Kalau Papa nanya nanti bilang aja aku nginep di rumah teman,” ucapnya kemudian pria itu mengangguk dan Alin langsung pergi dari sana.


“Kamu pikir aku bakalan nurut sama kamu, Rey? Kamu pikir aku semudah itu kamu permainkan. Dan kamu juga yang akan menanggung semua perbuatan kamu ini. Dan untuk kamu Dhyo, jangan pernah berpikir bahwa kamu bisa miliki aku meskipun kamu sudah melakukan itu kepadaku,” ucapnya dan langsung tertawa keras di sana. Melihat Rey yang tidak sadarkan diri membuat Alin merasa sangat senang. Dia yakini bahwa pria itu tidak akan terbangun karena dosis yang diberikannya memang cukup banyak.


Tiba di apartemennya, dia meminta bantuan satpam untuk mengantarkan Rey ke kamar Alin. Dia akan membuat segalanya menjadi jauh lebih berantakan.


Sesudah di kamar. Dia langsung mengambil ponsel Rey dan membaca semua chat dari istrinya yang memintanya segera pulang.


“Iya, sayang nanti aku bawain makanan. Kamu tidur aja dulu. Nanti aku bangunin kalau udah di rumah, aku bakalan pulang kok setelah ini. Jaga diri baik-baik! Jaga calon buah hati kita ya istriku,” disertai dengan emoticon cium. Dan itu yang membuat Alin jijik membaca chat Rey dengan istrinya yang membuat dirinya benar-benar marah.


Di dalam apartemennya, dia meletakkan ponsel Rey di atas nakas. Di rasanya malam sudah mulai larut. Alin melaksanakan aksinya sebelum terlambat. Dengan terpaksa dia membuka kemeja yang digunakan oleh Rey. Dia juga membuka pakaiannya tanpa sehelai benangpun. Alin membuka pakaian Rey menyisakan boxer dan tidur disamping pria itu yang tidak mengenakan pakaian dan tangan pria itu seolah memeluknya.


Alin mengambil foto itu dan menyimpannya. Suatu saat foto itu akan dibutuhkan ketika Rey menjauh lagi darinya.


“Alin,” ucapnya dan membuat perempuan itu bangun dari tidurnya. Rey melihat ke arah jam dan sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Dengan memulai aksinya, Alin pura-pura menangis dan membuat Rey terkejut dengan hal itu. “Apa yang terjadi?”


“Kamu lupa sama semua yang kamu lakuin semalam sama aku?” ucap Alin kemudian membuat Rey terkejut dengan hal itu. Dia sama sekali tidak mengingat itu dan benar-benar membuat Rey ingin memukul dirinya sendiri. Jika sampai dia memperkosa Alin. Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri karena telah mengkhianati Marwa untuk ketiga kalinya.


Rey masih belum mendengarkan penjelasan Alin karena perempuan itu menangis. Di sana ada pakaiannya berserakan di bawah dan Alin menutupi tubuh bagian atasnya di lantai juga berserakan pakaian Alin bahkan pakaian dalam Alin ada di sana. Dia terkejut dengan semua itu.


“Alin apa kita melakukan semua itu?”


“Menurut kamu bagaimana? Kamu lupa semua yang kamu lakukan semalam, Rey? Kamu yang udah ngelakuin ini semua, bagaimana kalau aku hamil,”


“Astaga,” ucapnya menjambak rambutnya dan langsung memasang semua pakaiannya dengan kepala yang sedikit pusing.


Dan benar saja bahwa dia telah meniduri Alin. Dia harus bagaimana nanti menjelaskan itu semua kepada Marwa. Bagaimana nantinya dia bisa menghdapi itu semua ketika istrinya sudah mulai lagi bersikap manis terhadap dirinya.


“Kamu harus tanggung jawab, Rey!”


“Alin,”


“Kamu udah nodain aku, Rey,”


Pria itu duduk sambil menjambak rambutnya kemudian memukul kasur itu. Dia menyesal, benar-benar menyesal karena telah menemui Alin semalam dan membuat masalah sebesar sekarang ini.


“Alin, kamu tahu kan kalau sebentar lagi Marwa melahirkan,”


“Aku tahu. Tapi bagaimana kalau perbuatan kamu justru buat aku hamil?”


Rey langsung menatap Alin. Tidak mungkin dia menduakan cinta Marwa. Tidak mungkin juga dia menyakiti hati anaknya hanya karena melakukan kesalahan terhadap Alin.


“Aku nggak mau tahu, Rey. Kamu harus tanggung jawab,”


Dia memejamkan matanya. “Kasih aku waktu untuk memikirkan semua ini. Jangan sampai semua ini membuat Marwa tahu kalau kita udah melakukan hubungan terlarang itu. Karena aku nggak mau dia kenapa-kenapa dan calon buah hati aku,” ucap Rey kemudian keluar dari apartemen Alin


 


 


“Rey kunci mobil kamu,” ucap Alin dan pria itu berbalik kemudian mengambil kunci mobil yang ada di atas meja. Dia langsung memilih untuk pulang ke rumahnya.