
Pagi itu karena Audri belum bangun. Keduanya terpaksa harus menunggu terlebih dahulu, tidak mungkin mereka berdua membangungkan anak mereka hanya ingin berkunjung ke rumah sakit. Rey juga melarang istrinya jika istrinya itu jika membangunkan Audri nanti. Rey juga tidak ingin jika anaknya justru nanti sakit kepala karena belum puas tidur.
Sementara anaknya masih tidur, Rey hanya menjaga di kamar. Sedangkan istrinya sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga. Sebenarnya Rey ingin keluar mengobrol dengan papa mertuanya. Tapi anaknya nanti terjatuh dari tempat tidur dan itu akan menjadi masalah lagi bagi dirinya dan juga Marwa karena telah lalai dalam mengurus anak. Marwa juga yang melarangnya keluar dari kamar tadi, perempuan itu membiarkan dirinya menunnggu Audri hingga terbangun nanti.
Rey menghela napas panjang menunggu anaknya entah kapan dia akan terbangun.
“Mas, sarapan dulu yuk! Nanti biar dia dibatasi sama bantal aja, semoga nggak kenapa-kenapa,” ajak Marwa. Biasanya pagi hari ketika di rumah, Audri punya tempat tidur sendiri yang bisa meringankan kekhawatiran keduanya jika anaknya terjatuh. Namun kali ini mereka sedang menginap di rumah kedua orang tua Marwa yang di mana Audri tidak punya tempat tidur sendiri.
Rey mengambil beberapa bantal juga untuk memberi batasan pada Audri. Karena semalam mereka begadang dan bercanda. Hari ini justru anaknya belum juga bangun sampai jam segini. Biasanya Audri bangun jam enam pagi sebelum Rey berangkat dan itu menjadi rutininas mereka bercanda pagi itu atau jalan-jalan di sekitar rumah mereka.
Mereka berdua memilih untuk keluar dari kamar untuk sarapan. “Nggak sarapan di kamar aja?” mama mertuanya Rey memang sangat baik. apalagi karena Marwa tidak punya saudara sama sekali. Kemungkinan dia juga begitu dipercaya oleh kedua orang tua Marwa untuk menjaga perempuan itu dengan baik.
Setibanya di ruang makan. seperti biasanya yang disediakan di rumah, Rey hanya sarapan dengan sarapan yang biasa disiapkan di rumah oleh istrinya perempuan ini memang sangat cekatan ketika dia membutuhkan sesuatu. Rey sangat menyayangi istrinya. Tidak akan pernah lagi melakukan kebodohan yang seperti dulu.
Melihat beberapa menu sarapan di atas meja, dia tidak pernah sarapan sebanyak ini sebelumnya. Tapi karena di rumah mertuanya yang memang berbeda dari rumahnya sendiri. Sekalipun mereka sering menginap, tapi kali ini jumlah sarapan yang biasanya di makan di sini jauh lebih banyak yang sekarang dibandingkan hari-hari yang pernah dia habiskan di sini.
“Jadi mancing nih?” tanya papa mertuanya begitu Rey menarik kursi dan hendak duduk.
“Jadi, Pa. nanti pulang dari rumah sakit atau agak siangan, biar kita bisa pulangnya agak malam,”
“Nah, mulai deh menantu sama mertua ini sibuk sendiri,” protes mamanya Marwa.
Rey tersenyum, “Nggak apa-apa, Ma. Kali ini aku nggak sibuk, jadi tiap kali diajak sama, Papa. Aku selalu sibuk biasanya, tapi kali ini aku berusaha untuk luangkan waktu untuk, Papa. Takut ajak siapa tahu, Papa berhenti ajak aku nanti,”
“Jadi ini terpaksa?”
“Ya enggak, Pa. Aku takutnya Papa kapok ajakin aku karena sering sibuk gitu. Jadi aku usahakan buat pergi gitu sama Papa, jadi nggak apa-apa, kan?”
Mereka menikmati sarapan dengan cukup baik dan keluarga ini memang hangat. Rey suka karena kedua mertuanya juga memperlakukan dia dengan begitu baik. menegur apa yang tidak sebaiknya dia lakukan. Terlebih karena mertuanya akan langsung bicara hal apa yang sebaiknya dilakukan oleh dirinya ketika mereka berdua memiliki masalah. Tapi selama ini yang dia syukuri adalah, istrinya tidak pernah pulang dalam keadaan mereka sedang bertengkar. Keduanya palingan hanya bertengkar kemudian akrab lagi. Kadang saling menyalahkan jika anaknya menangis. Tapi itu dulu, ketika anaknya masih berusia beberapa bulan. Karena sekarang dia juga berperan baik di dalam rumah tangga mereka. Kemudian dia juga mengerti bagaimana susahnya menjaga anak kecil.
