RICH MAN

RICH MAN
BERSATU



Semua anggota keluarga Azka berada di sekolah Reynand berkumpul untuk menyaksikan lomba yang diikuti oleh putra pertama mereka. Duduk dibarisan kursi paling depan, Nagita ditemani suami beserta keluarga suaminya untuk bisa menyaksikan lomba yang diikuti oleh Reynand.


Setiap orang tua pasti akan bangga dengan anak yang berprestasi dalam bidang tertentu, apalagi Reynand yang lebih condong mengikuti didikan Dimas yang lembut hinga pembawaan anak itu menjadi lebih penurut kepada Dimas dibandingkan dengan papanya sendiri. Perihal ajaran agama, Nagita akui bahwa anaknya lebih banyak belajar dari Dimas.


Sambil menunggu Reynand yang akan tampil, mereka berbincang mengenai kesibukan yang selama ini dilakukan oleh Rey di rumah Dimas. Nagita juga kini berusaha untuk menutup auratnya bukan semata karena dia mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. akan tetapi itu juga suruhan Azka yang harus dipatuhi dan terlebih semua itu adalah keinginannya.


"Cucu Mama kapan tampil sih? Mama nggak sabar nih lihat dia,"


Azka menoleh ke sebelah kanannya yang di sana ada kedua orang tua, beserta Reno dan juga Naura yang ikut untuk melihat penampilan Rey saat lomba. Hingga tiba di mana peserta yang tadi tampil itu turun, maka dipanggillah anak mereka berdua. Nagita beserta suaminya hanya menyinggungkan senyum kepada Rey yang tampil begitu rapi dengan setelah koko dan sarung serta peci putih sebagai pelengkapnya.


"Anak Mama pasti bisa,"


Nagita dan Azka saling menggenggam tangan satu sama lain untuk menguatkan dan mendoakan Reynand yang sedang memulai. Reynand ikut untuk lomba 10 Juz, sesuai yang di daftarkan oleh gurunya. Nagita sendiri tidak pernah menyangka jika anaknya akan menjadi anak yang sangat luar biasa bisa membanggakan kedua orang tua seperti sekarang.


Begitu juri mulai membacakan ayat yang akan dilanjutkan oleh Reynand. Nagita melihat anaknya mulai berpikir sejenak lalu melanjutkan ayat tersebut. Tidak terasa air matanya meleleh begitu saja saat melihat anaknya tampil di atas panggung. "Semangat sayang, nak semoga menjadi seperti kakak ya!" Ucapnya sambil mengelus perutnya.


Hingga tiba di mana Rey selesai dan turun dari panggung. Anak itu menghampirinya.


"Ma, Pa, Oma sama semuanya juga datang?" ucap anak itu sambil tersenyum.


"Apa alasan Oma dan yang lainnya nggak datang kalau ternyata selama ini anak yang Oma doakan ini sudah menjadi anak kebanggaan bagi kedua orang tua. Bukan hanya itu, Oma juga bangga terhadap, Rey," Nagita melihat mertuanya mencium puncak kepala Reynand berkali-kali. Tidak ada cucu tersayang dan yang istimewa, mertuanya memperlakukan semuanya sama saja. Seperti halnya dengan Clara dan juga Leo, bahkan Rey sendiri. Ia meihat bahwa selama ini mertuanya memang bersikap adil. Hanya saja anaknya yang jarang main ke rumah mertua Nagita. Dan lebih banyak meluangkan waktu bersama dengan Dimas.


"Om, makasih ya," Rey duduk bersimpuh dan mencium tangan Dimas berkali-kali.


"Ya ampun keponakan Om drama banget, sih? Bangun dong! Jangan seperti itu Rey, ini juga karena Rey mau belajar, kan?"


