
Hari berlalu begitu cepat, menunggu sebuah janji yang pernah diikrarkan malam itu, ia hanya mampu menggenggam janji itu sendiri, menantikan semua itu terbukti. Bintang, sudah beberapa minggu ini dia tidak sekolah, bahkan wali kelasnya pun sudah beberapa kali mengunjunginya ke rumah. Tetap saja gadis itu tidak mau melanjutkan sekolahnya karena perasaannya yang sudah terlanjur terluka.
"Bi, Papa kapan pulang?"
Bintang, sudah beberapa hari ini hanya menyibukkan diri di depan ruang keluarga sambil tidur meringkuk di atas sofa dan menonto televisi, dengan tatapan kosong setiap harinya. Hanya butuh kasih sayang dari orang terdekat untuk bisa mengembalikan senyumnya yang telah padam begitu saja.
"Bibi, Papa kapan pulang? Bibi, kenapa enggak jawab,"
"Um, itu anu Non," ucap Bibi bingung. Bintang sudah bosan menanyakan Papanya yang beberapa hari izin untuk mencari keberadaan Mama Bintang. Namun sudah enam hari, Papanya belum juga pulang.
"Papa, dia enggak pulang, kan?"
"Pulang, Non. Tuan pasti pulang, tapi sekarang dia masih sibuk, Tuan sudah menghubungi kok,"
Bintang mengangguk pelan, gadis yang tadinya tidur meringkuk di sofa itu pun langsung bangkit dari tempat tidurnya, "Bi, aku ke kamar ya. Nanti kalau Papa pulang suruh aja ke kamar!"
"Ba-baik, Non,"
Bintang beranjak ke kamarnya. Setidaknya beberapa hari ini keadaan Bintang sudah membaik dan jauh lebih baik dari beberapa hari sebelumnya, dia sudah rajin makan dan tidak lagi mengurung diri. Walaupun kesehariannya dia habiskan di depan televisi.
Di dalam kamarnya, Bintang melihat ke arah jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Belum ada tanda-tanda bahwa papanya kembali untuk pencarian itu, Bintang seperti biasanya selalu menghabiskan waktu di pojok balkon kamarnya.
Harapan bahwa Mamanya akan baik-baik saja, semenjak pertengkaran hebat itu, sangat sulit rasanya untuk melupakan semua kejadian yang sudah terlanjur direkam oleh otaknya.
"Mas, udah!" Bintang segera bangkit dari tempat duduknya setelah mendengar suara perempuan yang sedang tertawa bersumber dari ruang tamu. Bintang sendiri tak sadar bahwa papanya pulang, setelah menengok ke bawah, ia melihat itu adalah mobil milik papanya.
Ada yang janggal di hati Bintang, itu bukanlah suara mamanya, dengan segera ia berlari keluar dari kamarnya, dari atas ia melihat perempuan asing sedang berpelukan dengan papanya di ruang tamu begitu mesra. Bahkan keduanya tak malu berciuman di sana.
Bintang melihat kejadian itu, dia langsung turun dan berlari melewati tangga tanpa peduli lagi tentang keselamatannya. "Papa!" teriaknya.
Kedua pasangan itu pun langsung berdiri, dengan sorot mata yang begitu tajam, Bintang menatap perempuan itu, dia yakini bahwa perempuan itu adalah penyebab orang tuanya berpisah, tangannya pun tak lepas dari lengan papanya.
"Dia siapa?" ucap Bintang dengan lirih.
Papanya berusaha untuk mendekati Bintang, tapi sebelum berhasil dipeluk, BIntang menepis tangan pria itu, "Dia Mama baru kamu, Bintang," jawab Papanya dengan tenang. Jadi selama beberapa hari yang dia maksud mencari Mama adalah mencari Mama baru? Bukan Mama kandung dari Bintang.
"Dengar, Bintang. Dia lebih baik dari Mama kamu, Papa berharap kamu menerimanya,"
Matanya perih, secepat itu papanya berhasil menggantikan posisi mama Bintang di rumah itu. Bahkan menggantikan mama Bintang dari hatinya.
"Pa, ini yang Papa maksud mencari Mama?"
"Bintang, dia hadir saat Papa kesusahan,"
"Tapi Mama yang sudah menemani Papa dari susah sampai sukses seperti sekarang,"
"Bintang, Mama mohon!" ucap perempuan itu. Tatapan Bintang pun tertuju pada perempuan yang berkata demikian.