Kevin benar juga waktu itu bahwa mengurus anak itu tidak selalu dilimpahkan kepada istri. Terlebih juga Rey selalu ditegur oleh orang tuanya jika dia juga harus berperan dengan baik di dalam rumah tangganya. Terlebih ketika mengurus anak, jangan pernah memarahi istri jika seandainya rumah berantakan dengan kondisi anak yang tidak bisa ditinggalkan. Tugas suami mencari nafkah, tapi istri jauh lebih lelah. Memasak, mengurus banyak hal yang memang begitu sulit untuk dilakukan. Rey selalu mendapat teguran dari orang tuanya juga. Karena orang tuanya yang sudah pengalaman dalam rumah tangga. Terlebih dia sering dimarahi oleh papanya jika dia pulang dalam keadaan cemberut.
Beginilah keadaannya sekarang, dia tidak bisa pergi jauh ketika bekerja karena anaknya yang tidak mau jauh dari dirinya. Rey baru paham mengapa anaknya begitu manja terhadap dirinya. Audri juga yang kadang lebih manja kepada dirinya ketika dia pulang kerja. Namun istrinya selalu memintanya istirahat dan mengerti dengan dia yang butuh istirahat. Tetapi, ketika dia dijelaskan oleh papanya bagaimana dia harus membagi waktu. Dia yang hanya bekerja di kantor, sedangkan istrinya punya banyak pekerjaan di rumah. Menjaga anak terutama adalah yang paling sulit.
Dia ingat ketika istrinya sakit waktu itu. maka sejak itu dia tidak mau lagi pergi ke luar kota dan meminta orang lain untuk mengerjakan pekerjaan ketika ada di luar kota.
“Rey, Marwa nggak pernah keras kepala di rumah?” tanya papa mertuanya.
Tentu saja jawabannya adalah tidak. Istrinya yang selalu mengalah, bagaimana mungkin jika perempuan itu begitu keras kepala. Justru yang keras kepala itu adalah Reynand yang selalu ingin mengerjakan sesuatu dengan sendiri. Karena semenjak dia paham merawat anak itu tidak pernah mudah. Maka dia sering memaksa istrinya tidur dan mengambil alih untuk menjaga anaknya. Lagipula mengurus anaknya yang tidak menerima air susu ibu dari Marwa membuat Reynand lebih gampang, ketika lapar dia hanya membuatkan susu kepada anaknya. Tidak perlu membangunkan istrinya hanya untuk memberi Audri susu.
“Dia nggka pernah keras kepala. Papa tenang aja,”
“Karena Papa yakin kamu bisa didik dengan baik. karena Papa juga tahu bagaimana Om Dimas kamu itu ngerawat dan didik kamu dari dulu. Dia bilang kamu kan besar di dia, dirawat juga sama dia,”
“Iya, Pa. aku memang selalu sama dia,”
“Maka dari itu, ketika Om kamu ngelamar Marwa. Papa setuju karena Om tahu dia punya keponakan kayak kamu,”
“Iya, tapi keponakannya ini pernah jadi pria yang kurang ajar bahkan lupa bersyukur kalau dia punya bidadari di rumah,” kata Rey di dalam hati. Dia memperlihatkan senyumannya.
“Iya, Pa. aku juga sebenarnya nggak nyangka sih bisa nikah sama dia. Yang di mana kami berdua kan pernah menjalin hubungan juga,”
“Waktu SMA itu?”
“Papa tahu?”
“Tahu, tapi Papa kan nggak tahu kalau kamu itu keponakannya Dimas. Tapi semenjak hari di mana dia dengan begitu baik meminta anak Papa untuk kamu. Maka dari itu, Papa setuju. Lagipula kamu kan baik selama ini buat dia,”
Baik? papa mertuanya belum tahu bagaimana kelakuan Rey selama ini bahkan hampir bercerai dengan Marwa. Jujur saja dia malu dianggap baik oleh Papa mertuanya sendiri sedangkan dia jauh dari kata baik untuk menganggap dirinya seperti itu. menyakiti hati perempuan yang begitu setia kepadanya. Rey yang terluka kala itu, dia yang merasakan hatinya begitu hancur dan juga karena dia pernah berkhianat dengan perempuan lain waktu itu dan berniat mengabaikan istrinya demi perempuan lain.
