RICH MAN

RICH MAN
CERITA LALU



Kandungan Nagita pun semakin membesar dan susah bergerak karena tinggal menunggu hari akan melahirkan. Nagita sudah merasakan sakit yang sangat luar biasa pada kakinya karena bengkak, susah berjalan walau hanya turun ke ruang makan. Terkadang dia makan di kamarnya dibawakan oleh suami ataupun anaknya.


"Mama, makan dulu yuk!" Nagita menuju sofa yang ada di kamarnya saat anaknya masuk ke kamar membawakan makanan. "Kasihan ya, Mama. Perutnya gede banget, belum lagi kaki Mama bengkak. Mama bisa makan sendiri, kan? Kakinya biar aku yang urut, Ma. Dek, jangan nakal diperut Mama ya, kasihan Mama sampai enggak bisa jalan. Ini semua gara-gara, Papa. Dapat enaknya, dan sekarang Mama juga yang tersiksa seperti sekarang ini,"


"Sudah sayang! Yang minta adik juga, kan kamu. Jangan salahin, Papa! Mama juga kok yang mau ini terjadi, intinya sekarang kakak enggak boleh marah sama Papa perihal ini, tapi beneran kan anak, Mama enggak repot kalau urut betis, Mama?"


Reynand menggeleng dan bangun dari sofa mengambil minyak gosok yang selalu dipakai oleh Azka untuk mengurutnya karena suaminya juga merasa kasihan dengan keadaannya yang semakin lemas karena dua bayi yang ada dalam perutnya itu sangat aktif dan sehat. Untuk pertama kalinya Nagita mengandung bayi kembar hingga dirinya tidak terbiasa, kemudian betisnya juga pertama kali bengkak seperti sekarang.


Nagita menyantap makanannya siang itu, hari minggu yang di mana Reynand sehari penuh merawatnya, sedangkan suaminya sedang pergi untuk membeli beberapa barang yang diperlukan ketika persalinan nanti. Nagita tidak bisa ikut dengan keadaannya yang sekarang, dan itu diambil alih oleh Naura dan Azka.


"Mama enggak sakit apa?"


"Enggak sayang. Kadang Mama enggak bisa tidur aja kalau mereka nendang,"


"Mama jangan khawatir nanti kalau mereka lahir, aku yang bakalan urus mereka. Jangan khawatir enggak ada yang jaga, enggak ada pengasuh atau apa pun, pokoknya aku sama Papa juga akan berbagi peran, biar adik-adik aku bisa ngerasain gimana enaknya sama keluarga. Jangan diasuh sama orang lain, enggak enak banget, kan. Aku aja dulu di asuh sama Om Dimas enggak enak, Ma. Eh tapi bersyukur sih, karena aku bisa belajar banyak dari dia, enggak nuntut juga. Om Dimas juga baik, tapi semoga adik aku nular sifat lembutnya ke Mama. Enggak usah nular ke, Papa,"


"Kenapa memangnya kalau nular ke, Papa?"


"Nular ke dia, ya siap-siap aja Mama bakalan capek urus adik aku. Lagian ya, Ma. Kalau adik aku nular sifatnya dari, Papa. Yang ada mereka anehnya kayak, Papa,"


"Kenapa sih suka banget ngomongin kejelekan, Papa?"


"Itu fakta, Ma. Biar adik aku enggak usah nular sifat ke, Papa. Cukup nularnya dari malaikat hidup aku, yaitu, Mama. Pokoknya perempuan yang paling sabar selama ini adalah, Mama. Enggak ada orang yang paling sabar ngalahin, Mama. Kalau tante Viona, diam-diam sering nangis waktu berantem sama Om Dimas. Kalau Mama pura-pura kuat kalau kangen sama si Azka itu,"


Hampir saja Nagita mengeluarkan nasi yang dikunyahnya tadi ketika mendengar ucapan anaknya yang terdengar sangat aneh ketika menyebutkan nama papanya. "Ya ampun, kenapa sebut nama, sih?"


"Biarin, emangnya dia mau marah gitu sama aku?"


"Walaupun begitu, dia paling sayang sama kamu, Nak. Dulu juga waktu kalian jauhan, kamu nangis minta tinggal sama Papa, waktu masih panggil dia Daddy,"


"Itu dulu,"


"Sekarang enggak sayang sama, Papa?"


