
Rey istirahat di dalam mobil sejenak, dia tertidur di sana selama perjalanan. Tadi sebelum memutuskan untuk pergi ke taman itu, dia sudah membeli bunga lavender untuk Marwa. Dia tahu sendiri bahwa perempuan itu sangat menyukai bunga lavender.
Sejenak dia melihat ke arah arlojinya, yang di mana waktu itu merupakan waktu di mana dia seharusnya berada di taman. Akan tetapi keadaannya yang tidak memungkinkan, dia terlambat datang ke sana. Meski begitu, keinginannya tetap untuk bertemu dengan istrinya di sana.
Setibanya di sana, tetap saja hasilnya nihil. Marwa tidak datang lagi untuk menepati janjinya seperti yang dikatakan sembilan tahun silam, dan jika memang tidak bertemu lagi, Rey sudah tidak tahu harus mengkondisikan hatinya seperti apalagi. Sudah terlalu banyak derita yang dia rasakan, entah bisa atau tidak dia hidup tanpa perempuan itu nanti.
Andai saja dia tahu lebih awal tentang keberadaan perempuan yang dia cari, tentu dia tidak akan pernah memaksakan diri seperti ini di keadaannya yang sakit hanya untuk bertemu dengan perempuan yang begitu dia cintai. Mengetahui bahwa Marwa adalah Bintang. Rey tidak ingin menutup mata, siapa pun dia ingin tetap mencintai perempuan itu dengan sangat baik. Walaupun pada awalnya memang tetap menyakitkan, memaksakan diri untuk mencintai perempuan itu di saat hatinya tidak begitu baik.
Sudah beberapa jam dia menunggu, hari sudah menjadi semakin gelap. Tidak ada tanda-tanda perempuan itu datang menemuinya, bunga yang dia bawa pun mulai tidak sebagus tadi. Rey memperbaiki syalnya yang terlilit di lehernya. Sudah menyerah rasanya, ditambah batuknya yang tidak bisa ditahan lagi.
Sementara itu, dari kejauhan sosok perempuan itu menunduk dengan ragu, dia berdiri beberapa meter dari sosok pria yang menunggu itu di bangku panjang, yang di mana dia dulu batal bertemu dengan pria itu karena suatu insiden.
Marwa menunduk kaku, dia ingin sekali memanggil nama pria itu, mengakui kesalahannya yang telah pergi dari hidup suaminya sendiri karena merasa bahwa suaminya telah mengkhianati pernikahan mereka berdua. Akan tetapi sosok yang dicintai suaminya adalah dirinya sendiri.
"Andai memang kamu tidak datang lagi, entah sampai kapan aku akan nunggu lagi. Mungkin saja aku akan menyerah," Marwa mengurungkan langkahnya setelah mendengar itu. "Menyakitkan, adalah ketika kamu berjanji bahwa kita akan tetap bersama. Tapi kamu yang pergi, apa ini cara kamu untuk menyakiti lebih dalam lagi? Belum cukup bersembunyi dan menjadi orang lain untuk menyiksaku,"
Marwa menutup mulutnya waktu itu. Dia mendengar suara parau dan melihat suaminya terlihat menunduk di sana setelah melempar bunga itu. Terlihat sosok yang putus asa kali ini. Tidak pernah dia lihat sebelumnya suaminya seperti itu, pria itu terus menunduk dan menjambak rambutnya.
Marwa, berjalan dengan ragu kemudian mendekati suaminya. Barangkali pria itu tidak menyadari dirinya yang berdiri di depan suaminya sendiri, karena beberapa orang yang lewat dari depan suaminya barusan, barangkali Rey berpikir bahwa dia adalah orang lain.
"Mas, aku datang," suara Marwa parau. Dia sudah mengawasi pria itu lebih dari satu jam yang lalu. Dia takut untuk menghampiri Reynand. Takut jika pria itu kecewa terhadap dirinya.
