
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku cuman penasaran,"
Lelaki itu mengangguk dan melepaskan tangan Bintang. Gadis itu mengangguk pelan dan mengerti dengan yang baru saja terjadi.
"Bintang, ada banyak hal yang masih menjadi pertimbangan antara aku dan juga kamu. Jika saat ini aku jujur, apa kamu akan tetap di sisiku?"
gadis itu menggeleng tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rey. Dia justru terdiam mendengar ucapan Reynand barusan.
"Apa yang kamu rasakan selama ini sama aku, Bintang?" pertanyaan Reynand cukup membuatnya terkejut dan hendak kabur dari itu semua. Bintang berdiri dari tempat duduknya tadi. Rey masih menatap ke arah depan dan Bintang merasakan sakit yang luar biasa dengan pertanyaan seperti itu. Haruskah dia yang jujur atau menunggu Rey yang mengungkapkan itu semua?
"Rey kamu mau aku buatin minum enggak? Kamu suka cokelat panas, kan? Kamu tunggu sini ya, aku bakalan buatin sekarang!"
Baru saja Bintang melangkah beberapa meter dari lelaki itu. "Jika kita terus saja menghindar, semua akan menjadi berantakan bukan?"
Bintang berhenti begitu saja dan berbalik menatap Reynand yang masih tak memandanginya sama sekali. Dia berpura-pura untuk membereskan cangkir bekas minumnya dan melakukan berbagai macam kegiatan untuk menghindari itu semua. Benar apa yang dikatakan oleh Jenny waktu itu. Bahwa mereka berdua terlalu sering menghindar dari kenyataan yang ada.
"Jika kamu menghindar lagi, maka jawabannya ada sama kamu, Bintang. Kamu bertanya kita ini apa? Kemudian setiap kali aku ingin bertanya serius sama perasaan kamu juga, kamu justru menghindar dari aku, apa itu sikap yang harus kamu perlihatkan dan buat aku bingung sama diri aku sendiri? Kadang aku ingin menjadi 'kita' cukup aku sama kamu saja yang tahu. Biarkan orang lain menganggap kita ini tak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan perasaan itu, apakah cuman aku yang ngerasain atau enggak. Tapi jika kamu bersikap seperti ini, bukankah itu adalah cara pecundang yang selalu berpura-pura kuat? Kamu bilang kamu enggak suka lihat aku sama yang lain, sama Bintang. Sama seperti yang aku rasakan dan enggak suka kalau kamu sama yang lain, tapi kalau kamu sendiri enggak bisa memastikan perasaan kamu sendiri, bagaimana jadinya sama aku? Bukankah bertepuk sebelah tangan itu melelahkan, sebab tanpa kena dan itu sangat menyakitkan bagi aku,"
"Rey? Aku-"
"Aku ke kamar dulu. Tidurlah, jangan pikirkan yang tadi aku bilang. Sekarang aku sudah paham, jadi aku enggak perlu berharap dan bertingkah layaknya orang bodoh yang diberi pengharapan selama ini. Aku yang sudah berusaha untuk meyakinkan kamu, kemudian kamu berusaha untuk menghindar. Apa artinya jika hanya aku yang berjuang, sedangkan kamu tetap ingin pergi dan menghindar dari kenyataan ini,"
Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Bintang sendirian di situ. Masih dengan posisi berdiri memegang cangkir bekas minumnya tadi. Bintang tersenyum getir dalam hati dia ingin menangis karena Rey meninggalkannya begitu saja apalagi dengan ucapan seperti itu membuat hatinya begitu perih. Seolah ucapan selamat tinggal dan tidak bisa lagi terulang lagi.
Bintang perlahan masuk ke dalam kamar. Sebelumnya dia mencuci bekas minumannya tadi kemudian duduk dipinggiran ranjang. Di sana ada empat ranjang yang berbeda. Bintang duduk di dekat jendela dengan membiarkan jendela terbuka dan angin malam masuk ke kamar mereka.