"Sayang, walaupun dia aneh, dia Papa aku juga, Ma. Walaupun konyolnya itu yang kadang bikin aku malas, tapi aku suka Papa yang sekarang, dia penyayang,"


"Rey, sebenarnya dari dulu Papa itu penyayang. Itulah kenapa dulu Papa pernah direbut sama perempuan lain, sampai kita pernah hancur karena Papa itu penyayang. Papa selalu saja baik ke orang lain, dia enggak peduli ya sama latar belakang orang lain, Papa itu pokoknya yang terbaik, sayang. Jangan pernah lagi mikir, kalau Papa itu enggak sayang. Tingkah Papa dari dulu ya gitu-gitu aja, tapi waktu Mama hamil kamu dulu itu, dia sangat lucu. Mama demam dikit aja, Papa enggak bolehin Mama banyak gerak, waktu mau ke kamar mandi dia malah gendong,"


"Mama sayang sama Papa sejak kapan?"


"Waktu kamu ada, Rey. Waktu hamil, pokoknya waktu Papa enggak mau kamu hadir dulu, tapi Mama pertahanin, karena Mama yakin bahwa Papa bakalan bisa berubah suatu saat nanti. Karena Mama juga yakin, bahwa jiwa seorang ayah itu pasti ada dalam diri Papa. Dan ternyata benar, waktu kejadian di mana hal yang pernah buat Mama pengin pisah dari Papa itu terulang lagi, Papa mulai menyesal,"


"Waktu Papa mau perkosa Mama untuk kedua kalinya maksud, Mama?"


Nagita meletakkan piring di atas meja. Kakinya tak berhenti dipijit oleh Reynand. Justru anak itu selalu saja memanjakkannya seperti sekarang ini. "Rey tahu dari mana?"


"Aku udah tanya ke Om Dimas. Dia cerita semuanya ke aku, tapi aku enggak permasalahkan itu semua. Satu lagi, Ma. Untung aku itu cowok ya, coba aja kalau cewek, kalau nikah Papa enggak bisa jadi wali aku,"


"Kenapa bahas nikah? Dan lagi dari mana Rey tahu soal itu?"


"Aku pernah baca buku, Ma. Hmm soal status juga, Rey tahu kok kalau Papa itu Papa biologis doang, Ma. Walaupun tanggung jawab, tetap saja aku enggak dapat apa-apa dari dia nantinya. Bukan berarti kita ngomongin harta loh ya, Ma. Cuman aku tahu bahwa aku itu anak yang bakalan dinasabkan ke, Mama. Jadi aku tetap tanggung jawab dari Mama. Papa cuman bisa wariskan hartanya ke adik aku,"


Nagita sempat terdiam karena anaknya sudah tahu sejauh itu tentang statusnya. "Rey, tahu enggak kenapa selama ini Mama selalu berjuang buat kamu?"


Reynand menggeleng, "Alexi Reynand, putra pertama dari Azka, dengarin Mama! Karena Papa juga pernah bahas ini waktu Rey di rumah Om Dimas. Papa bantu promosi butik Mama. Sampai sekarang udah tersebar di berbagai kota, itu semua persiapan yang di mana nantinya biar Rey dapat apa yang harusnya menjadi hak kamu. Jangan pernah protes jika memang Papa enggak ngasih, Papa sebenarnya menyesal Rey, karena dia enggak bisa kasih apa pun. Papa sayang kamu, anak satu-satunya yang paling dibanggakan oleh Papa. Jika memang enggak ada, Mama yang bakalan ngasih, Mama berjuang dan ini semua juga atas bantuan Papa yang promosi."


"Aku cowok, dapat butik, Ma?"


"Mama tanam modal di perusahaan Om Reno, yang nanti akan dapat hasilnya itu anak Mama. Bukan adik kamu, Mama sama Papa udah siapin, walaupun bukan dari Papa. Karena Papa takut jadi Papa itu ikuti aja perintah,"


"Ma, Papa enggak perlu sejauh itu, kan?"


"Papa promosi waktu kami masih pacaran. Waktu itu dia dikasih tahu sama Dimas, dan Mama tanam modal di perusahaan Om Reno sejak kami menikah, hasilnya belum seberapa. Tapi cukuplah buat perusahaan nanti, semangat ya!"


"Om Reno enggak pernah ngomong,"


"Dia diam bukan berarti enggak bantu sayang. Om Reno dari dulu memang begitu, tapi jangan salah paham, dia juga udah siapin untuk Leo dan adiknya. Jadi kalian bertiga sama-sama akan merintis usaha,"


"Papa itu kaya banget ya, Ma?"