Perlahan pria itu mengangkat kepalanya, seolah tidak percaya dengan apa yang dihadapannya saat ini. Delapan tahun, penantian yang selalu saja sia-sia. Dia tidak ingin terjadi lagi untuk kesekian kalinya.
Melihat mata suaminya yang berkaca-kaca, "Mas," ucapnya lagi.
Pria itu berdiri dan mereka berdua saling berhadapan, hari sudah mulai gelap. Orang-orang meninggalkan taman dan hanya beberapa orang yang tersisa. Namun jarak mereka berdua dengan yang lainnya begitu jauh.
Rey tetap bungkam, akan tetapi matanya berbicara meski mulutnya tertutup rapat.
"Aku datang nemuin kamu, Mas," ucap Marwa yang tidak bisa membendung lagi air matanya.
Rey yang tak kalah bahagia bahkan hingga membuatnya meneteskan air mata. "Hmm, selamat datang," balas pria itu dan langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya. Begitu erat, hingga tangis Marwa tidak bisa ditahan lagi dan kemudian akhirnya pecah.
"Kamu enggak bakalan pergi lagi?" tanya Rey.
Marwa menggeleng, dia kali ini membalas pelukan suaminya begitu erat sambil menangis. Luka yang pernah mereka rasakan bersama melebur menjadi satu, Rey yang terus memeluknya semakin erat, Marwa pun demikian. Dia tidak ingin melepaskan pelukan suaminya.
"Kamu janji enggak bakalan pergi ninggalin aku?"
"Enggak bakalan, Mas. Maaf atas kejadian dulu,"
Pria itu merasa sakit mendengar pernyataan istrinya, bukan dia yang salah. Akan tetapi suatu kejadian yang memaksa mereka menunda pertemuan itu. Dia mengusap air matanya dan melepaskan pelukan istrinya.
"Ayo pulang!" ajak Rey.
Marwa menggeleng. "Aku pengin dengar cerita kamu selama nungguin aku dulu," balas Marwa yang tidak bisa menghentikan air matanya untuk tidak menetes lagi.
"Nanti kita cerita di rumah, kita pulang!" ajak Rey.
"Enggak, Mas,"
"Marwa," ucap Rey pelan. Sungguh dia tidak bisa lagi menahan tubuhnya. Keadaannya yang melemah, ketika sakit seperti sekarang ini dia tidak bisa terlalu lama berada di luar.
"Mas kamu kenapa?" tanya Marwa panik yang melihat Rey langsung duduk dengan wajah yang pucat dan batuk sedari tadi.
"Ayo pulang nyonya. Tuan masih kurang sehat," ucap sopirnya yang waktu itu menghampiri dan menghampiri mereka berdua di taman.
Marwa membantu suaminya masuk ke dalam mobil. Selama di perjalanan, Rey terus saja batuk. "Aku boleh tidur di sini?" pinta Rey yang memegang bahu istrinya. Marwa tidak bisa menolak hal itu, antara sedih dan juga khawatir. Bahagia jika akhirnya dia bertemu dengan suaminya meski dengan keadaan memaksakan diri, karena dia tahu bahwa penantian suaminya sudah sangat begitu lama.
"Aku tidur dibahu kamu, dan peluk!" Marwa menarik kepala suaminya dan mengelus kepala pria itu pelan. Marwa tidak tega melihat keadaan suaminya yang seperti sekarang ini. Salahnya, yang waktu itu ditawari oleh Dimas untuk bertemu dengan Rey ketika suaminya sedang jatuh sakit. Tetapi dia justru menolak karena alasan belum siap.
Mobil pun berhenti, Marwa yang baru saja sadar bahwa mereka tiba di rumah mertuanya. Entah apa yang membuat sopirnya berpikiran seperti itu hingga membawa mereka ke tempat mertuanya. Harusnya mereka pulang ke rumah karena memiliki rumah sendiri, "Mas, bangun!" Marwa menepuk pipi suaminya dan membangunkan pria itu hingga benar-benar tersadar. Mama mertuanya pun keluar.
