
Rey sengaja tidak pulang ke rumahnya karena orang tuanya telah berjanji akan datang ke rumah oma untuk menginap bersama dengan kedua adik kembarnya yang sudah tidak sabar untuk menginap di sana sejak beberapa hari yang lalu.
Di kamar yang berukuran empat kali enam tersebut, Rey masih berbincang bersama dengan Leo mengenai rencana mereka yang akan pindah sekolah. Setelah obrolan tadi, Leo berniat untuk benar-benar pindah sekolah ke mana Rey akan pergi.
Suara burung peliharaan opa mereka terdengar hingga kamar itu, malam mulai menampakkan sinar rembulannya. Bintang-bintang dilangit berkedip bergiliran. Seolah sepinya malam itu mewakili perasan lelaki berusia belasan tahun itu yang masih diselimuti oleh rasa penuh harapan yang tak kunjung jua selesai. Sebuah perasaan yang harusnya berakhir begitu dikhianati, entah apa yang membuatnya bertahan hingga terus memberikan gadis itu kesempatan untuk menyakitinya lagi.
Dahulu untuk mengisi kesepian, dia akan senang hati untuk menjemput gadis itu ke apartemennya sembari berbincang banyak hal mengenai rencana-rencana pendidikan mereka di masa depan. Akan tetapi semua itu sudah musnah, diujung pengharapan yang tak berujung dengan jawaban.
Beberapa saat kemudian Leo membawa minuman ke kamarnya dan diletakkan di atas meja, mereka pun bergabung untuk bermain PS.
Rey berdiri di dekat jendela sambil duduk meminum minuman yang diberikan oleh Leo tadi. Menikmati angin malam yang menerka wajahnya, embusannya bahkan menusuk hingga ke dalam diri merasakan dengan sangat jelas dinginnya malam itu. Seperti hati seseorang yang tengah mencair setelah membeku, seperti itu perasaan yang tengah dialami oleh lelaki itu.
Jarum jam terus saja berputar, tidak ada tanda-tanda pesan masuk mengenai gadis yang tadi sudah mengecewakannya itu, Rey pun tak ingin memberi kabar setelah tadi dia mengirim pesan terakhir kalinya mengatakan bahwa dia tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk sekadar diberikan pengharapan yang sudah membuatnya terluka. Siapa saja pasti akan terluka jika hanya diberikan harapan tanpa kepastian. Sebatas penantian, tanpa ditemui, bukankah itu adalah hal yang sangat keterlaluan?
Nampak dari balkon kamar sebuah mobil masuk ke area rumah oma nya yang dia yakini itu adalah mobil kedua orang tuanya yang sudah berencana untuk menginap di sana.
"Om Azka datang,"
Rey mengangguk dan membiarkan itu berlalu begitu saja, bersandar di jendela sambil memandangi langit hitam. "Mengapa harus terjadi seperti ini?" ucapnya sendirian. Tidak peduli dengan perasaannya sendiri, dia terlalu peduli terhadap perasaan orang lain yang mengakibatkannya harus terluka begitu dalam seperti sekarang ini. Seharusnya dia memberikan perhatian sewajarnya pada orang lain, akan tetapi perhatian itu dia berikan secara berlebihan hingga membuatnya harus menelan semua pahit itu.
Di langit itu, seolah Bulan sedang disembunyikan oleh awan hitam yang menutupi sinar rembulan agar tidak nampak cahayanya; bagaikan hati yang sedang dirundung pilu. Itu seolah sedang menggambarkan hati seseorang yang diliputi oleh rasa bersalah itu.
Sementara di ruang tamu, Leo lebih dulu turun ke ke bawah dan meninggalkan Reynand sendirian di kamar untuk menyendiri, tidak mungkin dia mengganggu kegelisahan yang sedang dialami oleh sepupunya itu.
"Leo, kok Rey enggak diajak keluar?" tanya mamanya.
"Oh, itu Kak Rey lagi istirahat, Ma. Enggak enak aja gitu bangunin dia mungkin dia kelelahan gitu, Ma. Jadi biarin aja dia istirahat,"
Azka menatap keponakannya dengan tatapan yang tidak percaya, begitu dia melirik Leo, lelaki itu langsung membuang muka ke arah lain hingga membuat Azka mulai curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya.
"Ini baru jam setengah 9 Leo, masa Rey udah tidur?"
