RICH MAN

RICH MAN
JIKA PERASAAN ITU ADA



Hawa semakin dingin, malam terakhir mereka berada di sana. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Rey belum bisa tidur dan memilih untuk keluar dan mengambil karpet kemudian tidur di depan tenda sambil menutupi telinganya dan berusaha memejamkan mata di sana. Dia merasa sangat terganggu karena Fendi yang tidur terlalu berisik karena suara dengkuran.


Rey mengubah posisi yang kini sedang duduk satu meter dari api unggun yang mereka buat. Lelaki itu kini sedang memeluk lututnya sambil menunggu air mendidih yang sedang dia masak untuk membuat minuman hangat. Tenda-tenda sudah mulai sepi, hanya beberapa orang yang masih sibuk mengobrol dengan pencahayaan seadanya.


"Belum tidur?"


Rey menoleh saat gadis itu duduk disampingnya dengan menggunakan pakaian tebal dan duduk tepat disebelah kanan Reynand. Beberapa hari berada di sana, Rey telah memutuskan untuk menjauhi Bintang. Daripada hatinya terus saja dipenuhi dengan pengharapan yang semakin membuatnya tidak bisa mengerti dengan keadaan dan status keduanya.


"Kenapa keluar? Malam ini terakhir kita di sini,"


"Aku enggak bisa tidur,"


Rey ber-oh ria. Dia hanya duduk manis dan tetap menghangatkan tubuhnya di depan api unggun, semakin dijauhi semakin dekat. Dan ketika semakin ia dekati justru hati gadis itu tidak pernah mampu dia gapai.


"Rey, kita terakhir di sini. Kenapa kamu enggak istirahat sampai jam segini?"


"Aku enggak bisa tidur," jawabnya dingin. Dia beberapa hari ini berusaha menjauhi Bintang meskipun sikapnya yang masih biasa saja. Akan tetapi dia tidak ingin terlalu memperlihatkan bagaimana dia akan menjauhi gadis itu. Hatinya sudah terlalu dipenuhi dengan pengharapan itu.


"Rey," Bintang menyenderkan kepalanya dibahu kanan Reynand. Lelaki itu diam dan terus membungkam. Dia tidak akan berkomentar apa-apa lagi. Sudah cukup baginya terlalu berharap penuh.


Rey terdiam dan setelah melihat airnya mendidih. "Bintang, aku mau buat minuman dulu," dia berusaha menghindar dan berdiri mengambil air itu. Dia menyeduh minuman dan tetap mendekati Bintang lagi.


"Mau minum juga?"


"Enggak, Rey,"


"Bintang, tidurlah! Siapkan tenaga untuk besok,"


"Ada hal yang mau aku kasih ke kamu,"


Rey terdiam, gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju dalam tenda. Sesekali Rey melirik dan ketika gadis itu kembali, Rey fokus pada minumannya.


Gadis itu duduk di sebelahnya. "Aku menuliskan ini selama kita berkenalan dan hingga hari ini aku menulisnya, ini mungkin terlalu lucu jika kamu anggap aku ini butuh kasih sayang dari kamu. Tapi Rey, aku berterima kasih sangat berterima kasih karena kamu selalu nemenin aku setiap hari. Terima kasih atas waktunya,"


Rey membiarkan tangan gadis itu menggantung di udara bersama dengan buku diary itu. Rey menatap Bintang sejenak, dan gadis itu menganggukkan kepala untuk meyakinkan lelaki itu agar mengambil buku yang disodorkan itu.


"Kenapa dengan buku ini?"


"Aku mau kamu lanjut nulis di sini, Rey. Aku pengin tahu gimana kamu selama ini sama aku. Bukannya kamu pernah nanya gimana perasaan aku sama kamu selama ini? Dan aku tulis semuanya di sini, Rey,"


"Ambillah. Aku enggak butuh itu, Bintang!" Rey menyodorkan kembali. Tetapi Bintang dengan cekatan menolaknya.


Saat itu juga Rey memegang buku diary kecil dan gadis itu membelakanginya dan bersandar di bahu Reynand.


