
Sudah satu bulan rumah tangga Reynand dan Marwa membaik. Dia tidak pernah bosan untuk terus belajar memahami Marwa. Mulai dari selalu menghargai perempuan itu hingga membuat perempuan itu bahagia setiap harinya. Walaupun terkadang keduanya jarang bertemu. Marwa yang selalu menunggunya di ruang tamu bahkan hingga tertidur. Suatu kebiasaan itu terjadi ketika Rey terlambat untuk pulang.
Mereka sudah tinggal lagi di apartemen. Kini mereka berdua memiliki rumah baru, rumah yang dihadiahkan oleh Papanya waktu itu, sebenarnya dia ingin sekali menolak. Akan tetapi keras kepala papanya tidak bisa dilawan oleh Reynand. Mau tidak mau dia menerima itu, ingin sekali dia membeli rumah sendiri dengan hasil usahanya sendiri. Tidak membebani orang tuanya. Tetapi papanya berkata bahwa itu merupakan hadiah pernikahan untuk mereka berdua.
Rey menerima pesan dari istrinya yang di mana istrinya selalu membuat makanan kesukaan Rey dan dia mulai terbiasa dengan masakan Marwa. Apalagi kue-kue manis yang dibuat oleh istrinya. Selama ini dia baik-baik saja dengan masakan istrinya, tidak ada masalah sedikitpun. Bahkan dengan senang hati istrinya akan menemani bekerja hingga larut malam. Terkadang Marwa tertidur di sofa hanya karena menemani Rey bekerja.
Suatu kebiasaan yang akhirnya mulai menjadi hal yang menyenangkan bagi pria itu adalah ketika ada yang menemaninya ketika sedang lelah.
Pernah ketika itu dia ingin sekali membuka cadar Marwa ketika perempuan itu tidur dengan sangat terlelap. Seperti tidak ada yang menganggu sedikit pun, namun karena Marwa terbangun, Rey tidak jadi melakukan hal itu dan tidak ingin mengulangi ingin melihat wajah istrinya.
Butuh waktu, ketika nanti dia akan menerima kenyataan bagaimana rupa istrinya. Suatu tanda tanya besar, mengapa hingga saat ini mereka masih saja pisah ranjang dan tidak mencoba untuk saling mengerti.
Pria itu masuk ke dalam rumah malam itu, dia menemukan istrinya seperti biasa berada di dapur sedang membuat kue. Perlahan Rey mendekati Marwa. "Kenapa enggak istirahat aja? Kamu capek, belum siapin persiapan aku, masak, nyuci. Aku cariin pembantu enggak mau, kamu juga kan butuh istirahat," ucapnya sambil merangkul istrinya.
"Aku enggak apa-apa, Mas. Kamu mau di masakin apa?"
"Aku sudah makan tadi, ada meeting gitu sama klien, Marwa. Jadi maaf aku makan di luar,"
"Enggak apa-apa kok, Mas istirahat aja!"
"Aku mandi dulu ya, nanti turun lagi mau cicipi kue buatan kamu,"
"Beneran ya!" Marwa menunjuk Reynand.
"Iya, kapan coba aku bohong sama kamu?"
"Janji harus suka?"
Reynand berpikir sejenak. "Lebih suka orang yang buat sih daripada buatannya, serius deh enggak bohong,"
Marwa tersipu malu mendengarkan ucapan suaminya. Dia melepaskan rangkulan suaminya dan langsung beranjak ketika oven mulai berhenti memanggang.
Rey yang melihat istrinya semakin hari semakin gemas dan mulai timbul rasa penasaran itu, tapi dia mengerti bahwa istrinya masih menjaga jarak dengannya. Setiap kali Rey berusaha untuk memeluk, perempuan itu menghindar dan benar-benar masih trauma. Rey juga diam-diam sering menemui mertuanya untuk menanyakan perihal Marwa yang takut terhadap lawan jenis. Dan mertuanya dengan rinci menjelaskan itu semua, Rey yang mulai perlahan ingin menyentuh Marwa. Mulai dari memeluk, dan memegang tangan istrinya. Walaupun terkadang dia merasakan bahwa tangan istrinya seringkali bergetar ketika mereka bersentuhan.
"Tunggu sini, aku ke kamar dulu. Mau mandi, terus udah gitu kita nonton film bareng, oke?"
"Iya, Mas mau minuman apa?"
"Hmmm kalau kamu enggak capek, aku mau dibuatin jus mangga boleh?" pinta Rey.
Marwa berpikir sejenak. "Mangga enggak ada di kulkas, Mas. Adanya apel, mau enggak?"
"Ya sudah enggak masalah, yang penting enggak capek. Aku ke kamar dulu," Rey mengelus kepala istrinya dan meninggalkan perempuan itu di dapur.