"Kamu sudah tahu semua, Jenny. Jadi enggak ada lagi yang bisa aku hindari dari kamu,"
"Semua ini kamu yang salah Bintang. Rey sudah berusaha mengungkapkan perasaannya, tapi kamu yang menghindar,"
'Jika aku mengatakan aku mencintaimu, apa itu sangat tidak keterlaluan? Bila pada akhirnya aku akan pergi meninggalkan kamu sendirian dan memintamu kita akan tetap ada. Sedangkan aku yakini diriku sendiri bahwa kita tidak bisa bersama. Jangan katakan bahwa yang sakit itu hanya kamu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka dengan apa yang terjadi nantinya. Aku pergi, aku mungkin tidak kembali. Jika aku mengatakan tentang perasaan itu, kemudian pergi. Bukankah aku sudah menyakitimu? Kadang seseorang diam dan menghindar bukan karena tidak mencintai. Akan tetapi hatinya sudah terlalu sakit jika bertahan hanya untuk menyakiti hati orang lain. Dan aku tidak ingin itu terjadi padamu'
Bintang berkata demikian dalam hati sambil mengembuskan napas kasar berkali-kali. Jenny hanya tidak mengerti tentang dirinya yang akan pergi nanti setelah ini. Dia membiarkan semua orang menganggap bahwa mereka sedang baik-baik saja tanpa harus berkata selamat tinggal sebagai pemisah untuk kisah mereka yang singkat itu.
"Gue tahu Rey suka sama lo sejak lama, Bintang. Dan enggak mudah bagi dia buat suka sama orang. Lo tahu dia punya janji sama orang tua dia sendiri kalau dia enggak mau pacaran dan ngecewain orang tuanya dengan cara nyakitin perempuan. Berarti selama ini dia memilih jatuh cinta sama lo itu karena dia yakin bahwa lo cuman satu-satunya perempuan yang dia cintai,"
Gadis itu berbalik dan tetap diam. Hatinya begitu sakit terhadap apa yang dikatakan oleh Jenny. Bagaimana jika dia pergi meninggalkan Rey saat mereka baru saja menumbuhkan perasaan masing-masing dalam dada. Apalagi kurang dari satu bulan dia akan pergi jauh dan meninggalkan Rey beserta dengan teman-teman yang lain.
"Aku..."
"Enggak bisa lo bohongi gue, Bintang. Semua itu terlihat jelas dari mata lo, kalau lo juga sayang sama, Rey. Lo bilang enggak pun setelah ini, gue enggak bakalan percaya karena lo emang enggak bisa bohong sama gue. Bukan berarti gue orangnya enggak bisa dibohongi. Tapi karena ini terlihat begitu jelas dari raut wajah lo tentang lo sayang sama dia, dari tindakan lo selama ini. Dari semua cara lo yang menghindar, gue amati lo udah lama. Sekarang gue tanya satu hal, lo tahunya Rista polos dan enggak pernah ngomongin cowok, kan?"
Bintang mengangguk pelan. Karena selama ini Rista tidak pernah membicarakan perihal lelaki dihadapan mereka berdua.
"Maka dari itu, enggak semua harus diceritakan untuk bisa tahu itu semua. Lo diam-diam begini bukan berarti lo itu lebih tangguh dari apa yang terlihat, gue sayang Fendi. Itu karena dia berjuang banget untuk gue. Dan sekarang lo lihat, Rey! Dia berjuang juga buat lo, apa lo enggak mikir juga kalau selama ini yang dia lakuin itu semua karena lo!"
Bintang menutup jendela kamar dan tidur memiringkan tubuhnya dan tetap menghadap Jenny. "Lalu, aku harus bagaimana lagi, Jenny?"
"Jangan pernah lo bohongi diri lo sendiri, Bintang! Lo boleh bohongi gue dengan cara lo bilang enggak sayang sama, Rey! Tapi jangan pernah lo itu bohongi diri lo sendiri dengan cara terlihat baik-baik saja. Apalah artinya baik-baik saja jika itu adalah hal pura-pura?"