RICH MAN

RICH MAN
Dengan Terpaksa



Rey di undang ke akad nikah keduanya. Tapi dia tidak datang karena harus menyelesaikan masalahnya dengan Marwa. Sungguh, dia benci harus berselisih seperti ini dengan istrinya sendiri. Apalagi Marwa tidak mau tahu mengenai semuanya. Rey sakit hati ketika dia tahu bahwa istrinya itu tidak mau pulang lantaran dia cemburu. Dasar Marwa, bisa-bisanya dia memaksa Rey menikah jika hatinya saja masih sulit menerima itu semua.


Ketika tiba di rumah mertuanya. Dia melihat anak semata wayangnya sedang bermain di tanah bersama papa mertuanya. Audri yang diturukan sejak lama dan anak itu juga bisa berjalan sejak usia sepuluh bulan.


Tubuhnya yang kecil, membuatnya menjadi mudah dan ringan mengangkat kakinya ketika belajar berjalan. Rey juga yang rajin menemani buah hatinya mengajari anak itu berjalan sampai bisa seperti sekarang ini.


Begitu dia turun dari mobilnya, Audri menoleh ke arahnya dan tertawa riang. “Papa,” panggil anak itu sekalipun nada bicaranya tidak terlalu jelas. Dia langsung menghampiri anaknya yang berjalan ke arahnya dengan sangat hati-hati.


Rey bersalaman dan mencium tangan mertuanya. “Kenapa nggak pernah ke sini, hmmm?”


“Sibuk, Pa,”


“Sibuk apa berantem? Marwa matanya sembab terus lho,”


Rey tersenyum kemudian dia menggendong anaknya masuk bersama dengan papa mertuanya. “Aku nggak bermaksud seperti itu, Pa. aku sama sekali nggak ada maksud untuk buat dia kayak gitu,”


“Papa nggak ikut-ikutan untuk urusan rumah tangga kamu, Rey. Papa nggak bakalan ikut campur, yang penting selesai dengan baik,”


Dia tersenyum, beruntungnya dia punya mertua yang tidak langsung menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja sulit dijawab oleh Reynand. Ketika dia masuk ke dalam rumah bersama dengan papa mertuanya. Dia melihat istrinya berusaha untuk menghindar. Dia melirik ke arah papa mertuanya yang kemudian langsung mengambil Audri dari gendongannya. “Bujuk gih! Di kamar ya! Jangan ribut di luar. Nggak baik kalau sampai di dengar orang!”


Dia menganggukkan kepalanya lalu pergi ke kamar istrinya dan mengetuk pintu terlebih dahulu. Ketka pintu terbuka karena Marwa menguncinya dari dalam tadi. Rey langsung mendorong pintu itu ketika Marwa hendak menolaknya.


“Mau sampai kapan menghindar?” tanya Rey kemudian dia menutup pintu itu lalu menguncinya dan mengantongi kunci yang berusaha direbut oleh Marwa. “Aku nggak suka kalau kita berantem kayak gini. Kasihan Papa kamu terbebani sama sikap kamu. Aku nggak suka kalau kamu kayak anak kecil yang nggak bisa dijelaskan. Kamu selalu nyalahin aku atas apa yang kamu lakukan itu. Kamu nyuruh aku nikah itu udah salah, Marwa. Karena aku nggak ada niat ngelakuinnya, belum lagi ketika kamu merasa bahwa kamu itu sahabat baik dengan Hana. Tapi salah besar ketika kamu meminta untuk aku nikahi dia,”


“Bisa kan kita nggak usah bahas dia?”


Dia tahu bahwa istrinya sedang cemburu terhadap Hana. Padahal dia sendiri yang membawa perempuan itu ke rumah. Bisa-bisanya dia juga yang cemburu kemudian meminta agar dia tidak membahas mengenai Hana.


“Sayang sama aku?”


Marwa mengulum senyumnya kemudian mengangguk, Rey menarik istrinya kemudian perempuan itu duduk dipinggiran ranjang. “Aku nggak suka kalau kamu bahas perempuan lain apalagi minta aku nikahi dia seperti waktu itu kamu minta aku nikahi, Hana.”


Istrinya yang tadinya memegang tangannya langsung melepaskan tangan Rey begitupun dengan Rey. Tapi pria itu mengangkat sebelah alisnya karena tidak mengerti dengan maksud sang istri yang bersikap seperti itu. Yang namanya perempuan, mau sehebat apa pun diberikan kode. Pasti akan tetap merasa benar dengan apa yang dilakukan. Padahal Rey ingin sekali menyadarkan istrinya agar perempuan itu menyadari apa yang dia lakukan. Tidak seperti sekarang ini. Kenapa juga Marwa begitu keras kepala memaksa dirinya menikahi perempuan yang tidak dikenal oleh Rey sama sekali.


Ia hanya mendengar mengenai perempuan itu dari istrinya.


“Sayang,” panggil Rey dengan pelan. Dia berharap bahwa istrinya jangan memaksa lagi. Karena Hana kini sudah resmi menjadi istri Zibran. Istri kedua sekalipun itu hanya sementara.


