RICH MAN

RICH MAN
KUNJUNGAN MERTUA



Sore itu, Rey pulang lebih awal seperti biasanya semenjak Marwa dalam masa ngidamnya. Orang tuanya yang bahkan belum pulang, itu menjadi suatu kekhawtiran baginya jika dia meninggalkan istrinya sendirian. 


Bibi langsung menyiapkan minuman untuknya, sedangkan di sana istrinya sedang menyimak si kembar mengaji di ruang keluarga. Tempat di mana mereka selalu berkumpul setiap hari. Setelah menikah, tugas mengajari kedua adiknya mengaji di pindahkan ke Marwa. Karena dia tidak bisa membagi waktu lagi untuk itu. 


Rey tersenyum kala istrinya begitu sabar menghadapi si kembar ketika sedang mengaji. Keduanya yang sering berebut ketika menyetor hafalan, itu sudah menjadi kebiasaan adiknya selama ini. Bahkan sebelum menikah.


"Mas udah pulang? Maaf aku enggak lihat Mas pulang," ucap Marwa sambil berusaha untuk bangun. Meskipun perutnya belum nampak, tetapi Rey dengan sigap melarang istrinya bangun. Justru dia mendekati perempuan itu kemudian bersalaman. Berbeda dengan adiknya yang sedari kemarin malam tidak menegurnya semenjak kejadian itu. Marwa sudah mengingatkan dia untuk tidak berlaku seperti itu kepada kedua adiknya, tetapi justru dia tidak bisa berbuat apa-apa. Justru dia mengunci kamar si kembar semalaman. Tengah malam adiknya menggedor pintu, Rey semakin tidak peduli. 


Pagi harinya, bahkan keduanya menolak untuk di antar ke sekolah oleh dirinya. "Kakak udah minta maaf loh ya, kalian tuh kenapa dendam banget. Siapa yang ngajarin?" ucap Rey. Tetapi adiknya tetap fokus pada bacaannya. Marwa tersenyum kemudian menggeleng, dia mengelus punggung Rey. 


"Sudah, sana masuk kamar! Aku mau lanjut dulu. Tadi Mama telepon, katanya mau pulang hari sekarang. Masih belanja sih katanya," 


"Dia telepon ke kamu?" 


"Iya, dia nanyain aku minta makanan apa. Sekalian keluar gitu katanya," 


"Terus kamu pesan apa?" 


"Lagi enggak pengin makan apa-apa," 


Rey sungguh merasa sangat kasihan terhadap istrinya, jika bisa dipindahkan. Lebih baik dia yang merasakan semua itu. Melihat berat badan Marwa yang turun drastis, Rey mengernyit. Jika dia membuat istrinya menderita, Rey lebih memilih bahwa dirinya saja yang merasakan masa ngidam itu. Meskipun akan merasakan hal yang sama. Tapi penderitaan seorang wanita tidak bisa berakhir begitu saja. Apalagi nanti ketika perut istrinya sudah membesar, beban akan di bawa ke mana-mana. 


Pria itu duduk diatas sofa sementara istrinya berada di bawah sambil tetap menyimak si kembar. Dia mengelus kepala istrinya, mencium aroma shampo Marwa yang masih tercium begitu jelas. 


"Ngidamnya kenapa sakit banget ya? Aku enggak tega," bisiknya sambil berusaha meraih perut istrinya yang sedan duduk di bawahnya. 


"Mas mandi, terus nanti balik lagi. Aku masih nyimak yang dua ini loh, nanti turun ya!" 


Dengan berat hati, Rey menghabiskan minuma yang telah di siapkan oleh bibi barusan kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke kamar. Membersihkan tubuhnya dari keringat yang masih lengket di tubuhnya. 


