
Dua tahun kemudian.
Rumah tangga yang sudah pasti akan memiliki konflik kecil maupun besar. Tidak ada rumah tangga yang terikat janji suci tanpa adanya konflik. Semuanya pasti ada, namun banyak orang yang lebih memilih diam ketika sedang dilanda masalah agar orang lain tidak tahu masalah mereka. Itu adalah sebaik-baiknya orang yang menyimpan masalahnya dengan pasangan mereka.
Baik itu juga bagi Rey dan juga Marwa yang sudah sama-sama saling mengerti bagaimana rumah tangga itu harus berjalan dengan apa adanya, tanpa ada ikut campur orang tua. Selama ini orang tua mereka masing-masing tidak ada yang ikut campur ketika mereka sedang bertengkar. Kecuali ketika salah satu dari mereka yang sakit. Barulah orang tua ikut mengambil peran saat itu juga. Rey yang memang sengaja tidak ingin jika rumah tangganya dengan Marwa diikut campuri oleh keluarga yang lainnya.
Hari ini, dia berencana untuk pergi ke pemakaman orang tua mamanya. Sudah lama sekali dia tidak membawa Marwa maupun Audri ke sana.
“Papa, Papa lihat Ody bica pacang cepatu, Pa,”
Rey yang sedang berdiri di dekat jendela tiba-tiba dihampiri oleh anaknya yang sebentar lagi genap berusia tiga tahun. Audri akrab dipanggil dengan sebutan Ody, itu adalah nama yang dia suka. Karena usianya yang masih kecil tidak memungkinkan dia yang belum fasih bicara menyebut namanya sendiri.
Audri berdiri di depannya dengan setelan gamis, lengkap dengan jilbabnya dan juga sepatu yang dipasang belum terlalu sempurna karena dia memasangkan dirinya. Rey berjongkok begitu anaknya berdiri dan tersenyum di depannya. Dia memperbaiki sepatu anaknya yang dipasang belum sempurna itu. “Anaknya papa memang pintar, ya. Mama mana sih?”
“Mama di kamal, Pa. Ody panggilin, ya!”
Rey menggeleng dan mencium anaknya. “Nggak usah, nanti kesayangan Papa capek turun naik tangga. Tadi siapa yang nemenin turun?”
“Cendili, Pa. Ody bica tulun cendili, Pa,”
“Bajunya Audri panjang. Nanti keinjek waktu turun tangga. Nggak boleh lagi ya turun sendirian! Kasihan nanti kesayangannya Papa jatuh,”
“Nggak, Pa. Ody kan angkat bajunya Ody, itu kata Mama,”
“Kecil-kecil pintar banget ngejawab sih, hmmm?” Rey menggendong anaknya kemudian menciumnya hingga anak itu tertawa dengan ceria. Audri yang memang menjadi anak ceria. Pun begitu ketika dia tinggal bekerja di luar kota. Kadang dia rindu suara gelak tawa anaknya yang setiap hari selalu terdengar di rumah mereka. Audri yang selalu ingin tahu dan belajar juga melalui mamanya. Rey juga bersyukur ketika anaknya tidak terlalu cengeng dan juga banyak keinginan. Rey suka dengan sikap anaknya walaupun sekecil itu sudah bisa membedakan apa yang tidak boleh dan boleh dilakukan. Dia selalu izin sebelum melakukan sesuatu dan bertanya apakah itu boleh atau tidaknya. Jika dia ataupun istrinya mengatakan tidak, maka anaknya akan menuruti. Pun begitu sebaliknya.
Begitu Marwa turun, Rey masih menggendong anaknya. Istrinya membawa tas yang di mana itu adalah pakaian untuk mereka yang akan menginap di rumah Om Dimas untuk beberapa hari. Marwa juga meminta agar mereka menginap di sana dan bisa belajar banyak hal di rumah Om Dimas. Karena di sana juga begitu aktif kajian setiap harinya. Pasti akan selalu ada di mushala, Rey juga setuju dengan permintaan istrinya.
“Pa, Ody hafal yang kemalin, Pa. diajalin cama, Mama,”
“Hafal apa coba?”
Audri terlihat sempat berpikir, “Ma, Ody lupa. Culah apa, Ma?”