Jujur saja jika Reynand masih sangat merasa bodoh jika dia memilih perempuan itu dulu.
“Kenapa bengong?” tanya papa mertuanya.
Rey tersadar lamunannya kemudian mengambil air minum dan meminumya karena merasakan tenggorokannya sangat kering. Terlebih juga dia yang malu dianggap baik oleh papa mertuanya tadi.
“Papa bilang apa?”
“Papa berterima kasih kalau kamu bisa buat anak dan istri kamu bahagia seperti ini,” kata papa mertuanya.
Dia hanya bisa tersenyum, “Semoga saja seperti itu, Pa,”
“Ngomong-ngomong Papa baru tahu kalau Papa kamu punya panti asuhan,”
“Itu udah lama, Pa. Waktu aku masih kecil, sampai sekarang masih. Istrinya Leo sepupu aku, itu istrinya dari sana,”
“Berarti, itu anak-anak Papa kamu?”
“Iya, beberapa juga sudah kerja di perusahaan aku juga, Pa. Aku ambil mereka, katanya ada juga yang masih tetap tinggal di sana dan bilang kalau mereka itu adalah keluarga, jadi nggak mau ninggalin. Ada juga yang kerja hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Padahal Papa udah ngasih jatah tiap bulan di sana,”
“Papa kamu baik banget. Nggak salah kalau anaknya juga baik,”
“Papa kan punya empat anak, satunya meninggal. Makanya Papa nggak mau kehilangan anak-anak lagi sejak itu. Yang meninggal itu adik aku perempuan. Waktu masih kecil, waktu itu umurnya berapa tahun mungkin, aku lupa karena masih kecil,”
“Yang Papa tahu itu si kembar,”
“Mereka terakhir, Pa,”
“Nah gitu, banyak anak biasanya banyak kasih sayang. Kamu juga nambah nanti,”
“Nggak enak nggak ada saudara, Pa,” timpal Marwa yang membuat Rey tersenyum.
“Iya emang nggak ada teman ngobrol. Aku juga punya adik udah besar waktu itu,”
“Ajakin Audri ke panti asuhan kamu. Ajakin bagaiman dia bisa interaksi dengan yang lainnya. Biar nanti juga terbiasa. Pasti adik-adik kamu juga sering diajak ke sana?”
“Hampir tiap liburan mereka ke sana, Pa. diajakin sama Papa. Apalagi kalau mereka ke sana, Papa sering ngadain makan bareng besar-besaran. Jadi enak banget gitu, makannya rame. Sama-sama, terus bagi rata. Nggak ada yang dibanding-bandingin juga sih, apalagi Papa kan emang dari dulu tuh pengin kalau tempatnya berguna,”
“Kalau misalnya Papa nyumbang? Dibolehin sama Papa kamu?”
Rey tercengang, “Boleh banget, Pa,”
“Kapan-kapan kita ke sana ya?”
Rey menganggukkan kepalanya. Dia juga sudah lama tidak pulang ke rumah yang mengajarkannya arti berbagi. Rey juga sering membagikan hasil kerja kerasnya kepada adik-adik yang di sana. mereka semua sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Istri Leo terutama, bahkan Leo juga masih memberikan sebagian hartanya untuk di sana. karena dia tahu bahwa berbagi adalah hal yang selalu diajarkan oleh keluarganya.
Apalagi ketika dulu Leo yang berjuang mati-matian untuk Amanda juga. Amanda memang pernah sakit. Dan juga Amanda yang berasal dari panti milik orang tua Rey. Bahkan pria itu begitu gagah ketika bertanggung jawab untuk Amanda.
Sepupunya yang satu itu juga sangat luar biasa ketika menghargai perempuan. Dari dia juga Rey belajar apa arti menerima dan juga apa arti mencintai dengan baik. pria itu juga yang menegurnya bahwa menjadi pria bertanggungjawab itu jauh lebih baik dibandingkan dengan pria yang dikejar banyak wanita dan justru lebih memilih perempuan yang dicintainya dibandingkan dengan orang yang mengejarnya di saat dia sudah punya tempat untuk pulang. Pria itu mengajarkannya dengan sangat baik waktu itu.
Jangan lupa berikan vote sebanyak-banyaknya ya. Banyak hal yang tidak bisa diungkapkan, hehehe. Maka dari itu dari sinilah author menyapaikannya dengan sebuah cerita. Bukan karena diri ini baik, melainkan hanya ingin berbagi arti kasih sayang yang sesungguhnya. Terima kasih telah setia menjadi pembaca author selama ini.