
Sore itu, mereka berdua masih asyik berada di sana. Begitu banyak orang berlalu lalang, suara musik saling beradu satu sama lain hingga lagu yang diputar pun terdengar begitu berantakan. Suasana yang terbilang romantis, apalagi ditambah dengan beberapa pasangan yang sedang memadu kasih, duduk berdua berhadapan. Namun, tangan tak berhenti untuk saling menggenggan.
Sore itu menjadi sebuah awal kehidupan yang baru dengan kebahagiaan yang tersirat di raut wajah Reynand dan juga Bintang. Namun, begitu pandainya seorang pria menyembunyikan perasaannya. Termasuk juga Rey, dia tidak bisa menceritakan begitu banyak hal tentang kebahagiaan yang dia rasakan. Hanya saja waktu bersama gadis itu begitu berharga baginya.
Rey masih setia duduk di sana, menantikan kembalinya Bintang yang tadi izin untuk memesan makanan, Rey hanya duduk sembari mengaduk-ngaduk minumannya. Gadis itu belum juga kembali, Rey membuka kantong plastik yang berisikan beberapa buku yang tadi ia beli bersama dengan Bintang.
Rey membuka bungkus buku tersebut dan mulai membaca, helai demi helai halama buku tersebut sudah ia lewati, Bintang belum juga kembali, apakah gadis itu meninggalkannya sendirian di sana?
Rey menarik napas berat, menunggu beberapa saat, "Maaf ya, aku tadi ke toilet,"
Rey mengarahkan pandagannya tepat pada mata Bintang, begitu jelas terlihat perubahan semenjak gadis itu berpamitan kepada dirinya, lipstik Bintang yang tadinya memudar kini lebih terlihat jelas lagi, bulu mata yang lentik dengan maskara yang tidak terlalu tebal, bedak Bintang juga sepertinya dipoles kembali oleh gadis itu. Ia tak berkomentar banyak, hanya membalas ucapan gadis itu dengan senyuman, kemudian gadis itu duduk di depannya lagi sambil bercerita banyak hal. Mengenai sekolah tempat dia menimba ilmu dulu.
Bintang bukan gadis yang seperti Widya, jika Widya terlalu banyak menyangkut pautkan orang tua, tidak dengan Bintang, apalagi tadi setelah menjemput gadis itu, Rey sendiri tahu bahwa temannya itu bukan dari kalangan orang biasa. Rey mencoba memahami itu, setidaknya dia hanya ingin berteman baik dengan Bintang. Walaupun tingkah gadis itu yang selalu saja ceria dan bermanja dengan dirinya, Rey memaklumi itu, apalagi semenjak Bintang menjadi murid baru, Rey adalah teman pertama yang dimiliki gadis bermata cokelat itu.
Selang beberapa menit, seorang pelayan datang mengantarkan beberapa pesanan Bintang, gadis itu menyeringai saat pelayan tersebut meletakkan beberapa makanan di atas meja tempat mereka berdua berbincang.
"Sebanyak ini?"
"Aku yang bayar kok,"
"Bukan masalah bayar dan enggak bayar, tapi yakin bisa habiskan ini?"
Gadis itu tertawa, "Aku belum makan siang, Rey,"
"Aku pikir kita bakalan mampir beli minuman doang, kalau tahu kamu belum makan, aku bakalan pesanin dari tadi, Bintang,"
"Hehehe, dari pada kamu tuh ngomel, mending kamu ikutan makan!"
Rey melihat di atas mejanya beberapa hidangan yang sudah tersaji, di sana juga ada kentang goreng yang dia sukai, Rey hanya menyentuh makanan itu dan membiarkan Bintang menghabiskan makanan yang lain.
"Kamu tuh ya, makan pelan-pelan dong!" Rey membersihkan saus yang ada dipinggir bibir gadis itu, terlihat begitu belepotan dan Rey secara spontan membersihkannya, membuat Bintang berhenti sejenak dengan aktivitasnya.
Agak berlebihan memang, tetapi secara tidak sadar Rey melakukan itu dan saat Bintang berhenti, barulah Rey sadar dengan apa yang dia lakukan, "Maaf," ucapnya pelan.
"Udah, lanjut makan!" jawab Bintang dengan ceria. Rey menjawab dengan anggukan ringan disertai dengan senyuman khasnya.
Rey kembali lagi melanjutkan makannya, tidak ingin membuat suasana menjadi canggung karena hal tadi, sebisa mungkin ia mencari topik pembicaraan yang menarik untuk dibahas, entah itu tentang kehidupan yang selama ini dijalani atau cerita tentang orang yang mereka sukai satu sama lain.
Sambil mengunyah makanannya, gadis itu membalas setiap ucapan demi ucapan Rey dengan santai. "Ngomong-ngomong selama ini kamu itu kan terkenal di sekolah, apa enggak ada gitu yang memikat hati kamu buat jalanin suatu hubungan yang serius gitu, Rey?"