“Al-kahfi sayang,” kata Marwa mengingatkan.
Mereka berjalan menuju mobil. Sedangkan si bocah masih berada digendongan Rey. “Apa coba?”
Ketika berada di dalam mobil. Audri melafalkan surah Al-kahfi dengan jiharkah yang selalu diajarkan oleh Marwa. Saat memorinya masih bagus di mana Rey juga selalu mengaji ketika magrib. Kebiasaan itu yang membuat anaknya ikut dan bahkan selalu ikut sholat berjamaah ketika mereka berkumpul.
Suara Audri yang terdengar sangat lucu. Sekalipun ketika menyebutkan huruf masih ada yang terdengar sama. Huruf ja, dza dan za dilafalkan sama oleh Audri. Tapi itu tak apa bagi Rey, karena dia mengerti jika anaknya masih belum fasih berbicara dengan sempurna untuk melafalkan huruf s pun anaknya masih susah.
Ketika Marwa mendampinginya untuk melafalkan ayat satu sampai sepuluh, “Ody bica cendili, Mama,”
Rey kemudian menganggukkan kepalanya memberi kode kepada istrinya agar Marwa diam. Anaknya yang terus melafalkan dengan baik selama diperjalanan. Sesekali Rey memperbaiki bacaan Audri yang dilompati, hingga kemudian Audri mengulang lagi.
“Semoga anak, Papa bisa lafalin huruf dengan segera ya! Bisa ngaji juga,”
“Aamiin,” ucap Audri sembari mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Sebenarnya dia tidak memaksa jika anaknya untuk menghafal, tapi Audri sendiri yang selalu penasaran dan bertanya apa saja yang dibaca olehnya ketika mengaji. Rey pelan-pelan mengajari dan justru anaknya semakin hari semakin ingin tahu apa yang dibaca oleh Rey.
“Nanti di rumah kakek, ketemu adek Annisa,” ucap Rey yang di mana itu adalah anaknya Erlangga. Sepupu Rey yang satu itu memilih untuk menikah muda atas suruhan papanya. Itu juga karena Erlangga sudah cukup umur dan bisa mencari nafkah. Usianya juga sama dengan istrinya sehingga Om Dimas memberikan izin jika Erlangga menikah selama dibawa ke jalan yang baik. Dia tahu bahwa Erlangga memang pernah cerita dengan perempuan yang akan menjadi calonnya waktu itu. ketika lulus kuliah, dia bekerja sebagai arsitek yang di mana itu adalah keinginannya sedari dulu. Hingga sekarang ini, dia bisa membahagiakan keluarga kecilnya dan juga punya rumah yang jaraknya sedikit lebih jauh dari rumah Rey.
“Adek Ica nginap, Pa?”
“Ya dong. Kan nanti mau main sama, Audri,”
Selama diperjalanan anaknya terus menanyakan atau bahkan bercerita mengenai kesehariannya selama di rumah ketika Rey tidak ada. Anaknya juga sempat tertidur tapi terbangun lagi seolah dia tahu bahwa mereka akan segera sampai.
“Pa, Ody pengin pakai kayak, Mama!”
Yang Audri maksud adalah niqobnya seperti Marwa. Anaknya memang selalu ingin ikut apa yang digunakan oleh Marwa. Namun karena Audri masih terlalu kecil, maka dia mengecualikan untuk itu. “Nanti sayang, nanti kalau udah besar ya,” jelasnya. Anak itu masih berada di pangkuan Marwa sedari tadi.
“Mama cantik, cama kayak Ody. Ody cantik, kan, Pa?”
Dia tertawa mendengar anaknya bertanya demikian. Tentu saja Audri itu cantik, karena menurun dari Marwa dan juga Rey. Semakin besar, justru kemiripan dengan Rey semakin terlihat,”
“Audri, dikit aja dong ambil muka, Mama nih. Masa ngambilnya sama papa terus,” protes Marwa yang membuat anaknya kebingungan.
“Ngambil muka? Gimana calanya, Ma?”
Rey justru semakin gemas dengan anaknya. Audri menoleh ketika mereka berbelok masuk ke pekarangan rumah om Dimas. Begitu keluar dari mobil, dia justru turun dan berlari menuju depan pintu rumah Om Dimas.
