
Reynand telah bersiap pagi itu, dia mendengar notifikasi ponselnya dan langsung mengambil ponsel dari atas nakas, pasalnya dia tidak pernah bermain ponsel lagi semenjak pulang dari rumah sakit. Bahkan dia meninggalkan ponselnya di rumah ketika menemani Leo di rumah sakit untuk menenangkan sepupunya.
Rey membaca semua pesan, ada sebanyak 100 lebih pesan dari Bintang dan isinya menanyakan kabar dari Rey. Lelaki itu memang tidak izin dan tidak memberitahukan siapa pun juga mengenai dirinya yang tidak masuk sekolah karena menemani Amanda di rumah sakit yang sedang melakukan operasi jantung.
Rey, kamu marah sama aku?
Rey balas!
Kamu ke mana, sih?
Rey, kamu sakit?
Rey, kalau kamu marah, aku minta maaf kalau aku ada salah.
Rey, kenapa enggak balas?
Masih banyak lagi pesan yang dikirim oleh Bintang. Lelaki itu hanya memukul jidatnya karena lupa memberitahu Bintang bahwa dia sedang berada di rumah sakit. Perempuan itu pasti sangat khawatir apalagi Reynand tidak pernah mengabari semenjak libur beberapa hari yang lalu.
Dia turun dari kamarnya dan langsung duduk begitu saja, ia mengambil beberapa lembar roti yang sudah diolesi selai oleh mamanya. "Makannya yang pelan, Nak! Nanti teredak. Lagian ini masih pagi, jangan terlalu buru-buru!"
Reynand justru tak menghiraukan ucapan perempuan yang masih berusia tiga puluhan itu. Reynand tahu bahwa mamanya dulu menikah muda dan itu juga karena terpaksa, karena dirinya yang sudah terlanjur hadir. Reynand tahu bahwa dia yang membuat Mamanya harus menjadi ibu muda, tapi bukan salahnya. Terlebih karena kesalahan masa lalu yang membuat papanya mabuk. Rey mengenyahkan pikiran itu semua dari dalam kepalanya.
Pria dengan pakaian yang sudah rapi dan juga dasi yang terikat dengan sempurna di lehernya itu membuat penampilannya menjadi lebih elegan. Di tambah lagi dengan kemeja yang selalu saja rapi karena istrinya. Azka bersyukur mendapatkan istri yang seperti Nagita, meski memiliki asisten. Tapi jika itu menyangkut Azka, maka perempuan itu memilih untuk menyibukkan diri mengurus rumah tangga.
Rey melihat mamanya yang sedari tadi di lirik oleh Papanya itu hanya tersenyum dan melanjutkan sarapannya, dia tahu bahwa keadaan keluarganya sudah cukup membaik. Mamanya yang sudah mampu memaafkan papanya itu pun terlihat ceria. Berbeda dari ekspresi yang biasa dia lihat setiap harinya.
"Mama sama Papa sebanarnya ada apa?"
keduanya saling tatap kemudian tersenyum, "Ada apa gimana?"
"Aku berangkat, deh,"
Reynand menarik tasnya dan menghabiskan susu cokelat itu hingga tandas. Dia bersalaman kepada pria yang sedang tersenyum ke arahnya sambil menampilkan ekspresi penasaran dengan ekspresi yang ditampilkan oleh papanya. Sedangkan dia mencium mama dan juga kedua adiknya kemudian keluar dari rumah.
Tiba di bagasi, dia menghangatkan mesin motornya untuk beberapa saat sebelum berangkat. Dia melirik ke arah jam tangan yang kemudian langsung menancap gas untuk menuju ke sekolah.
Kurang lebih lima belas menit, Rey telah tiba di sekolah. Lelaki dengan tas yang menggantung dipunggungnya serta dia merapikan dasi abu-abunya sambil berjalan melewati lorong kelas. Seperti biasa, banyak adik-adik kelas yang menyapanya jika lewat dari kelas itu.
Rey tidak pernah mengabaikan orang-orang yang menyapanya. Sebisa mungkin dia menebar senyuman bukan untuk tebar pesona, tetapi dia tahu bahwa memberikan senyuman kepada orang lain juga adalah suatu kebaikan.