Marwa yang mendengar panggilan itu terdengar begitu manja dari suaminya, tapi tetap dia berusaha untuk menghindar. Marwa bukan ingin berbagi suami. Tapi, dia tidak tega melihat teman baiknya itu menderita dan ditinggalkan oleh kekasihnya hanya karena dia hamil. Namun, Rey menganggap perintahnya itu seperti sebuah hinaan dan menganggap bahwa Rey itu tidak mau membantu orang lain.


Marwa sayang dengan suaminya. Tentu saja itu tidak perlu ditanyakan lagi. Tapi, mendengar Hana yang bercerita sambil menangis ketika dia mengatakan bahwa dia begitu merindukan sosok Zibran. Tapi pria tersebut kabur meninggalkannya. Dia juga bahkan pindah dan tidak mau lagi bertemu dengan Hana. Nomornya juga tidak bisa dihubungi. Marwa semakin sedih ketika mendengar temannya yang ditinggalkan begitu saja oleh pria yang begitu disayanginya itu.


Siapapun yang menjadi kedua pasti akan tetap merasakan perasaan sedih. Terlebih Marwa yang waktu itu pernah mengingatkan Hana untuk tidak melanjutkan hubungan itu. Tapi temannya keras kepala dan percaya pada Zibran yang akan meninggalkan istrinya ketika Hana hamil nanti. Lihat saja, ketika dia meninggalkan istrinya selingkuh. Otomatis kelak Zibran akan berlaku seperti itu juga, itu yang ditakutkan oleh Marwa. Marwa tidak pernah merasa jika suaminya itu sangat suci, sama sekali tidak. Karena dulu Rey juga pernah berselingkuh dan kali ini dia tidak pernah lagi mengulang kesalahan bodohnya.


Handphone pun selalu dibawa oleh Marwa sekarang. Berbeda halnya dengan yang dulu. Kali ini pasti Rey akan langsung meletakkan ponselnya di atas meja ketika pulang bekerja dan menyambar anaknya untuk digendong. Itulah obat lelah yang Rey katakan ketika bertemu dengan anak dan istri dalam keadaan sehat sudah memberinya begitu kekuatan ketika rindunya sepanjang hari terobati oleh mereka berdua.


Marwa pergi dari rumah agar suaminya bisa menerima permintaan itu. Tapi, Rey tetaplah Rey yang sangat keras kepala. Tidak mau melakukan hal itu dengan cara apa pun Marwa memaksa.


“Sayang, sini bentar!”


Rey memanggilnya ketika dia sedang berdiri dan hendak mandi pagi itu. karena dia yang begitu panas ketika bertemu dengan suaminya. Membayangkan suaminya dengan Hana itu memang sakit. Tapi mengingat posisi temannya yang bahkan sampai menyayat tangannya sendiri itu sangat menyedihkan bagi Marwa. Melihat ekspresi suaminya yang begitu tenang sekalipun dilanda masalah, apa yang sebenarnya terjadi? Rey itu sama sekali sulit ditebak.


Sekalipun mereka menikah sudah lama. Tapi, Marwa belum bisa mengerti dengan suaminya yang bertingkah aneh. Tapi sangat sulit dimengerti. Bagaimana lagi caranya agar dia bisa memahami pria itu.


“Mas,”


“Hmmm?” Rey mendekat ketika Marwa membuka jilbabnya karena ingin mandi. Pria itu memang sangat romantis.


Rey mendekatinya dan melingkarkan tangannya di depan perut dan menciumi leher putih Marwa. Ia merasakan sensasi yang luar biasa ketika Rey menciumnya tepat dilher. “Bagaimana kalau aku lakukan ini sama orang lain?”


“Bagaimana perasaan kamu kalau aku kasih tanda itu juga ke perempuan yang kamu inginkan untuk menjadi madu kamu?”


Marwa menundukkan kepalanya. Mendengar pertanyaan Rey seperti itu pastinya sangat sakit karena tidak ada perempuan yang mau cintanya dibagi dengan alasan apa pun. Kenapa dia yang begitu bodoh mau merelakan suaminya untuk perempuan lain dan justru memaksa suaminya melakukan hal konyol itu. sedangkan di dalam hatinya dia begitu berat membiarkan Rey menikah lagi.


Sekali lagi, Rey menciumnya tepat dileher bagian kiri. “Aku kasih tanda yang sama,” ucap Rey. Tapi dari tatapannya. Benar bahwa pria itu sebenarnya sedang menahan amarahnya. Karena ciuman tadi terasa sangat dalam dan hampir saja membuat Marwa mengeluarkan suaranya.


“Kalau aku nikahi, Hana. Terus aku kasih dia tanda seperti itu, lalu kamu lihat ada tanda merah di leher dia setelah bercinta. Bagaimana perasaan kamu? Bisa kamu bayangkan bagaimana aku bercinta sama dia kalau aku nyentuh kamu?”