"Jangan pernah mengaku menjadi Mamaku, jalang!" teriaknya.
Plak
Bintang memegangi pipinya yang di tampar oleh papanya. Ia menatap mata pria itu dengan tatapan penuh benci. Bintang sudah tidak bisa lagi berpikir jernih, dia langsung berlari keluar dari rumah itu hendak kabur untuk mencari keberadaan mama kandungnya.
"Bintang!" Teriak papanya. Tapi, sama sekali gadis itu tak mengindahkan panggilan papanya dan justru tetap berlari untuk meninggalkan rumah itu. Apalagi sekarang yang bisa dia harapkan untuk bertahan di rumah itu, hatinya sudah terlanjur kecewa. Apalagi sekarang dia harus menerima perempuan lain sebagai mama sambungnya.
Bintang tak tahu sudah sejauh mana dia berlari, namun saat itu juga ada segerombolan pria yang datang dan langsung memasukkannya ke dalam mobil. Bintang yang berusaha melawan tapi tetap saja kalah pria yang memegang kedua tangannya dan mengikat kakinya.
"Non, pulang!"
Kali ini hidupnya seperti sedang berada di neraka. Segala siksaan pernah dia dapatka dari papanya, kini ingin rasanya dia kabur dari tempat itu. Tapi baru saja dia pergi jauh, orang-orang suruhan papanya sudah berhasil menemukannya dengan sangat mudah.
"Aku pengin ketemu, Mama," lirihnya.
"Mama ada di suatu tempat, saya yang mengantarnya,"
Bintang melirik ke arah salah satu anak buah suruhan papanya. "Sungguh?"
"Iya, kita akan ke sana. Tapi jangan malam ini, kita akan ke sana nanti. Usahakan untuk tetap baik-baik di rumah, Mama baik-baik saja kok,"
"Om beneran mau antar aku?"
"Iya, kami semua janji bakalan ngantar ke sana. Tapi jangan malam ini,"
Ikatan kaki Bintang pun dilepas, "Tolong sebentar saja untuk pura-pura, kita akan ke tempat Mama nanti,"
"Kalian enggak bohong, kan?"
"Kami punya anak, kami tahu rasanya dipaksa menerima orang baru dalam kehidupannya. Jangan khawatir, mereka ini adalah anak buah saya, jika mereka berani berkhianat, saya jamin dan bahkan membunuh mereka,"
Gadis itu mengusap air matanya, "Tapi janji ketemu Mama ya?"
"Iya kita ketemu, nanti saat Non kembali sekolah. Kita akan ke sana diam-diam. Tapi jangan menginap,"
"Iya,"
Bintang mengangguk dan mengusap sisa-sisa air matanya. Salah satu orang suruhan papanya pun memberikan ponselnya kepada Bintang. "Ini Mamanya Non," dengan segera Bintang mengambil ponsel itu.
"Mama,"
"Sayang apa kabar?"
"Mama di mana? Kenapa Mama ninggalin aku sendirian?"
"Sayang, dengarin Mama! Tetap di sana, jangan cari Mama! Lanjutin sekolah kamu, Mama di sini baik-baik saja,"
"Ma, aku kangen,"
"Mama jauh lebih kangen, Nak. Tapi Mama mohon jangan cari Mama, Mama enggak mau kalau sampai kamu itu dalam bahaya hanya karena, Mama,"
"Mama," panggilanya lirih.
"Kita akan bertemu sayang, janji sama Mama kalau Bintang tetap sekolah. Kalau enggak mau sekolah, Mama enggak bakalan mau ketemu sama, Bintang."
Gadis itu pun berjanji pada dirinya sendiri untuk melanjutkan sekolahnya setelah mendengar perintah dari mamanya.
"Tapi kita bakalan ketemu, kan, Ma?"
"Iya, kita akan bertemu nanti. Kalau kamu mau sekolah,"
"Bintang janji bakalan lanjut sekolah, Ma. Bertahanlah!"
Bintang tersenyum, hingga beberapa menit kemudian sambungan telepon diputus oleh mamanya.
"Gimana?"
"Terima kasih, Om,"
"Bertahanlah di sisi Tuan! Kami sudah menganggap Non seperti anak kami sendiri, jangan pernah menyakiti diri sendiri apalagi untuk menyiksa diri karena tidak mau makan,"
"Iya, Om. Aku janji, dan setelah ini aku bakalan sekolah lagi."