"Hubungan serius apa?"
"Ya pacaran gitu lah pokoknya, kamu enggak tertarik sama perempuan?"
Rey terdiam dan menatap Bintang sambil mengaduk minumannya, "Karena enggak ada yang menarik,"
"Hah? Dari sekian jumlah perempuan di sekolah kita, dan sama sekali kamu enggak minat?"
"Bukan enggak minat, cuman belum ada yang cocok,"
"Enggak muluk-muluk, pintar ngaji,"
Uhuk.
Bintang memukul-mukul dadanya karena tersedak oleh makanan yang baru saja dia kunyah, Rey langsung menyodorkan minuman kepada Bintang agar makanan yang dikunyah gadis itu bisa tertelan sempurna.
Entahlah apa yang ada di benak Bintang hingga membuat gadis itu tersedak hanya dengan ucapan sederhana Reynand. Lelaki itu pun hanya menatap sekilas ke arah Bintang saat gadis itu bertanya alasannya. "Kenapa nyari yang pintar ngaji?"
"Bukan hanya itu, dia akan menjadi ibu untuk anak-anakku, jika kecantikan bisa dibentuk. Akhlak itu sulit, Bintang. Lagipula aku bukannya tidak tertarik, aku justru tertarik sama perempuan, hanya saja aku tidak ingin membuang waktu menyakiti hatiku sendiri dengan orang yang salah, aku cuman pengin dia itu satu-satunya buat aku, maka aku jadikan dia yang paling istimewa. Bukan berarti aku ini baik, tetapi aku ingin mendapatkan yang baik pula, aku ingin satu untuk selamanya, enggak ada perempuan lain lagi. Apalagi nanti perempuan tersebut bisa merusak rumaht tanggaku, contohnya tiba-tiba ada yang bahas mantan-mantan gitu kan ya, terus istriku cemburu, ya berantakan.
Aku enggak mau hal itu terjadi, Bintang. Kalau ada yang mau bertahan cukup sama aku, aku akan tetap temani dia juga, enggak bakalan ninggalin, apalagi menyakiti,"
Telah begitu banyak hari yang dilalui bersama Bintang selama ini, kedekatan mereka berdua pun semakin akrab semenjak sering mengobrol bersama.
"Hmmm kalau dia enggak cantik gimana?"
"Aku enggak peduli, Bintang. Mau dia cantik atau enggak, selama akhlaknya baik, kenapa enggak? Toh dia bukan dipamerin sama teman-teman juga kan, intinya dia bakalan jadi yang spesial nantinya,"
"Kamu ngelarang aku pakai rok pendek tadi karena apa?"
"Karena aku enggak suka ada orang lain yang lihat kamu pakai begituan, enggak suka kalau kamu pamerin paha kamu ke orang lain, termasuk aku. Enggak semua orang suka Bintang, apa kamu enggak sadar diluaran sana banyak yang melirik kamu dengan tatapan haus kepuasan?"
"Rey, kamu kenapa bilang begitu?"
"Aku sudah tahu ini sejak dulu, jadi pintar-pintarlah jaga diri,"
"Aku janji akan lebih sopan lagi, Rey,"
"Jangan janji sama aku, Bintang! Janji sama diri kamu sendiri, itu sudah cukup. Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi, aku cuman mau satu hal dari kamu,"
"Apa?"
"Jaga diri kamu, buat aku di masa depan,"
Bintang menatapnya dengan tatapan terkejutnya, "Rey!"
"Bercanda, aku enggak ada niat buat ngasih harapan ke siapa pun. Sudahlah jangan dibahas, yang penting kamu jaga diri kamu itu sudah cukup. Jangan pakai rok mini kalau sama aku, atau kamu aku cuekin sampai kelulusan,"
"Rey kok gitu, sih?"
"Makanya jangan diulangi. Sebagai teman, aku ngingetin ini karena aku sayang sama kamu, paham?"
Sebagai anak pertama, Rey selalu mengambil keputusan atas apa yang pernah terjadi terhadap keluarganya dahulu, tidak sembarangan mengambil keputusan atas dasar keinginannya sendiri. Terkadang ia ingin mendekati Bintang, tetapi berpikir lagi bagaimana nanti jika gadis itu terluka oleh dirinya. Dan Rey tidak yakin bahwa Bintang juga menginginkannya, menjadikan Nabila dan juga Salsabila patokan untuk dirinya agar tidak sembarangan apalagi sekadar menyakiti hati beberapa perempuan. Terlebih Rey tidak ingin membuat perempuan menderita seperti apa yang pernah dilakukan oleh papanya di masa lalu.
Tidak semua sifat anak itu menurun dari orang tuanya, terkadang ada beberapa anak yang berbeda sangat jauh dari orang tuanya. Semua tergantung pendidikannya, bukan sifat turunan wajib dari orang tuanya.