Marwa menahan emosinya. “Aku nyuruh kamu nikahi dia atas dasar tanggungjawab,”


“Kamu istriku, dan dia juga istriku, bukan? Jadi aku harus berlaku adil. Aku boleh nyentuh dia,


“ ucap Rey yang ingin melihat bagaimana ekspresi istrinya ketika mendengar kata itu. sudah dua tanda merah yang dia buat dileher istrinya. Selama ini dia tidak pernah membuat tanda itu ketika dia bercinta. Sekalipun Marwa menutupnya setiap hari. Tapi baru kali ini dia benar-benar kesal dengan istrinya sendiri.


Rey menyambar bibir Marwa dan menciumya dengan penuh nafsu kali ini. “Ayo kita lakukan!”


Marwa mendorong tubuh Rey begitu saja. “Nggak, Mas,”


Tapi Rey tidak berhenti sampai disitu. Ketika dia berbicara tidak di dengarkan. Mungkin dengan tindakan istrinya baru mengerti apa arti jatuh cinta yang selama ini dia rasakan dan tidak ada niat sedikitpun untuk menyakiti lagi seperti dulu. Marwa memang sudah keterlaluan ketika memintanya untuk menikahi perempuan lain. Rey marah, tentu saja dia marah besar.


Sekalipun kali ini Hana sudah resmi menjadi istri Zibran. Tapi Marwa tidak tahu mengenai itu.


Rey langsung menyeret Marwa ke tempat tidur karena dia tidak ingin jika istrinya terus mengabaikan dirinya seperti ini. Dia tahu arti sahabat, tidak mesti dia mengorbankan kebahagiaannya demi membahagiakan orang lain.


Pada pelepasan terakhirnya yang seharusnya dia menyebutkan nama istrinya. Rey justru menyebut nama Hana di saat itu juga.


Marwa yang langsung mengalihkan pandangan begitu mereka selesai bercinta saat itu. saat Marwa hendak pergi. Rey menarik istrinya dan mendekapnya begitu erat. “Aku tahu itu sakit banget, kan? Aku nggak mau kalau kamu lakukan itu sayang. Aku nggak mau kalau kamu justru korbanin diri kamu buat orang lain yang belum tentu peduli juga sama kamu, Marwa,” Rey sengaja menyebutkan nama perempuan itu disela-sela mereka bercinta agar dia bsia melihat sampai mana Marwa keras kepala untuk tetap mempertahankan egoisnya memaksa Rey menikahi Hana.


Ia menutup tubh istrinya dengan selimut dan menciumi leher istrinya. “Aku sengaja sebut nama dia, karena aku yakin kalau kamu nggak bakalan ikhlas. Sakit kan?” Marwa menangis ketika ia menyebutkan nama perempuan itu tadi.


Rey membalikkan tubuh Marwa dan mencium kening istrinya. “Aku nggak mungkin buat kamu sedih, Marwa. Nggak mungkin aku buat kamu menderita. Aku nggak pernah mau kalau kamu nangis lagi karena aku. hari ini, mereka berdua nikah atas permintaan istri pertama Zibran. Tapi, kamu nggak boleh ikut campur lagi karena mereka akan menikah sampai Hana melahirkan. Setelah itu bercerai,”


“Kamu yang cari pria itu?”


Rey menggeleng. “Nggak, dia yang datang ke rumah orang tua, Hana. Dia pikir Hana di sana,”


“Anaknya?”


“Zibran yang bakalan bawa. Tetap temani, Hana. Bawa dia ke jalan yang lebih baik lagi. Kita sama-sama belajar, jangan sampai biarkan dia dijalan yang salah. Insya Allah akan ada yang menerima dia dengan statusnya sekalipun dia janda nanti,”


“Kamu nggak bercanda, kan?”


“Zibran yang bilang begitu kemarin, kalau istrinya meminta dia untuk menikahi Hana. Tapi sampai melahirkan saja. Setelah itu mereka akan bercerai,”


“Kasihan Hana, Mas,”


Rey menutup bibir istrinya dengan telunjuknya. “Biarkan itu jalan hdiupnya dia yang kita nggak tahu kapan bakalan dikasih bahagia. Jangan sampai kamu berpikiran untuk minta aku nikahi perempuan lain lagi hanya karena dia teman kamu. Aku nggak suka, sekalipun itu teman baik kamu sekalipun, Marwa. Karena yang namanya hamil, akan tetap begitu. Dan aku bisa kasih dia uang aja, tapi tidak dengan status. Karena istri, anak aku itu jauh lebih penting,” jawab Rey ketika Marwa hendak menanyakan sesuatu lagi. “Ayo mandi buruan! Nanti Papa nyariin, kan aku jadi terpaksa lakuinnya di sini. Ini gara-gara kamu yang bikin aku kesal tahu nggak,”


 


 


Rey menarik istrinya ke kamar mandi untuk mandi bersama karena takut jika mertuanya nanti malah memanggil mereka berdua. Tapi seperti yang dikatakan oleh papa mertuanya bahwa mereka harus menyelsaikan masalah mereka dengan baik.