“Accalamu’aikum (Assalamu’alaikum) kakek,”
Pintu terbuka dan Om Dimas langsung berjongkok ketika Audri minta untuk bersalaman. “Wa’alaikumussalam cantik. Cantik banget sih, hmm?” ucap Dimas ketika melihat Audri yang begitu lucu dengan setelan gamis dan juga jilbabnya.
“Kakek, Ody pacang cepatu cendili tadi,”
“Ohya, pintar banget sih,” puji Dimas dan membuat anak itu langsung menyeringai. Gigi susu yang berbaris begitu rapi dan masih utuh membuat Dimas gemas dengan anak Rey yang sangat lucu ini. “Annisa bangunin sana!”
Audri berlari ke dalam untuk mencari keberadaan Annisa, mereka sering menghubungi lewat video call dan kadang Erlangga datang ke rumahnya untuk menghampiri. Erlangga sebelum lulus kuliah juga bekerja, pria itu memang sangat kerja keras dan juga setelah lulus justru direkrut oleh perusahaan yang besar di sana.
“Assalamu’alaikum. Om apa kabar?”
“Wa’alaikumussalam,” Om Dimas mengulurkn tangan ketika Rey meminta untuk bersalaman. “Alhamdulillah baik. Kamu sibuk banget ya?”
“Hehehe gitulah, Om. Tahu sendiri kan kayak apa,”
“Ya udah, adik kamu di dalam tuh,”
“Lho, yang lainnya ke mana? Adik aku yang lain mana?”
“Mereka di rumah neneknya. Mereka tinggal di sana, nggak mau pulang. Tante Viona juga udah berusaha jemput tapi emang nggak mau pulang. Cuman Angga tuh yang setia di rumah,”
“Dia udah sampai?”
“Udah, tuh anak kamu udah bangunin dia aja,” jelas Om Dimas ketika Annisa digendong keluar oleh istri Erlangga.
“Kak Rey,” sapa istrinya Erlangga begitu mereka berada di ruang tamu.
“Pa, Ody bangunin adek,”
Rey menggelengkan kepalanya ketika melihat anaknya yang tertawa ketika membangunkan Annisa yang tertidur. Harusnya dia membiarkan anak kecil itu tertidur, tapi justru anaknya dengan lantangnya masuk ke dalam dan membangunkan Annisa. “Kenapa bangunin? Adek lagi bobok sayang,” peringat Marwa.
“Diculuh kakek,” jawab Audri dengan jujur ketika dia menunjuk Om Dimas.
“Nggak apa-apa kak. Dari tadi dia tidur kok, tapi sekarang kalau udah ada teman main, pasti nggak bisa tidur lagi. Buktinya dia nggak nangis,” ucap istrinya Erlangga yang kemudian menurunkan Annisa yang baru saja bisa merangkak.
“Ohya, Om. Aku mau ke pemakaman dulu deh kayaknya,”
“Nggak nanti aja?”
“Nggak, Om. Biar ke sana dulu sama Marwa dan Audri,”
“Oh ya udah. Kamu mau jalan atau pakai mobil?”
“Jalan kaki aja, Om. Kan deket banget,” ucap Rey yang kemudian mengajak keduanya untuk pergi ke pemakaman terlebih dahulu. Siapa tahu dia juga bisa bertemu dengan teman-teman bermainnya ketika kecil dulu. Dia tidak akan pernah lupa dengan yang lainnya. Siapa tahu ada teman yang nasibnya kurang beruntung yang bisa Rey rangkul untuk ke kota dan mengajak mereka bekerja di tempatnya sesuai dengan bidang mereka. Rey ingat teman-temannya dulu yang selalu menemaninya setiap hari. Apalagi ketika pulang sekolah. Rey tidak mungkin melupakan kenangan itu. di saat dia butuh orang tua lengkap, teman-temannya yang menemaninya dulu dengan begitu baik.
Ketika mereka melewati halaman rumah yang cukup sempit, Rey berhenti ketika melihat seseorang yang berjualan sosis bakar dipinggir jalan saat mereka melewati gang sempit barusan. “Pa, mau beli itu!”