"Marwa," panggil Nagita yang terkejut melihat Marwa datang ke rumah mereka. Diluar dugaan, dia berpikir bahwa Marwa tidak akan pernah menemui Rey lagi karena mereka berdua sudah cukup menahan derita masing-masing karena saling menyakiti.
Meski dalam keadaan bingung karena kedatangan menantunya, dia membantu Rey masuk ke dalam kamar yang terlihat begitu lemah.
"Maafin aku, Ma," ucap Marwa sambil menangis. Karena dirinya menjadi penyebab Rey jatuh sakit lagi. Andai saja dia keluar lebih dulu dan menemui suaminya, tentu tidak akan pernah terjadi hal seperti itu.
"Sudah, Nak! Jangan salahin diri sendiri, yang penting sekarang kamu enggak pergi ninggalin dia lagi kan?" tanya Nagita memastikan bahwa anaknya tidak akan pernah ditinggalkan untuk kedua kalinya oleh perempuan yang begitu dicintai oleh Rey.
"Enggak, Ma. Marwa bakalan tetap di sisi, Mas Rey," beberapa saat kemudian mereka telah tiba di kamar Rey yang di mana sudah dia siapkan. Jika pun tidak datang, Nagita tetap merapikan kamar itu untuk Rey.
"Kalian istirahat! Mama siapin makan malam,"
Marwa pun mengangguk dan membiarkan mertuanya pergi. Rey yang duduk dipinggiran ranjang sambil membuka syalnya. Baru saja Marwa hendak pergi. Rey menarik tangan istrinya. "Mau ke mana?"
"Mau sholat magrib,"
"Sholatnya di sini, enggak boleh pisah kamar lagi mulai sekarang!"
Marwa mengangguk pelan. "Tapi,"
"Enggak ada kata tapi, ya sudah aku sholat duluan,"
"Kamu kan sakit,"
"Sakit enggak jadi alasan. Kalau enggak bisa berdiri, ya duduk. Kalau enggak bisa duduk, ya berbaring,"
"Kenapa?"
"Ah, itu Mas," ucapnya berusaha mencari alasan.
"Itu apa?"
"Sebenarnya, aku lagi datang bulan,"
Rey memutar bola matanya dan terlihat lesu. Ingin sekali dia sholat berjama'ah untuk pertama kalinya bersama sang istri.
"Maaf,"
"Kenapa bohong tadi bilang mau sholat?"
Marwa terdiam dan kebingungan mencari alasan. "Malu," ucap Marwa pelan.
"Diam di sini. Aku sholat dulu, enggak boleh ke mana-mana!" ucap suaminya dengan tegas,
Marwa pun melihat punggung suaminya mulai tenggelam dibalik pintu kamar mandi. Jujur, untuk pertama kalinya dia merasa canggung seperti ini, untuk pelukan padahal dia seringkali melakukan itu dengan suaminya. Tetapi kali ini sikap Rey yang jauh lebih dingin dan seolah tidak menemukan kehangatan, Marwa merasa sangat malu.
Beberapa menit kemudian suaminya selesai melaksanakan ibadah, dia masih setia menunggu. Rey bangun dan mendekati dirinya, benar-benar ekspresi yang membuat Marwa sangat kebingungan kala itu. Antara takut dan juga canggung.
Rey duduk di sebelahnya. Pria itu memegang kedua tangannya, awalnya dia merasa sangat malu. Tetapi tatapan suaminya mengisyaratkan seolah tidak ingin dilepas membuatnya mengerti.
"Marwa," ucap Rey pelan sambil mengelus kepala perempuan itu dengan tangan kanannya.
Marwa menunduk malu. "Angkat kepalamu, lihat aku!"
Ucapan itu membuatnya semakin tidak karuan lagi. Benar-benar membuat Marwa menjadi perempuan yang begitu malu karena suaminya. Dia menggeleng dan membuat Rey terus mengucapkan itu dengan nada yang semakin lembut.