Melihat Nabila yang sedang bersantai, Rey selalu memiliki ide untuk menggoda adiknya. Dengan sengaja dia menjulurkan lidahnya di depan Nabila yang tengah melancarkan hafalannya. Nabila bilangin sama Papa loh nanti," 


"Emangnya kakak takut? Satu lagi, jangan samain kakak sama guguk," 


"Siapa yang nyamain? Kakak yang menjulurkan lidah dari tadi. Makanya biar kakak tuh enggak terusin, Bila bilang kalau ada yang sering menjulurkan lidahnya," 


Rey mengerucutkan bibirnya dan menjulingkan matanya untuk mengganggu Nabila. Dia masih kesal dengan tingkah adiknya yang menyebalkan itu. Mengapa harus Nabila yang menjadi kakak saat Salsabila tubuhnya lebih besar dibandingkan Nabila? 


"Kak Marwa, Kak Rey mulai bandel lagi," ucap Nabila melapor kepada Marwa yang dari tadi menyimak Salsablila. 


"Mas udah dong! Calon Papa enggak boleh gangguin adiknya, nanti anak kita diganggu mereka, memangnya Mas mau?" 


Rey berbalik dan menatap Marwa dengan tatapan tidak suka karena istrinya berkata demikian. "Enggak," 


Seusai mandi dan berpakaian santai, Rey berbaring di sofa sambil memakan lolipop dan bermain game. Adiknya telah selesai menyelesaikan hafalannya. Bahkan saat itu paha istrinya ia jadikan sebagai bantalan untuk kepalanya. 


"Mas, besok jadi ke rumah Mama?" 


Rey terdiam sejenak ketika mendengar ucapan istrinya. "Yakin?" 


"Iya, kangen. Setiap kita berjanji, selalu saja batal. Aku harap nanti enggak batal lagi, Mas. Kangen,"


Rey melanjtukan bermain game online pada ponselnya, dia tidak peduli dengan ucapan istirnya. Bahkan dia tidak menanggapi sama sekali. "Kakak diajak ngomong malah diam aja," Salsabila yang waktu itu sedang mengerjakan PR ikut berbincang bersama mereka. 


"Iya, besok kakak bakalan ke sana kok," jawabnya kepada sang adik. 


"Assalamu'alaikum," 


"Wa'alaikumussalam," jawab ketiganya bergiliran. Rey sangat kenal dengan suara itu, itu adalah suara orang tuanya yang seperti dikatakan oleh Marwa bahwa keduanya akan pulang sore itu juga. 


Terlihat dari raut wajah Papanya yang begitu lelah dan terlihat seperti tidak tidur sama sekali. 


"Papa kusut banget," 


"Oma sakit apa, Pa?" 


"Oma kamu jatuh di toilet, Rey. Kakinya terkilir, pengin ketemu sama kamu sih katanya. Jadi kalau bisa, kamu mampirlah. Jangan cuman di rumah. Kamu enggak kangen sama Oma kamu?" 


"Tapi kan, Marwa di rumah sendirian, Pa?" 


"Rey, punya istri. Bukan berarti kamu melupakan keluarga utama kamu. Sekarang kamu punya istri, jadi kamu lupa sama Oma kamu gitu? Oma pengin ketemu sama kamu, kangen ngobrol sama kamu. Rey, bahkan ketika kamu punya anak kelak, dan ketika Oma diberikan umur panjang untuk bertemu dengan cicitnya, tetap saja kamu adalah anak kecil bagi Oma. Mau sampai kamu punya anak berapa pun, kamu akan tetap seperti anak kecil di hadapan orang tua, ataupun Oma kamu," 


Rey bangun dari tempat berbaringnya tadi kemudian melirik ke arah mamanya. "Mama kenapa?" 


"Mama enggak apa-apa, cuman Mama kasihan lihat Papa. Kamu besok jengukin Oma ya! Kasihan dia pengin ketemu sama kamu, biar Marwa sama Mama dulu, dia enggak sanggup ke rumah Oma kan," Nagita yang melihat suaminya berlalu hanya berusaha memahami. Begitu banyak kekhawatiran yang dihadapi oleh pria itu. Takut jika Tuhan mengambil ibunya, bahkan diperjalanan tadi suaminya selalu bercerita mengenai ketakutan-ketakutan itu. Sedikit demi sedikit Nagita mengerti bahwa kehilangan adalah yang paling menyedihkan. 