Leo berusaha meyakinkan papanya kali ini. Sungguh dia tidak tega harus mengatakan bahwa sepupunya itu sedang dirundung rasa sakit.
Nagita melihat gelagat Leo yang tidak seperti biasanya juga menaruh kecurigaan terhadap lelaki itu, dia melirik ke arah suaminya dan suaminya mengangguk pelan memberikan kode bahwa semua itu mungkin kebohongan yang dilakukan oleh Leo untuk menyembunyikan keadaan Rey yang sesungguhnya.
"Ya udah, aku pamit ke kamar dulu, ya," pamitnya kepada semua orang yang ada di sana.
"Duduk!" ucap Azka dingin, Leo yang mendengar itu langsung menunduk.
"Sekarang jelaskan!"
Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Jelasin apa coba?"
"Om tahu kamu bohong mengenai Rey yang tidur, sebenarnya dia kenapa?"
Suara Leo pun mulai terbata dan sangat sulit untuk menjelaskan itu semua. "Itu, a-aku enggak tahu, Om,"
"Leo, Om tidak akan marah sama kamu, kalau kamu tahu sesuatu tolong katakan, Om enggak tega lihat dia seperti ini terus hanya karena perempuan, kamu tahu dia dekat sama siapa di sekolah?"
Leo terus merutuki dirinya sendiri dalam hati karena omnya tidak mungkin untuk ia bohongi.
"Leo, kalau ditanya itu jawab!" Bentak Papanya, Leo pun menarik napas panjang sambil memainkan kedua tangannya agar lebih tenang. Seluruh mata tertuju padanya hendak ingin menghakimi.
"Kak Rey dekat sama perempuan, namanya Bintang. Bahkan orang-orang di sekolah anggap mereka berdua itu pacaran, tapi Kak Rey sama tuh perempuan nyangkal kalo mereka enggak pacaran," jelasnya.
Azka mulai khawatir dengan anaknya yang belum bisa mengontrol perasaan dan bahkan mengacaukan segalanya, liburan sengaja Azka tunda karena ingin melihat perkembangan anaknya tersebut apakah masih dalam keadaan seperti itu atau tidak, sungguh dia tidak tega dengan apa yang terjadi pada Reynand. Hatinya kacau, dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anaknya seperti itu. Azka tidak mungkin memarahi Rey, karena dia juga pernah muda.
"Pa," lirik Nagita.
Hati Azka mulai teriris kala mendengar suara lirih istrinya, dia tahu perihal Reynand, Nagita paling merasakan itu semua. Mendengar apa yang dikatakan oleh Leo membuat Azka sedikit mengembuskan napasnya dengan sangat berat.
"Om enggak tahu lagi mau kayak gimana, Leo. Mungkin dia memang baru pertama kali jatuh cinta, jadi hasilnya begini. Om harusnya bisa jaga dia dengan baik, berkomunikasi dengan dia dengan lebih baik lagi,"
"Om enggak salah, yang salah itu perempuan yang dekat sama Kak Rey. Dia tahu kalau selama ini Kak Rey sayang sama dia, tapi dia selalu saja gantungin Kak Rey sampai sekarang, dia enggak mau ngakuin perasaan apalagi berkata jujur perihal hubungan mereka itu sebenarnya apa, andai saja aku diposisi kak Rey bakalan ngerasain hal yang sama juga. Tapi Kak Rey masih bisa tahan itu semua,"
"Itulah kenapa Om mau pindahin dia sekolah," ucap Azka kepada seluruh keluarganya.
"Iya, maka dari itu juga aku mau ikut kak Rey ke pesantren," ucap Leo.
Reno yang tadinya hendak minum, tetapi batal setelah mendengar ucapan anaknya yang mengatakan ingin pergi ke pesantren tetapi batal begitu saja.
"Leo, kamu enggak bercanda, kan?" tanya Reno ingin memastikan apakah yang dikatakan anaknya itu benar atau tidak. Karena selama ini dia ingin sekali Leo mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik, tetapi dia tidak ingin memaksa karena sifat Leo yang pembangkang.
"Aku serius, Papa sama Om Azka urus saja surat kepindahan kami di sekolah, dan kami akan belajar dengan sungguh-sungguh nanti ketika berada di sana."
Semua orang tertegun dengan pernyataan itu. Seolah tidak percaya bahwa kedua lelaki yang ada di keluarga itu akan pindah sekolah ke tempat yang mungkin saja bisa membentuk kepribadiannya menjadi lebih baik lagi nantinya.