"Tapi semua ini lancar karena Om yang selalu sabar ngajarin aku,"


"Semoga tetap seperti ini ya! Om bangga sama keponakan Om satu-satunya, Dimas menuntun Rey untuk bangun dari tempat bersimpuhnya tadi. Kali ini ia menyaksikan Rey sedang dipangku oleh Dimas dimanjakan seperti biasanya. Berbeda jika hal itu dilakukan oleh Azka, pasti Rey akan protes dan tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil lagi. Namun, nyatanya jika dengan Dimas. Reynand tetaplah anak kecil yang selalu bermanja pada Dimas.


"Setelah ini mau pulang ke rumah kita?" Nagita ingin sekali berkumpul bersama dengan anak dan suaminya. Tetapi Rey yang seolah seperti sedang mengasingkan diri terkadang membuatnya bersedih.


"Iya, Ma. Nanti aku pulang kok. Aku juga kangen sama kalian berdua,"


"Rey, Mama itu pengin banget kumpul sama kelurg kecil kita. Apalagi nanti sebentar lagi Rey bakalan punya adik. Kalau terus seperti ini, Mama kesepian banget kalau Papa kerja,"


"Tenang aja, Ma. Aku pasti bakalan pulang setelah ini. Nanti ambil barang di rumah Om Dimas dulu ya!"


Nagita dan Azka saling tatap satu sama lain. Senang dengan jawaban yang diberikan oleh Reynand. Mereka pun mengobrol cukup lama. Hingga pengumuman pun akan segera dimulai. Nagita menatap putranya lekat, sebuah ketenangan yang ia temukan dan bahkan tidak menyangka bahwa anaknya besar seperti sekarang ini. Begitu banyak lika-liku yang dialaminya dulu berdua. Maka kelak tidak salah Nagita akan lebih condong menyayangi Reynand, sebab perjuangan hidup. Hidup yang pahit pun pernah dilalui bersama dengan putra semata wayangnya itu.


Pengumuman pun dimulai, dengan harap cemas Nagita berdoa agar hasilnya tidak mengecewakan.


Beberapa menit kemudian, pengumuman selesai. Reynand tak mendapatkan juara apa pun dan kalah karena lupa terhadap hafalannya tadi ditengah-tengah.


"Papa tetap bangga sama kamu, Nak,"


Reynand menunduk, namun Azka berusaha untuk menenangkan putranya. Pun begitu dengan Nagita yang sedang berusaha untuk menenangkan putranya. Ini adalah permulaan dari segala perjalanan hidup baru yang dilalui oleh Rey.


"Maafin aku ya, udah ngecewain!" anaknya terlihat begitu sendu. Nagita paham bahwa ini adalah pertama kalinya Reynand kalah dalam mengikuti lomba.


"Kalah menang itu adalah hal yang biasa, jangan pernah berpikir bahwa kalah itu tidak dihargai di mata orang lain. Kamu boleh kalah, tetapi kamu tetap anak terbaik yang sudah membanggakan Mama sama Papa, terlebih untuk kami semua. Sudah berani untuk tampil itu saja sudah membuat kami semua bahagia," jelas Azka. Nagita setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Ayo pulang!" Ajak Nagita dan diikuti oleh yang lainnya.


"Abang hebat, berani tampil. Nanti ajarin Erlangga lagi ya!" celetuk keponakan Nagita yang tidak lain adalah anaknya Dimas. Ekspresi Rey yang tadinya sangat kecewa kini tersenyum saat Erlangga meminta untuk diajarkan.


"Nanti tinggal sama Abang mau nggak?"


"Abang nggak tinggal di rumah lagi?"


"Abang mau pulang. Di suruh sama, Mama. Jadi nanti kalau Erlangga mau diajari, harus tinggal sama Abang dulu dong,"


"Yaaaah, Abang enggak tidur di rumah lagi?"


Rey menggeleng pelan sambil menuju mobil, "Sebentar lagi Abang bakalan punya adik. Jadi Mama sama Papa nyuruh Abang pulang. Enggak bisa main setiap hari lagi, tapi nanti kita bakalan sering ketemu kok, Abang bakalan sering main ke rumah Erlangga ya,"


"Abang enggak mau main sama aku lagi?"


