RICH MAN

RICH MAN
Keras kepala



Sudah satu minggu Rey tidak bertegur sapa dengan Marwa. Padahal lebih dari tiga hari saja sudah salah. Tapi, istrinya memang keras kepala dan kali ini Hana masih tinggal bersama dengan mereka di rumah itu. Rey bukannya tidak mau jika orang lain tinggal di rumahnya. Tapi, karena Marwa yang memang tidak mau menegurnya sekalipun Rey tetap berusaha untuk menegur sang istri. Istrinya terlalu baik untuk membantu orang lain. Tapi, tidak untuk menikah seperti sekarang ini. Rey akan sangat benci jika memang istrinya memaksa untuk menikah dengan Hana itu. Rey tidak mau menduakan istrinya. Apalagi bermesraan nantinya. Yang di mana kata Marwa bahwa dia boleh menceraikan Hana ketika nanti anaknya sudah lahir. Tapi, siapa yang mau bertanggungjawab nanti? Bagaimana kalau perasaan itu timbul? Apa Marwa bisa menjamin bahwa Rey tidak akan pernah jatuh cinta pada Hana.


Setiap hari selama dia tinggal di sana, Hana sudah memberikan perhatian lebihnya kepada Reynand. Akan sangat menyaktikan setiap hari dia melihat Hana memberikan perhatian. Apalagi menyuapi Audri.


Apalagi hari ini Marwa berencana pulang ke rumah kedua orang tuanya. Yang artinya, dia akan tinggal bersama dengan Hana berdua di rumah. Apa yang dipikirkan oleh Marwa sampai dia berbuat seperti itu? Rey benar-benar menganggap ini tidak masuk akal dan sangat jauh dari kategori hidupnya mengenai menghargai orang lain.


Selama satu minggu juga dia tidak pernah menyentuh istrinya. Sebagai pria beristri, tentu saja tidak bisa dia tahan terus menerus. Meminta jatah? Pasti sangat malu, apalagi dia yang seperti itu.


“Marwa, sumpah aku makin nggak ngerti sama jalan pemikiran kamu,” keluh Rey ketika dia sedang berada di ruang kerjanya.


Baru saja dia mengeluhkan istrinya. Terdengar suara pintu ruang kerjanya diketuk. “Masuk!”


Begitu dia mempersilakan masuk, Rey mellihat perempuan itu perlahan masuk membawa secangkir minuman. Apalagi sekarang ini? Rey semakin merasa dirinya sangat terbebani dengan tinggalnya Hana di rumah ini. Tapi, jika dia bicara dengan Marwa. Pasti mereka akan bertengkar hebat.


“Makasih, ya,”


Hana menganggukkan kepalanya, Rey memang tidak pergi ke kantor kali ini karena dia sengaja ingin melihat reaksi istrinya seperti apa ketika melihat Hana yang jauh lebih perhatian. Peran Marwa diambil oleh Hana. Tapi, perempuan itu tidak peka juga. Rey benar-benar kesal karena dia tidak mau jika istri sahnya justru menjadi nomor dua.


Dosa, adalah ketika dia berduaan di ruangan ini. “Bisakah kamu keluar? Maaf, aku nggak bermaksud untuk mengusir,” ucap Rey pelan tanpa mau menyinggung perasaan perempuan itu.


Sejenak dia melihat ke arah perut yang sedikit membuncit itu. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan oleh dirinya selain merasa begitu simpati kepada perempuan yang menjadi korban gombalan pria beristri.


“Hana, kamu sudah cari, Zibran?”


“Dia pindah rumah,” jawaban singkat itu kemudian tidak dilanjutkan lagi oleh Hana dan langsung pergi begitu saja. Jadi itu alasan kenapa Zibran tidak bertanggung jawab. Dia pergi setelah berhasil menghamili Hana. Dan meninggalkan Hana menjadi korban dari kebusukannya sebagai seorang pria. Tapi, ada waktu di mana Zibran datang mengawasi proyek. Tapi tidak pernah dia temukan di kantor ataupun proyek. Anak buahnya saja yang mengatakan bahwa Zibran sesekali datang meninjau.


“Ah, ya,”


Rey beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi ke kamar untuk melihat istrinya yang sedang bersiap-siap pergi ke rumah orang tuanya. Apa nanti yang dikatakan oleh mertuanya jika dia dan Marwa bertengkar seperti sekarang ini? Tidak mungkin juga dia ikut jika istrinya sendiri tidak menyapanya.


Rey membiarkan istrinya menyetir bukan berarti istrinya bebas pergi ke mana saja. Tapi, entah kenapa beberapa hari belakangan ini Marwa bersikap aneh dan tidak seperti biasanya yang selalu memberinya perhatian yang baik. Semenjak kedatangan Hana di rumah ini. Kehidupan Rey semakin berantakan. Bukan, dia tidak menyalahkan. Tapi, dia merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangganya. Marwa cemburu kah? Rey benar-benar tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran Marwa.


Begitu Marwa keluar dari kamar. Dia melihat mata istrinya sembab. Apa Marwa menangis? Hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Marwa membawa kopernya, tidak membawa tas kecil yang dibawa ketika menginap selama beberapa hari di sana. “Sayang,” dengan percaya diri yangbegitu tinggi, Rey menyapa istrinya karena dia melihat istrinya yang keluar dengan mata yang merah dan sembab.