Rey kemudian mengajak anaknya ke penjual itu sebelum penjualnya pergi nanti dan justru menimbulkan tangisan pada Audri.
“Bang, sosis bakarnya satu ya! Pakai saos manis,” kata Rey kemudian penjual itu berbalik. Saat penjualnya mengambil sosis dari dalam kotak yang berbentuk kaca. “Farid?” tanya Rey ketika dia merasa tidak asing dengan pria itu.
“Rey?” tanya balik pria yang tak mengenalinya tadi. “Astaga makin cakep aja nih anak,”
“Ralat, bukan anak lagi. Noh anak masih kecil, dia baru anak,” ucap Rey ketika dia menunjuk Audri sambil tertawa. Keduanya pun bersalaman dan Rey merangkul temannya. “Jualan sekarang?”
“Ya, mau kerja apa coba? Cuman lulusan SMA,”
“Udah coba nyari?”
“Udah, Rey. Kebanyakan yang dibutuhkan itu minimal lulusan S1,”
“Hmmm, mau ninggalin tempat ini nggak?”
“Maksudnya?”
“Kerja di tempat aku. tergantung nanti bidangmu apa. Aku coba masukin,”
“Ya ampun, Rey beneran?”
“Ya, Fahmi juga ada di sana,”
“Dia juga sempat ngajakin aku. tapi aku malu, kalau dia kan sesuai sama kuliah dia,”
Rey merangkul pria itu. “Kenapa harus malu? Toh kita udah temanan sejak lama. Dia juga yang ngasih tahu aku, kamu sama Fadli masih nganggur. Tapi aku udah coba cari malah nggak ada. Kebetulan si kecil pengin sosis, kita ketemunya di sini. Tiap kali ke sini aku coba untuk nyariin. Tapi malu kalau harus ke rumah kamu,”
Rey tersenyum kemudian dia mengeluarkan ponselnya meminta nomor temannya yang mungkin nanti mereka akan pulang bersama.
Nita, yang waktu itu sempat menolak dibantu oleh Rey dan Marwa. Tapi dengan kerja keras Marwa untuk perempuan itu bekerja ditempat Marwa. Hingga akhirnya dia mau bekerja di sana dan sekarang dia yang memegang penuh tempat Marwa membuka usaha yang diberikan oleh papanya Rey waktu itu.
Kehidupannya juga sekarang terasa jauh lebih berguna dibandingkan dengan yang dulu. Rey juga bersyukur ketika istrinya tidak terlalu memilih dalam mencari karyawan. Begitupun juga dengan Rey yang jauh lebih mengutamakan orang yang membutuhkan. Dibandingkan dengan orang yang hanya mengandalkan ijazah. Selama orang itu mau belajar dan pendidikannya serendah apa pun, Rey tidak akan pernah mau untuk membiarkan orang yang hanya mengandalkan ijazah tapi hasil kerjanya berantakan. Karena yang dia butuhkan adalah orang yang jujur, orang yang cekatan. Bukan orang yang hanya mengandalkan nilai dan juga pendidikan tinggi.
“Ya udah nanti kalau aku balik. Kita pulang bareng ya, aku bawa kamu. Tenang aja nanti kamu tinggal di sana, siapa yang nganggur juga teman-teman kita dulu waktu kecil?”
“Ada beberapa, Rey,”
“Ajak aja. Yang penting kalian itu jujur. Nanti aku berusaha untuk masukkin ke mana aja yang kalian mau. Aku punya beberapa usaha kok,”
“Beneran ya?”
“Ya, kalau ada apa-apa. Kalian ngadu tuh ke om Dimas. Suruh orang tua kalian ngadu kalau seandainya terjadi apa-apa. Aku tanggungjawab, asal kalian kerjanya yang benar. Niat bahagiain orang tua, jangan sampai nanti tiba di sana kalian lakukan hal yang macam-macam!”