"Mau, tapi kan Abang sudah bilang kalau Abang bakalan main ke sana nanti. Abang bakalan tinggal sama orang tua,"


"Ya udah deh, Bang,"


Mereka semua masuk ke dalam mobil. Nagita bersama suami dan anaknya, Erlangga juga ikut di mobil mereka. Sedangkan yang lainnya berada di mobil yang satunya. Dalam sebuah pertandingan, kalah dan menang itu adalah hal yang biasa. Tak perlu bersedih jika juri adil dalam memberi nilai yang cukup baik. Tidak dengan cara kotor untuk memenangkan seseorang. Dan lomba tersebut adalah lomba yang benar-benar adil bagi Nagita. Karena ia juga menyadari letak kesalahan Reynand tadi adalah lupa terhadap hafalannya.


"Ma, nanti kalau di rumah Mama enggak bakalan sibuk kerja lagi kan?"


"Enggak, Papa sudah nyuruh Mama berhenti dan fokus urus kamu sama calon adik kamu. Jadi Papa enggak bolehin Mama kerja lagi, butik juga sudah di urus sama yang lain,"


"Mama bahagia balik sama, Papa?"


"Kenapa tanya begitu?"


"Karena aku bahagia lihat Mama yang dulu ceria sekarang kembali lagi. Apalagi Papa yang konyol ini, sekarang malah hamili Mama cepat banget,"


"Jangan ragukan Papa Rey, kamu juga dulu sekali main langsung jadi," celetuk Azka.


"Iyalah, itu kan dulu waktu Papa masih gila sama perempuan. Sekarang berani lagi enggak? Biar aku ajak Mama pergi dari hidup, Papa,"


"Aduh ini anak main ancam segala,"


"Lagian Papa ada-ada aja. Semoga perempuan ya kali ini, Ma, Pa,"


"Papa malah berharapnya laki-laki lagi, Rey,"


"Lah kan ada aku,"


"Papa serasa enggak punya Rey. Karena Rey menghindar terus dari Mama sama Papa,"


"Sebenarnya aku enggak menghindar, Pa. Tapi kalian berdua keterlaluan, tiap kan bisa tuh enggak usah bersuara. Papa sama Mama meracuni otak aku sama suara-suara aneh kalian tiap malam. Beda di rumah Om Dimas hening, nunggu anak tidur dulu,"


"Emang kamu dengar?"


"Iyalah, Papa sama Mama enggak bisa enggak pakai suara. Kalian itu pasangan mesum,"


"Siapa yang ngajarin?"


"Aku pernah lihat kalian, dan itu yang buat aku malu untuk pulang lagi ke rumah. Bukannya Papa tahu waktu kalian begituan di gazebo belakang rumah? Waktu aku mau izin ke rumah Oma?"


Nagita mengingat-ingat kejadian di gazebo beberapa minggu yang lalu sebelum Rey pergi dari rumah. "Benar kamu lihat, Rey?" tanya Nagita pada Azka yang cengengesan.


"Iya, dia lihat kita. Tapi keburu pergi. Lagian kan gazebo ketutup gitu, kenapa juga Rey bisa lihat?"


"Om sama tante ngapain di gazebo?"


"Rey, iya deh iya Papa janji enggak bakalan main di sembarang tempat lagi,"


"Lagian Papa sih. Otak anakmu ini sudah terlanjur tercemar, tahu,"


"Bersihinnya gimana?"


"Hmmm, Papa harus manjain Mama selama hamil. Biar aku lihat kalian mesra kayak waktu pacaran. Enggak ada lagi omongan mesum di depan aku. Apalagi kalau Papa bahas hal-hal aneh itu lagi, aku mau Papa yang berjuang sekarang kalau Mama ngambek. Aku yakin ingatan itu akan hilang dari kepalaku nanti, Pa. Aku kangen sama kalian yang dulu bisa manjain aku,"


"Tapi kenapa kamu lebih manja ke Om Dimas daripada sama Papa?"