Dia menggandeng tangan Audri. Anaknya yang baru bisa berjalan itupun dibuat ikut campur dalam masalah ini. Rey langsung menendang pintu kamar karena dia benar-benar kesal dengan perbuatan istrinya. Dia berusaha menahan amarahnya, tapi Marwa yang bersikap seperti itu membuat Rey semakin jijik.


Istrinya menoleh dan melihat tingkah Rey yang menendang pintu hingga terbuka sempurna ketika Marwa menutupnya barusan. Dia langsung menggendong anaknya dan menyeret istrinya masuk ke dalam lalu membanting pintu dan menguncinya.


Audri dia letakkan di atas ranjang sedangkan dia menarik istrinya karena dia tidak bisa melihat kesedihan itu dari raut wajah istrinya. Marwa memang menangis, dari suara napasnya pun terdengar sangat aneh.


“Apa yang kamu pikirkan sih? Aku nggak ngerti sama kamu ya. Kamu nyuruh aku tanggungjawab untuk hal yang nggak aku lakuin. Apa belum cukup luka yang aku kasih ke kamu dan sekarang kamu jadi gila seperti itu, hah?”


Sejenak, Rey menatap mata istrinya yang penuh arti. Tapi, bagaimana cara dia menjelaskan bahwa dia memang tidak bisa untuk menikahi Hana karena dia mencintai keluarga kecilnya. Namun, perempuan itu kenapa tidak mengerti juga tentang keadaan ini. Marwa tidak mengerti dengan perbuatannya.


“Aku sayang kamu,” hanya itu yang dia ucapkan. Dia menendang pintu karena dia kesal ketika istrinya yang sedang berusaha dia bujuk malah cuek terhadap dirinya.


Inilah Rey, ketika dia marah. Maka keras kepalanya akan benar-benar kumat. Tidak akan bisa dilawan lagi oleh Marwa. Tidak peduli dengan Audri yang ada di depan mereka. Karena ini adalah menyangkut masa depan rumah tangganya yang seharusnya memang dikuatkan oleh keduanya. Bukan justru menghindari masalah itu. Sakit rasanya ketika Rey melihat ada air mata yang menetes di pipi istrinya.


Rey mengambil botol susu kemudian memberikannya pada Audri yang langsung memilih tidur diranjang dan menghadap belakang.


“Aku nggak ngerti lagi sama kamu, sayang,”


“Aku kasihan, Mas. Kenapa kamu nggak ngerti juga?”


Menahan emosi di saat seperti ini rasanya benar-benar sulit. Rey mencoba untuk menenangkan istrinya. Ya, dia yang sakit hati di sini. Tapi istrinya juga sepertinya sedang menyembunyikan rasa sakit itu. Rey memang sakit hati karena ucapan istrinay yang sembarangan memintanya untuk menikahi Hana.


Dulu, dia bahkan rela meninggalkan kekasihnya hanya untuk memperjuangkan pernikahannya. Tapi, sekarang ini justru dipaksa menikah dengna perempuan yang sama sekali tidak dikenal oleh Rey. Bahkan, dia juga diminta untuk menjadi ayah dari anak yang dikandung oleh sahabat istrinya itu.


Rey memegang kedua pipi istrinya. Kali ini bukan untuk memuaskan nafsunya, tapi ingin Marwa tahu bahwa yang dilakukan itu salah. Perlahan, dia mencium bibir istrinya yang tadi cemberut karena kesal. Sedikit ada *******, perlahan. Namun tidak ada nafsu yang terasa saat itu. Rasanya dia ingin membagi sakitnya kepada Marwa.


Terasa, saat ciuman itu semakin dalam. Air mata Marwa mengenai pipi Rey juga. Tapi, dia tidak berhenti mencium istrinya karena dia tahu. Bahwa ada rasa sakit yang terasa ditengah ciuman mereka. Bukan hanya sekali dia mencium istrinya seperti itu. Tapi sudah berkali-kali Rey melakukannya bahkan sudah tidak bisa dia ingat lagi.


Rasanya ini benar-benar sakit ketika dia berbagi rasa sakit itu bersama dengan istrinya. Ketika Marwa menggigit lidahnya, Rey melepaskan ciuman itu. “Kamu kenapa? Kenapa kamu nggak pernah mau dengerin aku ngomong, Marwa? Kenapa kamu egois banget, sih? Kenapa kamu nggak mau dengar apa yang aku bilang?” Rey menyerang istrinya dengan ucapan-ucapan yang teramat menyakitkan.


“Aku cuman pengin kamu bantuin dia, Mas,”


“Marwa, jangan korbankan kebahagiaan kamu demi kebahagiaan orang lain. Lihat, belum apa-apa kamu sudah cemburu,”


Marwa menggelengkan kepalanya. “Kamu tetap di rumah, Mas. Aku mau tenangin diri aku,”


 


 


Rey mengendurkan tangannya lalu membiarkan Marwa mendekati Audri dan menggendong anaknya yang sedang tidur itu. “Kamu egois!”