Dari sorot mata beberapa meter dari tempat Rey berjalan. Nampak gadis yang rambutnya panjang sedang di kuncir kuda itu menoleh ke arah Rey sesaat. Rey berusaha mempercepat langkahnya namun Bintang berlari kemudian masuk ke dalam kelas dan duduk begitu saja, seolah tak peduli dengan Rey yang berusaha mengejar tadi.
Gadis yang bermata cokelat yang barangkali menarik perhatian Reynand semenjak pertama kali melihat gadis cantik dengan suara yang terbilang sangat lembut itu tak peduli dengan kehadiran Reynand.
"Bintang, kamu marah?"
Lelaki yang hendak menyapa gadis yang sedang mengacuhkannya itu mengurungkan niat untuk menyapa. Di ruang kelas dengan suasana yang masih sepi, hanya Rey dan juga Bintang yang datang lebih awal. Dengan usaha untuk menjelaskan kepada Bintang, lelaki itu berulang kali menarik napas panjang. Ingin sekali dia memberitahu tentang alasan dia tidak membalas pesan Bintang yang mungkin memang jumlahnya begitu banyak.
Rey langsung duduk di atas meja Bintang dan menarik earphone yang sedang dikenakan oleh Bintang. "Aku bisa jelasin, Bintang. Aku bisa jelasin kenapa aku enggak balas pesan kamu,"
"Enggak penting,"
Rey mengangguk pasrah dan membiarkan Bintang di sana. Dia pun akhirnya kembali ke tempat duduknya yang tepat berada di belakang gadis itu. Melihat teman-temannya yang sudah mulai masuk, lelaki itu berusaha untuk tidak memperlihatkan kedekatan mereka berdua.
"Rey, tumben datangnya cepat banget? Apalagi berduaan sama Bintang," ucap salah satu temannya yang sedang menurunkan bangku dari atas meja karena sudah dibersihkan oleh anggota piket kemarin.
Lelaki itu tak bisa berkutik lagi, dia hanya diam di kelas. Karena sudah ada teman-teman yang lain datang. Tidak mungkin bagi Rey untuk menjelaskan itu semua. karena bisa saja teman-temannya curiga dengan apa yang dia lakukan.
Bel jam pertama pun sudah mulai berbunyi, pelajaran Kimia di mulai. Rey mengeluarkan buku dan beberapa kali berbisik memanggil nama gadis yang ada di depannya. Tidak ada tanggapan sama sekali, saat Pak Juki masuk ke dalam kelas, dan pelajaran pun di mulai. Rey membuka halaman terakhir yang mereka pelajari waktu itu.
Pelajaran di mulai seperti biasa, Rey menendang-nendang ujung kursi Bintang yang terbuat dari besi itu. Dia terus menendang berharap gadis itu menanggapinya. Rey akhirnya menyerah dan memilih fokus untuk belajar.
"Aaaah," semua mata tertuju pada Reynand yang tiba-tiba berteriak. Kakinya dijepit oleh Bintang hingga membuatnya mengaduh. Gadis itu tak berkutik, dan tetap fokus memperhatian.
"Bintang, kaki gue please, ah sumpah sakit banget,"
"Pak, Rey berisik dari tadi," lapor Jenny.
Pak Juki yang menjelaskan pun langsung berbalik. "Rey sebenarnya kamu lagi ngapain?"
"Kaki saya terjepit sama kaki kursinya Bintang, Pak,"
Gadis itu menoleh ke bawah dan menatap Rey kemudian meminta maaf berkali-kali. Rey terus mengaduh kemudian dia membua sepatunya begitu saja. Dia melihat kakinya yang sudah memerah.
"Ah sialan, sakit banget tahu enggak, lo tuh kalau marah ya marah aja, enggak usah pakai cara beginian,"
"Baperan,"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Bintang kemudian tak melirik lagi ke arahnya. Rey juga baru ingat bahwa dirinya berbicara dengan sangat tidak sopan terhadap Bintang. Dia pun memasang sepatunya dan kembali fokus pada penjelasan Pak Juki.
"Rey, sudah baikan? Kalau belum mending ke UKS, luka enggak?"
Rey menggeleng dan menurunkan kakinya dari atas kursi setelah mengikat sepatunya.
"Enggak apa-apa, Pak. Maaf mengganggu waktunya, silakan dilanjutkan pelajarannya, Pak!"
Kakinya benar-benar terasa sangat sakit karena perbuatan Bintang. Tetapi Rey tidak bisa berbuat banyak karena gadis itu seolah tidak peduli terhadapnya walaupun dia kesakitan.