"Karena dia selalu ajari aku hal baik, enggak kayak Papa yang selalu kasih lihat ke aku hal-hal mesum. Contohnya waktu kalian masih pacaran dulu,"


"Papa ngalah, deh."


Nagita tahu bahwa jika bersama dengan dirinya dan juga Azka. Sikap Rey selalu saja dingin dan berkata jujur apa saja yang tidak disukainya. Bahkan Nagita merasa sangat malu saat anaknya mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain.


Setibanya di rumah Dimas, mereka semua turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Sedangkan mertua dan juga iparnya pamit pulang untuk istirahat. Nagita tak mungkin melarang hal itu, dan membiarkan keluarga suaminya pulang.


"Aku beres-beres dulu, Ma," pamit Reynand.


"Tante Viona sudah siapkan semuanya kok. Jadi barangnya Om siapin sebagian, takutnya nanti kamu bakalan nginap lagi di sini dan tinggal lagi. Jadi enggak semuanya di bawa,"


"Oke, Om. Om terima kasih ya," Rey memeluk Dimas yang berdiri di samping sofa. Benar apa yang dikatakan oleh Nagita tadi bahwa anaknya lebih manja dan lembut kepada Dimas.


"Jadi anak yang baik di sana! Jangan kecewakan Om ya! Om percaya bahwa ini adalah yang terbaik, jangan berkecil hati karena kalah tadi. Masih ada lomba lain lagi nanti, kamu bisa ikut,"


"Iya, Om. Rey pamit ya,"


"Iya, keponakan Om sudah besar ternyata. Jaga Mama baik-baik! Jaga nama baik keluarga juga, jangan nakal di sekolah ya!"


"Siap Om!" Rey mendekati Viona yang berdiri di samping koper itu seketika Rey bersalaman dan memeluk istri kakaknya itu, "terima kasih sudah menjadi Mama kedua buat aku ya, tante. Nanti bakalan sering-sering kemari. Dari kecil tante selalu sabar buat besarin aku, kalau kita panjang panjang umur, saat tua nanti giliran aku yang bakalan rawat kalian. Aku akan jadi orang sukses, biar bisa bahagiain kalian semua, Mama juga," Viona mencium pipi kanan Reynand. Seolah akan berpisah sangat lama. Namun Nagita sadar bahwa anaknya itu memang dibesarkan oleh Viona dan Dimas dulu saat kebahagiaan itu direnggut oleh suatu kejadian yang di mana hampir saja membuat Nagita putus asa.


"Assalamu'alaikum."


Mereka bertiga berpamitan saat itu juga. Nagita merasa sangat bahagia saat anak semata wayangnya kembali lagi ke sisi mereka berdua.


Selama perjalanan pulang. Reynand lebih banyak diam dibandingkan mengoceh seperti tadi, kini anak itu hanya diam tanpa berkata apa-apa lagi hingga tiba di rumah. Nagita yang melihat anaknya turun dari mobil dan berlalu ke kamar begitu saja saat tiba di rumah.


"Apa yang terjadi sama dia?" Nagita mulai tak mengerti dengan sifat anaknya. Mereka berdua pun menyusul Rey ke dalam kamarnya.


"Ma, Pa. Aku kangen sama kamar aku," ucap Rey tiba-tiba.


"Ternyata kangen kamar doang dia, Ma. Bukan kangen sama kita," ucap Azka menyindir.


"Ye, sama kalian juga tentunya. Jangan lupa masak yang enak ya, Ma!"


"Mama ngidam, Rey. Mama itu enggak bisa nyium bau yang terlalu menyengat,"


"Sudah, Pa. Mama pasti bisa kok, pasti adik bayi bisa mengerti kalau ini keinginan kakaknya,"


"Tuh dengerin, Pa!"