Menyenangkan memang, akan tetapi dia masih ingin perlahan menyentuh Marwa dengan kesabaran itu. Barangkali jika dia membuka cadar perempuan itu dengan cepat, Marwa akan marah atau barangkali akan lebih menjauhinya.
Rey tidak ingin suatu kesalahan terjadi, walaupun menikah hampir dua bulan, tetapi dia tetap ingin menjaga hati istrinya dengan baik. Bahkan semua barang dari Bintang sudah disingkirkan oleh mamanya. Rey tidak ingin mengecewakan orang yang telah hadir di dalam hidupnya. Mungkin belajar menerima adalah sesuatu hal yang harus dia lakukan.
Berlama-lama mandi dan melamun di sana. Akhirnya dia keluar dengan mengenakan handuk kecil. Pakaiannya selalu saja rapi. Setiap hari Marwa mengambil pakaian kotornya di kamar. Bahkan menggantikan seprai yang digunakannya. Kamarnya juga yang selalu bersih dari debu, tidak ada debu sedikit pun di sana. Walaupun Rey ingin sekali meminta seseorang untuk membantu istrinya, tetapi karena perempuan itu selalu saja menolak, dia harus menuruti itu karena tidak ingin bertengkar karena hal seperti itu dengan Marwa.
Rey sudah menggunakan pakaian dengan rapi, dia pun memilih keluar dari kamar.
Rey turun dari kamarnya sambil membawa laptopnya. Dia menemukan Marwa di ruang tamu dengan beberapa kue dan juga minuman yang telah dia pesan tadi. Rey langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan merangkul Marwa kemudian mencium pipi istrinya dibalik penutup wajahnya.
"Mas ih, ngeselin,"
"Tapi malu tahu kalau Mas cium gitu,"
"Kenapa malu? Kita udah nikah kok,"
"Kamu aneh tahu enggak,"
Rey tak mempedulikan itu dan langsung menekan tombol power di laptopnya. Dia menunggu beberapa saat, mencari film yang menarik untuk ditonton berdua.
Rey pun akhirnya membuka salah satu film horor, "Mas, kok film horor?"
"Kenapa? Takut?"
Rey melihat istrinya sejenak, "Siapa yang takut?"
"Kamu Marwa,"
"Enggak, aku enggak takut tuh,"
Rey menyeringai. "Ya udah ayo nonton!" ucapnya dan melihat ke arah kue itu. "Aku cicipin kuenya ya," ucapnya. Kue itu nampak sangat enak. Seperti biasa bahwa kue buatan istrinya selalu saja enak.
"Enak?" tanya Marwa ketika Rey mulai memakan kue itu.
Rey geram dengan hal itu, ia pikir itu adalah kue dengan rasa pandan. Tetapi justru rasa greentea dan membuatnya emosi.
"Marwa, kamu tahu aku enggak suka ini kan? Kenapa kamu masih sajikan?" ucapnya sambil melempar itu.
Bukan rasanya tidak enak. Akan tetapi seketika ingatan tentang Bintang terlintas ketika merasakan greentea lagi. Pasalnya dahulu Bintang sangat menyukai greentea. Saat ini istrinya tengah menyajikan kue dengan rasa yang ia benci.
"Aku enggak tahu, Mas. Aku enggak tahu kamu enggak suka," ucap Marwa sambil berusaha menjelaskan.
Rey yang dikuasai oleh emosi langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyingkirkan piring itu hingga piring dan isinya berantakan di lantai. Piring itu pecah, dan membuat Marwa menutup mulutnya dengan tangannya.
"Mas," panggil Marwa lirih.
"Apa? Kamu sengaja buat ini?"
Marwa beranjak dari tempat duduknya. "Aku minta maaf,"
"Kamu kelewatan, Marwa. Aku sudah bilang kalau aku enggak suka sama greentea. Kamu sengaja gitu mau ing-" Rey menggantung ucapannya. Cukuplah dia yang tahu tentang perempuan masa lalunya itu.
"Apa Mas?"
"Enggak ada," jawabnya dingin.
"Aku udah berusaha buat ini dan itu sangat susah, gini cara kamu Mas?" lirih Marwa dan Rey melihat istrinya menangis untuk pertama kalinya. Perempuan itu berlalu meninggalkan Rey di ruang tamu.
"Marwa tunggu!"
Perempuan itu berlari, Rey duduk dan menjambak rambutnya mengapa hanya dengan makanan itu dia mampu mengingat Bintang dengan sangat baik? Apalagi dia sudah membuat istrinya menangis.
"Maafin aku, Marwa. Enggak seharusnya kamu terlibat dalam kenangan bodohku dengan perempuan itu."
Rey mengusap wajahnya kasar dan merasa sangat bersalah karena telah membuat Marwa menangis.