“Janji, Rey. Aku nggak bakalan kecewain kamu,”
“Ya udah, berapa nih? Buru-buru soalnya,”
“Nggak usah. Buat anak kamu aja, aku mau pulang. Mau ngasih tahu ibu kalau aku bakalan kerja sama kamu,”
Rey tersenyum begitu dia melihat ekspresi bahagia dari teman masa kecilnya. Rey tidak tanggung-tanggung untuk membantu temannya ketika dia dibutuhkan. Saat itu juga, dia langsung pergi setelah temannya berpamitan pulang kepadanya. Rasanya dia sangat bersyukur jika dia bisa membahagiakan orang banyak dengan apa yang dia punya.
Om Teddy yang pernah membuat salah kemudian sudah meminta maaf atas apa yang terjadi dan kali ini sedang memperbaiki diri dengan dosa masa lalu yang di mana pengkhianatannya mengakibatkan adik Rey meninggal di dalam kandungan sang mama dulu ketika masih bersuami istri.
Kemudian, tante Deana, yang juga meminta maaf kepada mamanya karena dulu pernah merasa bodo amat dengan perselingkuhan itu. semuanya akan kembali pada dirinya masing-masing. Menjadi pemaaf, adalah pelajaran paling berharga yang dia pelajari dari mamanya yang juga sudah mengikhlaskan kepergian Syakila dengan baik. Karena anak itu pernah hadir ditengah-tengah mereka. Tapi pastinya anak itu tidak akan pernah tahu apa-apa karena kesalahan itu murni dari orang tua.
Rey juga tidak melakukan kesalahannya yang dulu dan menjadi pria yang jauh lebih bertanggungjawab lagi dengan keluarganya.
Mereka pun saat ini sedang berada di pemakaman nenek dan juga kakek Rey dari pihak mamanya. Sedangkan Oma dan Opanya juga sudah berpulang satu tahun yang lalu dengan jarak hanya satu minggu. Satu kesedihan yang belum usai setelah kepergian Opa. Disusul lagi dengan Omanya yang membuat hati Rey benar-benar hancur. Tapi dia tetap berdoa agar kedua orang itu ditempatkan disisi terbaik karena merekalah yang membuat Rey hidup bahagia seperti sekarang ini. Mereka juga yang begitu keras kepala untuk merawat dan mendidik Rey dengan baik. Masa kecilnya yang juga dimanjakan oleh Omanya dan juga Opanya.
“Kakek, Nenek, ini Audri yang waktu itu Rey bawa waktu dia masih kecil banget. Sekarang aku bawa lagi, aku juga bawa istri aku. terima kasih selama ini sudah berjuang buat Mama, buat Om Dimas. Terima kasih untuk nenek yang sudah meminjamkan rahimnya untuk melahirkan kedua orang yang begitu aku sayangi. Om Dimas yang selalu mengajarkan kebaikan sama aku. pasti kakek dan nenek juga orang yang baik. Sampai-sampai mereka itu begitu baik sama aku. Mama juga orangnya sangat baik, itu juga pasti karena kalian ngedidiknya sangat baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian,”
Sejenak, Rey menundukkan kepalanya dan menangis karena dia tidak pernah melihat kakek dan neneknya selama hidup. Selama ini dia hanya mendengar cerita-cerita dari Om Dimas mengenai keduanya.
“Audri, ayo sayang berdoa. Tuh lihat Papa lagi berdoa!” perintah Marwa begitu Audri hendak berdiri tadi. Anak itu pun mengikuti keduanya menengadahkan tangan untuk berdoa.
“Cemoga Kakek cama Neneknya Papa bahagia aamiin. Ody cayang cama kakek dan neneknya Papa. Daaaah, Ody pamit ya,” ucap Audri begitu mereka usai berdoa dan Rey juga berpamitan pulang. Sekalipun tidak akan ada jawaban. Tapi tetap saja dia berpamitan dengan sopan.
Kepada Semesta.
Peluk orang-orang yang begitu aku sayang dengan hangat.
Kau adalah yang sebenar-benarnya tempat yang begitu baik.
Mengajariku bagaimana arti kehilangan yang sebenarnya.
Ada begitu banyak air mata yang tidak bisa lagi jatuh untuk memahami arti kehilangan itu.
Barangkali mereka tertawa atas luka yang sedang aku rasakan.
Barangkali, mereka sedang merayakan kehilangan yang sedang aku rasakan dengan pesta pora yang megah.