"Iya, Papa ngalah Rey. Daripada nanti Papa yang disuruh masak,"


"Nanti kalau kalian USG, aku ikut ya! Waktu lihat perkembangan adik aku, boleh kan?"


"Boleh, ya sudah Mama masak dulu makanan kesukaan kakak ya,"


"Kakak?"


"Sebentar lagi kan mau jadi kakak," jawab Nagita sambil tersenyum.


"Mama cantik kalau senyum. Pantas aja Papa gila karena Mama," Nagita tahu bahwa anaknya itu sangat senang membuat Azka kesal.


"Mama itu perempuan paling cantik yang Papa temui, cantik wajah sekaligus hatinya. Duh Rey, kalau nyari pacar itu nanti kayak Mama ya!"


"Yakin Papa bolehin pacaran? Gini-gini banyak loh yang naksir, Pa, nih lihat chat mereka!" Reynand mengeluarkan ponselnya dan begitu banyak chat dari perempuan mulai dari teman kelas hingga adik kelas anaknya.


"Ma, bolehin Rey pacaran ya!" rayu Azka.


"Ngajarin anak yang benar dong!"


"Yaaah Mama. Enggak keren ih, Rey itu terkenal di sekolah Ma. Yakali enggak boleh pacaran,"


"Nanti aku bawain kalian perempuan tahu rasa loh," ketus Rey.


"Sekali enggak ya, enggak,"


"Santai, Nak. Papa dulu seusia kamu sudah pacaran, cinta monyet. Papa dari SMP sudah terkenal, banyak pacar. Belum lagi Papa selalu dapat kado dari cewek-cewek,"


Nagita berbalik saat Azka menceritakan masa lalunya. "Pa, Mama cemburu tuh,"


"Itu kan masa lalu, Mama,"


"Bodo amat,


"Seberapa hebatnya aku mencari, tempat aku pulang selalu kamu sayang," Nagita merasakan tangannya ditarik oleh Azka dan dipeluk begitu saja.


"Mataku ternoda, Papa."


Nagita melihat anaknya menutup mata saat Azka memeluknya begitu erat. Nagita tahu bahwa ini adalah keinginan Rey yang berusaha dipenuhi oleh Azka. Melihat mereka berdua dengan keharmonisan lagi, bukan dengan masalah yang dulu selalu saja diperlihatkan kepada Reynand.


"Ma, Pa,"


Mereka berdua menoleh dan melihat Reynand berdiri di samping mereka. Nagita dan Azka memeluk Rey bersamaan. "Keluarga kita benar-benar utuh lagi kan?"


"Iya, Rey. Papa sudah penuhi janji kalau kita akan kembali lagi,"


"Ma, Papa, aku bahagia," isak Reynand sambil tertawa.


"Ini antara nangis atau bahagia?" tanya Azka.


"Aku terharu, Pa. Karena sudah lama pengin lihat kalian seperti ini."


Tidak ada kebahagiaan yang jauh lebih berharga mengalahkan kebahagiaan bersama dengan keluarga yang utuh. Jika semua bahagia bisa dibeli, tentu saja dari dulu Reynand tak akan merasakan kesedihan ketika orang tuanya berpisah. Namun kini, kembali untuk memenuhi janji sudah dilaksanakan oleh Azka. Nagita tersenyum bahagia saat Azka juga bersikap layaknya seorang papa yang bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya.


********Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Barangkali memang jarang menyadari hal apa saja yang dinginkan oleh sang anak. Ada harapan yang tidak bisa diungkapkan oleh sang anakkarena suatu ketakutan jika orang tua menolak untuk memenuhinya.


Jangan lupa kasih bintang dan like ya 😀


Terima kasih sudah mengikuti cerita sudah sejauh ini. Ngomong-ngomong author sempat mau berhenti lanjutin cerita ini karena banyak banget yang DM author dengan hujatannya. Tapi karena banyak yang mendukung dan suka, author akan tetap lanjut 😊***