"Papa, Papa kaya dari dulu, Nak. Cuman karena Mama enggak pernah mau manjain kamu dengan barang mewah, takut waktu pisah itu Mama enggak bisa ngasih kamu barang mahal seperti, Papa,"


"Luar biasa si Azka memang, punya harta banyak. Tapi sombong dia kan dulu, Ma?"


"Banget, Rey. Waktu hamil kamu juga dulu harga mobil doang, puluhan milyar, Nak,"


Reynand menggeleng, "Ckck, luar biasa memang. Selain kaya, sombong, terus apa lagi, Ma?"


"Papa penyayang,"


"Sayang sama?"


"Paling penurut loh,"


"Takut sama, Oma?"


"Iya, dia takut sama Oma. Apalagi Opa, dia paling takut,"


Reynand mengangguk, ada rasa ingin menceritakan tentang suatu penyesalan Azka yang ingin dibahas bersama dengan Reynand mengenai masa lalu Azka yang hingga saat ini membuat suaminya itu tidak bisa memaafkan dirinya sendiri hingga sekarang. Yaitu, mengenai Syakila, sungguh Azka selalu menangis jika mengingat itu.


"Rey, masih ingat sama Syakila?"


"Pesan, Mama. Jangan pernah bahas dia sama Papa, ya!"


"Memangnya kenapa?"


"Papa menderita kalau ingat Syakila. Dia menyesal dengan hal itu, Nak. Andai anak itu masih ada, Papa pengin rawat dia, Mama juga. Bahkan Papa tahu untuk pertama kalinya waktu dia udah sekarat, Papa itu ceria. Tapi Papa memiliki hati yang sangat sensitif jika membahas soal Syakila, Papa pernah cerita ke Mama kalau hingga saat ini, Papa enggak pernah tahu tentang anak itu dulu, dia enggak tahu kalau perempuan yang dia tiduri itu hamil dan darah dagingnya sendiri,"


"Papa pernah nangis, Ma?"


"Pernah, waktu Rey dilahirkan dulu. Lalu ketika Syakila meninggal, dan ketika Mama antar barang kamu ke Papa dulu. Pokoknya sering, Papa terlihat kuat. Tapi depan Mama, dia sosok yang berhati lembut, Rey. Dia itu penyayang, Mama pengin sifat kamu juga baiknya kayak, Papa. Apa yang buruk sama dia jangan pernah diikuti,"


"Ma, sebenarnya aku benci dulu sama, Papa. Waktu dia buat Mama sering nangis, tapi semenjak kalian dekat lagi. Aku merasa seolah menemukan nyawa yang telah hilang itu, dan Papa, dia adalah pahlawan yang sebenarnya,"


Nagita menarik kakinya dan duduk mendekati Reynand. "Papa hanya ingin hidup bersama kita, kumpul. Mengabadikan sisa hidupnya untuk kita, soal dulu Mama mohon jangan pernah bahas lagi, jika suatu waktu Rey dewasa dan bertengkar sama dia, jangan pernah ungkit itu. Papa sering mabuk, Rey. Mama enggak mau kalau dia kumat lagi, sekarang kamu sudah besar. Banyak hidup baru yang akan kamu hadapi, Papa terlihat kuat, Papa itu rapuh. Papa kosong di sini," Nagita menunjuk dada bagian kiri Reynand. Menjelaskan betapa sakitnya Azka kehilangan Syakila dahulu.


"Papa, kenapa dia kuat untuk pura-pura sama aku?"


"Karena sudah cukup luka yang dia berikan ke kamu. Papa selalu berbagi sama, Mama. Mama juga berbagi luka sama, Papa. Nanti kamu akan menemukan seseorang yang bernasib sama sepertimu, atau mungkin kamu bisa mengisi kekosongan hati seseorang yang terasa sangat hampa dan kamu adalah orang satu-satunya yang bisa mengisinya,"


"Kapan itu akan terjadi, Ma?"


"Nanti, ketika kamu sudah mengerti bagaimana caranya mencintai. Bagaimana caranya menerima seseroang, dan satu lagi. Kamu akan mengerti, arti kehilangan dan menemukan,"


"Mama, aku sayang sama, Mama. Aku janji enggak bakalan buat Papa sedih,"


"Tetap jadi putra pertama yang buat Mama bahagia, jangan kecewakan Papa sayang! Papa itu enggak pernah bisa kita tebak, dia kuat. Bagaimana dengan hatinya? Seorang ayah akan mengatakan dirinya baik-baik saja di depan anak dan istrinya, walaupun di dalam hatinya dia merasa sangat hancur dan tidak bisa bangkit lagi,"


Perlahan, Nagita berusaha untuk menjelaskan tentang kehidupan yang sebenarnya kepada Reynand. Ia tahu bahwa ada baiknya mengatakan hal itu walaupun sebenarnya hal itu tidak perlu diceritakan, mengngat usia Reynand yang belum matang. Tetapi Nagita hanya ingin bahwa masa lalu mereka jangan dibahas, apalagi tentang pemerkosaan. Biarlah ia ungkit sendiri dan menjelaskan itu kepada anaknya agar suaminya tidak tahu bagaimana usahanya dalam memberikan pengertian kepada Reynand.