"Kamu tahu alasan aku enggak pernah jujur, Rey?"


"Ada, Rey. Kamu ada, bahkan kamu yang udah buat aku kayak gini. Bahagia, khawatir, aku baru pertama kali merasakan hal yang semenyakitkan ini karena merindukan kamu, kita selalu bersama. Tapi, kenapa aku enggak pernah bisa raih hati kamu?"


"Bukan kamu yang enggak bisa raih, tapi kamu yang menjauh saat aku berusaha untuk meyakinkan diri bahwa kamu itu berharga buat aku. Sekarang, aku sudah menyerah Bintang. Terserah kamu mau ngapain, aku udah enggak mau lagi maksa. Untuk apa aku maksa kamu buat hargai perasaan aku kalau memang pada dasarnya kamu memang enggak hargai perasaan aku?"


Gadis itu terdiam, Rey memeluk lututnya sendiri. Terdengar suara isakan dari belakangnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Bintang hingga gadis itu tetap berat untuk menerima cintanya?


"Kamu kenapa?"


"Banyak hal yang enggak bisa aku ceritakan sama kamu,"


Rey masih tidak mengerti dengan gadis yang ada di belakangnya. Dia meraih kepala gadis itu dan mengelusnya. Seberapa seringnya Rey berusaha membenci hatinya yang mencintai Bintang. Tetap saja jika melihat gadis itu lemah, dia tidak tega.


Rey berdiri dan hendak meninggalkan. Berusaha untuk egois dan meninggalkan Bintang sendirian. Agar gadis itu sedikit paham bagaimana rasanya menahan sakit.


"Rey,"


Langkahnya terhenti saat Bintang memeluknya dari belakang. Rey memejamkan matanya dan kali ini dia harus benar-benar melakukan itu. Meninggalkan Bintang sendirian.


Rey berbalik, dia memeluk Bintang yang sedang menangis dalam pelukannya.


"Maaf,"


Reynand melepaskan pelukannya dan meninggalkan Bintang di sana.


"Rey," Bintang menariknya.


"Tidurlah! Besok kita pulang,"


"Mari bertemu seminggu sebelum kita masuk sekolah di taman belakang sekolah!"


Rey melepaskan tangan gadis itu dan meninggalkan Bintang. "Maaf," lirih Reynand sambil memejamkan matanya. Merasa sangat sakit ketika melihat Bintang yang lemah seperti itu. Memang seharusnya dia meninggalkan gadis yang sudah membuat perasaannya kacau. Bahkan gadis pertama yang dia peluk adalah Bintang, gadis yang sudah menghancurkan harapannya tentang sebuah perasaan cinta pertama yang Reynand rasakan.


Rey menarik selimut tebal sambil menutupi kepalanya. Berusaha untuk tidur dan menenangkan sedikit perasaannya mengenai perihal tadi.


Harusnya Rey percaya terhadap Mamanya untuk tidak mengenal cinta terlebih dahulu dan fokus pada pendidikannya. Harusnya Rey juga tidak percaya terhadap seorang gadis yang sudah memberikannya harapan, akan tetapi berbanding kebalik dengan apa yang terjadi saat ini.


Pernah mencintai, pada akhirnya tersakiti. Pernah merasa begitu berharga, tetapi harus merasakan kecewa. Pernah begitu bangga karena cinta, akan tetapi harus berakhir dengan luka.


Terkadang cinta membuat seseorang lebih tangguh untuk menghadapi kenyataan lebih pahit lagi. misalnya penolakan, kadang seseorang akan menjadi lebih baik lagi setelah hatinya dipatahkan oleh orang yang pernah dia cintai.


Cinta yang datang kadang bisa pergi. Dan cinta yang pergi, bisa saja kembali. Begitulah hukum cinta itu berlaku pada dunia ini. Tidak pernah ada yang bisa menebak, kadang yang begitu dicintai, menorehkan luka yang terus saja membuat hati sakit berkali-kali seperti sedang ditusuk dengan belati.