Jangan biarkan aku seperti orang yang kehilangan jiwa utaranya untuk mencari sebuah titik temu yang disebut dengan kebahagiaan.
Mata hatiku yang pernah dibutakan dengan kebahagiaan semu
Harap hilanglah.
Kepada mimpi,
Menyapalah dengan begitu damai.
Sekali saja, boleh aku merasakan pelukan orang yang sudah berada pada sisi-Nya?
Ingin sekali aku rasakan setiap tangan yang menguatkan itu
Setiap jemari yang tak lagi menggenggam untuk memegang dengan erat
Sudah tak lagi aku rasakan. Genggam aku, peluk aku!
Katakan semuanya pada semesta! Bahwa aku ingin bertemu dengan mereka.
Aku membiarkan air mata yang menghujaniku.
Mimpi yang membohongiku bahwa semuanya itu adalah bayangan.
Menengadahkan tangan berdoa pada tiap-tiap waktu yang aku punya.
Berharap bahwa apa yang ada di sisiku tak lagi kau ambil.
Napasku terkadang terdengar tersandung ditenggorokan karena sesak yang tak bisa keluar dari dadaku hanya berdoa bahwa aku ingin kebahagiaan ini menjadi yang terakhir.
Kepada Semesta
Terima kasih telah menitipkan cinta, luka dan juga bahagia.
Belajar bagaimana harus mencintai dengan ikhlas.
Menjalani luka yang teramat pedih sekalipun raga ingin lenyap dari dunia ini karena pernah begitu sakit.
Bahagia, adalah ketika aku menyadari. Bahwa menjadi diri sendiri itu jauh lebih berharga. Tidak ada hal yang jauh lebih baik ketika menjadi diri sendiri.
Yang aku sadari adalah. Apa yang aku miliki di dunia ini adalah titipan dari-Mu.
Semua yang ada ini kapan saja bisa Engkau ambil dariku.
Tidak peduli dengan air mata, tidak peduli dengan rasa sedih yang mungkin saja tidak akan pernah ada akhir.
Aku menyadari, bahwa hidupku begitu singkat di dunia ini. Terlalu banyak yang kugunakan untuk hal yang mungkin saja tidak berguna dan bisa saja Engkau tanyakan kelak di hari perhitungan. ‘waktu yang selama ini kau manfaatkan untuk apa?’ lalu aku kemudian tidak bisa menjawab apa pun. Mulutku dikunci, tanganku dan anggota tubuhku yang lain kemudian menjadi saksi. Sebab lidahku bisa saja berbohong kala itu.
Aku takut, takut jika apa yang kugunakan di dunia ini hanyalah untuk mencari kebahagiaan sementara itu.
Istriku, anakku adalah hal yang akan kupertanggungjawabkan kelak dihadapan-Mu.
Mohon tetap jadikan aku sebagai seseorang yang bisa mendidik, menjaga keluarga dengan baik. Untuk menjauhi larangan-Mu dan juga melakukan apa yang menjadi kewajiban di dunia ini.
Tentang kehilangan.
Tak ada yang tahu bahwa kehilangan itu akan berakhir menyedihkan dan waktunya entah kapan
Semua pasti akan merasakan kehilangan.
Manusia hanya bisa menjalankan apa yang telah menjadi rencana-Mu.
Namun, aku percaya bahwa rencana-Mu adalah hal yang paling terbaik bagiku dan juga hidupku.
Sungguh tak layak diri ini jika meminta Surga-Mu.
Namun, aku juga tak kuasa menahan tangis ketika berada di neraka-Mu.
Karena itu, kuatkan hatiku untuk tetap taat kepada-Mu.
Menjalankan semua perintah-Mu
Sekalipun apa yang tidak kutahu di dunia ini, mohon tetap bimbing aku ke jalan-Mu yang benar.
Selalu aku panjatkan doa-doa untuk orang-orang tersayang yang lebih dulu pergi agar Engkau mendengar doaku dan juga menempatkan mereka di sisi terbaik-Mu.
Sekalipun aku tidak tahu di mana mereka berada.
Aku percaya, mereka akan bahagia.
Sebab, tempat istirahat terakhir setelah meninggalkan dunia ini adalah menjadi RAHASIA-Mu
--Dari author yang penuh dosa.