Marwa dan mamanya pergi dari sana. Sedangkan Rey melanjutkan bermain ponsel untuk menghilangkan sedikit kekhawatirannya. 


Sekitar lima belas menit, papanya turun dari kamarnya. Nabila dan Salsabila langsung mengejar papanya. 


"Pa, kenapa Papa sama Mama tinggalin kita?" rengek Nabila. 


"Kenapa memangnya? Kan ada Kak Rey sama Kak Marwa," 


"Pa, kemarin kita mau bobok sama Kak Marwa, tapi Kak Rey enggak bolehin, terus kita di suruh keluar dari kamar dia, Pa. Udah gitu, kita dikunciin sampai subuh sama Kak Rey," lapor Salsabila.


Papanya duduk bersebrangan dengan Rey. "Rey, Papa enggak suka kamu kunciin adik kamu di kamar. Papa enggak pernah lakuin itu walaupun mereka berdua salah. Papa selalu berusaha untuk ingetin mereka baik-baik. Kalau terjadi apa-apa gimana? Kamu enggak lihat tuh di berita dan yang lainnya, anaknya dikunciin. Rumahnya kebakaran, alhasil apa? Anaknya enggak bisa diselamatkan, Papa enggak mau kamu lakuin itu lagi," 


"Rasain, di marah kan sama Papa," Nabila mengejeknya. Rey bangun dari tidurnya dan mengambil posisi duduk yang baik karena berbicara dengan orang tuanya sendiri. Rey mengangguk pasrah. Tidak mungkin dia melawan Papanya. 


Ting Tong


Marwa keluar untuk membukakak pintu. Terdengar panggilan Marwa yang begitu nyaring ketika menyebut kata mama dan papa. Itu diyakini oleh Rey bahwa yang bertamu adalah mertunya. 


"Duh, mertua aku, Pa," ucapnya panik. 


"Salaman dong," 


Rey beranjak dari tempat duduknya, baru saja dia hendak menghampiri. Rey ingat dengan celana pendeknya dan kaosnya. "Astaga, celana," Rey berbalik dan langsung berlari ke kamar terbirit-birit. 


Azka menyambut kedua orang tua Marwa dengan begitu baik dan mempersilakannya untuk duduk. 


"Ngomong-ngomong, Rey tadi kenapa lari?" tanya papa Marwa. 


Azka berusaha untuk menjelaskan mengapa anaknya berlari barusan ketika hendak bersalaman. "Itu, tadi Rey pakai celana pendek. Jadi dia ganti deh kayaknya," 


"Duh yang dua ini, kenapa enggak pernah ke rumah? Mama sama Papa kangen banget, apalagi sekarang Marwa ngidam. Cucu pertama kita, iya kan, Ma?" ucap Papa Marwa meyakinkan. 


Rey turun dari kamarnya dengan pakaian santai tapi lebih sopan dari sebelumnya. Dia langsung bersalaman dan mencium punggung tangan kedua orang tua Marwa. 


"Kamu tuh ya, udah berhasil hamilin anak Papa, malah enggak mau bawa Marwa pulang. Kamu udah nikahi dia, tapi masa Papa enggak boleh ketemu sama anak sendiri," ucap mertuanya. Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Maaf, Pa. Aku sibuk akhir-akhir ini," 


"Marwa kurusan," ucap mama mertuanya. Rey yang mendengar itu terasa sedang mendapatkan pukulan dari mama mertuanya.


"Enggak ada yang bisa masuk, Ma," 


"Makannya pakai apa?" 


"Marwa makan sama sup setiap hari, Ma. Dibuatin sama Mama aku, kadang giliran. Karena dia tahu kalau dibuatin sama Bibi itu rasanya beda, jadi dimuntahin lagi kalau bukan kami berdua yang masak," 


"Duh, Rey. Maaf ya udah ngrepotin kalian," jawab mama mertuanya. 


"Lagian itu perbuatan dia, jadi harus tanggung jawab, Mbak," ucap papanya. Rey menyorot dengan tatapan kesal dengan jawaban dari papanya itu.