"Boleh?" ucap Rey pelan dan membuat Marwa tersentak dengan ucapan itu.
"Boleh apanya?" Marwa terkejut karena berpikir bahwa Rey akan meminta jatahnya sebagai seorang suami.
Rey tersenyum. "Buka cadarnya!" ucap Rey pelan. Marwa memejamkan matanya kemudian mengangguk pelan.
"Mas yang buka!"
Rey mencium kening istrinya sebelum melakukan itu, dia mengucapkan bismillah ketika membuka ikatan cadar itu. Dia perlahan menurunkan cadar hitam yang selalu membalut wajah istrinya dengan begitu anggun.
Seolah menusuk ke dalam hati Reynand. Pria itu meneteskan air matanya setelah melihat perempuan yang ada dihadapannya kini, "Assalamu'alaikum istriku," ucap Rey dengan nada parau dan tidak bisa lagi mengekspresikan bahagianya. Dia tidak cengeng, tetapi dia terlalu bahagia ketika melihat perempuan itu tersenyum ke arahnya.
"Wa'alaikumussalam suamiku," sambut Marwa yang membuat Rey mencium kening istrinya.
"Maaf selama ini sudah terlalu sering buat kamu menderita,"
Marwa menggeleng. "Bukan kamu yang buat aku menderita, tapi aku yang buat kamu menderita selama delapan tahun, Mas," ucap Marwa dan tidak terasa air matanya menetes.
Rey perlahan mendekatkan wajahnya. Marwa merasakan napas hangat Rey di wajahnya. Dia memejamkan wajahnya ketika suaminya menciumnya. Itu adalah pertama kali dalam seumur hidupnya.
Di balik pintu, Azka yang tadinya hendak melihat keadaan putranya yang katanya melemah baru saja membuka pintu dan terkejut melihat anaknya yang melakukan hal itu. Mencium Marwa dengan begitu lembut, Azka langsung menutup pintu dan Nagita yang melihat ekspresinya yang mengelus dada hendak berbicara. Tapi Azka menyambar mulut istrinya dan menutup mulut perempuan itu dengan tangannya kemudian membawa ke tempat lain.
Nagita memberontak dengan tingkah suaminya itu.
"Mas kenapa, sih?"
"Mama enggak bilang kalau Marwa di kamar," protes Azka.
"Kan Marwa emang di kamar, Papa enggak ketemu?"
"Bikin Papa malu aja," ucapnya lagi yang saat itu benar-benar malu seandainya putranya tahu bahwa dia masuk tanpa izin ke kamar itu.
"Kenapa coba? Papa kenapa keluar dari kamar mereka langsung elus dada?"
Azka menarik istrinya dan menempelkannya ke tembok. "Mereka lakuin ini, Ma," Azka mencium bibir Nagita. Dan ketika mereka saling melepaskan. Nagita terkejut.
"Me-mer-mereka ciuman, Pa?"
Azka mengangguk, Nagita memegang kedua pipinya dan tersenyum. "Papa enggak ajak Mama ngintip," protesnya.
"Mereka suami istri, ngapain di intip-intip? Toh kita juga enggak ada yang intip, Ma," ucap Azka sambil menarik hidung istrinya.
"Papa mulai jahilnya,"
"Papa senang mereka balik, dan semoga Rey mau melanjutkan pernikahan. Dan enggak lagi nikah secara siri,"
"Semoga Pa,"
"Kalau udah begini, bakalan jadi Kakek muda nih," ucap Azka menggaruk kepalanya.
"Biarin, yang penting anak kita bahagia,"
"Harusnya kita yang nambah anak ya, kan Ma?" candanya.
"Mau punya cucu masih aja mesumnya, Pa," balas Nagita dan langsung keluar dari kamar. "Panggil mereka yuk, makan malam dulu! Kasihan si kembar udah nungguin di bawah."