"Jangan bilang sama, Papa. Kalau selama ini Mama banyak cerita tentang dia sama Rey, ya!"


"Ya ampun, Ma. Aku ini cowok, masa sih jadi tukang gosip, Mama ih. Takut banget ya?"


"Rey, Mama enggak mau Papa sedih,"


"Ngomong-ngomong jenis kelamin adik aku apa? Mama selalu saja banyak alasan kalau aku tanya soal ini, mereka cowok atau cewek,"


Nagita menyeringai, "Ya ampun, sayang. Mama enggak bakalan ngasih tahu dong. Kalau lahir aja deh nanti, Mama enggak bakalan ngasih tahu kakak, malas ih."


"Ayo adik kecil, kalian ini laki atau perempuan?" Reynand mengusap perut Nagita hingga membuat anaknya menendang. "Tuh gerak, Ma,"


"Iyalah gerak, ngomong-ngomong Mama nikmatin banget selama hamil yang kali ini,"


"Karena kami berdua sebagai orang tua mampu memberikan hadiah terbaik bagi Reynand, itulah yang membuat Mama sama Papa begitu semangat untuk hamil yang ini, Papa juga manjain Mama banget,"


"Waktu aku, enggak?"


"Manjain juga, waah kamu mau diceritain?"


"Pasti Mama ngidam aneh-aneh?"


"Tuh tahu,"


"Udah Ma. Kalau memang ceritanya enggak ada bagus, enggak usah diceritakan. Aku sendiri malas dengarnya,"


"Anak siapa sih ini?"


"Ya anak, Papa dong. Kalau anak Mama, siapa Papanya coba?"


"Kok enggak sebut, Mama?"


"Karena aku tahu Mama mancing aku bilang kalau kamu anak siapa sih, terus Mama berharap aku jawab itu anak Mama. Enggak mungkin dong, Ma. Aku itu anak Papa, kalau ada Papa pasti ada ibunya. Kalau Mama, papanya belum tentu ada,"


"Terserah deh. Lama-lama kamu kayak Om Dimas."


"Iyalah, aku ini kan murni hasil persilangan antara Papa dan Om Dimas kalau dari sifat. Tapi aku lebih baik ikuti sifat Om Dimas. Kalau penyayangnya dari Papa,"


"Ya udah sana, istirahat. Mama masih bisa sendiri kok,"


"Sampai Papa pulang, aku bakalan nungguin, Ma,"


"Ya sudah. Takut Mama melahirkan di sini?"


"Iya. Apalagi Mama enggak bisa turun, kalau ada apa-apa aku bisa teriak, kan,"


"Rey, jangan cepat tumbuh dong! Mama kangen sama kamu yang dulu,"


"Yang namanya hidup, ya bakalan tumbuh terus, Ma."


"Ngejawab, melulu,"


"Mama nanya yang aneh-aneh sih."


Nagita mengacak rambut anaknya hingga berantakan. Dalam hati ia merasa sangat bahagia karena anaknya bisa tersenyum ceria seperti dulu lagi. Suaminya juga berubah menjadi lebih penyayang lagi, apalagi menantikan anak kedua dan ketiga mereka nantinya. Suaminya yang paling antusias, terlebih ketika Reynand yang semakin sayang juga kepadanya. Bagaimana pun juga, Reynand adalah yang terutama bagi mereka berdua.


Terima kasih, sekali lagi aku ucapkan terima kasih bagi teman-teman yang masih bersedia menunggu up. Sebenarnya ini cerita up setiap hari. Karena ada sistem review, jadi nunggu lama. Ngomong-ngomong selesai ini, bakalan ada crazy up seperti dulu lagi, ya. Hehe, tenang saja ceritanya masih romance kok. Berikutnya, bakalan lebih seru. Soal judul, tenang saja. Nanti sebelum up, aku bakalan kasih tahu pada saat episode terakhir.


Jangan lupa kasih like ya. Tembus 1000 like, aku bakalan crazy up. Hehehe, terima kasih.